
...༻❀༺...
Sebelum pergi, Ryan tentu memeriksa lokasi Ruby lewat CCTV. Hingga dia dapat mengetahui, kalau orang yang membawa Ruby adalah Andrew.
Ada beberapa jalanan yang masih belum dipasangkan CCTV. Di sanalah Ryan harus berpencar dengan bawahannya. Memasuki wilayah jalanan dimana klinik milik Lily berada.
Di waktu yang sama, Ruby memutuskan bersembunyi di tempat aman. Ia beristirahat karena kakinya terasa sangat sakit. Alhasil Ruby sekarang bersembunyi di antara semak-semak yang dapat menutupi badannya dengan rapat. Di lokasi yang cukup gelap tersebut, seluruh tubuh Ruby tersembunyi dengan baik.
Ruby meraba-raba saku celana. Dia baru teringat kalau dirinya lupa membawa ponsel. Ruby menghembuskan nafas berat dari mulutnya. Kini dia bingung harus bagaimana menghubungi suaminya.
'Ini gara-gara aku terlalu bermain-main dengan Ryan. Harusnya aku lebih berhati-hati. I miss him so much...' batin Ruby. Dia duduk dalam keadaan melipat kakinya. Menenggelamkan wajah di balik dua lututnya. Cairan bening mulai terpancar dari matanya.
Tangisan Ruby harus terhenti, saat terdengar suara Andrew tengah berlari. Lelaki itu melajukan langkahnya sembari menjawab telepon dari seseorang.
Ruby segera membekap mulut dengan dua tangan. Dia tidak melakukan permainan dengan Ryan seperti di waktu sebelumnya. Persembunyiannya tidak boleh diketahui oleh Andrew atau Carl.
Andrew mencari Ruby dengan cara memeriksa ke rumah-rumah yang ada di sekitar. Dia mengetuk rumah warga satu per satu. Ruby yang mengetahuinya, harus terpaksa diam di tempat agar Andrew tidak menemukannya. Lagi pula jika dirinya berhasil ditemukan, Ruby yakin dia pasti akan sulit melarikan diri kembali.
Ketika waktu berlalu setengah jam, barulah Andrew pergi mencari Ruby ke lain tempat. Saat itulah Ruby keluar dari persembunyiannya. Gadis tersebut berjalan pelan tak tentu arah. Tujuan utamanya adalah menemukan telepon umum.
Ruby melenggang cukup lambat. Semuanya karena kakinya yang masih belum pulih dari luka tembak. Kebetulan sedang tengah malam, rasa dingin serasa menusuk kulitnya. Ruby hanya mampu memeluk tubuhnya sendiri. Nafas yang dikeluarkannya dari hidung, menampakkan kepulan asap yang jelas akibat kedinginan.
Setelah lama melangkah, Ruby akhirnya dapat melihat ada sebuah telepon umum dari kejauhan. Tanpa pikir panjang, dia lantas melajukan jalannya. Hingga dapat masuk ke dalam kotak telepon yang bercatkan warna merah. Namun ketika sudah berada tepat di depan telepon, Ruby baru teringat kalau dirinya sama sekali tidak membawa uang sepeser pun.
"Sial!" Ruby sangat kesal. Dia semakin menyalahkan dirinya sendiri. Sebelum keluar dari kotak telepon, Ruby dikejutkan dengan mobil yang lewat. Ia bisa melihat jelas Carl ada di mobil itu.
Ruby terpaksa diam di kotak telepon, hingga mobil Carl belalu pergi. Selanjutnya, barulah dia keluar.
Seorang pemuda yang kebetulan lewat menarik perhatian Ruby. Dia otomatis memanggil pemuda tersebut untuk meminta bantuan.
"Apa kau punya koin. Aku sedang dalam keadaan mendesak, dan harus menghubung seseorang!" pinta Ruby kepada sang pemuda yang wajahnya tampak tertunduk lesu.
Pemuda itu sempat terdiam sejenak. Menilik penampilan Ruby dari ujung kaki hingga kepala. Dia jelas memastikan kebenaran yang diucapkan oleh Ruby. Setelah menyaksikan luka yang ada di kaki Ruby, barulah si pemuda merogoh kantong jaketnya. Dia mengeluarkan beberapa koin dan memberikannya untuk Ruby.
"Thank you so much! Kau menyelamatkan hidupku!" Ruby sangat senang. Dia menghargai bantuan pemuda yang membantunya dengan sebuah ciuman di pipi.
__ADS_1
Wajah pemuda yang sepertinya berusia lima belas tahunan tersebut, sontak memerah. Dia mematung karena tidak menyangka dengan ciuman Ruby. Pemuda itu tidak mengatakan apapun. Dia memegangi bagian pipinya yang telah mendapat sentuhan dari bibir Ruby.
Di dalam kotak telepon, Ruby bergegas menghubungi seseorang. Kebetulan nomor telepon yang dia ingat adalah milik Gaby. Ruby tidak hafal nomor telepon Ryan, karena suaminya tersebut sering bergonta-ganti kartu seluler.
"Halo?" Gaby menjawab dari seberang telepon.
"Gabe! Ini aku Ruby. Bisakah kau menjemputku? Para polisi itu masih mencoba menangkapku!" seru Ruby.
"Tentu saja, Ruby! Kami semua juga sedang mencari-carimu. Katakan dimana kau sekarang?" balas Gaby yang terdengar bersemangat.
"Aku..." Ruby mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia mencoba mengenali tempat dirinya sekarang berada. Nihil, segalanya terlihat asing bagi Ruby. Untung saja, pemuda yang tadi membantu Ruby masih diam di tempat. Jadi Ruby bisa kembali meminta bantuannya.
"Tunggu sebentar!" Ruby meletakkan telepon dalam keadaan masih terbuka. Dia keluar untuk bertanya.
"Hei, Boy! Apa kau tahu nama jalan tempat kita berada sekarang?" tanya Ruby.
Sang pemuda yang sempat mematung mengangguk. Dia menelan salivanya terlebih dahulu dan menjawab, "Garden 42 Street."
"Terima kasih!" sahut Ruby seraya kembali masuk ke kotak telepon. Dia langsung memberitahukan Gaby tempat dirinya berada.
Ruby akhirnya dapat mendengus lega. Ia perlahan keluar dari kotak telepon. Menunggu kedatangan seseorang untuk menjemputnya.
"Maaf!" sang pemuda tertunduk malu. Dia gelagapan ingin cepat-cepat pergi. Akan tetapi Ruby langsung mencegat pergerakannya.
"Kalau kau tidak punya tempat tujuan, bisakah kau menemaniku sampai temanku menjemput?" pinta Ruby seraya mengembangkan senyuman tipis.
Seakan tersihir oleh kecantikan dan perlakuan Ruby, si pemuda tidak dapat menolak. Kepalanya segera mengangguk untuk menyetujui. Alhasil dia dan Ruby duduk bersebelahan di bangku depan sebuah toko yang tutup.
"Siapa namamu?" tanya Ruby.
"Ian..." pemuda itu memberitahu namanya.
"Aku Tara." Ruby memilih menyamarkan namanya. Dia melakukannya untuk berjaga-jaga.
"Ka-kau sedang dikejar-kejar oleh siapa?" gagap Ian. Dia masih merasa salah tingkah berhadapan dengan Ruby.
__ADS_1
"Menurutmu?" Ruby mengangkat kedua alisnya. Menyuruh Ian untuk menebak. Tetapi Ian hanya menggeleng, karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku dituduh mencuri sesuatu. Makanya polisi berupaya terus mengejarku. Tapi semuanya baik-baik saja sekarang." Ruby menjelaskan sembari menghela nafas panjang. Rambutnya sedikit beterbangan akibat diterpa oleh angin malam. Rasa dingin kembali menjerat kulit putihnya.
"I-ini... kau bisa memakai jaketku." Ian memberikan jaketnya kepada Ruby. Dia agak malu saat melakukannya.
"Kau sangat manis, Ian." Ruby menerima jaket yang disodorkan Ian. Kini dia merasa lebih hangat dengan jaket itu.
"Kau kenapa malam-malam begini berkeliaran di luar rumah?" Ruby melanjutkan pembicaraan.
"Ayah dan ibuku bertengkar. Aku pikir, lebih baik pergi dari rumah sejauh mungkin," terang Ian yang kembali menampakkan ekspresi sendunya.
"I'm so sorry... aku yatim piatu. Jadi tidak tahu perasaan yang sedang kau rasakan sekarang." Ruby menunjukkan empatinya.
"It's ok. Semuanya akan berakhir saat pagi tiba." Ian mendongak untuk menatap langit hitam dengan sedikit bintang.
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil merah yang kian mendekat. Untungnya Ruby dapat mengenali mobil tersebut. Ruby bisa mengetahui, karena dia ingat beberapa mobil milik Ryan. Salah satunya adalah mobil merah yang kini berjalan mengarah kepadanya.
Mobil merah yang tadinya melaju, langsung berhenti ketika menyaksikan kemunculan Ruby. Mike yang kebetulan mengendarainya, perlahan membuka kaca jendela.
"Ayo!" desak Mike.
"Baiklah!" Ruby bangkit dari tempat duduk seraya melepas jaket. Kemudian mengembalikan jaket itu kepada pemiliknya. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, dan lagi-lagi memberikan sebuah ciuman. Kali ini Ruby mencium kening Ian.
"Good bye!" pamit Ruby. Dia yakin tidak akan kembali bertemu dengan Ian.
Ian terkesiap. Dia tersadar saat Ruby terlihat hampir masuk ke mobil. Ian otomatis menghentikan Ruby.
"Tara!" panggilan Ian sukses membuat Ruby menoleh.
"Bolehkan aku ikut denganmu?" tanya Ian penuh harap.
Ruby tersenyum dan berucap, "Maafkan aku, Ian. Kau lebih baik kembali kepada orang tuamu. Mereka pasti mencemaskanmu."
Dalam sekejap, Mike melajukan mobilnya. Meninggalkan Ian yang terlihat sedih saat ditinggal oleh Ruby.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Mike sembari melirik Ian lewat kaca spion.
"Hanya anak remaja. Dia tadi sangat membantuku," jawab Ruby sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Dirinya merasa lega bisa kembali pulang.