
...༻❀༺...
Sebelum pesawat benar-benar berangkat. Ryan memandangi semua anak buahnya satu persatu, lalu berkata, "Jika ada yang tidak ingin bertarung, maka naiklah ke dalam pesawat sebelum terlambat!"
Sayangnya tidak ada satu pun bawahan Ryan yang merespon. Mereka bahkan mengalihkan pandangan dari Ryan. Kecuali Zac, yang berani memberikan alasan.
"Aku lebih baik bertarung denganmu, Bos. Dari pada harus bersantai menunggu," ujar Zac. Dia sebenarnya enggan menjadi bagian orang yang menjaga Ruby. Zac jera dengan perlakuan Ruby terhadapnya. Terutama jika gadis itu sedang mengidam.
"Baiklah. Bila itu mau kalian." Ryan sedikit terenyuh dengan pilihan semua bawahannya. Dia merasa sangat terbantu.
Pesawat mulai berjalan. Lama-kelamaan semakin laju melewati jalurnya. Ryan, Ethan dan beberapa orang yang tinggal masih diam di tempat. Menatap pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas. Pakaian yang mereka kenakan tampak berkibar diterpa oleh angin sore.
Dari dalam pesawat, Ruby menatap Ryan lewat jendela. Sosok yang ditatapnya perlahan mengecil akibat ditelan oleh jarak. Ruby hanya bisa mendengus kasar sambil memejamkan mata. Dia berharap Ryan dan yang lain baik-baik saja.
"Semuanya akan baik-baik saja, Ruby." Gaby mencoba menenangkan Ruby.
"Aku harap begitu..." tanggap Ruby lirih. Dia dan yang lain akan melewati perjalanan panjang.
Sementara Ryan dan Ethan melangkah berdampingan menuju mobil. Di sana terlihat ada seorang lelaki bertopi fedora yang menunggu. Dia perlahan mengangkat kepala dan menatap Ryan.
"Apa kau siap untuk pertemuan besar yang akan kita lakukan?" imbuh John, sang lelaki bertopi fedora.
"Kita sebaiknya menyelesaikan masalah ini secepat mungkin," sahut Ryan sembari masuk ke dalam mobil.
"Aku rasa tidak akan semudah itu," gumam Ethan. Ia bicara ketika Ryan sudah tidak dapat mendengar ucapannya lagi.
Ryan, John dan Ethan, bekerjasama untuk menemui seseorang yang penting. Sedangkan anggota The Shadow Holo yang lain, diperintahkan Ryan untuk melakukan penjagaan di markas. Terutama ketika para hacker sudah mulai beraksi dalam menjalankan rencana yang di inginkan Ryan.
Setelah memakan waktu setengah jam, tibalah Ryan di tempat tujuan. Dia, Ethan dan John segera keluar dari mobil. Menatap sebuah bangunan mewah yang terlihat dijaga oleh dua lelaki berbadan tegap.
"Apa kalian sudah menjadwalkan janji untuk pertemuan dengan Tuan Aiden?" salah satu penjaga menghentikan pergerakan Ryan.
"Tentu saja. Kau bisa memberitahunya lebih dulu," balas Ryan santai.
__ADS_1
"Tapi Tuan Aiden sedang menghabiskan waktu dengan keluarganya. Dia tidak ingin diganggu sekarang!" sang penjaga tidak membiarkan Ryan dan yang lain masuk.
Ryan berseringai seraya membuang muka. Dia hanya berusaha membuat kedua penjaga lengah. Di waktu yang tepat, Ryan langsung melayangkan tendangan kepada dua penjaga sekaligus. Selanjutnya, barulah Ethan dan John ikut membantu.
Satu penjaga seketika tumbang dengan cekalan tangan di leher oleh Ethan. Sementara penjaga yang lainnya mendapat pukulan kuat di kepala dari John. Serangan yang mereka lakukan bahkan tidak sempat mencapai satu menit.
"Ayo!" Ryan memimpin jalan untuk memasuki rumah. Dia mencoba menemui salah satu petinggi politik yang dikenalnya.
Aiden yang dapat menyaksikan kehadiran Ryan, membulatkan mata. Tatapannya tampak getir. Dia bergegas menyuruh istri dan satu anaknya pergi.
"Aiden, lama tidak bertemu." Ryan sudah berhenti tepat di hadapan Aiden. Di pavilion yang dilengkapi dengan meja makan. Ryan segera duduk lebih dahulu. Di iringi oleh John setelahnya. Berbeda dengan Ryan dan John, Ethan lebih memilih menyandarkan diri ke tiang pavilion.
"Apa maumu?" tanya Aiden. Dia memiliki perawakan sedang. Berperut agak buncit dan rambutnya sedikit beruban.
Seorang mafia tidak akan pernah bisa menjalankan bisnis tanpa campur tangan petinggi negara. Mereka dapat melakukan segalanya dengan lancar akibat bekerjasama dengan pemerintah. Miris memang. Akan tetapi setidaknya itulah kenyataan yang terjadi. Ada dunia gelap tersembunyi rapat dan sangat sulit diketahui orang awam.
"Setelah beberapa kali aku membantumu. Sekarang giliranmu untuk membantuku," ungkap Ryan. Ia memasang raut wajah serius. Melayangkan tatapan penuh ancaman.
Aiden berupaya tenang. Sebab ini bukan pertama kalinya dia berhadapan dengan penjahat kelas kakap. Apalagi dengan sosok Ryan yang telah beberapa kali ditemuinya.
Ryan menghela nafas. Dia mencoba menahan amarah dan menjawab, "Kau tahu resiko yang akan kau terima, jika kau nekat menolak!"
"Maksudmu, kau akan membeberkan kejahatanku kepada publik?" balas Aiden.
"Bila kau sudah tahu, kenapa bertanya lagi?" Ryan mengerutkan dahi.
"Kau pikir aku takut? Seharusnya kaulah yang takut, Ryan. Baru kali ini kau terlihat begitu putus asa." Aiden menjawab dengan gaya angkuhnya.
"Sudahlah jangan basa-basi! Aku sudah tidak tahan!" John yang tidak sabaran bangkit dari tempat duduk. Kemudian menodongkan pistol ke kepala Aiden.
"Kau akan mendapat masalah, jika berani menembak kepala seorang senator!" Aiden tak bergeming. Namun tatapannya tampak tangguh. Dia seakan siap dengan segala apa yang akan menimpanya.
"John, aku membutuhkan bantuannya!" cegat Ryan. Dia kesal dengan sikap John yang bertindak semaunya sendiri.
__ADS_1
"Aku hanya berusaha membuatnya setuju dengan permintaanmu!" cetus John.
Ethan yang sedari tadi diam, hanya asyik menggedikkan salah satu kakinya. Dia tidak hirau dengan pembicaraan yang terjadi. Namun saat itulah Aiden tiba-tiba melarikan diri. Lelaki paruh baya tersebut masuk ke dalam rumah.
"Sial!" rutuk John sambil mencoba beranjak untuk mengejar Aiden. Namun Ryan dengan sigap menghentikan pergerakannya.
"Kita harus pergi. Aku punya firasat buruk!" ujar Ryan.
"Bukankah kau bilang membutuhkannya?" pungkas John yang merasa terheran. Entah dendam kesumat apa yang membuatnya terus saja ingin menghardik Aiden.
"Ryan benar! Sikap Aiden memang mencurigakan. Sebaiknya kita pergi!" Ethan yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. Untuk pertama kalinya, dia sependapat dengan Ryan.
John akhirinya setuju saja. Mimik wajahnya terlihat masam. Dia, Ryan dan Ethan segera pergi meninggalkan pavilion.
"Aku pikir dengan menggunakan jasa hacker sudah cukup untuk menghapus daftar kita dari buronan. Sekarang segalanya serba canggih. Semua data pasti tersimpan di perangkat lunak komputer." Ethan memberikan pendapatnya.
"Kau benar. Tetapi aku harus tetap menjamin nama kita sudah hilang sepenuhnya dari daftar buronan, dan aku membutuhkan bantuan seorang pejabat tinggi." Ryan menyahut sembari terus melangkahkan kaki. Ketika dia, Ethan dan John hendak melangkah ke jalan yang ada di samping rumah, beberapa polisi sudah menghadang.
Ryan, Ethan dan John sontak berbalik karena ingin berlari. Sayangnya jumlah polisi yang ada di belakang lebih banyak. Mereka lantas tidak dapat berbuat apa-apa. Puluhan polisi yang dilengkapi dengan senapan sudah mengepung.
"Sial! Aku seharusnya ikut dengan Ruby saja," oceh Ethan. Dia reflek mengangkat tangan ke udara. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ryan dan John.
Aiden dan seorang polisi yang tidak asing bagi Ryan, muncul di antara banyaknya polisi. Aiden berdiri dengan ekspresi datar.
"Mulai sekarang, aku tidak akan terlibat lagi dengan penjahat-penjahat seperti kalian," pungkas Aiden.
"Pilihan yang cerdas, Tuan Senator. Negara tercinta kita akan aman." Polisi yang tadi muncul bersamaan dengan Aiden telah berdiri di depan Ryan. Dia adalah Sebastian. Detektif yang pernah ditipu oleh Ryan dan Ethan saat di kota Virginia. Tanpa basa-basi, Sebastian langsung memborgol tangan Ryan. Dua anteknya juga tampak bergerak. Mereka membantu memborgol tangan Ethan dan John.
"Harusnya kalian juga menangkap senator bedebah itu. Kejahatannya lebih buruk dariku!" geram Ryan. Menatap sebal ke arah Aiden.
"Diamlah! Kau harusnya bersiap-siap untuk tinggal di penjara." Sebastian mendorong Ryan dengan kasar. Perbuatannya menyebabkan Ryan terpaksa harus terus berjalan maju.
Catatan kaki :
__ADS_1
Senator : Suatu badan deliberatif yang biasanya merupakan majelis tinggi dari badan legislatif di negara USA (Wakil Rakyat).