Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 7 - Ada Apa?


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby bersembunyi di dalam salah satu bilik toilet. Di sana dia menutup mulutnya rapat-rapat. Berusaha menenangkan diri. Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya. Apa yang terjadi? Kenapa banyak orang yang ingin menangkapnya? Apa ini ulah Ryan?


'Ini tidak mungkin ulah Ryan kan?' batin Ruby sembari mengusap wajahnya kasar. Dia sudah merasa lelah berlari dan bersembunyi. Sempat terpikir olehnya untuk melaporkan kesulitannya ke polisi. Namun bagaimana bisa? Nanti malah Ruby sendiri yang kena batunya. Sebab dia sadar kalau dirinya juga sering melakukan kejahatan. Sebenarnya sudah dua kali Ruby pernah dimasukkan ke penjara.


'Karena ini berhubungan dengan Ryan. Haruskah aku menghubunginya?' gumam Ruby dalam hati. Dia bergegas mengambil ponsel yang tersimpan disaku celana jeansnya. Mencari nama Ryan di sana, lalu meneleponnya.


"Ruby? Ada apa?" sambut Ryan dari seberang telepon. Dia tersenyum puas.


"Ryan, ada sesuatu yang terjadi kepadaku. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba banyak penjahat ingin menculikku. Apa kau menyebarkan dan memberitahukan hubungan kita kemana-mana?" timpal Ruby dengan suara pelan.


"Diculik? Kau sekarang tidak apa-apa kan?" sahut Ryan yang terdengar khawatir.


"Aku tidak apa-apa! Jawab pertanyaanku Ryan, Apa kau mengetahui sesuatu?!" tukas Ruby. Menuntut jawaban.


"Aku benar-benar tidak tahu apapun! Kenapa kau malah terkesan menyalahkanku?!" balas Ryan.


"Aku tidak... Lupakan!" Ruby mematikan telepon secara sepihak. Dia malas berdebat dengan Ryan.


Ruby perlahan keluar dari toilet. Sebelum benar-benar keluar, dia memastikan semua keadaan aman. Dan pastinya tidak ada orang mencurigakan yang mengejarnya.


Ruby mendengus lega saat keadaan terlihat sepi. Dia memanfaatkan peluangnya untuk pergi ke tempat yang lebih aman. Lagi-lagi dirinya harus menginap di sebuah motel. Ruby tidak punya opsi lain.


Hari demi hari dilewati Ruby. Dia terus saja dikejar oleh orang-orang asing. Bahkan ketika dirinya berada di luar kota sekali pun. Orang-orang asing tersebut seolah selalu mengetahui keberadaannya. Gadis itu sekarang sudah tidak kuat.


Anehnya hingga kini, Ruby masih belum curiga dengan tas pemberian Ryan. Dia masih saja membawa tasnya kemana-mana. Kejahatan Ryan sama sekali tidak terpikirkan oleh gadis yang tak tahu apa-apa terhadap dunia mafia tersebut.


Ruby dalam perjalanan menemui temannya yang bernama Marcello. Seorang penjahat kelas teri yang pernah bekerjasama dengannya. Ruby menceritakan apa yang telah terjadi kepada Marcello.

__ADS_1


"Bukankah dahulu aku pernah bilang, kalau menikahi Ryan adalah sesuatu yang salah! Sekarang kau harus menerima akibatnya," ujar Marcello. Melipat tangannya di depan dada.


Marcello dahulu satu-satunya teman yang menentang Ruby menikah dengan Ryan. Bukan hanya karena rasa sukanya kepada Ruby, tetapi Marcello juga merasakan ada hal aneh dengan sosok Ryan. Kini firasat janggalnya itu terjawab. Ryan adalah bos salah satu organisasi mafia terbesar di dunia.


Ruby yang mendengar seketika merengut. "Kenapa kau malah menyalahkanku. Harusnya kau bantu aku untuk menemukan jalan keluar!" geramnya sambil mengarahkan kepalan tinju ke wajah Marcello. Membuktikan bahwa Ruby benar-benar kesal dengan ucapan Marcello.


"Jika orang-orang asing itu terus mengejar, bukankah hal yang terbaik adalah meminta bantuan Ryan? Sekarang tidak ada tempat yang aman untukmu, kecuali tinggal bersama Ryan. Bukankah begitu?" Marcello mengemukakan pendapatnya.


Ruby terdiam seribu bahasa. Dia sedikit terpengaruh pada ucapan Marcello. Tanpa diduga ponsel Ruby bergetar. Dia bergegas mengangkat panggilan yang ternyata dari Ryan itu.


"Ryan?" sapa Ruby seraya mengerutkan dahi.


"Aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Kau baik-baik saja kan? Aku benar-benar minta maaf dengan perkataanku tempo hari," tutur Ryan dari seberang telepon.


"Aku tidak baik-baik saja, Ryan! Orang-orang jahat itu terus saja berhasil menemukanku. Aneh sekali bukan?" ungkap Ruby.


"Aku tidak tahu. Beri aku waktu untuk memikirkannya," balas Ruby. Lalu mematikan panggilan lebih dahulu. Raut wajahnya tampak masam.


"Dia bilang apa?" tanya Marcello. Sedari tadi dia menguping dan berdiri di sebelah Ruby.


"Ryan menawarkan aku untuk tinggal bersamanya," kata Ruby.


"Pas sekali, Ruby. Kau lebih baik setuju saja." Marcello memberikan saran.


"Tidak. Aku tidak mau tergesak-gesak mengambil keputusan. Aku masih punya uang untuk pergi ke keluar negeri. Bukankah itu juga ide bagus?" Ruby mengungkapkan ide yang ada dalam pikirannya. Selanjutnya dia berpamitan dengan Marcello. Hendak bergegas pergi ke bandara. Ruby berniat pergi ke Brazil.


Marcello hanya diam melepas kepergian Ruby. Dia memastikan gadis itu berjalan menjauh darinya. Perlahan tangannya mengambil ponsel, dan segera menelepon seseorang.


"Dia pergi ke Brazil!" imbuh Marcello memberitahu. Perasaannya telah lama hilang untuk Ruby. Uang lebih penting baginya.

__ADS_1


"Terima kasih, Marcello. Aku akan segera mengirimkan uang imbalan untukmu," sahut seorang lelaki yang tidak lain adalah Ryan. Rekahan senyum terukir diwajahnya. Dia selalu salut terhadap kegigihan Ruby. Dan Ryan tidak akan mengalah begitu saja.


Di sebelah Ryan ada Sarah yang tengah duduk santai. Dia sedari tadi mengamati semburat yang ada diwajah suaminya.


"Ryan, apa perlu kau melakukan semua itu? Uangmu terbuang sia-sia hanya untuk gadis tak berguna seperti Ruby!" keluh Sarah, yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Ryan.


Ryan menatap malas sarah dan berkata, "Mungkin Ruby tidak penting bagimu. Tetapi tidak untukku. Aku harus membuatnya kembali, Sarah. Sebelum..." Ryan ragu mengatakan kalimat akhirnya. Menyebabkan Sarah sontak merasa penasaran.


"Sebelum apa?" tanya Sarah.


"Pokoknya aku harus bisa membuat Ruby kembali. Hanya itu." Ryan berdalih seraya bangkit dari tempat duduknya. Dia beranjak pergi meninggakan Sarah.


Mendengar kabar Ruby akan pergi ke Brazil, Ryan segera menghubungi bawahannya yang ada di sana. Dia kembali memerintahkan orang-orang terbaiknya untuk mengejar Ruby. Ryan tidak akan semudah itu menyerah. Dia bertekad akan membuat Ruby merasa tidak aman di tempat mana pun, kecuali bersama dirinya.



Ruby telah tiba di kota Rio De Jenero. Kota itu sangat ramai dan membuatnya berdecak kagum. Belum juga dirinya sempat menyapa orang pribumi, seseorang sudah lebih dahulu menegurnya. Dia seorang wanita paruh baya berkulit kecokelatan. Tetapi gayanya terlihat trendi.


"Halo Miss, kenalkan aku Clara. Apa kau butuh tumpangan?" ujar Clara memperkenalkan diri sekaligus menawarkan bantuan.


"Aku... Gina." Ruby sengaja menyamarkan namanya untuk berjaga-jaga. "Berapa aku harus membayarmu?" tanya-nya.


"Tidak perlu. Gratis untuk gadis pendatang dan cantik sepertimu," balas Clara dengan senyuman ramah.


Ruby hanya merespon dengan senyuman kecut. Dia merasa ada yang aneh. Bagaimana tidak? Di zaman dulu hingga sekarang, kata 'Gratis' adalah sesuatu yang tabu. Jika ada orang yang mengatakannya pasti punya alasan tertentu dibaliknya.


"Wah... benarkah?" Ruby bersuara untuk memberikan kejelasan kepada Clara. "Aku sebenarnya mau, tetapi temanku sebentar lagi akan menjemput." Ruby tentu menolak tawaran Clara. Kemudian bergegas pergi meninggalkan wanita paruh baya tersebut.


Ruby melajukan langkahnya. Dia mencoba menoleh ke belakang untuk memastikan. Betapa terkejutnya dirinya saat menyaksikan Clara berjalan mengikutinya. Untuk yang kesekian kalinya Ruby harus kembali melakukan pelarian.

__ADS_1


__ADS_2