Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 79 - Hamil! [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby perlahan membuka mata. Dia segera disambut dengan infus yang tampak menggantung di sampingnya. Ruby bisa menyimpulkan dimana tempat dirinya berada sekarang. Ia segera merubah posisinya menjadi duduk. Mengerjapkan mata beberapa kali. Hingga akhirnya seorang pria muncul dari balik tirai.


Dahi Ruby langsung berkerut. Dia merasa mengenal sosok pria yang sekarang berjalan kian mendekat.


"Kau sudah sadar?" tanya pria itu, yang tidak lain adalah Andrew.


"I-iya? Kau siapa?" balas Ruby.


"Maaf sebelumnya. Kenalkan namaku Andrew. Lelaki yang sudah kau curi dompetnya," ujar Andrew dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.


Ekspresi Ruby seketika berubah menjadi masam. Dia merasa tertangkap basah dan sangat malu. Gadis itu hanya bisa memejamkan rapat matanya, sambil membuang muka dari Andrew.


"Sekarang, beritahu aku siapa namamu." Andrew menarik kursi kosong ke dekat Ruby. Lalu segera mendudukinya.


"Aku Ruby... apa kau orang yang telah membawaku ke sini?" tanya Ruby dengan nada canggung.


Andrew mengangguk. Dia menatap lurus ke arah Ruby yang masih belum mengakui kesalahannya.


"Ah, benarkah? Kalau begitu terima kasih atas bantuannya, dan juga aku minta maaf karena sudah mengambil dompetmu. Aku berjanji akan segera membayarnya. Lebih baik aku pulang sekarang!" ucap Ruby seraya mencoba melepaskan infus yang menempel disalah satu tangannya. Namun belum sempat dia melakukannya, Andrew sudah lebih dahulu mencegah.


"Kau tidak bisa pergi, Ruby! Banyak hal yang harus kau ketahui. Ini mengenai alasan kenapa kau bisa pingsan tadi. Apa kau tidak mau mengetahui alasannya?" pungkas Andrew. Perlahan melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Ruby.


"Apa aku menderita penyakit parah?" tanya Ruby. Mendadak cemas.


Andrew menggeleng pelan. Dia kembali duduk ke kursi. "Kau sedang hamil!" ungkapnya.


Deg!

__ADS_1


Mata Ruby langsung terbelalak. Jantungnya serasa disambar petir. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menerima kenyataan bahwa dirinya tengah hamil. Sebab Ruby tahu, dia dan Ryan masih belumlah siap untuk memiliki anak.


"A-apa?! Kumohon jangan bercanda!" Ruby tidak mempercayai penuturan dari Andrew.


"Jika kau tidak percaya, kenapa tidak kau tanyakan sendiri kepada Dokter? Kau mau aku memanggilkannya ke sini?" Andrew tampak sudah berdiri. Bersiap untuk memanggil Dokter untuk Ruby.


"Bisakah kau melakukannya untukku..." pinta Ruby. Andrew lantas beranjak untuk memanggil Dokter yang bertugas memeriksa Ruby. Tidak lama kemudian Dokter tersebut tiba ke hadapan Ruby.


"Ada apa?" tanya Dokter.


"Dia mau tahu alasan, kenapa dirinya bisa pingsan saat di mini market tadi," jelas Andrew sambil menyilangkan tangan di depan dada.


"Apa kau tidak memberitahunya?" Dokter menatap heran Andrew.


"Dia tidak mempercayaiku, Dok!" sahut Andrew. Dokter otomatis mengalihkan atensinya kepada Ruby, dan segera menjelaskan fakta yang sebenarnya.


"A-apa?! Aku bukan--"


"Suami? Kami tidak--"


"Lebih baik kalian bicarakan masalah ini baik-baik. Aku harus mengurus pasien yang lain." Dokter dengan perawakan tinggi itu sengaja memotong pembantahan dari Andrew dan Ruby. Belum mendengar penjelasan lebih lanjut, sang Dokter sudah terlanjur beranjak menjauh. Andrew bergegas mengejar, dia tidak mau kesalahpahaman berbuntut panjang.


Sedangkan Ruby, memanfaatkan kesempatannya untuk kabur. Dia melepas paksa infus yang menempel di tangannya. Kemudian turun dari hospital bed-nya. Akan tetapi, Andrew keburu datang dan sukses memergoki.


"Kau!" Andrew mencengkeram erat lengan Ruby. "Urusan kita masih belum selesai, oke? Aku yakin kau sudah sering melakukan aksi pencopetan dimana-mana. Bulankah begitu?" timpalnya.


"A-apa? Tidak! Aku terpaksa melakukannya karena tidak membawa uang. Kumohon maafkan aku, apa kau tidak kasihan dengan cabang bayi yang ada di dalam perutku," ujar Ruby sembari memegangi area perutnya.


"Suamiku pergi jauh, dan aku sendirian." Ruby memilih berbohong, agar dirinya bisa medapatkan belas kasih dari Andrew. "Aku juga baru saja dipecat dari pekerjaanku," tambah Ruby dengan mimik wajah memelas. Memperpanjang dialog sandiwaranya.

__ADS_1


Pegangan Andrew mulai melemah. Lelaki tersebut nampak berpikir. Hingga pada akhirnya dia melepaskan tangan Ruby.


"Baiklah kalau begitu. Tetapi berjanjilah kepadaku, jangan pernah mencopet dompet orang lain lagi!" Andrew mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Ruby. Memberikan nasehat yang tegas.


Ruby mengangguk beberapa kali. Dia memaksakan dirinya tersenyum. "Berarti sekarang, kau akan membiarkanku pergi bukan?" ujarnya, merasa yakin.


"Tidak! Aku akan mengantarmu pulang. Lokasi rumah sakit ini sepertinya jaraknya agak jauh dari lingkungan tempat tinggalmu," balas Andrew. Dia terlihat mengenakan jaket dan topinya. Lalu mengajak Ruby mengikutinya.


Ruby tidak kuasa menolak. Lagi pula, dia merasa omongan Andrew ada benarnya. Memang pilihan yang terbaik adalah ikut menumpang ke mobil Andrew.


Setelah diberikan resep obat, Ruby dan Andrew segera memasuki mobil. Mereka segera pergi dari lingkungan rumah sakit. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju E. Green Street. Ruby telah memberitahukan alamat rumahnya kepada Andrew. Melihat kebaikan lelaki itu, Ruby berfirasat bisa mempercayai sepenuhnya.


Tiba-tiba terdengar suara walkie talkie. Ruby bisa mengetahuinya dari desisan yang terdengar seperti radio. Selain itu, terdengar juga suara seorang lelaki yang bicara melalui walkie talkie.


"Terjadi aksi penyerangan di sebuah cafe yang terletak di area E. Black Street. Untuk aparat yang dekat dengan lokasi tersebut, mohon datangilah secepat mungkin." Ruby dapat mendengar jelas kalimat yang dikatakan oleh seorang lelaki di walkie talkie. Dia menelan salivanya sendiri. Ruby mulai curiga, kalau lelaki yang sedang menyetir di sampingnya adalah seorang polisi.


Andrew terlihat meraih walkie talkie-nya. Dia lalu menjawab, "Aku sedang berada jauh dari area itu. Tapi aku akan datang memeriksa secepat mungkin!"


"A-apa kau polisi?" Ruby bertanya dengan tergagap. Dia merasa sedikit syok. Seharusnya dirinya tidak nekat mempercayai Andrew begitu saja.


"Menurutmu?" respon Andrew. Menatap selintas ke arah Ruby. Ia dapat melihat adanya keraguan di semburat wajah Ruby. "Ya, aku adalah seorang polisi? Kenapa? Apa kau takut sekarang?" tukasnya. Terkekeh sampai menampakkan gigi-gigi putihnya yang rapi. Andrew merasa lucu menyaksikan adanya ketegangan yang ditunjukkan oleh Ruby.


"Kau tidak akan membawaku ke kantor polisi kan?" ujar Ruby. Sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Andrew. Menampakkan binar penuh harap disorot mata hazelnya.


Andrew menggeleng lemah beberapa kali. "Untuk sekarang tidak. Tapi bila kau ketahuan mencopet lagi, maka aku tidak akan segan-segan membawamu ke kantorku!" tegasnya.


"Terima kasih. Aku janji tidak akan mencopet lagi!" ucap Ruby, yakin. Sementara dalam hatinya dia berucap, 'Ya, aku tidak akan mencopet lagi sampai minggu depan. Tetapi setelahnya, kemungkinan aku bisa kembali melakukannya. Apalagi jika dalam keadaan terdesak.'


Ruby mendengus lega dalam sesaat. Dia mengalihkan pandangan ke arah jendela mobil. Memikirkan nasib janin yang ada dalam perutnya. Bagaimana cara dirinya memberitahu Ryan?

__ADS_1


__ADS_2