
...༻❀༺...
Ryan segera menelepon Mike untuk menanyakan kabar mengenai misi utama. Namun dia tidak kunjung mendapatkan jawaban. Hal serupa juga terjadi, ketika dirinya mencoba menghubungi Ruby. Sekarang Ryan mencemaskan semua orang.
Akibat tidak mendapatkan kabar yang jelas dari Ruby dan yang lain, akhirnya Ryan mencoba mendatangi Alex. Ryan memerintahkan Alex untuk menyadap rekaman CCTV di semua bangunan The Black Cindicate. Lokasi Ryan tidak begitu jauh dari mobil van Alex berada. Ryan kini sudah berada di mobil van bersama Alex, Gaby dan Ethan.
"Aku akan memeriksa rekaman satu per satu," ujar Alex sembari membuka klip rekaman CCTV yang telah berhasil disadapnya.
Sementara Ryan terus saja berupaya menghubungi Mike dan Ruby. Dia juga tidak lupa untuk menelepon Megan, Sarah dan anggota lainnya. Tetapi tidak ada satu orang pun yang menjawab panggilannya.
"Sial! Sepertinya Mike dan yang lain ketahuan. Mereka sedang berkelahi dengan orang-orang The Black Cindicate." Alex berhasil menemukan rekaman dimana Mike sedang berada. Ryan yang mendengar sontak ikut memperhatikan. Dia memastikan keadaan semua anggotanya. Terlihat hanya beberapa orang saja yang masih bertahan.
Ryan berusaha mengamati rekaman video secara baik-baik. Mencoba menemukan sosok Ruby. Namun seberapa keras dirinya mencari, Ryan tidak berhasil menemukan keberadaan Ruby.
"Coba cari lagi rekaman di tempat yang lain. Aku ingin melihat, apakah semua orang memang diserang!" titah Ryan, yang tentu saja langsung dilaksanakan oleh Alex.
Setelah mencari satu per satu, akhirnya dapatlah sebuah rekaman video yang memperlihatkan Ruby. Gadis itu tidak sendiri, ada Sarah, Megan dan dua orang lainnya.
"Tunggu, dua orang yang terbaring di lantai sepertinya sudah mati." Ethan yang juga ikut melihat, mengungkapkan pendapatnya.
"Kenapa Ruby dan Megan mengeroyok Sarah?" Gaby bertanya-tanya. Dia sedari tadi juga mengamati rekaman yang terputar di komputer Alex.
"Ternyata Sarah!" Ryan mengepalkan tinju disalah satu tangannya. Dia bergegas keluar dari mobil van. Berniat ingin menyelamatkan semua anggotanya yang tersisa. Ryan benar-benar menyesal sudah membiarkan Sarah kesempatan untuk hidup, bahkan menjadi salah satu orang yang ikut dalam misinya.
Ryan memang memiliki rencana cadangan. Dia menyusunnya, karena ingin berjaga-jaga dari gangguan pengkhianat serta insiden tak terduga lainnya. Ryan benar-benar tidak mengharapkan misi utamanya gagal. Sebab rencana cadangannya akan membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu. Tetapi bagaimana dirinya bisa menunggu? Sedangkan semua rekan dan anggotanya sangat membutuhkan pertolongannya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, ponsel Ryan tiba-tiba berdering. Orang yang menghubunginya ternyata adalah Henry. Merupakan salah satu orang yang bertugas untuk melakukan rencana cadangan. Sepertinya lelaki paruh baya tersebut memiliki telepati yang kuat terhadap apa yang telah terjadi pada misi utama.
"Aku harus bergerak sekarang, bukan?" tanya Henry dari seberang telepon.
"Kau sangat tepat waktu. Baru saja aku mau menghubungimu!" sahut Ryan dengan nada yang terkesan tergesak-gesak. Dia bahkan melajukan langkahnya, agar bisa segera masuk ke dalam mobil.
"Aku bisa menduga. Sebenarnya aku dan Frans sudah bergerak beberapa jam lalu. Bertepatan dimulainya misi utama dilakukan. Aku berpikir, tidak ada salahnya untuk langsung mencari bantuan, bahkan jika misi kalian berhasil sekalipun," terang Henry.
"Kalian dimana?" tanya Ryan. Dia sekarang menyalakan mesin mobilnya.
"Kami sedang dalam perjalanan. Kau beruntung, Ryan. Ada banyak kubu yang mau membantumu. Mereka bukannya menyukaimu, tetapi hanya sangat membenci Jordan," ujar Henry.
"Kalau begitu, berapa lama kalian akan sampai ke sini?" tanya Ryan.
"Entahlah. Semua orang tidak pergi bersama-sama. Oh, satu hal lagi kelompok mafia The Black Dragon mengirimkan bantuannya untukmu. Mereka punya beberapa anggota yang menetap di Las Vegas. Mereka juga sedang dalam perjalanan. Kau hanya perlu menunggu," tutur Henry. Dia berada di mobil bersama Frans. Keduanya pergi mencari kubu untuk di ajak bekerjasama. Henry dan Frans perlu menghabiskan waktu yang cukup lama.
"Apa kau yakin? Kau tahu, Jordan sangat--"
Ryan langsung memutuskan panggilan lebih dahulu. Dia merasa terdesak untuk melakukan penyelamatan. Ethan yang menyadari Ryan akan segera pergi, langsung masuk ke dalam mobil. Dia duduk di sebelah Ryan.
Tanpa pikir panjang, Ryan mengendara dengan kecepatan tinggi. Sebelum pergi, Alex memberitahukan titik-titik lokasi dimana anggota The Shadow Holo berada.
Di sisi lain, Sarah berhasil menemukan pisau yang sempat dibuang Megan. Dia tersenyum lebar sambil memperlihatkan pisau yang sudah berada dalam genggamannya. Ekspresi Sarah benar-benar tampak mengerikan. Persis seperti seorang psikopat yang sedang mencari mangsa.
__ADS_1
"Kau lebih baik selamatkan dirimu, Ruby!" saran Megan. Tanpa menoleh ke arah Ruby.
"Apa?! Kenapa kau mendadak baik kepadaku, Megan?! Aku tidak butuh pengorbananmu! Bukankah kita harus bekerjasama sekarang?!" timpal Ruby dengan nafas yang tersengal-sengal. Keringatnya yang terus mengalir, telah membuat tubuh dan wajahnya memancarkan kilap secara alami.
"Baiklah, jika itu maumu!" balas Megan tak acuh. Dia terkejut saat Sarah tiba-tiba menubruknya dengan kuat. Dirinya beserta Sarah otomatis terjatuh ke lantai secara bersamaan.
Mata Megan terbelalak. Ketika pisau yang dipegang oleh Sarah, sukses menembus bagian perutnya. Darah perlahan mengalir deras dari lukanya tersebut.
Megan merasa panik dalam sesaat. Matanya mulai berkunang-kunang, karena mengalami rasa pusing yang begitu kuat.
"Megan!!!" pekik Ruby. Matanya membulat sempurna. Dia merasa sangat cemas dengan apa yang sudah menimpa Megan.
Satu hal yang tidak diketahui Ruby, Sarah tengah membidiknya sekarang. Gadis berambut pendek sebahu itu, menjangkau Ruby dengan senjata tajamnya. Sarah sukses menghujamkan pisau ke salah satu kaki Ruby. Hingga pisaunya tertancap kuat di sana.
"Aaaarkkhhh!!!" Ruby reflek berteriak kesakitan. Sepatu kets putihnya perlahan berubah menjadi merah. Rasa sakitnya semakin parah, saat Sarah kembali mencabut pisau yang masih tertancap di kakinya.
Sarah perlahan berdiri. Berniat memberikan banyak luka kepada Ruby. Sementara Ruby sendiri sudah tak berdaya dan terduduk di lantai.
"Kau benar-benar gila!!!" hardik Ruby kepada Sarah. Dia terus beringsut mundur untuk menghindar. Berupaya menahan rasa sakit yang terasa ngilu disalah satu kakinya.
"Biar aku beritahu, tiga peringkat orang terbodoh menurut versiku." Sarah memiringkan kepala seraya mengukir seringai.
"Peringkat pertama adalah ibuku... Kedua Megan... dan yang ketiga kau, Ruby... Setidaknya kau lebih pintar dari Megan. Bukankah begitu?" ucap Sarah lagi. Mengembangkan senyuman tak berdosanya. Dia berhasil membuat Ruby terpojok ke dinding.
Sarah mulai menodongkan pisau ke arah Ruby. Namun sebelum dirinya sempat menghujamkan pisau, Megan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sepertinya Megan memang sengaja mengerahkan kekuatan yang tersisa untuk menolong Ruby.
__ADS_1
Megan mencoba sebisa mungkin merebut pisau dari tangan Sarah. Terjadi adu kekuatan sengit di antara keduanya. Ruby yang menyaksikan, lantas berinisiatif membantu, akan tetapi Sarah dengan sigap melayangkan tendangan ke dadanya. Ruby sontak terhempas lagi ke lantai.