Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 90 - Menjemput Ruby [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby merebahkan diri sambil memegangi jidatnya. Matanya mendadak segar gara-gara apa yang dilakukannya tadi bersama Ethan.


"Hampir saja..." keluh Ruby, lalu dilanjutkan dengan helaan nafas berat. Dia mencoba tidur kembali. Tetapi ternyata butuh perjuangan berat untuk melakukannya. Alhasil Ruby hanya rebahan saja sembari membuka lebar matanya.


Sementara itu Gaby, diam-diam membangunkan Mike. Dia melakukannya setelah melihat Ethan sudah masuk dan tidur di kamar tamu.


"Hmm?" Mike yang pada akhirnya membuka mata bergumam. Dia mengusap kasar matanya seraya mendudukkan diri. "Ada apa?" tanya-nya.


"Ryan dalam perjalanan ke sini!" seru Gaby dengan nada begitu pelan. Ucapannya sukses membuat mata Mike terbelalak.


"Benarkah? Secepat itu?" balas Mike yang merasa tak percaya.


"Ya, aku baru saja diberitahu oleh Frans. Aku pikir kita harus melakukan sesuatu kepada Ethan. Aku takut, terjadi apa-apa kepadanya," terang Gaby. Menyebabkan Mike otomatis segera berpikir.


"Maksudmu, seperti membawa Ethan pergi dari sini?" terka Mike. Gaby lantas menganggukkan kepala.


"Kita punya waktu berapa banyak, sebelum Ryan sampai ke sini?" Mike lebih dahulu menegakkan cara duduknya. Memasang mimik wajah serius.


"Kita punya waktu sampai jam sepuluh pagi besok!" jawab Gaby. Setelah memastikan perkiraan dengan menggunakan ponsel. Dia mencari lamanya perjalanan dari kota Chicago ke Virginia. Ternyata membutuhkan waktu cukup lama.


"Baiklah! Biar aku yang mengurus Ethan. Sedangkan kau bertugas untuk menjaga Ruby di sini!" ujar Mike, bertekad.


"Ingat Mike! Jangan membunuhnya. Jujur aku merasa kasihan pada Ethan..." lirih Gaby sembari menundukkan kepala.


"Kita melakukan ini untuk keselamatannya bukan? Jadi dirimu tidak perlu khawatir!" Mike menepuk pelan pundak Gaby. Kemudian mengajak untuk segera tidur.



Satu malam berlalu. Mike dan Gaby adalah orang pertama yang bangun. Mereka sedang bersiap mempersiapkan rencana. Gaby tampak asyik membuat sarapan. Sedangkan Mike sibuk melakukan sesuatu pada mobil Ethan. Kedua kakak beradik itu bergumul lumayan lama dengan kegiatannya masing-masing.


"Mobil sudah siap!" ucap Mike, yang baru saja masuk menghampiri Gaby.


"Kalau begitu, langsung saja!" saran Gaby. Matanya melirik ke arah kamar Ethan berada.


Mike segera masuk ke kamar Ethan. Berniat membangunkan Ethan dari tidur. Ia mengguncang tubuh Ethan beberapa kali. Sampai pada akhirnya Ethan membuka mata.

__ADS_1


"Ini masih pagi? Kau kenapa sudah membangunkanku?" timpal Ethan dengan dahi yang berkerut. Dia nampaknya kesal, karena Mike tiba-tiba mengganggu tidurnya.


"Ruby menginginkan sesuatu. Bisakah kau menemaniku untuk membelinya?" ungkap Mike.


Mendengar nama Ruby, Ethan langsung sepenuhnya bangun. Dia mengerjapkan mata, serta meregangkan tubuhnya yang atletis.


"Dia mau membeli apa? Sampai kita berdua yang harus melakukannya?" Ethan menuntut jawaban. Pertanyaannya menyebabkan mata Mike meliar ke segala arah. Dia sempat bingung harus menjawab apa.


"Ru-ruby menginginkan... karbohidrat yang berasal dari Asia itu. Apa namanya, aku lupa." Mike menggaruk bagian belakang kepala. Bola matanya mengarah ke kanan atas. Pertanda dirinya sedang sibuk mengingat.


"Maksudmu beras?" tebak Ethan. Keningnya mengernyit kala menyaksikan gelagat Mike.


"Nah, itu! Aku tidak tahu harus membelinya dimana. Kau lama tinggal di Virginia, jadi aku yakin kau sangat tahu dimana tempat yang bagus untuk membelinya!" Mike berkata penuh semangat.


"Kita bisa membeli yang mentah di super market. Serahkan saja kepadaku. Aku akan pergi sendiri." Ethan bangkit dari kasur. Mempersiapkan diri untuk pergi.


"Tidak! Aku akan ikut menemanimu! Aku agak bosan terus berada di rumah." Mike bersikeras, dengan cara memberikan alasan secara asal.


Ethan hanya memutat bola mata jengah. Dia ke kamar mandi dahulu, lalu benar-benar pergi bersama Mike. Gaby yang dapat melihat kepergian Ethan dan sang kakak, menghembuskan nafas kasar dari mulut. Dirinya tentu merasa sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya terhadap Ethan.


"Semoga dia bisa mendapat kesenangan baru di luar sana..." harap Gaby. Masih terpaku menatap ke jendela. Hingga dia tidak sadar Ruby berjalan mendekat ke arahnya.


Gaby sedikit terperanjat. Dia menyempatkan diri menelan saliva. Kemudian menoleh kepada Ruby.


"Bu-bukan apa-apa. Aku hanya melamun." Gaby memberikan alasan.


"Kemana Mike dan Ethan?" tanya Ruby seraya celingak-celingukan ke segala arah. Berupaya mencari dua lelaki yang disebutkannya.


"Mereka sedang membeli bahan makanan. Sekalian juga jalan-jalan," sahut Gaby sambil melangkah kian mendekat.


"Benarkah? Tapi aku lihat kau sudah mempersiapkan sarapan," balas Ruby. Perhatiannya terfokus ke roti buatan Gaby yang ada di dapur.


"Itu hanya cukup untuk sarapan kita!" Gaby menjawab tegas. Melengkungkan mulut untuk membuat sebuah senyuman. Alhasil Ruby hanya memanggutkan kepala beberapa kali. Dia berhenti memberikan pertanyaan lugas.


Setelah sarapan, Ruby dan Gaby menghabiskan waktu mengobrol di teras belakang. Keduanya sibuk berjemur di dekat kolam renang yang ada.


"Aku sudah lama tidak melakukan ini..." imbuh Ruby. Dia sedang mengenakan bikini berwarna jingga, ditambah dengan kacamata hitam. Hal serupa juga dilakukan oleh Gaby. Bedanya gadis keturunan negro itu mengenakan bikini berwarna hijau.

__ADS_1


"Ya, aku mendengar. Ini juga bagus untuk wanita hamil. Aku mengetahuinya dari video youtube yang dibuat oleh Dokter terkenal itu," jawab Gaby. Tangannya meraih gelas berisi jus jeruk segar dariatas meja.


"Maksudmu Dokter Alicia? Dia memang hebat." Ruby menyahut sambil memejamkan mata. Dia dan Gaby cukup lama berjemur. Mereka mengakhiri dengan cara menceburkan diri ke kolam renang.


"Wah... aku jadi ingat momen terakhir kali aku berenang..." lirih Ruby. Ia telah berada di air, dalam keadaan mendongakkan kepala.


"Kapan itu, Ruby?" tanya Gaby seraya berenang lebih dekat.


"Beberapa bulan yang lalu mungkin. Aku berenang di laut yang luas demi kabur dari Ryan. Aku ingat itu sangat melelahkan." Ruby bercerita singkat.


"Tentu saja itu melelahkan! Untung kau--" perkataan Gaby terpotong, ketika mendengar suara keributan dari arah pintu masuk. Dia dan Ruby bergegas naik dan memakai handuk.


Ruby merasa penasaran dengan siapa yang datang. Sementara Gaby sudah dapat menduga, kalau yang datang adalah Ryan. Gaby memang sengaja merahasiakannya dari Ruby. Dia tentu melakukannya agar Ruby tidak pergi dari rumah.


Gaby segera mengenakan handuk kimono. Dia tidak lupa untuk memberikan satu untuk Ruby.


"Thanks!" ucap Ruby. Dia langsung mengenakan handuk kimono yanh diberikan Gaby.


Suara langkah kaki mendadak terdengar. Ruby sontak menoleh ke arah sumber suara. Pupil matanya membesar tatkala melihat Ryan sudah di depan mata.


"Aku lebih baik pergi." Gaby beranjak begitu saja. Dia membiarkan Ryan dan Ruby mengurus masalah selanjutnya. Sebab masalah yang ada memang urusan pribadi mereka.


"Mau apa kau ke sini?! Mau menggugurkan kandunganku?! Aku tidak akan biarkan!" pungkas Ruby seraya memegangi bagian perutnya. Dia melangkah mundur seiring bertambah dekatnya Ryan.


"Ruby, aku mau menjemputmu. Kau harus ikut aku ke markas, oke?" Ryan berjalan sambil mengulurkan satu tangan. Berharap Ruby bersedia menyambutnya.


"Persetan dengan itu! Kau bahkan belum menjawab apapun tentang pertanyaanku tadi!" geram Ruby. Pitamnya perlahan naik. Pergerakannya terhenti, saat menyadari ada kolam renang di belakangnya. Alhasil sekarang Ryan dapat menghampiri.


"Ruby... i miss you." Ryan menyentuh lembut pipi Ruby. Ibu jarinya memainkan bibir ranum milik Ruby.


Ruby sempat terhipnotis dengan sentuhan Ryan. Darah disekujur badannya berdesir hebat. Namun setelah melihat keributan para bawahan Ryan di dalam rumah, Ruby seketika tersadar. Dia mendorong Ryan yang hampir saja mencium bibirnya.


"Pergilah, Ryan! Aku tidak ingin ikut!" Ruby memegang erat tangan Ryan. Menariknya, sampai membuat Ryan terjatuh ke dalam kolam renang.


Byur!


Ryan langsung basah kuyup dalam sekejap. Setelan jas dan kemeja yang dipakainya kini terasa berat. Ryan berdiri, lalu menatap penuh tekad Ruby yang sibuk berjalan menjauh. Tanpa basa-basi, Ryan bergegas melakukan pengejaran.

__ADS_1


Menyadari Ryan mengejar, Ruby melajukan langkahnya. Lalu mengunci dirinya di dalam kamar. Dia tidak mau memaafkan Ryan dengan mudah.


__ADS_2