Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 41 - Potongan Teka-Teki


__ADS_3

...༻❀༺...


Pintu perlahan dibuka. Ruby segera melangkah masuk ke sebuah ruangan. Sosok Ethan yang terduduk lemas di lantai, menyambut penglihatannya. Kedatangan Ruby membuat Ethan langsung mendongakkan kepala. Mulutnya mengembangkan senyuman.


"Lihat dirimu. Tampak sangat menyedihkan," ujar Ruby sembari berjongkok ke hadapan Ethan. Dia memperhatikan wajah Ethan yang masih babak belur dan belum dibersihkan.


"Kau tahu... apa yang membuatku tertarik sejak awal kepadamu?..." Ethan berbicara dengan suara parau. Memandang lurus ke arah gadis yang ada di depannya. Sementara Ruby hanya membisu kala mendengarnya. Dia melayangkan tatapan penuh tanya. Berharap Ethan segera meneruskan pembicaraan.


"Kau mirip dengan seseorang... Apa dugaanku benar? Tetapi kenapa kau malah tinggal bersama Ryan?" tanya Ethan. Sedikit memiringkan kepala. Dia menyaksikan raut wajah kebingungan yang nampak pada Ruby.


"Maksudmu?" Ruby sontak penasaran.


Pupil mata Ethan membesar. Dia merasa kaget dengan kenyataan, bahwa Ruby tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Ethan sadar, jika dirinya berbicara terlalu jauh, maka mungkin Ryan akan semakin membencinya. Dia lantas berniat menyimpan dugaannya terlebih dahulu. Semuanya demi keselamatan dirinya sendiri.


"Oh, astaga. Seharusnya aku tidak mengatakannya. Maafkan aku, bukan apa-apa. Mungkin hanya perasaanku." Ethan lekas-lekas menarik perkataannya. Dia berusaha mengubah topik pembicaraan. "Apa roti itu untukku? Cepat berikan kepadaku. Aku sangat lapar!" ujarnya lagi.


"Tidak! Aku tidak akan memberikannya, sebelum kau meneruskan pembicaraanmu tentangku barusan. Kau sangat serius tadi, kenapa mendadak menarik ucapanmu?!" balas Ruby. Dia menjauhkan roti beserta sebotol air dari jangkauan Ethan.


"Sudah kubilang bukan apa-apa. Kenapa kau tidak bertanya saja kepada suamimu?" sahut Ethan seraya menyandarkan diri ke dinding. Kedua kakinya diselonjorkan santai di lantai.


"Maksudmu Ryan?" kening Ruby mengernyit.


"Iya, tetapi sebaiknya jangan. Aku sarankan kau untuk mencari tahunya sendiri," balas Ethan.


"Untuk apa aku bersusah payah, sepertinya kau adalah orang yang tepat untuk memberitahuku!" Ruby mendesak Ethan untuk menjawab.


"Aku hanya menduga, oke?! Aku tidak tahu apapun!" Ethan sudah kelelahan menghadapi desakan dari Ruby. "Cepat berikan rotinya kepadaku!" sambungnya lagi.


"Tidak!" tegas Ruby bersikeras. Dia sekarang berdiri, lalu menyembunyikan roti dan air di balik punggungnya.

__ADS_1


Ethan berdecak kesal. Dia berpikir sejenak. Mulutnya perlahan menganga untuk mengatakan sesuatu. Akan tetapi, belum sempat lelaki tersebut bicara, Ryan tiba-tiba datang.


"Ruby, apa yang kau lakukan di sini?" timpal Ryan. Dahinya mengukir garis-garis kerutan heran. Dia menatap Ruby selintas, kemudian beralih kepada Ethan.


"Kapan aku akan melakukan tugasku, Ryan. Apa kau berniat memperlakukanku begini selamanya?" tukas Ethan. Membalas tatapan Ryan tanpa adanya binar getir di dalamnya.


"Tugas? Apa dia akan bergabung dengan Shadow Holo?" tanya Ruby. Tanpa sengaja ikut masuk ke dalam pembicaraan.


"Dia hanya seorang budak!" jawab Ryan sambil merampas roti dan minuman yang dipegang Ruby. Kemudian melemparnya ke lantai. Tepat ke hadapan Ethan.


"Kau tidak boleh bicara dengannya." Ryan menarik tangan Ruby dengan paksa. Lalu membawa gadis itu keluar dari ruangan.


Ketika sudah berada di luar ruangan, Ryan langsung menutup pintu. Dia tentu tidak lupa untuk menguncinya. Ryan sudah berhenti mencengkeram tangan Ruby. Gadis tersebut berada di belakang Ryan. Menyalangkan mata kepada suaminya yang kebetulan membelakangi.


"Kenapa aku tidak boleh bicara dengannya? Aku hanya berniat membantu Max untuk memberikan makanan. Kau bahkan belum mengobati Ethan dengan baik." Ruby menimpali Ryan.


Kedua tangan Ruby mengepalkan tinju. Dia segera berkata, "Benar! Aku tidak tahu dan tidak mengerti apapun! Apa aku sebodoh itu dimatamu?!"


Ryan membisu. Meskipun begitu, dia berusaha sebisa mungkin menahan diri. Kakinya otomatis mundur satu langkah untuk menjauhi Ruby. Bola matanya bergerak memutuskan ikatan dari tatapan Ruby.


"Cukup, aku tidak mau berdebat denganmu." Ryan bicara tanpa menoleh ke arah Ruby.


"Aku juga!" balas Ruby tak acuh. Dia beranjak meninggalkan Ryan. Melangkahkan kakinya laju, karena rasa kesalnya masih belumlah pudar. Sedangkan Ryan hanya bisa menghela nafas panjang. Menatap punggung Ruby yang berjalan kian menjauh. Ryan kembali masuk ke ruangan Ethan. Entah apa yang dilakukannya di sana.


Ruby mengambil ponsel dari sakunya. Dia menghubungi Gaby, Mike serta Max, secara bergantian. Ruby menyuruh mereka berkumpul di kamarnya.



Semua orang sudah berkumpul di kamar Ruby. Baik Mike, Gaby dan Max, ketiganya sama-sama bingung, kenapa Ruby mendadak mengumpulkan mereka.

__ADS_1


"Ada apa, Ruby?" tanya Max. Dia mengamati Ruby yang baru saja duduk di kursi.


"Aku ingin mencari seseorang. Namanya adalah Henry Bryson. Dia merupakan satu-satunya orang yang dekat denganku saat di panti asuhan," terang Ruby, memberitahu.


"Kenapa kau tiba-tiba ingin mencarinya? Apa dia mengganggumu?" Gaby bertanya sambil melebarkan kelopak mata.


"Tidak. Henry adalah orang yang membawaku masuk ke dunia kejahatan. Sebenarnya dia yang mengajarkanku mencuri dan menipu. Tetapi ketika aku berusia lima belas tahun, Henry menghilang dan tidak pernah lagi menemuiku." Ruby berterus terang. Wajahnya terlihat ditekuk ke bawah.


"Itu memang aneh... Tetapi, bagaimana kami mencarinya jika tidak ada petunjuk apapun. Bahkan mungkin saja namanya bukanlah Henry. Seorang penjahat sangat sering memalsukan namanya!" Mike mengemukakan pendapatnya.


"Guys, yang aneh sebenarnya bukan tentang Henry." Gaby menatap Mike dan Max secara bergantian. Perlahan dia mengarahkan bola matanya kepada Ruby. "Yang aneh itu, kenapa Ruby mendadak ingin mencari Henry," ungkapnya. Kini semua tiga pasang mata otomatis terpusat ke arah Ruby. Tatapan mereka seakan menuntut jawaban.


Ruby tersenyum kecut. Dia lantas memberitahukan alasannya kepada Mike, Gaby dan Max. Ruby ingin melakukan pencarian, karena perkataan yang sempat dilontarkan Ethan kepadanya. Ketika mendengar wajahnya dibilang mirip dengan seseorang, Ruby merasakan adanya harapan. Dia berpikir, mungkin saja di luar sana masih ada keluarganya. Selain itu, dirinya juga penasaran dengan keterlibatan Ryan. Ruby berfirasat, kalau Ryan banyak merahasiakan sesuatu darinya.


"Kenapa kita tidak tanya dahulu kepada Ethan. Mungkin dia tahu lebih banyak tentangmu." Mike memberikan usulan.


"Aku sudah memaksanya untuk memberitahu, tetapi dia mendadak menutupinya dariku. Parahnya Ryan tadi memergokiku bicara dengannya. Sekarang Ryan melarangku bicara dengan Ethan," ungkap Ruby sembari mendengus kasar.


"Aku akan mengatur pertemuanmu agar bisa bicara dengan Ethan. Kita sebaiknya melakukannya, sebelum benar-benar mencari sosok Henry," respon Max, yakin.


"Apa Ryan tidak pernah menceritakan sesuatu tentangku kepada kalian?" Ruby menatap selidik tiga insan yang sedang duduk terpisah di hadapannya.


"Dia jarang membicarakan soal istrinya kepada bawahan. Apalagi tentangmu, orang yang terbilang masih baru di sini," jawab Max. Dia tidak berani menatap ke arah Ruby. Hal serupa juga dilakukan oleh Mike dan Gaby. Kedua kakak beradik tersebut memilih diam. Gaby tampak mengusap tengkuknya tanpa alasan. Tentu ada rahasia yang mereka ketahui tentang Ruby. Bukan mengenai jati diri Ruby, melainkan kebohongan yang Ryan lakukan. Semua orang di markas tahu, kalau Ryan membayar beberapa bawahannya untuk melaksanakan pengejaran palsu kepada Ruby.


"Tetapi beberapa hari lagi Ryan akan mengadakan misi musim dingin. Sebaiknya kita melakukan rencana ini secepat mungkin," imbuh Mike.


"Bagaimana malam ini saja?" saran Max.


"Ide bagus. Lebih cepat semakin baik!" sahut Ruby dengan senyuman tipis.

__ADS_1


__ADS_2