Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 46 - Kue Red Velvet


__ADS_3

...༻❀༺...


Setelah Ruby beranjak lebih dahulu dari ruang latihan, Sarah lantas melakukan hal sama. Dia berjalan dengan wajah cemberut menuju kamarnya. Sarah tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan terhadap Ruby. Gadis itu telah menggeser posisi pentingnya. Sarah tahu, dia harus melakukan sesuatu.


Sarah mencoba menenangkan diri duduk di ujung kasur. Wajahnya memerah padam akibat adanya amarah yang masih tertahan. Dia hanya bisa mengepalkan tinju dengan erat di salah satu tangannya. Beberapa kali gadis tersebut mengacak-acak rambut frustasi.


Suara langkah kaki yang mendekat, mengalihkan perhatian Sarah. Megan terlihat berdiri memandanginya dari depan pintu.


"Aku dengar kau baru saja bertanding melawan Ruby." Megan segera mengambil kursi yang ada di depan meja rias. Lalu mendudukinya.


"Ya, apa kau tahu? Gadis gila itu menggigit kepalaku! Untung saja tidak sampai berdarah. Kalau iya, aku pasti akan langsung membunuhnya tadi!" sahut Sarah dengan tatapan sebal. Dia sudah sekian kali menghela nafas panjang.


"Bagaimana? Kau pasti kapok terus membelanya kan?" pungkas Megan sembari memutar bola mata.


"Aku tidak membelanya! Itu hanya akal-akalanku saat di depan Ryan." Sarah mengulurkan kedua tangan ke depan. Dia menegaskan ucapannya. Perlahan kepalanya dicondongkan ke arah Megan dan melanjutkan, "aku sarankan kau juga berbuat begitu. Agar Ryan bisa terus memberikan kesempatan untuk kita. Aku ingin sekali membuat Ruby menjadi gadis yang tidak berguna dan jahat. Dimana Ryan tidak akan lagi bersimpati kepadanya."


"Kalau begitu, kita usir atau habisi saja dia. Aku sudah tidak tahan melihat wajahnya. Dia sangat angkuh!" Megan menyilangkan kedua tangannya didada.


"Apa kau gila? Jika caranya begitu, jelas Ryan akan tahu kalau kita adalah tersangka utamanya. Kita harus cari cara lain. Meskipun dari hal kecil terlebih dahulu..." Sarah memegangi dagunya sendiri. Dia berusaha mencari-cari ide dalam kepala.


Sementara Megan hanya memandangi malas Sarah. Salah satu kakinya digerak-gerakkan, karena sudah tidak sabar.


Setelah terdiam cukup lama, Sarah akhirnya bersuara. "Aku punya ide. Bagaimana kalau pertama-tama, kita singkirkan Ruby dari misi musim dingin terlebih dahulu?" imbunya. Namun Megan hanya datar saja. Dia masih menunggu bagian utamanya.


Sarah menengok ke arah pintu terlebih dahulu. Kebetulan pintunya masih dalam keadaan terbuka. Selanjutnya, dia perlahan mendekatkan mulut ke telinga Megan. Memberitahukan rencana briliannya yang terkait dengan misi penyingkiran Ruby.


__ADS_1


Ruby baru saja membersihkan diri. Tubuhnya terasa pegal semua, karena menerima terlalu banyak pukulan dari Sarah. Salah satu bagian pipinya bahkan ada yang lebam. Meskipun tidak besar, tetapi tetap saja mengganggu penampilan.


Ruby mengolesi lebamnya dengan salep. Dia tidak lupa juga pada beberapa lebam lain yang ada di beberapa titik badannya. Sesekali Ruby mengingat bagaimana cara dan ekspresi yang ditunjukkan Sarah saat memukuli dirinya. Ketika mengingat hal itu, Ruby merasakan kekesalan yang memuncak. Dia harusnya menggigit Sarah sampai berdarah.


Ruby terpaku untuk sesaat menatap pantulan dirinya di cermin. Suara ketukan pintu yang pelan sontak menyadarkannya. Dia lantas bergegas membuka pintu. Tampaklah Mike yang tersenyum tipis. Ditangannya terdapat sepotong kue red velvet, serta segelas teh hangat.


"Teh dan kue?" tawar Mike. Senyumannya terlihat berbeda saat itu. Gelagatnya tidak seperti biasa.


"Ada apa, Mike? Tidak biasanya kau memberikanku makanan dan minuman tanpa disuruh," ungkap Ruby. Meskipun begitu, dia merasa senang dengan sajian yang dibawakan Mike. Apalagi Ruby tidak ada menyantap apapun semenjak selesai berlatih.


"Bukan dariku, tapi... ta-tapi... dari Ryan..." Mike terlihat ragu memberikan hidangannya kepada Ruby.


"Terima kasih sudah bersedia membawakannya, Ryan akhir-akhir ini memang sangat manis. Aku akan segera menemuinya." Ruby mencoba mengambil kue dan minuman yang masih ada ditangan Mike. Akan tetapi Mike bertahan, dan memperkuat pegangannya.


"Kau kenapa, Mike? Bukankah kue dan teh ini untukku? Jangan bilang kau juga mau?" Ruby otomatis mengernyitkan kening keheranan. Dia merasa Mike bersikap sangat aneh.


"Apa yang salah, Mike?" timpal Ruby. Tidak mengerti. Dia masih belum menyadari kehadiran Megan yang semakin mendekat ke arahnya.


Sementara Mike tidak menjelaskan apapun. Dia hanya pergi. Lalu menghilang ditelan oleh jarak.


Ketika suara sepatu khas Megan terdengar, barulah Ruby menoleh. Dia dapat menyaksikan Megan berdiri tidak jauh darinya.


"Wow, sepertinya enak." Megan menatap kue dan minuman yang telah ada ditangan Ruby.


"Tentu saja. Apa kau mau? Belilah sendiri!" balas Ruby tak acuh. Kemudian membanting pintu kamarnya. Dia tidak berminat berbicara terlalu lama dengan Megan.


Kue red velvet dan teh hangat kini diletakkan Ruby di atas meja. Akibat merasa begitu lapar, gadis itu memasukkan kue langsung ke mulutnya. Satu sendok yang terasa enak, membuatnya ingin terus melahap sampai habis.

__ADS_1


'Apa aku harus menghubungi, atau menemui Ryan secara langsung?' batin Ruby yang sekarang menyesap teh hangatnya. 'Bertemu langsung memang lebih baik. Lagi pula, Ryan kemarin sempat menyuruhku untuk menemuinya. Dia akan mengajakku ikut menjadi bagian misi musim dingin,' lanjutnya masih berbicara dari dalam hati. Dia tersenyum senang kala memikirkan pertemuannya dengan Ryan.


Setelah menghabiskan hidangannya, Ruby beranjak pergi menemui Ryan. Di sana ada Megan dan Sarah. Sedangkan Ryan, kebetulan belum bergabung. Di meja terdapat kue red velvet tersaji. Kue serupa dengan yang dimakan Ruby tadi.


Atensi Ruby terpaku ke arah kue. Sebab kue tersebut masih belum tersentuh, dan hanya dipotong sepertiga bagian. Dia bisa menyimpulkan, Megan dan Sarah belum menyentuhnya.


"Ryan membeli kue hanya khsusus untuk dirimu. Kami tidak diperbolehkan menyentuhnya," ujar Sarah. Menatap Ruby dengan sudut matanya.


"Benarkah?..." Ruby merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sarah. Apalagi saat itu, Sarah tidak sendiri, melainkan bersama gadis yang dianggap Ruby paling licik. Siapa lagi kalau bukan Megan.


Ruby menduga kue yang tadi dimakannya adalah pemberian Megan dan Sarah. Dia semakin yakin, saat mengingat gelagat Mike yang terlihat ragu menyerahkan kue dan teh kepadanya.


"Sial!" Ruby memegangi tenggorokanya. Berharap apa yang dimakannya dapat segera keluar dari mulut. Dia yakin Megan dan Sarah memasukkan sesuatu ke dalam kue dan minuman yang tadi disantapnya.


"Kau kenapa, Ruby?" timpal Sarah dengan dahi yang berkerut.


"Kau yang kenapa! Dasar gadis sialan!" umpat Ruby dengan nada penuh penekanan. Pitamnya otomatis memuncak. Apalagi kala melihat mimik wajah Megan dan Sarah tampak serius, seakan-akan khawatir dengan kondisinya.


"Ada apa, Ruby?! Kami tidak berbuat apapun." Sarah bangkit dari tempat duduk untuk melakukan pembelaan.


"Tidak melakukan apapun kau bilang?!" Ruby tercengang. Dia mendekat satu langkah ke hadapan Sarah. "Bukankah kalian yang memberikan aku kue dan teh tadi. Bohong jika itu adalah murni niat baik kalian! Aku yakin kalian merencanakan sesuatu!" sambungnya. Rahangnya mengerat kesal.


"A-apa?! Jadi kau menuduhku dan Megan meracunimu?" Sarah terperangah. "Jika kue dan minuman yang kau telan itu beracun, kau sudah mati sekarang!" tegasnya, memberi penjelasan.


"Sarah benar. Ruby, harusnya kau pastikan dulu keadaanmu. Kau... tampak baik-baik saja." Megan ikut masuk ke dalam pembicaraan.


Apa yang dikatakan Megan dan Sarah langsung membuat Ruby bungkam. Sebab apa yang keduanya beritahukan memang benar. Ruby masih sehat dan baik-baik saja. Gadis itu perlahan menundukkan kepala. Seolah merasa malu dan menyesal terhadap segala tuduhan yang dilontarkannya. Tetapi, satu hal yang tidak diketahui Ruby, Sarah dan Megan diam-diam saling bertukar pandang, kemudian mengukir senyuman puas.

__ADS_1


__ADS_2