
...༻❀༺...
Setelah mendengar cerita Henry. Ruby masih penasaran dengan beberapa hal. Yaitu mengenai Ryan dan juga alasan Jordan ingin kembali membawanya. Gadis tersebut langsung menanyakannya kepada Henry.
"Mengenai Ryan. Dia adalah rekan terbaik ibumu. Aku dengar Ryan banyak berhutang budi dengan Lucy. Makanya Ryan bersedia menyelamatkanmu," tutur Henry. Memberitahukan perihal Ryan seadanya. Dia sebenarnya tidak begitu mengenal Ryan. Hanya mengetahui cerita dari beberapa teman dekat.
"Cih! Menyelamatkan kau bilang?" Ruby merespon sinis. Terlintas dalam benaknya tentang segala hal yang telah dilakukan Ryan. Lelaki itu tega menduakan cintanya. Tidak! bahkan menigakan cintanya.
"Apa kau bertengkar dengannya?" tanya Henry. Dia tidak mengerti dengan ekspresi Ruby yang mendadak menjadi merengut.
"Bukan begitu. Ryan punya dua istri lain selain dia. Makanya Ruby tidak terima." Ethan memberikan jawaban untuk Henry. Dirinya tahu, Ruby pasti tidak akan bersedia menerangkan.
"Benarkah?!" mata Henry membulat. Dia menegakkan badan. Kemudian perlahan kembali menyandar ke sandaran kursi. Kepalanya menggelang beberapa kali. "Setiap bos mafia ternyata memiliki kegilaan tersendiri," komentarnya.
"Jadi itukah alasanmu melarikan diri dari Ryan?" Henry menyelidik.
Belum sempat Ruby berucap, Ethan sudah lebih dahulu menjawab. "Aku yakin begitu!" Ethan menyilangkan tangan didada dengan percaya diri.
Ruby yang mendengar segera melayangkan cap lima jari ke pipi Ethan. Dia ingin lelaki tersebut tutup mulut. "Jika kau tidak tahu apapun, lebih baik diam saja!" titahnya, geram. Setelah menampar pipi Ethan, Ruby memukulkan tangannya ke meja.
"Tetapi setidaknya Ryan tidak pernah menyakitimu. Bukankah begitu?" ujar Henry. Menatap dengan senyuman yang mengembang tipis.
Ruby terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa membantah perkataan Henry. Dirinya memang mengakui, bahwa Ryan selalu membuatnya aman. Hanya saja, justru Megan dan Sarah-lah yang membuat Ruby merasa selalu berada di bawah ancaman.
Ruby membuang segala pemikirannya mengenai masalah pribadi. Dia segera lanjut meminta penjelasan dari Henry. Terutama mengenai kenapa Jordan berniat kembali membawanya. Lalu, alasan dibalik Henry bisa sempat bertemu lagi dengan Jordan.
"Jordan berhasil menemukanku. Dia mengancam akan membunuhku dan orang kepercayaanku. Namanya adalah Luke. Dia adalah orang setia yang telah mejagaku saat koma." Henry berkata sambil menunduk sendu.
__ADS_1
"Terus, bagaimana keadaan Luke sekarang?" Ruby melipat tangan di atas meja.
"Aku tidak tahu. Jordan menawannya di salah satu markas rahasia." Henry berhenti menghisap cerutunya. Dia meletakkan benda tersebut ke meja.
"Kenapa kau nekat..." Ruby tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebab ia dapat menarik kesimpulan sendiri, kalau Henry memilih berkhianat demi menolongnya. Terbersit dalam pikiran Ruby, Apakah Henry juga melakukannya di masa lalu? Jika iya, berarti Henry telah banyak berkorban untuknya. Pria paruh baya tersebut pastinya sudah dua kali berkhianat kepada Jordan, hanya demi menolong Ruby.
"Aku sebenarnya telah menemukanmu saat keluar bersama Ethan dari mobil. Tapi aku berupaya terus menunda waktu, agar kau bisa pergi semakin jauh." Henry berterus terang. Dia membiarkan pembicaraannya terus mengalir. Hingga secara tidak langsung, dirinya akhirnya mengungkapkan kepeduliannya kepada Ruby.
"Kedatangan Ethan dengan Jordan bersama seorang lelaki dari kubu The Shadow Holo, membuatku tidak bisa menunda lagi. Mereka punya foto dirimu, dan juga terus mengikutiku kemana pun aku pergi. Sampai akhirnya aku tidak punya pilihan selain menghampirimu," tutur Henry. Ada semburat penyesalan terpatri diwajahnya.
"Berarti ada bawahan Ryan yang berkhianat?" tebak Ruby. Sedikit mencondongkan dadanya lebih dekat dengan meja.
Henry mengangguk pelan. "Benar, menurutku dialah alasan utama kenapa Jordan ingin kembali membawamu. Karena pengkhianat itu memberitahu, kalau kau adalah gadis yang sangat istimewa untuk Ryan. Akhir-akhir ini, persaingan bisnis semakin sengit. The Shadow Holo perlahan bangkit, meski belum melampaui kesuksesan The Black Cindicate, Jordan memang psiko. Dia sepertinya berniat menjadikan organisasinya sebagai yang terbaik." Henry mendengus kasar. Dia memainkan jari telunjuknya mengetuk-ngetuk ke meja. Menghasilkan bunyi tertentu yang seketika berhasil memecah keheningan rumah tuanya.
"Apa kau tahu siapa nama orang yang telah mengkhianati Ryan?" Ruby memasang telinganya baik-baik. Dia bertekad mengingat siapa orang yang sudah tega mengkhianati Ryan.
"Aku tidak tahu, yang jelas dia adalah seorang lelaki." Henry menggeleng. Meskipun begitu, dia memberikan petunjuk yang spesifik.
"Aku masih marah kepadanya. Aku sama sekali tidak berniat berbicara kepadanya..." imbuh Ruby, lirih.
"Dengan Ryan?" tebak Ethan. Bahunya segera menggedik. Sedangkan bibir bawahnya sedikit memaju, seolah tak peduli.
"Tetapi, jika tidak diberitahu, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi kepada Ryan dan The Shadow Holo. Pengkhianat harus dibasmi, meskipun itu hanya satu orang," ucap Henry mengungkapkan pendapat.
Ruby memejamkan rapat matanya. Dia akhirnya menggeser layar ponsel. Mencari nama Ryan dalam kontak telepon. Meskipun begitu, ibu jarinya masih ragu untuk menekan nama lelaki tersebut.
"Tunggu, tunggu. Sebelum aku bertindak, aku ingin tahu apakah kalian punya tempat aman untukku? Lokasi dimana Ryan atau pun Jordan tidak akan menemukanku lagi?" Ruby tiba-tiba memiliki rencana lain.
__ADS_1
"Jadi maksudmu... kau ingin pergi jauh, dan tidak akan peduli dengan segala hal buruk yang terjadi kepada Ryan?" pungkas Henry. Walau tidak pernah bertemu Ryan secara langsung. Dia merasa bisa mempercayai lelaki itu untuk menjaga Ruby. Apalagi setelah mengetahui Ruby merupakan gadis yang istimewa bagi Ryan.
Ruby merasa tertohok. Jujur saja, rasa cintanya masihlah belum pudar. Dia tentu memperdulikan Ryan.
"Hubungi saja dia. Setidaknya kau beritahu Ryan tentang adanya pengkhianat dalam kubunya." Henry memberikan saran.
"Aku harap tidak! Ruby, untuk apa kau bersusah payah melarikan diri, jika pada akhirnya kau sendiri yang datang kepada Ryan." Ethan melakukan protes. Sebab dirinya tidak rela Ruby kembali lagi kepada Ryan. Entah apa alasannya.
"Jika peduli kepadanya, sebaiknya kau telepon dia." Henry tetap pada pendiriannya. Tidak peduli dengan perbedaan pendapat yang terjadi di antara dirinya dan Ethan.
Ruby sontak kebingungan. Dia merasa ucapan Henry dan Ethan sama benarnya. Gadis tersebut menatap kosong ke arah layar ponselnya.
Sementara itu, Ryan baru saja pergi dari rumah sakit. Berjalan beriringan dengan Megan. Mereka akan pergi bersama menuju markas yang ada di Los Angeles.
Kini Ryan dan Megan berada di dalam mobil yang sama. Ryan duduk di depan setir, sedangkan Megan ada di sampingnya. Duduk membisu sembari memainkan jari-jemarinya. Megan masih kecewa dengan keputusan yang diberikan Ryan terhadapnya. Namun gadis itu belum juga mampu pergi dari sisi Ryan.
"Aku tiba-tiba merasa kesepian sekarang..." lirih Megan. Menatap ke arah kaca jendela dengan keadaan mata yang berpendar akan cairan bening. Dia berusaha keras untuk tidak menangis. Lalu menyembunyikannya dari Ryan. Akan tetapi, rasa sesak didadanya membuat Megan tidak kuasa menahannya lagi. Meskipun sering berperilaku kasar, Megan tetaplah seorang perempuan. Memiliki perasaan sensitif dan menginginkan adanya perhatian.
Suara mendengus dari hidung Megan, membuat Ryan sadar kalau gadis yang duduk di sebelahnya tengah menangis.
"Megan, kenapa kau menjadi sangat emosional," tukas Ryan. Melirik Megan secara selintas.
Megan memilih bungkam. Dia menyibukkan diri menghapus air mata yang tidak sengaja berjatuhan dipipinya.
Tanpa diduga, Ryan menghentikan mobil ke pinggir jalan. Menyebabkan Megan dirundung perasaan bingung. Megan otomatis mengira kalau Ryan mencoba menyuruhnya turun dari mobil. Gadis pirang itu segera memegang pegangan pintu mobil.
__ADS_1
"Semoga kau berhasil menemukan, Ruby..." Megan mengucapkan salam perpisahan. Akan tetapi belum sempat membuka pintu, Megan malah mengurungkan pergerakannya, lalu memeluk Ryan. Gadis tersebut memecahkan tangis. Dia merengek dan memohon ingin tetap tinggal.
"Biarkan aku tetap bersamamu, Ryan. Aku akan lakukan apapun, kumohon... hiks! hiks!" pinta Megan seraya mengeratkan dekapannya.