
...༻❀༺...
Ryan dan Ruby sekarang rebahan bersama. Keduanya telah selesai melakukan kegiatan intim. Ruby memeluk Ryan dari samping. Menjadikan pundak suaminya sebagai bantalan kepala.
Ryan tampak memegangi jidat dengan satu tangan. Matanya beberapa kali mengerjap. Terlintas dalam kepalanya mengenai masalah yang dihadapinya sekarang. Ryan terpikir untuk melakukan serangan balasan. Tetapi bagaimana? Anggotanya kini semakin sedikit.
"Ruby, kau tidak akan marah kan jika ayahmu mati ditanganku?..." Ryan bertanya dengan lirih. Menyebabkan Ruby otomatis menoleh ke arahnya. Menatap lekat sang suami.
"Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai ayahku. Menurutku hal yang sama juga berlaku pada Jordan. Dia pasti hanya menganggapku sebagai orang asing." Ruby merubah posisinya menjadi duduk. Menutupi badannya yang masih bugil dengan selimut. Kini Ryan mampu membalas tatapannya.
"Apa kau sudah punya rencana untuk melakukan serangan balasan? Kau tidak mungkin hanya diam kan?" tanya Ruby. Sedikit mencondongkan badannya lebih dekat ke arah Ryan.
"Entahlah, aku mendadak terpikir mengenai Henry. Aku pikir dia pernah berkunjung ke markas The Black Cindicate." Ryan ikut duduk bersama Ruby. Dia Mengusap kasar rambutnya dengan jari-jemari.
"Kau benar. Aku rasa itu ide yang bagus. Lebih baik kita diskusikan kepada mereka secepatnya." Ruby hendak berdiri, namun Ryan menarik lengannya dengan cepat. Hingga gadis itu bisa lebih dekat lagi.
Ryan segera berucap, "I love you..."
Ruby yang mendengar tidak kuasa menahan senyuman. Dia lebih dulu memberikan sebuah kecupan singkat untuk Ryan. Kemudian membalas pernyataan Ryan. Dia berkata, "I love you too."
Ryan dan Ruby saling memancarkan binaran mata penuh cinta. Ryan bahkan membawa Ruby masuk ke dalam dekapannya. Lelaki itu memeluk sangat erat, sampai Ruby tidak mampu untuk melepaskannya. Meskipun begitu, keduanya sama-sama tertawa kecil bersama. Masalah yang ada bisa terlupakan dalam sejenak.
"Sudahlah, kita tidak bisa terus begini, Ryan." Ruby akhirnya berhasil lepas dalam dekapan Ryan. Dia segera beranjak ke kamar mandi. Sementara Ryan langsung mengenakan pakaian.
Ryan melangkah keluar dari kamar. Dia merasa lebih baik dari sebelumnya. Sekarang dirinya bisa menghadapi orang-orang dengan tenang. Ryan memilih berbicara empat mata dengan Henry terlebih dahulu. Ryan memilih untuk duduk di balkon. Ditemani dengan indahnya langit sore yang menjingga. Tidak lama menunggu, Henry segera ikut bergabung. Memilih posisi duduk yang berhadapan dengan Ryan.
__ADS_1
"Kau terlihat sudah baikan?" ucap Henry. Memulai pembicaraan.
Ryan tidak berniat sama sekali menjawab perkataan Henry. Dia hanya mengembangkan senyuman tipis, lalu menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan markas milik Jordan.
Untung saja Henry bersedia membantu. Dia mengatakan apa yang telah diketahuinya. Parahnya Henry mengetahui markas utama milik Jordan. Dan itu benar-benar informasi yang sangat berguna untuk Ryan. Hanya saja, jika dirinya ingin melakukan serangan balasan, Ryan harus memikirkan strategi yang matang terlebih dahulu.
"Mengenai strategi, aku bisa mengusulkan sesuatu kepadamu. Jordan punya lima orang anak sebagai prajurit utamanya. Kita lebih baik fokus menjauhkan kelima anaknya dulu. Jika itu terjadi, Jordan bukanlah apa-apa." Henry menjelaskan panjang lebar. Punggungnya menyandar ke sandaran kursi. Menatap cakrawala jingga dengan sudut matanya.
"Apa kau mengetahui nama dari kelima orang itu?" tanya Ryan. Dia menegakkan badannya. Tidak sabar untuk mendegar penjelasan lebih lanjut.
"Tidak. Tetapi aku tahu seseorang yang dapat membantu." Henry berdiri, lalu berjalan ke dekat pagar pelindung balkon. Dia menatap seorang lelaki yang sedang berjemur di bawah.
"Aku dengar Ethan mengetahui banyak hal tentang The Black Cindicate. Entah jimat apa yang dimiliki Ethan sampai dia berhasil lolos dari kejaran Jordan." Henry masih menatap lelaki yang asyik berjemur. Dia adalah sosok yang sedang dibicarakannya kepada Ryan.
"Ethan?" Ryan telah berdiri di sebelah Henry. Dia menggeleng lemah. Sebab dirinya sadar kalau hubungannya dengan Ethan tidak pernah akur.
"Tidak, aku tidak punya usulan lain selain itu." Henry menegaskan. Dia kemudian pergi meninggalkan Ryan.
Ruby baru selesai mengenakan pakaian. Ryan yang baru saja datang memberitahukannya untuk ikut berkumpul di pavilion. Tanpa pikir panjang gadis tersebut segera mengikuti apa yang dikatakan suaminya.
Sesampainya di pavilion. Ruby melihat ada Megan, Sarah, Henry dan juga Ethan di sana. Mereka sudah tiba lebih dulu. Atensi mereka sama-sama tertuju kepada Ruby dan Ryan yang baru saja datang.
"Ethan beritahu aku mengenai kelima anaknya Jordan!" Ryan langsung berbicara ke intinya.
"Dari mana kau tahu kalau--"
__ADS_1
"Aku yang memberitahunya!" dari pada ditimpali lebih dahulu, Henry memilih mengaku.
Pupil mata Ethan membesar. "Benarkah? Bukankah katanya kau tidak mengenalku? Kenapa tiba-tiba kau..." Ethan meragu untuk menyelesaikan kalimat akhirnya.
"Aku punya banyak teman. Makanya aku mengetahui banyak hal. Aku sebenarnya tahu tentangmu setelah Mike memberitahu kalau kau adalah ketua The Drugs yang sebenarnya. Jujur, aku kira kau sudah mati bersama Mr. June dan yang lain. Tapi ternyata kau mengungsi di sini," terang Henry, panjang lebar.
Ethan terperangah. Dia tidak bisa membantah terhadap segala hal yang dinyatakan Henry. Seluruhnya memanglah fakta. Dia hanya beruntung selamat dari kejaran Jordan.
"Ayolah, Ethan! Cepat katakan, lebih cepat semakin baik!" desak Ryan.
Ethan menghela nafas panjang sebelum bicara. Dia lantas memberitahukan apa yang dirinya tahu. Terutama mengenai kelima anaknya Jordan. Ethan mengatakan bahwa semua anak Jordan adalah orang-orang yang terlatih. Walaupun begitu kelimanya juga memiliki kelemahan masing-masing.
"Yang pertama adalah Dave. Dia adalah lawan yang termudah mungkin. Sebab Dave adalah seorang pecandu alkohol. Dia selalu sempoyongan. Kedua, ada Liana, dia cukup gila. Ketiga Zac, dia adalah orang yang sangat licik, kupikir. Lalu, Ben dan Clara, mereka adalah si kembar yang tidak terpisahkan." Ethan memberi informasi apa yang diketahuinya.
Ryan sengaja menyepi dalam sesaat. Dia memikirkan rencana yang tepat untuk melakukan penyerangan. Dirinya berpikir agar menyerang secara sekaligus saja. Menurut Ryan, usulan yang disarankan Henry terlaku beresiko. Ryan berpikir, jika dia menghabisi kelima jagoan andalan Jordan terlebih dahulu, kemungkinan Jordan akan mengetahui kedoknya dengan cepat.
"Biarkan aku memikirkan rencana dengan matang. Kalian beristirahatlah! Kita akan melakukan misi pembalasan secepatnya," ungkap Ryan. Kemudian beranjak pergi meninggalkan semua orang. Lelaki itu butuh waktu untuk menyendiri. Terutama ketika berusaha ingin fokus.
Ruby melangkahkan kakinya menuju pantai. Tiba-tiba sesosok lelaki ikut berjalan di sampingnya. Dia ternyata adalah Henry, yang langsung menularkan senyumannya kepada Ruby.
"Kau tahu, aku sangat menderita saat kau sudah tidak bersamaku lagi. Aku menghabiskan waktu sangat banyak untuk membencimu!" Ruby mencurahkan isi hatinya. Mengenang kesendirian yang menyakitkan di masa lalu.
"Maafkan aku. Tapi, lihatlah sekarang. Setidaknya kau menjadi seorang gadis yang kuat, bukankah begitu?" balas Henry.
"Seharusnya kau kirimkan seseorang untuk memberitahuku, mengenai kecelakaan yang menimpamu," ungkap Ruby, yang dilanjutkan dengan helaan nafas kasarnya.
__ADS_1
"Semuanya sudah berlalu, Ruby. Aku tidak bisa memperbaiki apa yang terjadi di masa lalu. Tapi kalau boleh jujur, aku puas dengan pilihanku." Henry lagi-lagi tersenyum. Wajahnya yang pucat masih terlihat jelas. Hal tersebut sama sekali tidak mengganggu Ruby. Justru Ruby merasa senang Henry bisa ada di sisinya lagi.