Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 113 - Ancaman [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


"Apa Bos yakin?" Frans memastikan setelah sempat terpaku selang beberapa detik.


"Cepat siapkan mobilku, kita akan berangkat ke bandara!" titah Ryan sembari meletakkan gelas ke meja. Lalu segera mengenakan jaket.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memanggil yang lain untuk ikut." Frans tidak meragu lagi setelah Ryan terlihat benar-benar beranjak. Dalam sekejap, informasi kepergian Ryan sudah tersebar.


Ruby kebetulan sedang tidur di kamar, nampaknya dia merupakan orang terakhir yang tahu tentang kepergian Ryan. Gadis itu masih tenggelam dalam lelapnya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Ruby!" Gaby memanggil dari luar. Ia juga tidak lupa untuk mengetuk pintu beberapa kali. Gaby tentu saja hendak memberikan kabar tentang kepergian Ryan. Sebenarnya dirinya juga baru saja tahu, karena tadi sempat keluar dari markas untuk membeli sesuatu.


Ruby perlahan terbangun. Dia mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu. Matanya mengerjap beberapa kali. Kemudian barulah membuka pintu.


"Ryan akan pergi ke Afrika!" seru Gaby. Tepat saat Ruby membuka pintu.


Ruby yang tadinya masih lemas akibat bangun tidur, kini membulatkan mata. "A-apa?! Jangan bercanda. Mau apa dia ke sana?!" sahutnya yang merasa tak percaya.


"Dia sedang dalam perjalanan menuju bandara. Ryan nekat berkunjung ke suku kanibal yang ada di sana. Aku pikir kau harus menghentikannya. Karena aku dengar suku itu sangat tertutup dan berbahaya!" ungkap Gaby yang tengah panik.


"Ayo kita susul dia!" Ruby bergegas mengenakan kemeja kotak-kotaknya.


"Aku mau ke toilet sebentar. Tunggu aku di mobil, oke?" ujar Gaby seraya berlari menuju toilet. Sedangkan Ruby memutuskan untuk pergi lebih dahulu ke parkiran.


Sekarang Ruby telah berada di mobil. Sepuluh menit berlalu, Gaby tidak kunjung datang. Ruby yang tidak sabaran akhirnya nekat mengemudi sendirian menuju bandara. Dia juga beberapa kali menghubungi Ryan, namun tidak diangkat sama sekali.

__ADS_1


Ruby mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Melewati arus transportasi kota Chicago yang cukup padat.


Ketika sedang fokus-fokusnya mengemudi, sebuah mobil hitam mendadak berhenti tepat di depannya. Ruby yang kaget sontak menginjak rem sekuat tenaga.


Syut...


Untung saja tidak terjadi insiden kecelakaan. Nafas dan jantung Ruby tidak terkontrol dalam selang beberapa detik.


Dua orang pria tampak keluar dari mobil hitam secara bergantian. Salah satunya membuat pupil mata Ruby langsung membesar. Dari tubuh tingginya yang semampai, serta seragamnya rapi, dapat terlihat jelas kalau dia adalah Andrew. Belum sempat Ruby melakukan sesuatu, pria yang bersama Andrew sudah lebih dulu membuka pintu mobil.


Andrew berupaya memaksa Ruby untuk keluar dari mobil. Tetapi Ruby dengan cepat melakukan perlawanan. Gadis itu menendang Andrew sekaligus pria yang satunya. Lalu buru-buru melarikan diri lewat pintu yang satunya. Ruby akhirnya bisa menjauh. Dia berlari sambil memegangi perutnya.


Dor!


Pergerakan kaki Ruby harus terhenti, saat Andrew menembakkan peluru. Tembakannya tepat mengenai kaki kiri Ruby. Gadis tersebut jatuh ke tanah. Tangannya reflek memegangi luka tembak yang ada di kakinya.


Andrew dan rekannya langsung menghampiri Ruby. Andrew dengan cepat menggendong Ruby dengan dua tangannya yang kuat.


"Maafkan aku, Ruby. Aku harus melakukan ini," ucap Andrew.


Di sisi lain, Ryan yang seharusnya sudah pergi. Masih duduk di ruang tunggu. Dia tersenyum ketika melihat ada puluhan panggilan masuk dari Ruby. Apalagi setelah mendengar kabar dari Gaby yang memberi tahu, kalau Ruby sedang dalam perjalanan menuju bandara. Semangat Ryan semakin terpacu. Dia menunggu dalam perasaan gembira.


Satu menit berubah menjadi satu jam. Ruby tidak kunjung datang. Rekahan senyum yang tadinya terpatri di wajah Ryan, memudar begitu saja. Ryan otomatis mencoba menghubungi Ruby. Di awal panggilannya tidak mendapat jawaban. Tetapi kala di panggilan kedua, barulah telepon Ryan diangkat.


"Kau dimana?" tanya Ryan. Berucap lebih dulu dari Ruby.


"Halo, Mr. Martin..." bukannya mendengar suara Ruby, Ryan justru mendengar suara bariton seorang pria dari seberang telepan.


Ryan sontak berdiri. Jantungnya serasa di sambar petir. Segala praduga langsung berkecamuk dalam dirinya.


"Siapa ini?" tanya Ryan dengan nada serius. Matanya menyalang lurus ke arah dinding kaca yang ada di depannya. Kaca tersebut memperlihatkan pemandangan lintasan pesawat yang membentang luas.

__ADS_1


"Kami dari FBI. Kekasihmu sedang bersama kami sekarang." Pria dari seberang telepon kembali berucap. "Jika kau ingin dia, menyerahlah. Dan jangan lupa untuk memberitahukan markas-markas rahasiamu itu," sambungnya. Memberikan pilihan sulit kepada Ryan.


"Katakan kepadaku kalau Ruby baik-baik saja." Ryan menuntut jawaban. Tangannya menggenggam erat ponsel yang bertengger di depan salah satu kupingnya.


"Kakinya tadi terluka. Tapi kau tenang saja, janinnya masih sehat. Dia akan segera membaik," balas pria misterius yang tidak menyebutkan namanya itu.


"Fu*ck you!" caci Ryan sambil menggertakkan gigi. Namun makiannya malah mendapat sambutan dengan tawa kecil dari seberang telepon.


"Bagaimana rasanya? Kesal bukan? Itulah yang dirasakan semua korban atas kejahatanmu! Jika kau ingin menyerah, datanglah seorang diri ke New York. Kami menunggu penyerahan dirimu!" ujar sang pria misterius. Ia memutuskan panggilan telepon lebih dahulu.


"Aaargghhh!!!" Ryan mengamuk. Keributan yang ditimbulkan olehnya membuat beberapa pasang mata tertuju ke arahnya.


"Ada apa, Bos?" Frans memberanikan diri untuk bertanya.


Ryan hanya membisu. Dia duduk kembali sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Akan tetapi kepanikannya mulai hilang, saat Ryan tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Alhasil dirinya bangkit lagi dari tempat duduk.


"Suruh semua anggota bergerak! Kita harus mencari Ruby. Aku yakin dia masih ada di kota ini!" perintah Ryan seraya melajukan langkahnya menujur mobil.


"Baiklah. Aku akan menyuruh hacker kita untuk memeriksa CCTV di jalanan yang dilalui Ruby!" sahut Frans. Dia segera menghubungi rekannya yang bersangkutan.



Andrew duduk di samping kasur dimana Ruby sedang telentang. Dia dan rekannya yang bernama Carl sedang berada di klinik baru milik Lily.


"Apa kau gila?! Menembak wanita hamil begitu saja?! Untung tidak terjadi apapun dengan kandungannya!" omel Lily kepada Andrew. Dia sibuk melepas sarung tangan lateks. Sebab tadi Lily harus mengobati luka yang ada di kaki Ruby.


"Yang penting dia tidak apa-apa bukan?" Carl menyahut. Ia yang sedari tadi berdiri di depan jendela, perlahan berbalik.


"Aku tahu! Tapi setidaknya kalian harus berpikir dahulu sebelum bertindak." Lily belum berhenti mengomel. Atensinya dialihkan kembali kepada Andrew. "Kau tidak pernah berubah, Drew!" komentarnya.


Lily menyindir perihal ambisi Andrew terhadap pekerjaan. Seperti biasa, Andrew selalu menomor satukan pekerjaannya lebih dari apapun. Setidaknya begitulah anggapan Lily tentang kakaknya. Dia benar-benar tidak habis pikir.

__ADS_1


"Kau pasti akan mendapat penghargaan, jika berhasil menangkap suami Ruby. Wow, kau akan menjadi polisi teladan, my brother!" ujar Lily. Bermaksud sarkas.


Andrew paham betul dengan maksud adik perempuannya. Dia hanya mengembangkan senyuman tipis. Kemudian menyesap kopi yang tadi sempat dibuatkan oleh Lily.


__ADS_2