
...༻❀༺...
Megan terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna merah. Dia sedikit memperlihatkan belahan dadanya. Lipstiknya tampak berwarna senada dengan gaunnya. Rambut pirang wanita itu tergerai indah. Sedangkan matanya menilik penampilan Ruby dari ujung kaki hingga kepala.
"Apa-apaan dengan gaunmu itu, Ruby? Kau pikir ini kapal Titanic? Gayamu persis seperti tampilan wanita di tahun 80-an," komentar Megan. Tetapi dia tidak peduli, dan hanya melangkah lebih dahulu untuk pergi ke pesta.
Ruby menundukkan kepala. Sebelum mengikuti Megan, dia menyempatkan diri untuk bercermin. Gadis tersebut terpaku cukup lama.
"Ruby! Cepat!" suara panggilan Megan, berhasil menyadarkan lamunan Ruby. Dia lantas bergegas menggerakkan kakinya.
Ruby mengenakan gaun berwarna cream. Bermotif bunga-bunga merah pucat. Panjang gaunnya sendiri hampir menyentuh lantai. Seperti yang dikatakan Megan, gayanya memang tampak seperti wanita di tahun 80-an. Apalagi dengan gaya rambut yang digelungnya asal.
Mata Ruby meliar ke segala arah, saat masuk ke ruangan dimana pesta dilaksanakan. Dia mengamati para tamu undangan VIP yang tampak elegan dan menawan.
"Cepatlah! Kumohon jangan terlalu jelas memperlihatkan sikap kampunganmu." Megan menarik Ruby sembari berbisik. Keduanya sekarang berbaur ke dalam pesta.
Megan segera mencari sasarannya, yaitu Mr. June. Sebelum itu, dia mengajak Ruby untuk menikmati minuman beralkohol terlebih dahulu.
"Ruby, kau tunggulah di sini. Aku akan segera memanggilmu jika ada apa-apa," ujar Megan. Dia langsung beranjak, setelah memastikan Ruby sudah memegang segelas sampanye.
"Megan, kau meninggalkanku sendiri?!" timpal Ruby yang seketika mengharuskan langkah kaki Megan terhenti. Wanita berambut pirang tersebut berbalik dan menatap Ruby.
"Apa kau akan terus mengikutiku? Seperti anak ayam dan induknya?" balas Megan sinis. Dia berhasil membuat Ruby terdiam seribu bahasa. Kemudian berlalu pergi menghilang ditelan banyaknya orang.
Ruby kini sendirian. Dia baru menenggak satu gelas sampanye. Perut Ruby terasa keroncongan ketika melihat berbagai hidangan tersaji di atas meja. Gadis itu lekas-lekas menghampiri makanan yang menarik perhatiannya.
Semua makanan yang ada di hadapan Ruby adalah makanan mewah. Dia memang tinggal di markas mewah milik Ryan, namun dirinya belum pernah diberikan hidangan mahal, seperti yang ada di depannya sekarang.
__ADS_1
Ruby mengambil sepiring kaviar. Hidangan yang disebut-sebut sebagai makanan ter-enak di dunia itu, langsung dimasukkan Ruby ke dalam mulut.
"Mmm..." Ruby memejamkan rapat matanya. Dirinya terpesona dengan rasa kaviar. Tanpa pikir panjang, dia mengambil satu piring lagi.
Saat asyik menikmati makanan, Ruby tidak sengaja menangkap sosok tidak asing. Seorang wanita yang pernah mengejarnya kala berada di Brazil.
Ruby sontak merasa panik. Jantungnya langsung berdebaran, ketika wanita yang bernama Clara itu melihat ke arahnya. Ruby lekas-lekas melarikan diri, sebelum wanita tersebut mengejarnya. Dia mengangkat gaunnya seraya berlari sekuat tenaga. Bahkan tanpa menoleh ke belakang. Ruby seolah diberi sugesti oleh ketakutannya sendiri. Dia tidak mau ada seseorang yang mengarahkan pistol ke kepalanya lagi.
Tidak terasa, Ruby pergi keluar dari lingkungan pesta. Dia berhenti sejenak untuk mengatur deru nafasnya. Namun saat dirinya menoleh ke belakang. Ruby menyaksikan Clara dari kejauhan. Kini gadis itu tidak punya pilihan selain kembali meneruskan larinya.
"Sial! Gaun ini sangat merepotkan!" keluh Ruby sambil terus melajukan langkah kaki. Untung saja dia tidak mengenakan hak tinggi, jadi dirinya dapat berlari dengan mudah.
Akibat mulai merasa kewalahan, Ruby mengakhiri pelarian dengan bersembunyi. Dia mencari-cari ruangan yang tidak dikunci. Ruby berhasil dipercobaan kelimanya. Sekarang gadis tersebut sudah bersembunyi di sebuah ruangan.
Tangan Ruby dengan cekatan mengunci pintu. Dia menyandarkan jidatnya ke pintu. Memejamkan mata, kemudian mengatur nafas yang masih naik turun dalam tempo cepat.
Tampaklah seorang pria sudah berdiri di depannya. Ruby sangat ingat, kalau sosok tersebut adalah pria yang tadi ditemuinya sore hari.
"Tidak sesuai keinginanku. Tetapi lumayan juga," ungkap pria misterius itu. Matanya memperhatikan Ruby secara keseluruhan. Dari wajah, bentuk tubuh, dan juga pakaian.
"Maaf! Sepertinya kau salah orang. Aku kebetulan ke sini, hanya karena ingin--"
"Psssst..." sang pria misterius meletakkan jari telunjuk di depan bibir Ruby. Dia lalu menggelengkan kepala beberapa kali. Perlakuannya berhasil membuat ucapan Ruby terpotong.
Ruby sontak mengerutkan dahi. Kemudian menjauhkan tangan si pria misterius darinya.
"Wah, menarik!" Pria misterius tersebut tiba-tiba mencabut kunci dari pintu. Dia berniat mengurung Ruby bersama dirinya.
__ADS_1
"Apa-apaan! Hei! Jangan macam-macam denganku. Cepat serahkan padaku kuncinya!" geram Ruby dengan gigi yang menggertak kesal.
"Maaf, cantik. Mungkin sambutanku di awal tadi tidak sopan, sehingga kau bersikap begini." Si pria misterius membungkukkan badan. Melakukan pose hormat ala-ala kerajaan. Dia bahkan berbicara dengan logat british. Persis seperti bangsawan di tahun 80-an. "Perkenalkan, Madame. Namaku Ethan Summer. Datang dari tahun 2021," lanjutnya. Terkesan seperti mengejek.
Ruby menghentakkan sebelah kakinya. Dia mencoba merebut kunci dari tangan Ethan. Akan tetapi Ethan menghindari serangan Ruby dengan baik.
"Tunggu, tunggu. Biarkan aku melakukan sesuatu dulu, baru kau bisa merebut kembali kuncinya." Ethan menghentikan pergerakan Ruby. Dia tampak melepaskan pakaian atasannya. Memperlihatkan bentuk tubuh atletisnya dengan percaya diri. "Ayo! Kau bisa melakukan seranganmu lagi. Kali ini, aku akan menikmatinya!" sambungnya sembari mengangkat kedua tangan ke atas.
Ruby tercengang terhadap sikap Ethan. Dia sangat paham dengan pikiran lelaki tersebut. Jelas sekali Ethan menginginkan sentuhan intim dari Ruby. Sepertinya kesalahpahaman memang masih berlanjut.
Sebelum semakin marah, Ruby berupaya menenangkan diri terlebih dahulu. Lalu berkata, "Dengar, Tuan Ethan. Sebelum aku melakukan sesuatu yang buruk kepadamu. Aku ingin menjelaskan, bahwa aku benar-benar hanya kebetulan masuk ke sini. Aku bukan wanita pesanan yang seperti kau pikirkan. Sekarang, berikan kunci itu kepadaku, atau maukah kau membukakan pintunya untukku?" Ruby menatap penuh harap.
"The hell no! Aku tidak peduli jika kau hanya kebetulan. Yang jelas kehadiranmu sekarang, membuatku bergairah," balas Ethan. Tangannya terlihat sibuk membuka resleting celana.
"Shi*t!" rutuk Ruby seraya melangkahkan kakinya mundur. Apalagi kala Ethan semakin melangkah maju untuk mendekatinya.
"Hei! Aku peringatkan sekali lagi kepadamu. Sebelum aku melakukan hal buruk!" ancam Ruby yang kian terpojok ke dinding.
"Hahaha! Hal buruk apa yang bisa kau berikan kepadaku? Kau pikir aku takut dengan gadis yang terlihat lemah seperti dirimu?" sahut Ethan. Sama sekali tidak terancam.
"Iya, aku memang tampak lemah. Tetapi aku punya jurus rahasia untuk melawan lelaki brengsek sepertimu!" pekik Ruby. Salah satu kakinya segera melayangkan tendangan ke area pribadi milik Ethan.
"Aaaarkkhh!" Ethan tentu mengerang kesakitan. Dia tidak sempat menangkis, karena terlalu sibuk dengan resleting.
Ditendang di organ intim, memang adalah kelemahan hakiki seorang lelaki. Rasanya sakit bukan kepalang. Ethan memgangi area pribadi dengan kedua tangan. Meskipun begitu, dia tidak melepaskan kunci yang sedari tadi di inginkan Ruby.
Catatan kaki :
__ADS_1
Sampanye : Salah satu jenis minuman beralkohol yang terbuat dari anggur.