Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 60 - Siapa Pengkhianatnya?


__ADS_3

...༻❀༺...


Sarah sudah berdiri di depan ruang latihan. Tanpa pikir panjang, dia langsung melangkah masuk. Gadis itu sengaja membanting pintu, sebab dirinya dapat menduga apa yang sedang dilakukan oleh Ryan dan Ruby.


Benar saja, setelah pintu terbuka, Sarah sukses menangkap basah Ryan dan Ruby asyik berciuman. Kegiatan mereka otomatis terhenti karena suara berisik yang dikeluarkan Sarah.


Ruby sontak gelagapan sembari memperbaiki rambutnya yang berantakan akibat ulah Ryan. Bibir yang agak membengkak segera diusapnya kasar. Sementara Ryan hanya reflek mengusap rambut dengan jari-jemarinya. Atensinya tertuju ke arah Sarah.


"Maaf, aku tidak mau menunggu. Jadi aku terpaksa mengganggu. Kalian tidak perlu khawatir, aku tahu kalian pasti punya kesempatan dilain waktu," ungkap Sarah. Perlahan memandangi Ruby. Dia merekahkan senyuman dan berjalan mendekat.


"Apa kabar, Ruby?" Sarah menunduk sejenak dan kembali berucap, "Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang pernah kulakukan kepadamu. Terutama insiden kapal pesiar. Aku hanya... tidak mau berlama-lama bermusuhan denganmu." Kedua bahu Sarah terangkat sekali. Wajahnya memasang ekspresi menyendu seolah perkataannya adalah ketulusan.


Ruby tidak tahu harus berkata apa. Senyuman yang terukir diparasnya nampak kecut. Bahkan terbilang canggung.


"Masuklah Max. Aku ingin kau bergabung dengan kami!" perintah Ryan. Dia bisa melihat Max yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Max lantas menurut, dan segera masuk ke ruang latihan.


"Aku rasa, aku yang harus pergi," ujar Ruby. Kakinya mencoba melangkah menuju pintu.


"Tidak! Kau juga harus di sini," titah Ryan, yang seketika berhasil menghentikan langkah Ruby.


Semua orang tentu merasa bingung. Apalagi Sarah. Sebab niat kedatangannya ke markas, karena ingin membahas masalah pribadi dengan Ryan. Namun Ryan malah membiarkan dua orang untuk bergabung, dan mendengarkan pembicaraan.


"Apa maksudmu?" timpal Sarah tak percaya.


"Sekarang bicaralah. Katakan apa yang kau inginkan?" Ryan melayangkan pantatnya ke sebuah bangku. Dia menatap serius ke arah Sarah. Seakan menunggu gadis itu untuk angkat bicara.


Sarah masih terperangah. Ketika dia hendak berucap, Ryan justru berbicara lebih dahulu.


"Kau menagih syarat terakhirmu bukan? Mengenai daftar markas-markas rahasia yang kumiliki?" tebak Ryan. Keningnya mengernyit dalam.

__ADS_1


Sarah mendengus kasar. Ia berusaha menahan amarah. Lalu memaksakan diri untuk tersenyum. Sebelum bersuara, dia menengok ke arah Max dan Ruby secara bergantian. Dua orang tersebut memilih bungkam.


"Kau benar, aku--"


"Max, serahkan pistolmu!" Ryan bangkit dari tempat duduk. Membuka lebar telapak tangan kepada Max. Tindakannya sukses memotong kalimat yang akan dikatakan Sarah.


"Apa-apaan itu! Jangan berlebihan!" protes Sarah. Matanya mempelototi Ryan.


"Ryan! Apa yang kau lakukan?!" Ruby sama terkejutnya seperti Sarah. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Ryan mendadak berperilaku seperti psikopat.


Sementara Max terpaksa menyerahkan pistolnya kepada Ryan. Tangannya gemetaran saat melakukannya. Hal itu dikarenakan dia mencemaskan Sarah.


"Kau pasti berpikir aku bodoh bukan?" pistol kini berada dalam genggaman Ryan. Dia memainkannya bak sebuah mainan. Berjalan mendekat, dan berhenti tepat di hadapan Sarah.


"Apa maksudmu?" suara Sarah mulai terdengar melemah. Dia tentu ciut dengan gelagat Ryan yang terkesan seperti sebuah ancaman.


"Maksudku... kau pasti mengira aku akan menyerahkan daftar markas-markas rahasiaku bukan?" Ryan menggeleng sejenak. Memandang remeh Sarah. "Ya, aku memang akan melakukan segalanya demi Ruby. Tapi, aku selalu punya cara lain untuk melindungi aset rahasiaku. Termasuk dengan cara ini." Ryan menodongkan pistol ke jidat Sarah. Hanya dia yang tampak tenang. Sedangkan Ruby, Max, dan Sarah, mereka membulatkan mata secara bersamaan.


"Ruby, ini urusanku dan Sarah..." Ryan menoleh sejenak ke arah Ruby. Memberitahu dengan nada pelan.


"Urusanku jika kau menyuruhku tetap di sini!" sahut Ruby tak mau mengalah. Dia kembali memegangi pergelangan tangan Ryan.


"Ruby, kau tidak mengerti! Hanya seorang pengkhianat yang menginginkan daftar markas-markas rahasiaku!" Ryan berbicara sambil menatap tajam Sarah.


"Apa?! Kau menyebutku pengkianat?!" Sarah semakin tercengang.


Ruby otomatis membisu. Dia perlahan melepaskan pegangannya dari lengan Ryan. Mencoba mendengarkan penjelasan Sarah.


"Mengakulah!" Ryan masih belum berhenti menodongkan pistol.

__ADS_1


Mata Sarah bergetar, kemudian perlahan berpendar akan cairan bening. Untuk yang pertama kalinya gadis tangguh itu menangis. Dia merasa sangat kecewa pada seseorang yang selalu dipercayainya.


"Mana mungkin aku mengkhianatimu... Kau tahu, aku selalu setia. Bahkan ketika kau sudah memutuskan hubungan dariku..." air mata mulai berjatuhan dipipi Sarah. Gadis tersebut memancarkan binar penuh nanar dimatanya. Tetapi, Ryan sama sekali tidak terpengaruh.


"Ryan! Kau sangat keterlaluan! Bukankah aku sudah pernah bilang kepadamu, kalau orang yang mengkhianatimu adalah seorang lelaki?!" timpal Ruby. Membawa Sarah masuk ke dalam rangkulannya.


"Aku tahu." Ryan akhirnya menurunkan pistolnya. Dia menyesal menyuruh Ruby menonton adegan pembicaraannya dengan Sarah. Gadis itu selalu emosional. Padahal Ryan mengira, Ruby sudah tidak begitu lagi. Apalagi kepada orang seperti Sarah.


"Tetapi, aneh saja. Dia tiba-tiba meminta daftar markas-markas rahasia milikku. Daftar itu, hanya aku yang tahu. Sekarang aku akan menyembunyikannya lebih rapat." Ryan menyerahkan pistol kepada pemiliknya.


"Dan ingat, Sarah. Jika kau meminta hal yang aneh-aneh lagi. Maka aku tidak akan segan-segan menghabisimu. Jika kau ingin memilih tinggal di markas rahasiaku yang lain, tinggallah di tempat yang kau tahu saja!" ujar Ryan. Lalu mengalihkan pandangannya kepada Max.


"Suruh semua anggota berkumpul. Aku akan membasmi pengkhianat lebih dahulu sebelum pergi!" Ryan kembali memberikan perintah. Alhasil Max mengangguk dan melaksanakan tugasnya. Ryan otomatis beranjak. Meninggalkan Ruby dan Sarah berduaan.


Sarah lekas-lekas menghapus air matanya. Lagi-lagi ia memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Ini sangat memalukan..." imbuhnya, seraya mendongak untuk membalas tatapan Ruby.


"Kau tahu, aku memang menyelamatkanmu. Tapi bukan berarti aku berhenti membencimu," tukas Ruby blak-blakkan. "Aku hanya tidak suka melihat seseorang mati begitu saja tanpa alasan," sambungnya lagi. Memperjelas maksudnya.


"Kau sangat baik, Ruby. Tidak heran Ryan sangat menyayangimu. Aku harap kau memaafkanku," balas Sarah. Menatap dalam manik hazel milik Ruby.


"Jujur, aku tidak mengerti kau mau saja meminta maaf kepadaku. Bukankah kau membenciku seperti halnya Megan. Kau pasti membenciku, karena aku sudah merebut orang yang kau cintai," kata Ruby.


Sarah terkekeh sambil menggeleng pelan. "Tidak, Ruby. Aku tidak pernah mencintai Ryan. Aku tidak peduli dia mau mencintai siapa. Aku hanya..." Sarah tidak melanjutkan kalimatnya sampai akhir. Seolah dia ragu untuk mengatakannya.


"Hanya apa?" Ruby menuntut jawaban.


"Hanya butuh tempat tinggal." Sarah menyebutkan alasannya. Entah apakah benar atau tidak, yang jelas raut wajahnya berhasil meyakinkan Ruby.


"Aku rasa kita juga harus berkumpul di ruang utama," ajak Sarah. Dia berjalan lebih dahulu melewati pintu.

__ADS_1


"Benar, aku ingin tahu siapa orang yang telah berniat membuatku celaka!" Ruby melangkah bersamaan bersama Sarah. Menyusuri koridor menuju ruang utama.


__ADS_2