Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 82 - Kedatangan Ethan [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby membeku di tempat. Dia benar-benar enggan mengajak Andrew masuk ke rumah. Apalagi dirinya sedang dalam keadaan sendiri.


"Kalau begitu aku pergi saja, maaf bila kedatanganku mengganggu," ujar Andrew sembari melangkah mundur.


"Terima kasih," balas Ruby. Tetap bersikap dingin. Senyumannya mengembang singkat. Andrew lantas beranjak pergi. Lelaki itu hanya berjalan kaki. Sebab letak rumahnya tidak jauh dari lokasi hunian Ruby.


Ruby segera membuka spageti pemberian Andrew. Kemudian langsung memakannya. Dia menghabiskan hidangan tersebut dalam sekejap.


"Akhirnya..." Ruby menyandarkan diri ke sofa. Perlahan rasa kantuk mulai menyelimuti. Pikirannya tidak terganggu lagi akibat rasa lapar. Ruby sekarang kenyang, dan tertidur dalam beberapa jam ke depan.


Bruk!


Prang!


Suara keributan dari arah luar sukses membangunkan Ruby dari tidur. Ia menyaksikan hari sudah siang. Tanpa basa-basi, Ruby lekas-lekas membukakan pintu depan. Karena dirinya mengira Ryan-lah yang memunculkan suara keributan tersebut.


Bukannya melihat kedatangan Ryan, Ruby malah harus disambut dengan penampakan Ethan. Lelaki itu keluar dari mobil sembari tersenyum lebar. Mobilnya tidak sengaja menabrak tong sampah besar yang ada di depan rumah.


"Apa-apaan, Ethan! Kenapa kau yang malah ke sini?!" timpal Ruby, merasa tak percaya.


"Aku hanya berusaha membantu. Gaby bertanya di grup aplikasi, siapa yang lokasinya paling dekat dengan rumahmu, dan akulah orangnya!" jawab Ethan santai. "Apa kau sebenci itu denganku?" tanya-nya. Merasa kecewa dengan sambutan tidak ramah dari Ruby.


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja... Ya sudah, masuklah!" respon Ruby sembari membuka lebar pintu masuk.


Ethan menggerakkan kakinya memasuki rumah Ruby. Penglihatannya otomatis mengedar ke segala penjuru. Dia lalu berhenti melangkah, kemudian berbalik menatap Ruby.


"Apa kabar itu benar? Kalau kau sedang hamil?" tanya Ethan. Raut wajahnya nampak serius. Bola matanya bergerak menatap perut Ruby yang terbilang masih kecil.


Ruby reflek menutupi area perut dengan kedua tangan. Merasa tidak enak dengan perhatian Ethan terhadap dirinya.


"Apa kabarnya sudah meluas?" bukannya menjawab Ruby justru berbalik tanya.

__ADS_1


"Tentu saja. Semua anggota The Shadow Holo sudah tahu." Ethan berjalan ke arah sofa. Lalu melayangkan pantatnya ke sana.


"Kecuali bos mereka!" ungkap Ruby. Ia duduk tepat di hadapan Ethan. Menyilangkan kedua tangan dengan perasaan sebal.


"Benarkah? Ryan belum tahu?!" Ethan sedikit membulatkan mata. Agak terkejut dengan ketidaktahuan Ryan.


Ruby mengangguk. Lalu menggigit salah satu jarinya. Kakinya terlihat menggedik-gedik beberapa kali. Pertanda gadis tersebut sedang dirundung perasaan gelisah.


"Perlukah aku menggugurkan kandungan ini?" celetuk Ruby. Pertanyaannya tentu berhasil membuat mimik wajah Ethan seketika masam.


"Kenapa kau bicara begitu? Setakut itukah kau dengan respon Ryan? Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah kepadaku, jika Ryan menolak maka kaburlah bersamaku!" ujar Ethan mencoba menenangkan Ruby.


"Apa?! Kumohon jangan coba-coba merayuku lagi." Ruby menegaskan.


"Hey! Aku hanya berkata akan membawamu kabur. Bukan berarti aku akan menikahimu, kenapa kau sangat berlebihan." Ethan memalingkan wajah dari Ruby.


"Ryan pernah bilang kepadaku, kalau dia tidak pernah ingin punya anak. Mungkin itulah alasan Megan dan Sarah tidak pernah memiliki anak sebelumnya. Apa pernah terdengar kabar mengenai kehamilan mereka?" tutur Ruby. Diakhiri dengan pertanyaan serius.


"Kau bertanya pada orang yang salah. Aku bukan anggota murni The Shadow Holo, bagaimana aku bisa tahu masalah sepribadi itu," sahut Ethan sambil mengambil ponsel dari saku celana. Lalu mencoba menghubungi seseorang.


"What the fu*ck! Dari mana kau mendapatkan nomor teleponku!" geram Megan dari seberang telepon


"Semuanya bisa kudapatkan melalui grup aplikasi. Ternyata kau belum merubah nomormu. Seharusnya jika kau ingin menghilang, gantilah nomor teleponmu," balas Ethan.


"Bukan urusanmu, loser!" Megan sekali lagi merutuk. "Katakan apa maumu?!" meskipun marah, Megan tidak langsung mengakhiri panggilan. Dia kemungkinan penasaran dengan kabar yang akan diberikan Ethan.


Sebelum bicara, Ethan menurunkan ponsel dari telinga. Menutupnya dengan salah satu tangan. Kemudian menatap ke arah Ruby.


"Apa aku harus memberitahunya? Kau sungguh ingin menanyakan pertanyaanmu tadi?" tanya Ethan dengan nada berbisik. Agar Megan tak mampu mendengar.


Ruby memejamkan rapat matanya. Dia mengusap kasar wajahnya. Hingga akhirnya dirinya terpaksa menganggukkan kepala. Seperti halnya Megan, Ruby juga merasa penasaran terhadap cerita di masa lalu.


Ethan lantas menyalakan mode speaker di ponselnya. Sehingga Ruby juga dapat mendengar cerita Megan. Ethan segera bertanya, "Saat kau bersama Ryan dahulu, apakah di antara dirimu dan Sarah pernah hamil? Katakan kepadaku bagaimana reaksi Ryan."

__ADS_1


"Kenapa kau menanyakan pertanyaan bodoh begitu? Ryan tentu saja tidak akan membiarkanku dan Sarah hamil. Dia selalu memakai alat kontrasepsi," terang Megan. Dia terdiam dalam beberapa saat. Nampaknya Megan tengah menyimpulkan apa yang telah terjadi.


"Tunggu, tunggu. Apa Ruby sedang hamil?" hasil dari kesimpulan Megan akhirnya keluar dari mulutnya. Ia langsung memastikan.


Ethan memilih bungkam. Ruby yang juga bisa mendengar, tentu tidak berniat memberikan jawaban untuk Megan.


"Hahaha! Sepertinya benar! Apa kau bersama Ruby sekarang? Katakan kepadanya, kalau Ryan pasti akan membunuhnya. Semua orang tahu Ryan sangat membenci anak kecil!" Megan tergelak. Melontarkan kalimat yang pastinya sukses memberikan banyak kegelisahan untuk Ruby.


"Hentikan, Megan! Jangan berlebihan!" pungkas Ruby, yang merasa tidak tahan lagi.


"Aku tidak berlebihan, Ruby. Ryan pasti akan marah. Sebaiknya kau--" omongan Megan terputus karena Ethan lebih dahulu memutuskan sambungan telepon.


"Dia memang selalu jahat kepadamu bukan? Maafkan aku, seharusnya aku tidak menghubunginya," ujar Ethan.


Ruby menangkup wajahnya dengan kedua tangannya sendiri. Ia juga sesekali mengacak-acak rambutnya frustasi. Saat itulah rasa mual kembali menggerogotinya. Ruby sontak berlari menghampiri wastafel yang ada di dapur. Jujur saja, jika rasa mual mulai terasa, maka akan sulit dihentikan oleh Ruby. Rasa mualnya seakan memberikan dorongan pada dirinya secara terus menerus.


Ethan berjalan mendekat. Kemudian mengelus pelan pundak Ruby. Dia kali ini tidak membual seperti biasanya. Sebab Ethan merasa sangat khawatir terhadap keadaan Ruby.


"Aku sangat lelah. Padahal ini baru berjalan dua minggu. Sepertinya aku harus menggugurkannya, bukankah begitu?" Ruby menoleh ke arah Ethan. Matanya tampak berembun. Perlahan cairan bening tidak sengaja menetes dari sudut matanya.


"Sebelum kau melakukannya, lebih baik beritahulah Ryan lebih dulu," saran Ethan sembari mengusap air mata yang sudah menetes dipipi Ruby.


"Dia pasti akan setuju." Ruby merasa yakin. Dia perlahan memeluk Ethan. Entah kenapa Ruby mendadak melakukan hal tersebut. Yang jelas, dirinya merasa tenang ketika berada dalam dekapan seseorang.


Ethan membalas pelukan Ruby. Membiarkan gadis itu menangis dalam dekapannya. Tanpa disangka, bel pintu terdengar berbunyi. Menyebabkan Ruby dan Ethan langsung saling melepaskan pelukan.


"Biar aku yang membuka pintunya!" Ethan menyuruh Ruby duduk dan beristirahat. Sementara dirinya melangkah ke arah pintu.


Saat pintu dibuka, sosok Andrew menyambutnya. Baik Andrew maupun Ethan, keduanya sama-sama terheran.


..._____...


Catatan author :

__ADS_1


Hai guys, aku cuman mau menyampaikan terima kasih kepada semua pembaca yang masih setia. Love you! 😘


__ADS_2