
...༻❀༺...
Virginia, itulah kota yang dipilih Ruby untuk tinggal bersama Ryan. Mereka memilih perumahan yang terletak di E. Green Street. Sebuah rumah sederhana yang terletak di lokasi perumahan banyak keluarga harmonis. Jujur saja, Ryan dan Ruby menghabiskan waktu lebih dari satu minggu untuk menemukan tempat yang tepat.
"Aku yakin rumah ini akan cocok untuk pengantin baru seperti kalian. Tetangga yang ada di sekitar sini juga baik-baik. Aku jamin kalian pasti akan merasa betah tinggal di sini," ujar Charlie. Dia merupakan orang yang bertugas menjualkan rumah kepada Ryan dan Ruby. Charlie memang bersikap seperti penjual pada umumnya. Mengiming-imingi pembeli dengan banyak hal positif.
"Baguslah kalau begitu." Ruby menganggukkan kepala beberapa kali. Perlahan dia menggerakkan bola matanya ke arah Ryan. "Bagaimana, Babe? Kau suka bukan?" tanya-nya penuh harap.
Ryan tampak celingak-celingukan melihat keadaan keluar jendela. Lelaki itu bahkan memeriksa hal-hal kecil yang bisa dibilang sama sekali tidak penting.
"Ryan!" panggilan Ruby langsung menyadarkan Ryan dari fokusnya terhadap hal lain. Ryan lantas mengangguk setuju untuk merespon ucapan Ruby.
"Selamat bersenang-senang. Beritahu saja aku, jika ada kesulitan, oke?" Charlie melambaikan tangannya ke arah Ryan dan Ruby. Dia segera pergi, setelah Ryan melakukan transaksi pembayaran dengannya.
Ryan dan Ruby mulai menghabiskan waktunya di rumah baru. Dari mulai mendengarkan musik, menonton film dan tentu saja bermesraan. Semuanya terasa menyenangkan dalam tiga hari ke depan. Hingga di suatu hari, datanglah seseorang yang mengetuk pintu rumah mereka.
Ruby kebetulan sedang berada di kamar mandi, jadi Ryan terpaksa membukakan pintu. Dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Menampakkan tato yang terukir didadanya. Menyebabkan aura sangar pada dirinya dapat terlihat jelas, dan Ryan sama sekali tidak peduli akan hal itu.
Ceklek!
Pintu sudah dibuka oleh Ryan. Tampaklah seorang lelaki paruh baya berkumis tebal. Badannya tampak berisi. Semuanya sangat jelas dari perut buncit yang dimilikinya.
"Ha-halo..." lelaki berkumis itu menyapa Ryan dengan nada canggung.
Ryan mengerutkan dahinya. Menilik si lelaki berkumis dari ujung kaki hingga kepala. Dia lantas memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Kenalkan aku Daniel. Rumahku berada di seberang rumahmu." Daniel memperkenalkan dirinya. Dia juga tidak lupa menunjukkan lokasi rumahnya.
__ADS_1
"Aku Ryan. Senang berkenalan denganmu. Apa keperluanmu datang ke sini, Daniel?" timpal Ryan langsung ke intinya. Dia masih memegang gagang pintu.
"Ah, right! Aku hanya mau mengundangmu dan istrimu untuk datang ke acara ulang tahun pernikahanku malam ini. Sekalian juga, agar kau dan istrimu bisa mengenal lebih dekat orang-orang yang ada di sini. Bukankah begitu?" ujar Daniel, percaya diri.
"Baiklah, terima kasih undangannya. Aku dan istriku pasti akan datang!" sahut Ryan. Kemudian segera menutup pintu dengan hempasan yang lumayan keras. Daniel bahkan merasakan sedikit angin kencang yang menghantam wajahnya.
Ryan segera mengenakan kaos bajunya. Dia memilih mengakhiri kegiatan olahraganya yang sempat terganggu.
Ruby terlihat baru keluar dari kamar mandi. Gadis itu menanyakan kepada Ryan mengenai siapa yang telah bertamu tadi.
"Hanya tetangga. Dia mengundang kita untuk datang ke acara ulang tahun pernikahannya nanti malam. Ini adalah kesempatan emas untuk kita, agar bisa berbaur dengan mereka." Ryan berjalan memasuki area dapur. Dia berniat memasakkan sesuatu untuk Ruby.
"Benarkah? Aku pikir kau benar!" ungkap Ruby, langsung setuju. Dia dan Ryan berniat akan pergi mendatangi rumah Daniel nanti malam.
Pintu terbuka lebar untuk Ryan dan Ruby. Daniel menyambut mereka dengan hangat. Begitu pun orang-orang yang telah hadir di sana.
Ryan dan Ruby harus memisahkan diri, karena perkumpulan lelaki dan perempuan berada di tempat yang berbeda. Ruby terpaksa berada dalam kelompok wanita yang sibuk menyiapkan makanan.
Bukannya menikmati, Ruby malah muak mendengar perempuan yang ada di kanan dan kirinya. Bagaimana tidak? Hal yang mereka bicarakan hanyalah perihal pakaian bermerek, keluarga dan pekerjaan. Ruby tentu memilih bungkam. Belum lagi rasa mual yang tiba-tiba dirasakan oleh perutnya.
Ruby mencoba mencari momen untuk melarikan diri secara alami. Perlahan Ruby mulai berdiri. Belum sempat dirinya berjalan menjauh, seorang wanita malah mendadak menegurnya.
"Kau mau kemana?" tegur sang wanita. Dia sering disapa Wanda oleh teman-temannya.
Ruby terpaksa berhenti, kemudian menoleh. "Aku mau ke toilet sebentar!" ucapnya.
__ADS_1
"Cobalah pie apel ini. Aku membuatnya--"
"Hueek!" perkataan Wanda terpotong, karena Ruby mendadak ingin muntah. Ruby sudah tidak tahan dan langsung berlari memasuki toilet. Dia bahkan tidak sempat lagi memberikan penjelasan.
Wanda hanya terdiam seribu bahasa saat melihat gelagat Ruby. Seorang wanita berambut pirang yang bernama Laura, mengelus pundaknya lembut untuk menenangkan.
"Tenanglah, Wanda. Hal itu biasa terjadi. Lagi pula dia adalah pengantin baru. Bisa saja dia sedang hamil muda. Bukankah begitu?" ujar Laura. Berbisik pelan kepada semua temannya.
Wanda berpikir sejenak. Dia yang tadinya sempat merasa tersinggung dengan respon Ruby, kini suasana hatinya berubah menjadi bersemangat. Padahal dugaan Laura belum tentu benar adanya. Para wanita tersebut kembali saling mengobrol. Dengan topik utama mengenai Ruby.
Di sisi lain, Ryan juga mengalami hal serupa dengan Ruby. Yang bisa dilakukan oleh lelaki tersebut adalah mengangguk, tersenyum dan mengiyakan pembicaraan orang-orang di sekelilingnya. Ryan benar-benar bosan. Entah kenapa dia berjalan, dan mengambil potongan pizza yang ada di meja. Pizza yang diambilnya adalah potongan terakhir. Kebetulan sekali, jenis pizza itu adalah kesukaan Ryan. Namun belum sempat dia memasukkan pizza ke dalam mulut, seorang anak lelaki tiba-tiba memegang pergelangan tangannya.
"Itu milikku!" tegas anak lelaki tersebut. Dia mempunyai perawakan gemuk. Terlihat seperti berusia sekitar sepuluh tahunan. Matanya menyorot tajam pizza yang dipegang oleh Ryan.
"Aku mengambilnya lebih dahulu." Ryan tersenyum, kemudian mencoba melepaskan cengkeraman tangan anak berperawakan berisi itu. Tetapi sepertinya sang anak lelaki keras kepala. Dia justru memegangi tangan Ryan lebih kuat dari sebelumnya.
"Itu milikku! Milikku! Milikku!" desak si anak lelaki.
Ryan mulai geram. Dia lantas melepaskan paksa pegangan anak lelaki tersebut. Sampai akhirnya Ryan sukses membuat sang anak lelaki terduduk ke lantai. Selanjutnya, Ryan bergegas melahap pizza yang ada ditangannya.
"Ini satu-satunya hiburanku di sini, Kid. Jadi, jangan coba-coba merusaknya!" kata Ryan sedikit membungkukkan badan untuk membalas tatapan si anak lelaki. Parahnya, dia menghabiskan pizza-nya tepat di hadapan anak lelaki itu.
"Huaaaahahaha..." Sang anak lelaki berperawakan berisi tersebut sontak menangis histeris. Tangisannya yang nyaring berhasil membuat Ryan panik. Sebab suaranya tentu akan menarik perhatian banyak orang. Terutama orang tua kandung dari si anak lelaki.
"Sial! Inilah alasan utamaku tidak ingin memiliki anak!" gerutu Ryan. Lalu melarikan diri begitu saja meninggalkan anak lelaki yang sudah dibuatnya menangis.
Sementara itu Ruby, dia tengah bergumul dengan rasa mual yang ada pada dirinya. Sungguh, Ruby sama sekali tidak mengerti kenapa dia mendadak jijik melihat pie apel. Padahal biasanya, dirinya menyukai segala macam makanan yang manis-manis. Akan tetapi sekarang rasanya begitu berbeda.
__ADS_1