
...༻❀༺...
Sekarang giliran Ruby bercerita kepada Gaby. Dia mengatakan kalau dirinya dan Ryan juga pertama kali bertemu di kasino.
"Hari itu aku benar-benar sangat beruntung. Karena berhasil mendapatkan tas yang dipenuhi uang. Makanya aku tidak ingin menyia-nyiakannya, dan berniat menggandakannya dengan bermain judi, tetapi..." Ruby mendengus kasar.
...___________...
...[Flashback Enam Bulan Lalu]...
Ruby menampakkan raut wajah masam, ketika uangnya tertinggal satu lembar. Sosok pria misterius, berhasil mengalahkannya berkali-kali. Akibat merasa kalah, gadis itu lantas mengakhiri permainan. Dia berdiri dan berjalan di sekitaran ruang kasino. Mencoba mencari mangsa untuk diambil dompetnya.
Tertujulah perhatian Ruby kepada seorang lelaki paruh baya dengan rambut keperakan. Dia berseringai sembari meraih segelas koktail dari nampan pelayan yang kebetulan lewat. Kemudian melangkah untuk mendekati targetnya. Ruby sengaja menabrakkan diri kepada si lelaki paruh baya. Saat itulah tangannya bergerak cepat untuk mengambil dompet sang lelaki paruh baya.
"Hei!" protes lelaki paruh baya tersebut. Dia tentu marah akibat merasa terganggu dengan tubrukan Ruby.
"Maafkan aku, Tuan." Ruby berucap dengan lembut. Menunjukkan ekspresi tak berdosa diparasnya. Dia segera berlalu pergi. Namun belum sempat gadis itu menjauh, si lelaki paruh baya tiba-tiba memanggil.
"Dia mencuri dompetku!" lelaki paruh baya tersebut memekik lantang. Jari telunjuknya diarahkan tepat ke arah Ruby. Alhasil semua pasang mata langsung tertuju kepada gadis itu.
Ruby sontak terkejut. Tangannya otomatis menjatuhkan dompet yang tadi dicurinya ke lantai. Lalu menendangnya asal ke belakang. Ruby tidak tahu dompet itu pergi kemana, yang terpenting baginya adalah, dia berhasil menghilangkan bukti.
"Periksalah dia. Aku yakin, dompetku ada padanya!" ujar sang lelaki paruh baya. Dia sudah berdiri di hadapan Ruby. Melayangkan pelototan tajam yang dipenuhi amarah.
Dua pihak keamanan berdatangan menghampiri Ruby. Salah satunya yang kebetulan seorang perempuan, bertugas memeriksa badan Ruby.
"Apa-apaan! Sudah kubilang, aku tidak melakukannya!" tegas Ruby seraya membalas tatapan tajam si lelaki paruh baya.
"Jangan berbohong! Setelah menabrakku, dompetku langsung menghilang dari tempatnya!" sahut lelaki paruh baya berambut keperakan itu.
"Apa ini dompetmu?" seorang pria mendadak muncul dan ikut masuk ke dalam pembicaraan. Sosok pria tersebut adalah orang yang tadi telah berhasil mengalahkan Ruby bermain kartu poker. Siapa lagi kalau bukan Ryan.
Deg!
__ADS_1
Ruby dibuat begitu kaget. Dia takut Ryan akan memberitahukan yang sebenarnya kepada si lelaki paruh baya. Ruby mengira Ryan berhasil melihat aksi pencopetannya.
"Aku menemukannya di lantai. Sepertinya kaulah yang ceroboh... Tuan," ucap Ryan sambil menyerahkan dompet kepada sang lelaki paruh baya. Ruby yang mendengarnya segera mendengus lega.
Lelaki paruh baya itu langsung gelagapan. Dia merasa sangat malu bukan kepalang. Kakinya lekas-lekas digerakkan untuk menjauh dari keramaian.
Ruby sedikit tertawa untuk merayakan kemenangan. Perlahan dia menoleh ke arah Ryan. Dirinya baru menyadari, kalau Ryan sedari tadi sibuk memandanginya.
"Te-terima kasih untuk tadi," ungkap Ruby terbata-bata, karena merasa agak canggung.
"Terima kasih saja tidak cukup. Tidak ada yang gratis di dunia ini," balas Ryan sembari merapikan pakaian, seakan ada sesuatu yang kotor di sana. "Kau harus menemaniku minum, ikut aku!" lanjutnya. Berjalan memimpin lebih dahulu.
Ruby enggan mengikuti. Dia bukanlah gadis yang mau mempercayai orang begitu saja. Tanpa sepengetahuan Ryan, Ruby kabur di antara banyaknya orang yang berlalu lalang.
Kini Ruby memasuki lift. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding. Namun satu kaki seseorang terlihat menghentikan pergerakan pintu lift yang hampir menutup. Sosok Ryan kembali hadir di hadapannya.
"Kau sama sekali tidak tahu terima kasih," sindir Ryan. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Kemudian memposisikan diri berada di sebelah Ruby.
Ruby memejamkan mata rapat, lalu membuang muka. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi lelaki seperti Ryan. Hingga pada akhirnya dirinya tidak punya pilihan lain setuju untuk menemani Ryan minum. Keduanya pergi ke bar terdekat.
Kebetulan Ruby dan Ryan sama-sama sedang mabuk kala itu. Namun untung saja keduanya masih mampu untuk melangkah. Mereka berjalan sambil berangkulan dan meracau tidak karuan bersama.
Setelah pembicaraan yang terjadi di bar tersebut, Ryan dan Ruby semakin sering bertemu. Apalagi saat Ryan juga mengatakan kalau dirinya adalah penjahat kelas teri seperti Ruby. Hingga pada akhirnya, mereka mulai melakukan aksi pencurian kecil bersama-sama.
Hubungan yang tadinya hanya sebatas pertemanan, perlahan berubah. Ryan menyatakan sesuatu yang mengejutkan. Saat itu dia dan Ruby tengah bersembunyi dari kejaran polisi. Aksi pencopetan yang mereka lakukan di kereta bawah tanah, ketahuan oleh satu pasang mata.
"Ruby..." panggil Ryan. Dia terlihat tenang. Meskipun begitu, nafasnya masih tersengal-sengal akibat lari yang dilakukannya.
"Ya?" respon Ruby. Dia juga sedang berupaya mengatur nafas.
"Aku rasa, aku jatuh cinta kepadamu..." Ryan menatap Ruby dengan sudut matanya. Ungkapannya sontak menyebabkan mata Ruby terbelalak. Jantungnya menjadi berdebar tidak karuan. Dia merasa senang terhadap pernyataan Ryan, karena Ruby juga memiliki perasaan yang sama.
Ruby menjawab ungkapan Ryan dengan tatapan matanya. Dari tatapan itu, Ryan bisa tahu kalau Ruby juga mencintainya. Ciuman pertama mereka terjadi saat itu. Selanjutnya, keduanya resmi berpacaran.
__ADS_1
Untuk sementara, Ruby dan Ryan tinggal bersama di sebuah apartemen sederhana. Selama tinggal satu atap, Ryan dan Ruby merasakan yang namanya dimabuk cinta. Tidak ada hari tanpa bermesraan.
...[Flashback Off]...
...___________...
"Oke, sudah cukup aku bercerita. Mengingat kenangan membahagiakan itu membuatku sakit!" Ruby memutuskan mengakhiri ceritanya. Menyebabkan mimik wajah Gaby otomatis melakukan protes.
"Kau belum memberitahu mengenai pernikahanmu dengan Ryan. Ngomong-ngomong dimana kalian menikah, yang jelas bukan di markas kan?" Gaby menuntut jawaban.
"Aku dan Ryan menikah di bar tempat kami pertama kali saling mengenal. Aku ingat bar itu bernama The Nighton. Tamu undangan kami hanyalah para pelanggan yang kebetulan datang. Tetapi, acaranya sangat menyenangkan dan bermakna bagiku," terang Ruby.
Gaby menyilangkan tangan didada. Dia berpikir sejenak dan berkata, "Kau benar, sikap Ryan memang sangat berbeda saat bersamamu. Aku yakin seratus persen, dia benar-benar jatuh cinta kepadamu. Mungkin itulah alasan dia tidak memperkenalkan Megan dan Sarah terlebih dahulu. Ryan tidak ingin kau pergi darinya."
"Bulsh*it! Jika dia mencintaiku, maka harusnya dia menjadikanku sebagai satu-satunya! Ketika Ryan memperkenalkanku dengan Sarah, dia tampak sama sekali tidak bersalah. Bagaimana aku bisa percaya dengan cinta yang diungkapkannya kepadaku?!" Ruby mencurahkan kekesalannya panjang lebar. Perasaan marahnya terhadap Ryan kembali muncul. Dia beringsut ke ujung kasur, lalu berdiri.
"Ruby, aku yakin orang yang dicintai Ryan adalah dirimu. Tetapi nampaknya, dia hanya terlambat menemukanmu. Saat bertemu denganmu, Ryan sudah terjebak dengan Megan dan Sarah." Gaby mengemukakan pendapatnya. "Aku dengar Megan dan Sarah enggan pergi meninggalkan Ryan. Mereka terlalu nyaman dengan posisi dan keadaan yang diberikan Ryan," tambahnya lagi.
Ruby membisu selang sekian detik. Pikirannya melakukan nostalgia. Kembali ke masa-masa ketika dirinya dan Ryan merasa kalau dunia adalah milik berdua.
"Aku mau keluar dahulu. Kau istirahat saja," ujar Ruby seraya beranjak pergi keluar kamar. Dia mencoba melupakan memori yang terasa sangat mengganggu. Meskipun Ryan memperlakukan dirinya berbeda dibanding Megan dan Sarah, tetap saja Ruby merasa risih terhadap keadaannya sekarang. Dia ingin lari tetapi tak bisa. Andai Ruby punya keluarga dan tempat tinggal yang menjanjikan di luar sana, mungkin dia tidak akan bergantung kepada Ryan.
Ketika melangkah santai menyusuri koridor, Ruby tidak sengaja berpapasan dengan Max. Lelaki tersebut terlihat membawa sebungkus roti dan sebotol air mineral.
"Apa itu makananmu setiap hari?" tegur Ruby.
Max lekas menggeleng dan menjawab, "Tidak! Ini untuk tawanan baru kita."
"Maksudmu lelaki yang wajahnya babak belur kemarin?" tanya Ruby memastikan. Dia membicarakan Ethan. Kali ini Max merespon dengan anggukan.
"Serahkan makanan dan minumannya kepadaku. Biar aku yang memberikannya." Ruby merebut segala hal yang ada ditangan Max.
"Tapi--"
__ADS_1
"Kalau kau menolak, maka aku tidak akan memaafkanmu untuk selamanya!" potong Ruby. Lalu segera menderapkan kakinya. Namun dia harus kembali lagi menghampiri Max, karena tidak tahu tempat Ethan sedang disekap. Max terkekeh geli melihat lagak Ruby, kemudian menunjukkan jalan menuju ruangan yang benar.