
...༻❀༺...
Rencana pembauran Ryan dan Ruby tidak berjalan lancar. Keduanya memilih kembali pulang saja. Lagi pula Daniel terlanjur kesal kepada Ryan. Sebab anak lelaki yang sudah dibuat Ryan menangis, ternyata adalah anak kandung dari Daniel.
Kini Ryan dan Ruby sudah pulang. Sama-sama telentang di kasur yang sama. Keduanya memikirkan sesuatu hal yang berbeda dalam pikiran mereka masing-masing.
Ryan sedang memikirkan pekerjaan baru untuk dirinya dan juga bawahannya yang tersisa. Jujur, dia berniat merencanakan bisnis kejahatan baru, agar pundi-pundi uangnya tidak berkurang.
Sementara Ruby, lebih terpaku pada rasa tidak nyaman diperutnya. Gadis itu hanya menyimpulkan kalau rasa mual yang dideritanya sekarang merupakan penyakit maagh. Tidak ada sedikit pun terlintas dalam kepalanya kalau dirinya tengah hamil.
"Apa kau masih mau tetap berbaur di tempat ini?" tanya Ryan sembari menatap Ruby dengan sudut matanya.
Ruby sebenarnya ingin mengiyakan. Namun dia takut Ryan akan langsung mengajaknya pergi. Ruby juga tidak mau menunjukkan perasaan tidak nyaman yang dideritanya. Toh, Ruby merasa lelah terus berpindah-pindah tempat. Apalagi lokasi dirinya sekarang berada, terbilang aman dari kejaran polisi.
"Bisakah kau memberi waktu lagi? Aku lelah terus-terusan berpindah tempat," ungkap Ruby.
"Baiklah." Ryan mengembangkan senyuman. Dia beringsut mendekat. Kemudian memposisikan dirinya di atas badan Ruby. Mengecup bibir sang istri dengan penuh gairah. Tetapi untuk kali ini, Ruby menolak sentuhan Ryan. Dia perlahan mendorong suaminya menjauh. Lalu segera merubah posisi menjadi duduk.
Ruby lagi-lagi merasa ingin muntah. Dia bergegas berlari masuk ke toilet.
"Apa-apaan, Babe? Apa kau mual karena ciumanku?" tanya Ryan tak percaya. Akan tetapi Ruby sama sekali tidak menghiraukan. Gadis tersebut tidak mau membuang isi perutnya di sembarang tempat.
Merasa cemas, Ryan menyusul Ruby masuk ke dalam toilet. Dia menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri, kalau Ruby sedang mengeluarkan cairan dari mulutnya.
"Apa kau sakit?" Ryan mengelus pelan pundak Ruby.
__ADS_1
Ruby dengan cepat membasuh mulutnya. "Aku baik-baik saja. Sepertinya penyakit maagh-ku kambuh. Aku memang pernah menderitanya saat masih kecil," jelasnya mencoba berpikir positif. Ruby tidak mau membuat Ryan khawatir.
"Apa kau yakin? Jika tidak, aku akan membawamu ke rumah sakit," ujar Ryan dengan dahi yang berkerut.
"Tidak perlu. Aku yakin, keadaanku akan membaik besok hari. Jika tidak, barulah kau bisa membawaku ke rumah sakit," tutur Ruby seraya melingkarkan tangannya ke pundak Ryan.
"Oke, kalau begitu sebaiknya kita tidur saja." Ryan menggendong Ruby dengan gaya ala bridal style. Keduanya segera kembali telentang bersama di atas kasur.
Keesokan harinya, Ruby lagi-lagi menjadi orang yang terakhir bangun. Entah kenapa Ryan selalu bangun lebih dulu darinya. Lelaki itu terlihat sudah selesai membuat roti untuk sarapan. Ruby ikut bergabung, dan duduk di meja makan.
"Apa kau sudah baikan?" tanya Ryan.
Ruby menggeliatkan badan sambil menguap lebar. Dia mengangguk dengan senyuman yang mengembang tulus diwajahnya. "Kau perlu bantuan?" Ruby bangkit dari tempat duduk. Kemudian berjalan mendekat. Saat itulah ponsel Ryan tiba-tiba berdering. Ryan segera memeriksa panggilan tersebut, lalu mengangkatnya.
"Benarkah? Kalau begitu, kita bertemu di suatu tempat untuk membicarakannya!" sahut Ryan.
"Baiklah, aku menunggumu di bar The Nighton." Itulah kalimat terakhir dari John, sebelum dia benar-benar menutup telepon.
"Siapa?" Ruby penasaran.
"John, dia menemukan tempat bagus untuk markas baru kita. Kau mau ikut bertemu dengannya?" ajak Ryan. Kemudian menggigit roti yang telah di olesnya dengan selai kacang.
Ruby menggeleng pelan. "Mungkin ini saatnya kita berpisah sebentar. Kau bisa meninggalkanku sendiri di sini, Babe!" ucap Ruby yakin.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu maumu. Aku percaya kau bisa menjaga diri dengan baik. Jika ada apa-apa, teleponlah aku. Lagi pula aku tidak pergi terlalu jauh dari tempat ini," tutur Ryan. Dia sudah menghabiskan makanannya. Selanjutnya Ryan segera mengenakan pakaian dan beranjak pergi.
Kini Ruby bisa mendengus lega. Jujur, terkadang dia butuh waktu untuk sendiri. Menenangkan pikiran yang tadinya terasa pelik.
Ruby terpaku menatap roti yang ada di depannya. Sedari tadi dia sama sekali tidak berminat memasukkan roti itu ke dalam mulutnya. Rasa mual kembali menggerogoti. Ruby justru terpikir ingin memakan spageti. Satu tangannya tampak memegangi bagian perutnya sendiri.
"Haruskah aku pergi ke mini market terdekat," gumam Ruby. Awalnya dia mencoba menahan keinginan terdalamnya terhadap spageti. Akan tetapi, otaknya selalu saja membawanya ke dalam bayangan makanan tersebut. Alhasil Ruby mengambil jaketnya, lalu pergi keluar dari rumah.
Ruby terpaksa berjalan kaki menuju mini market terdekat. Sebab Ryan kebetulan membawa satu-satunya mobil yang ada.
Sesampainya di mini market, Ruby baru teringat bahwa dirinya tidak membawa uang sepeser pun. Dia tentu malas kembali ke rumah. Ruby juga merasa sangat lelah. Apalagi dalam keadaan perut yang masih kosong. Wajah gadis itu mulai terlihat pucat.
Ruby terpaksa melakukan keahliannya. Yaitu mencopet. Dia membidik seorang pria bertopi yang nampak sibuk memilah-milih produk sabun. Ruby sengaja melangkah cepat, lalu sengaja menabrakkan diri kepada pria tersebut. Dia memakai peluang emasnya untuk mengambil dompet pria yang tidak tahu apa-apa itu.
"Maaf, aku hanya ingin bergegas pergi ke toilet!" ujar Ruby. Memberi alasan.
"Tidak apa-apa. Toiletnya ada di sana," balas sang pria bertopi. Dia sama sekali tidak marah dengan tubrukan dari Ruby.
"Terima kasih!" respon Ruby. Dia langsung berlari memasuki toilet. Mengambil beberapa lembar uang yang ada dalam dompet hasil curiannya.
Kala itu, rasa pusing mendadak menyelimuti Ruby. Dia mulai memegangi kepalanya. Meskipun begitu, Ruby memaksakan dirinya untuk berdiri. Menggerakkan kakinya walau dalam keadaan sempoyongan.
"Spageti... aku hanya ingin spageti..." ungkap Ruby. Ia berupaya membuka lebar mata yang mulai terasa berat. Cara berjalan Ruby benar-benar terlihat seperti zombie.
Ruby akhirnya keluar dari toilet. Kembali masuk ke dalam area mini market. Dimana banyak produk kemasan berjejer di rak-rak besar nan panjang. Namun belum sempat Ruby mengambil spageti instan dari rak, dia harus tumbang ke lantai. Dalam sekejap, gadis tersebut tidak sadarkan diri. Sosok pria bertopi yang tadinya menjadi korban pencopetan Ruby, malah menjadi orang pertama yang menolongnya.
__ADS_1
Ruby otomatis segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Dia didampingi oleh pria bertopi yang sering disapa dengan panggilan Andrew itu. Andrew merupakan salah satu aparat kepolisian di kota Virginia. Dia masih terbilang muda. Hanya dua tahun lebih tua dari umur Ruby.