
...༻❀༺...
Ryan sedang bersiap untuk melakukan penyamaran. Dia mengenakan topeng kulit yang sepenuhnya akan merubah wajahnya. Ditambah juga rambut dan kumis palsu berwarna putih. Membuat penyamaran yang dilakukannya nyaris sempurna. Ryan akan menyamar menjadi lelaki paruh baya yang mengaku sebagai ayah kandung Frans.
Sementara Ethan, hanya perlu memakai rambut palsu yang panjangnya sebahu. Ia tidak lupa untuk memasang kumis palsu serta setelan jas. Ethan akan menyamar menjadi pengacara untuk Frans. Lelaki itu mengikat rambut palsunya ke belakang dengan rapi.
Ethan menunggu Ryan sambil duduk di kap mobil. Sesekali dia akan memeriksa jam yang melingkar ditangannya. Ethan hanya bisa menghela nafas berat saat mengetahui betapa terlambatnya sang tuan mafia. Akan tetapi keluhan Ethan seketika sirna, kala menyaksikan seorang lelaki paruh baya berjalan ke arahnya.
"Siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya di markas?" tanya Ethan dengan dahi berkerut.
Bukannya menjawab, si lelaki paruh baya malah menampar pipi Ethan. "Sialan! Bukankah kau harusnya tahu kalau aku Ryan?!" timpal lelaki paruh baya itu yang ternyata adalah Ryan.
"A-apa?! Pffft!" Ethan terkejut dengan perubahan drastis wajah Ryan. "Apa Ruby sempat melihatmu begini?" lanjutnya, bertanya. Ethan sudah masuk ke mobil. Duduk di sebelah Ryan yang mulai mengemudi.
Ryan hanya meringis jijik. Lalu mengacungkan jari tengahnya ke depan wajah Ethan. Perbuatannya sukses membuat mulut Ethan bungkam.
"Apa tugasku hanya perlu meyakinkan para polisi itu? Kau yakin mereka tidak akan curiga dengan kita? Aku rasa kita agak terlambat datang ke sana," ujar Ethan sambil menatap serius Ryan.
"Jika mereka curiga, maka kita harus melakukan rencana cadangan." Ryan tampak santai saja.
"Apa itu? Beritahu aku." Ethan menuntut jawaban.
"Membakar sebagian kantor polisi!" jawab Ryan. Menyebabkan Ethan terperangah.
"Dasar gila! Bukankah itu namanya bunuh diri?" Ethan menatap Ryan dalam keadaan mata yang membulat.
Ryan tersenyum tipis dan membalas, "Apa kau baru tahu kalau aku memang gila?"
__ADS_1
Ethan berdecak kesal. Dia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Meskipun begitu, dia tidak bisa membendung adrenalin yang terpacu dalam dirinya. Ethan memang selalu suka rencana gila.
Beberapa saat kemudian, sampailah Ryan dan Ethan ke bandara. Kali ini mereka akan menaiki pesawat umum menuju kota Virginia. Tempat dimana Frans di penjara.
Perlu memakan waktu beberapa jam untuk sampai ke lokasi tujuan. Ryan dan Ethan melakukan perjalanan dengan lancar. Kini keduanya telah tiba di kantor polisi. Duduk bersebelahan dan berbicara serius dengan seorang polisi berwajah sangar. Nama polisi tersebut adalah Sebastian.
"Kenapa kau baru datang sekarang? Frans sudah dipenjara dua minggu lebih," ungkap Sebastian sembari sedikit memiringkan kepala. Ia melakukan intrograsi secara halus kepada Ryan.
"Aku baru mengetahui kabar Frans saat melihat wajahnya masuk ke dalam daftar buronan. Aku harus akui kalau Frans memang anak yang pembangkang, tetapi dia tidak mungkin menjadi bagian dari kelompok penjahat berbahaya..." tutur Ryan. Menampakkan semburat yang meyakinkan diwajahnya.
"Kau dan rekanmu, menangkap orang yang salah, Mr. Sebastian. Frans bukanlah penjahat kelas kakap. Makanya hari ini kami akan mengajukan tuntutan agar Frans bisa segera dilepaskan!" Ethan ikut buka suara.
Sebastian berseringai. Ia menatap selidik ke arah Ryan dan Ethan secara bergantian. "Aku pikir--"
"Uhuk! Uhuk!" perkataan Sebastian terpotong saat Ryan mendadak batuk. Ryan tentu hanya berpura-pura.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Ryan batuk sambil memegangi dadanya.
"Tenanglah, Tuan Jackson." Ethan menepuk pelan pundak Ryan. Kemudian langsung menatap kesal ke arah Sebastian. "Kenapa kau diam saja?! Cepat ambilkan air!" titahnya dengan ekspresi panik diparasnya.
Tanpa pikir panjang, Sebastian segera menyuruh rekannya untuk mengambilkan sebotol air. Sebastian tidak beranjak dari kursinya, karena tidak bersedia meninggalkan Ryan dan Ethan. Pupus sudah rencana awal dari Ryan.
"Dia memiliki riwayat penyakit paru-paru yang parah. Sebenarnya dia harusnya berada di rumah sakit. Itulah salah satu alasan kenapa Jackson terlambat mengetahui kabar mengenai putranya." Ethan memberikan keterangan.
"Uhuk! Bisakah aku menemui putraku?" tanya Ryan seraya mengedipkan matanya beberapa kali. Dia terlihat sibuk mengatur deru nafasnya akibat rasa batuk yang mengganggu.
Sebastian sempat terdiam dalam sekian menit. Dia berpikir keras untuk memutuskan. Setelah berpikir lama, Sebastian lantas menganggukkan kepala. Dia lebih dahulu melihat surat-surat pengajuan tuntutan dari Ethan, yang dibuat berdasarkan persetujuan dari pihak kejaksaan. Semua surat itu tentu palsu. Namun dirancang sama persis dengan aslinya. Begitulah keahlian penjahat kelas kakap. Sangat sulit dideteksi oleh polisi, apalagi orang biasa.
__ADS_1
Sebastian akhirnya membawa Ryan dan Ethan masuk ke ruang kunjungan pribadi. Dimana Ryan dan Ethan dapat menemui Frans, tanpa adanya dinding kaca yang menghelat.
Sebastian meninggalkan Ryan, Ethan dan Frans dalam penjagaan dua sipir yang bertugas.
Frans duduk ke kursi yang tersedia. Awalnya dahinya berkerut karena tidak bisa mengenali dua sosok di depannya. Tetapi saat Ryan memperlihatkan tato yang ada di dadanya, barulah Frans tahu kalau dua orang di depannya adalah bagian dari The Shadow Holo. Satu hal yang diketahui Frans, bosnya rela turun tangan untuk menyelamatkan dirinya. Jujur saja, Frans merasa terenyuh.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ethan pelan. Dia masih berakting, karena berhati-hati dengan dua sipir serta kamera pengawas.
"Beginilah..." Frans mengangkat kedua bahunya sekali. Kemudian menundukkan kepala kecewa.
Ryan sibuk memindai ruang dimana dirinya berada. Ia mencoba mencari celah. Sayangnya, tidak ada celah yang memungkinkan untuk melarikan diri.
"Uhuk! Uhuk!" Ryan kembali terbatuk. Dia merasa harus memikirkan cara lain. Terlintas dalam benak Ryan untuk memastikan kecurigaan dari Sebastian. Karena sedari tadi, Sebastian terlihat mondar-mandir sambil menoleh ke arah Ryan dan Ethan.
Sebastian berada di luar. Dia berdiri tepat di depan jendela kaca. Makanya Ryan bisa melihat dengan jelas, kalau Sebastian sedang membicarakan sesuatu yang serius melalui ponselnya.
"Akhir-akhir ini aku mencurigai ibumu berselingkuh, Frans. Aku sedang berusaha memastikannya. Jika benar, maka aku akan memilih bercerai saja. Bukankah hal terbaik adalah melarikan diri?" celetuk Ryan. Dia memberitahu melalui kalimat terselubungnya. Menyebabkan Ethan dan Frans merasa terheran secara bersamaan.
Frans tak kunjung menjawab, akibat dirundung rasa bingung. Namun Ryan dengan cepat menginjak pelan kaki Frans.
Frans otomatis tersadar dan menjawab, "A-aku mengharapkan hal yang terbaik dengan hubungan kalian."
"Uhuk! Uhuk! Kau pasti nanti mengetahui, saat waktunya telah tiba." Perlahan Ryan bangkit dari tempat duduknya. Lalu menanyakan toilet kepada salah satu sipir yang berjaga. Ryan segera beranjak pergi.
"Aku... benar-benar tidak mengerti..." lirih Frans sembari menggeleng lemah. Ia mencondongkan kepalanya ke arah Ethan.
"Aku tidak bisa berbicara mengenai kecurigaan ayahmu terhadap perselingkuhan ibumu. Kita hanya perlu menunggu waktunya tiba, Frans." Ethan sebenarnya memahami kalimat terselubung yang diberikan oleh Ryan. Akan tetapi dia tidak bisa menjelaskannya secara terang-terangan kepada Frans. Ethan akan memilih menunggu, sesuai dengan perintah dari Ryan tadi.
__ADS_1
Di sisi lain, Ryan melangkah menuju toilet. Dari belakangnya dia dapat mendengar suara derap kaki yang mengikuti. Ryan yakin orang yang mengikutinya pasti adalah Sebastian. Dapat dipastikan, Sebastian sudah menaruh kecurigaan terhadap Ryan dan Ethan. Sekarang Ryan dalam proses melakukan rencana cadangan.