Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 68 - Misi Pembalasan [2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby segera membantu Megan. Dia melingkarkan lengannya ke leher Sarah dengan sekuat tenaga. Megan pun berinisiatif memegangi kedua tangan Sarah, membuang jauh pisau yang ada digenggaman gadis berambut pendek tersebut. Meskipun tangannya terluka, Megan tetap memaksakan diri.


Sekarang Sarah mulai kewalahan. Wajahnya memerah akibat cekikan yang dilakukan Ruby. Melihat hal itu, Clara dan Ben terpaksa turun tangan untuk membantu.


Clara segera menarik ribuan helai rambut Ruby. Hingga membuat Ruby sontak berteriak kesakitan. Ruby otomatis melepaskan tangannya dari leher Sarah. Mencoba melepaskan tangan Clara yang kini sibuk menyeretnya di lantai.


"Hahaha! Ternyata kau benar Sarah. Gadis ini sangat lemah!" ejek Clara yang bisa merasakan betapa tidak berdayanya Ruby terhadap serangannya.


Ruby tak terima kalau dirinya disebut lemah. Otaknya tidak perlu berlama-lama untuk mengatasi serangan Clara. Dia segera menggunakan kuku-kukunya untuk melukai tangan Clara. Ruby menekan keras jari-jemarinya sekuat tenaga. Hingga kuku-kukunya yang tajam seketika memberikan luka ditangan Clara.


"Aakhh!" Clara mengerang kesakitan. Pergelangan tangannya mengeluarkan sedikit darah. Dia reflek melepaskan rambut Ruby. Saat itulah Ruby bergegas bangkit. Lalu mengambil pecahan keramik dari pot bunga. Ruby berbalik dan menghujamkan pecahan keramik nan tajam tepat ke salah satu mata Clara.


Karena terlalu sibuk dengan lengannya yang terluka, Clara tidak sempat menangkis serangan Ruby. Alhasil sekarang sakit yang ia rasakan bertambah parah. Salah satu matanya mengalirkan banyak cairan merah. Clara tumbang dan terduduk ke lantai, sambil berupaya mencabut pecahan keramik yang masih menempel dimatanya.


Sementara Megan, harus berhadapan dengan Ben. Mereka bertarung sengit. Beberapa kali Ben memanfaakan tangan Megan yang terluka. Ketika Megan terjatuh dan tersungkur di lantai, Ben menggunakan peluangnya untuk menginjak tangan Megan. Akan tetapi, suara teriakan dari Clara, mengharuskan Ben beranjak pergi. Ben sangat marah saat menyaksikan keadaan saudara kembarnya. Matanya segera melotot ke arah Ruby.


"Ben! CEPAT BUNUH DIA!" pekik Clara dengan suara yang penuh amarah dan derita. Jari telunjuknya mengarah kepada Ruby.


Ben menggertakkan gigi sembari mengepalkan tinju. Dia akhirnya meraih pistol yang tersemat dipinggulnya. Bersiap meluncurkan peluru kepada tersangka yang telah berani menyakiti saudara tercintanya.


Ruby yang merasa terancam segera berlari menaiki tangga. Dia memilih menghindar lebih dahulu.


Dor!


Dor!


Dor!


Ben mulai menembaki Ruby. Untung saja, Ruby mampu menghindari serangan itu dengan baik. Dia berlari sambil berlindung di balik pagar dan drum-drum besar yang ada di sisi kiri dan kanannya.


Ben terlihat menembaki dari arah bawah. Memasang raut wajah cemberut yang memerah padam. Dia sudah tidak sabar ingin membunuh Ruby.

__ADS_1


Megan yang sempat melemah, mencoba bergerak pelan untuk bangkit. Hal sama juga sedang dilakukan Sarah. Megan lekas-lekas berdiri lebih dahulu, kemudian menendang wajah Sarah sekuat tenaga. Sarah sontak kembali tumbang ke lantai. Dalam keadaan hidung yang merembeskan darah.


Megan menggunakan kesempatannya untuk meraih ransel Ruby yang tergeletak di lantai. Dia berharap bisa menemukan senjata yang berguna di sana. Benar saja, Megan berhasil menemukan pistol dari tas ransel tersebut. Tanpa basa-basi, gadis berambut pirang itu menembakkannya tepat ke kepala Clara.


Dor!


Dalam sekejap, timah panah sukses merenggut nyawa Clara. Selanjutnya, Megan mengubah sasarannya ke arah Sarah. Belum sempat dirinya meluncurkan timah panas, Ben sudah lebih dahulu menghantam kepalanya dengan pistol. Lelaki tersebut tidak bisa menembakkan peluru lagi, karena sudah dihabiskan untuk melakukan serangan kepada Ruby. Ben bergegas menghampiri Megan, sebab dia tidak terima saudara kembarnya dibunuh.


Megan hanya bisa mengaduh. Apalagi ketika Ben memberikannya serangan bertubi-tubi. Mengamuk dan berteriak penuh amarah.


"Rebut pistolnya Ben! Cepat habisi dia!" pekik Sarah yang sudah tidak tahan melihat Megan masih hidup.


"Tidak! Aku akan menyiksanya terlebih dahulu!" sahut Ben sambil terus menendangi Megan dengan kakinya. "Aku akan memukulinya saja sampai mati!" lanjutnya lagi.


Megan sepenuhnya telah babak belur. Lama-kelamaan badannya bertambah lemah. Perlahan pistol digenggaman Megan terlepas. Ben yang menyadarinya, segera menendangnya. Senjata itu lantas meluncur tepat ke hadapan Sarah.


"Gunakan itu untuk membunuh wanita yang satunya!" ujar Ben. Kebetulan sekali, saat dia mengatakan perintah tersebut, Ruby terlihat muncul dari kejauhan. Ruby berlari kian mendekat karena berniat menolong Megan.


"Pergilah, Ruby!" Megan berteriak dengan suara seadanya. Namun suruhannya sama sekali tidak didengarkan oleh Ruby.


Megan merasa harus bertindak. Dia mengumpulkan tenaganya untuk bangkit, dan melakukan perlawanan kepada Ben. Gadis pirang itu cepat-cepat berdiri, lalu mendorong Ben dengan kekuatan yang masih tersisa.


Dor!


Perlawanan yang Megan lakukan, bertepatan dengan tembakan Sarah. Hingga pada akhirnya, Ben-lah orang yang harus terkena peluru. Tubuh Ben langsung terhempas ke lantai. Timah panas sukses bersarang di dadanya.


"Sialan!!!" rutuk Sarah, frustasi dengan insiden yang baru saja terjadi. Dia sekarang mencoba menembak Megan dengan pistolnya. Tetapi sayang, pelurunya sudah habis. Sarah kini hanya bisa mengeratkan rahang sebal.


Megan memperlihatkan peluru yang dia sembunyikan disaku celana. Dia memang sengaja mengambil beberapa peluru dari pistol, ketika Ben sibuk memukulinya tadi.



Di sisi lain, Ryan dan Ethan sedang menunggu kedatangan Jordan. Posisi mereka tidak begitu jauh dari markas Jordan berada.

__ADS_1


"Apa kau punya rencana cadangan? Sebab aku ragu, Jordan akan menemuimu secara langsung," celetuk Ethan sembari menyandarkan pinggulnya ke kap mobil. Hal serupa juga dilakukan oleh Ryan.


"Kau pikir aku bodoh? Dalam misi ini, ada satu rencana yang aku lakukan tanpa diketahui siapapun. Termasuk dirimu, bahkan Ruby sekali pun." Ryan memberikan penjelasan.


Ethan menggeleng tak percaya. "Kenapa kau tidak memberitahu Ruby? Kau tidak takut dia akan marah?" timpalnya dengan salah satu alis yang terangkat.


"Ini berbeda. Aku melakukannya karena suatu alasan," jawab Ryan sambil terpaku menatap ke arah jalanan beraspal.


Dari kejauhan mulai terlihat ada dua mobil hitam yang mengendara kian mendekat. Ryan yakin, mereka adalah orang-orang dari The Black Cindicate.


"Bersiaplah!" titah Ryan, kepada Ethan serta beberapa anggota yang ikut bersamanya. Dia segera menarik Ethan untuk berdiri membelakanginya. Ethan sedang berlagak seperti seorang tawanan sekarang.


Dua mobil hitam berhenti secara perlahan. Ternyata dugaan Ethan benar, Jordan memang tidak bersedia menemui Ryan secara langsung. Hanya ada salah satu anak andalannya saja yang muncul, yaitu Zac. Dia mengembangkan senyuman seraya melangkah semakin dekat.


"Halo, Ryan. Apa sekarang kau berniat bekerjasama dengan kami? Apa serangan yang telah menimpamu, berhasil membuatmu merasa putus asa?" pungkas Zac yang diakhiri dengan tawa kecilnya.


"Anggap saja begitu. Dimana Jordan?" timpal Ryan dengan dahi yang berkerut.


"Kau ketua mafia yang sangat payah dan ceroboh. Bagaimana bisa kau memberikan peluang hidup kepada orang yang kau curigai berkhianat. Kalau itu aku, maka aku pasti sudah membunuhnya. Meskipun aku merasa ragu sekalipun!" terangnya sembari memasukkan kedua tangan ke saku celana. Zac terlihat mengenakan setelan jas rapi.


"Terserah apa katamu," imbuh Ryan. Tangannya dengan cekatan mengambil pistol dari balik mantel panjangnya. Kemudian langsung menembakkannya ke kepala Zac.


Dor!


Dor!


Dor!


Ryan tidak hanya menghabisi Zac, tetapi juga anggota The Black Cindicate yang ada. Dalam sekian detik, tanah yang ada di depannya dipenuhi oleh banyak jasad manusia.


"Kau tahu. Kau terkadang benar-benar gila!" komentar Ethan. Dia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Ryan.


"Aku malas berbasa-basi dengan orang lain selain Jordan." Ryan memberikan alasan lugas. "Lagi pula, aku lelah membuang tenaga untuk berkelahi dengan orang yang tidak sepadan!" tambahnya, percaya diri. Membuat Ethan yang mendengar, lantas memutar bola mata jengah.

__ADS_1


"Cih! Sombong sekali," kritik Ethan. Lalu mengikuti Ryan masuk ke dalam mobil.


__ADS_2