
...༻❀༺...
Ruby segera menoleh ke arah sosok yang telah menegurnya. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan Ethan sudah di depan pintu. Badan lelaki itu dipenuhi lebam dan luka kering. Bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Dia menggenggam sebuah pistol ditangannya.
"Ethan... bagaimana kau..." Ruby melangkah mundur. Hingga terpojok ke lemari yang ada di belakang. Dia tentu mencoba waspada dengan serangan tiba-tiba.
Ethan tersenyum miring. Dia memainkan pistol ditangannya seperti sebuah mainan. Melangkah lebih dekat kepada Ruby.
"Kau tahu? Penjahat punya segala cara untuk melarikan diri. Kau tidak perlu tahu bagaimana caraku kabur dari ruangan menjijikan itu." Ethan berkata dengan mimik wajah serius. Matanya segera mengedar ke sekitar. Dia tampak mencari-cari sesuatu.
"Maaf, Babe. Aku harus melakukan ini." Ethan menempelkan ujung pistol ke dahi Ruby. Menyebabkan gadis tersebut sontak dirundung perasaan panik. Kedua tangannya otomatis terangkat ke udara.
"Tunjukkan aku jalan ke kamar Ryan! Aku butuh pakaiannya," perintah Ethan. Memaksa Ruby untuk memimpin jalan.
Ruby tidak punya pilihan lain selain menurut. Meskipun begitu, dia tidak akan membawa Ethan ke kamar Ryan. Melainkan ke kamar Max. Jaraknya sendiri tidak begitu jauh.
Ketika pintu kamar terbuka. Ethan bergegas masuk lebih dahulu. Ruby lantas mengambil kesempatannya untuk merampas pistol yang dipegang Ethan. Gadis itu melayangkan tendangan ke betis, lalu meninju lengan Ethan yang sedang memegang senjata.
Pistol sontak terjatuh ke lantai. Ethan yang masih belum tumbang berupaya kembali mengambilnya. Hal serupa juga dilakukan Ruby. Keduanya saling berdahuluan untuk meraih pistol.
Ethan mendorong Ruby menjauh, sehingga gadis tersebut tidak mampu meraih pistol. Kini pistol kembali ke dalam genggaman Ethan.
"Kau sepertinya sudah ahli berkelahi. Pukulanmu cukup kuat juga." Ethan mengunci kedua tangan Ruby. Kemudian mengurungnya ke kamar mandi.
Ethan menggunakan waktunya untuk memakai pakaian. Dia mengamati keadaan kamar tempat dirinya berada sekarang. Dari tampilannya, Ethan yakin kalau Ruby tidak membawanya ke kamar Ryan.
Setelan musim dingin telah dikenakan Ethan. Dia menambahkan topi kupluk untuk menghangatkan kepala. Selanjutnya, Ethan segera membuka pintu kamar mandi. Memastikan keadaan Ruby.
Saat Ethan membuka pintu, Ruby langsung melakukan serangan. Sebuah tinju yang mengarah tepat ke wajah. Ethan yang ternyata sudah menduganya, dapat menghindar dengan sigap. Mengetahui sikap Ruby lebih berani dan lihai dari sebelumnya, Ethan terpaksa kembali memakai pistol sebagai ancaman. Dia menodongkannya lagi kepada Ruby.
__ADS_1
"Sudahlah, Ruby. Aku tahu kau juga sedang berniat melarikan diri. Bagaimana kalau kita kabur bersama-sama," ujar Ethan sembari mengukir senyuman tak berdosa. Salah satu alisnya terangkat.
Ruby mendengus kasar. Dia jelas tidak mau menerima tawaran Ethan. Jika Ryan mengetahui dirinya kabur bersama Ethan, suaminya tersebut pasti akan mengamuk. Sesuatu hal buruk bisa saja terjadi. Ruby juga takut, Ethan akan mengajak organisasi mafia lain untuk menyerang The Shadow Holo.
"Kau meragukanku? Jangan bilang kau masih mengkhawatirkan suamimu? Bukankah dia punya istri selain dirimu. Aku yakin, dia pasti akan membiarkanmu pergi." Ethan mendadak menghitung dengan jari-jemarinya. Menyisakan jari telunjuk dan jari tengah. "Jika kau pergi, Ryan masih punya dua istri kan?" sambungnya. Memperlihatkan jarinya yang disisakan menjadi dua.
"Aku berniat kabur sendirian. Sama sekali tidak tertarik ditemani oleh orang sepertimu!" sahut Ruby. Masih diam di tempat.
Dari luar terdengar derap langkah kaki yang mendekat. Ethan langsung bergerak cepat. Dia melingkarkan tangan kirinya ke leher Ruby. Sementara tangan kanannya menempelkan pistol ke kepala gadis itu.
Beberapa saat kemudian, masuklah beberapa orang bawahan Ryan. Salah satunya adalah Gaby. Mereka berhasil memergoki keberadaan Ethan dan Ruby.
"Lepaskan dia, bedebah!" geram Gaby. Dia dan dua orang lainnya menodongkan pistol ke arah Ethan.
Ethan perlahan keluar dari kamar mandi. Dia tentu belum melepaskan Ruby. Sengaja menjadikan gadis tersebut sebagai tawanan sekaligus ancaman.
Ruby mencoba melakukan serangan. Dengan cara menginjak kaki Ethan sekuat tenaga. Akan tetapi usahanya tidak berhasil membuat dirinya dilepaskan. Tanpa diduga, Ethan malah menembakkan peluru ke salah satu bawahan Ryan.
Dor!!
Ethan meluncurkan timah panas tepat ke kaki bawahan Ryan. Ruby tentu dibuat begitu kaget. Dia sangat cemas dengan nasib Gaby.
"Hentikan, Ethan!" Ruby memberanikan diri bersuara. Namun Ethan malah kembali menempelkan pistol ke kepala Ruby. Rasa panas seketika dirasakan Ruby, karena senjata tersebut baru melepaskan satu peluru.
Gaby dan bawahan Ryan yang lain otomatis melepaskan senjata. Mereka tidak mau melihat ada yang terluka. Saat itulah Ethan menyeret Ruby untuk kabur bersamanya. Ethan tidak akan segan-segan menembak orang-orang yang menghalangi jalannya.
"Ethan, izinkan aku mengambil tas ke kamar. Aku berjanji tidak akan melawan..." kata Ruby.
"Apa?! Jangan mengada-ngada!" balas Ethan. Masih mengeratkan pergelangan tangannya ke leher Ruby.
__ADS_1
"Kumohon, aku tidak bisa bertahan hidup di luar sana, tanpa tas itu..." mohon Ruby dengan suara seadanya.
Ethan berdecak kesal. Meskipun begitu, dia ternyata mau menuruti keinginan Ruby. Yaitu kembali ke kamar gadis tersebut sebentar. Membiarkan Ruby mengambil tas berharganya.
"Cepatlah!" desak Ethan. Dia tidak pernah absen menodongkan senjata ke arah Ruby. Setelah dirinya memegang tas, Ethan kembali menyeretnya untuk pergi.
Perjalanan Ethan sangat lancar, sampai dia tiba di parkiran basement. Ethan memaksa Ruby masuk ke salah satu mobil. Lalu melajukan mobil itu keluar dari area markas Ryan yang menyiksa.
Ruby mendengus lega, kala berhasil keluar dari markas. Dia tidak menyangka dirinya malah pergi berbarengan bersama Ethan. Hamparan kota yang dihiasi oleh salju segera menyambut penglihatan Ruby. Dia perlahan mengalihkan atensinya ke arah lelaki yang sibuk menyetir di sampingnya.
"Kau tidak akan membunuhku kan?!" timpal Ruby dengan tatapan kesal.
"Tentu saja tidak. Aku sedang mengalami krisis pertemanan. Semua orang terdekatku mati. Aku sendirian sekarang!" sahut Ethan sembari fokus dengan alat kemudinya.
"Kenapa kau tidak tetap tinggal bersama Ryan saja?! Bukankah katanya kau mau bekerjasama?" tanya Ruby.
"Awalnya begitu. Tetapi kelakuan Ryan membuatku kesal. Dia mengurungku selama berminggu-minggu. Suamimu benar-benar seorang psiko!" jawab Ethan.
"Bukankah kau juga sama?! Buktinya tadi kau tidak segan-segan menembakkan peluru kepada seseorang!" dahi Ruby mengerut dalam.
"Coba kau ingat kembali, ke bagian tubuh mana aku mengarahkan pistolku?" Ethan menatap Ruby selintas. "Ke kaki, oke? Aku bisa saja menembakkan peluru ke kepalanya. Tetapi aku memilih kaki, karena aku tahu luka dikaki dapat disembuhkan dengan mudah," tambahnya memberikan penjelasan.
Ruby terdiam seribu bahasa. Sebab apa yang dikatakan Ethan memang ada benarnya.
"Bisakah kau menurunkanku di suatu tempat. Aku ingin pergi sendiri saja," pinta Ruby. Keputusannya telah bulat. Dia tidak membutuhkan Ethan disisinya.
"Kau yakin?" Ethan memastikan. Dia mencoba mengamati ekspresi yang ditunjukkan paras Ruby.
"Aku yakin." Ruby menjawab sambil mengangguk tegas.
__ADS_1