
...༻❀༺...
Megan dan Sarah mengantarkan Ruby ke sebuah kamar. Tempat istirahat yang terbilang nyaman. Di sana Sarah memberitahukan lokasi-lokasi penting untuk Ruby. Dari mulai tempat latihan bela diri, ruang menembak, gudang senjata dan lain-lain.
Sementara Megan duduk di sofa sembari menyilangkan kaki mulusnya dengan anggun. Dia menunggu Sarah selesai bicara.
"Itulah tempat-tempat yang harus kamu ketahui. Sekarang giliranmu, Megan." Sarah menatap Megan. Dia ikut bergabung untuk duduk di sofa.
"Duduklah, Ruby!" suruh Megan seraya menunjuk sofa yang harus diduduki oleh Ruby.
Ruby tidak punya pilihan selain menuruti perintah Megan. Suasana terasa sangat canggung. Dia tidak tahu apakah harus marah atau bersikap ramah terhadap Megan dan Sarah.
"Sebenarnya Ryan memberitahu kami tentangmu, satu hari sebelum kita bertemu. Itu sebenarnya adalah kabar yang mengejutkan untuk kami. Tiga bulan ditinggalkan, dan tiba-tiba dia menikahi perempuan baru lagi." Megan menghela nafas berat sembari menyandarkan dirinya ke sofa.
"Aku lebih terkejut, karena mengetahui ada dua wanita lain selain aku sebagai istrinya!" sahut Ruby. Dia mengangkat kedua bahunya sekali.
"Dia ternyata berani juga." Megan menoleh ke samping kanan. Berbicara kepada Sarah.
"Tunggu!" Ruby menegakkan badannya. Dia mencoba menarik perhatian Megan dan Sarah. Agar perkataannya bisa didengarkan dan dipahami dengan baik. "Aku akan meluruskan lebih dahulu. Kalau aku dan Ryan sudah berpisah. Jadi, aku akan menegaskan kepada kalian, bahwa aku bukan salah satu istrinya lagi," terangnya yang diakhiri dengan senyuman tipis.
"Hahahaha!" Megan merespon ucapan Ruby dengan tawa yang terbahak-bahak.
"Sarah, gadis ini pasti belum begitu mengenal Ryan dengan baik. Haha!" ujar Megan disela-sela gelak tawanya. Dia bahkan sampai menepuk-nepuk pahanya sendiri, karena merasa begitu gelinya. Berbeda dengan Megan, Sarah hanya mengembangkan senyuman kecut. Dia nampaknya merasakan suasana yang amatlah canggung.
Sementara Ruby hanya bisa mengernyitkan kening heran. Mulutnya sedikit menganga akibat sama sekali tidak mengerti dengan tingkah salah satu perempuan di hadapannya. Ruby merasa ucapannya sama sekali tidak lucu. Dia sedikit tersinggung dengan respon Megan. Terkesan seperti menganggap ucapannya tidak penting.
"Kenapa kau malah tertawa?" tegur Ruby. Sebab dirinya tengah berusaha menahan amarah. Akan tetapi Megan sama sekali tidak menghiraukannya. Megan malah terlihat berbisik ke telinga Sarah.
__ADS_1
"Hei! Kau pikir aku batu?! Aku di sini, dan ini kamarku bukan? Aku ingin istirahat!" Ruby berdiri dengan raut wajah sebal. Membuat atensi Megan dan Sarah sontak teralih kepadanya.
Megan bangkit dari tempat duduk. Dia menyalangkan mata. Namun Ruby tidak ingin kalah. Dia tentu membalas tatapan Megan dengan pelototan. Dua perempuan tersebut berhadapan sembari bertukar tatapan berapi-api. Mereka sama-sama merasakan pitam yang memuncak.
"Aku harap ucapanmu benar, Ruby. Kau dan Ryan memang seharusnya berpisah saja. Tolong pergilah secepatnya!" ucap Megan, kemudian melingus pergi menuju pintu keluar.
"Kau pikir tinggal di sini adalah keinginanku sendiri?! Tidak, bit*ch!" balas Ruby. Dia tidak bisa menahan diri lagi, dan akhirnya mengumpat dengan mulutnya. Megan tampak membalas dengan bahasa tubuhnya. Yaitu mengacungkan jari tengahnya sambil melangkah kian menjauh.
"Maaf, Ruby. Megan memang selalu begitu dengan orang baru. Tetapi aku tidak. Jika butuh sesuatu kau bisa bertanya saja denganku." Sarah menepuk pelan pundak Ruby. Berbeda dengan Megan, sikapnya lebih ramah.
"Thanks." Ruby membalas sembari tersenyum singkat. Membiarkan Sarah berlalu pergi.
Kini Ruby bisa beristirahat dengan tenang. Dia menutup pintu, kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ruby akhirnya bisa tertidur dengan tenang.
Ketika melewati sebuah ruangan, telinga Ruby menangkap sesuatu. Dia mendengar ada seorang lelaki dan perempuan sedang berkelahi secara fisik.
Karena merasa penasaran, Ruby lantas membuka pintu ruangan yang dicurigainya dengan pelan. Dia mengintip lewat pintu yang sedikit terbuka.
Penampakan yang dilihat Ruby adalah pertarungan di antara Ryan dan Sarah. Keduanya tampak bertarung di atas ring. Hanya mengenakan gumpalan kain sebagai sarung tinju ditangan mereka.
Ruby terperangah menyaksikan adegan perkelahian Ryan dan Sarah. Bagaimana tidak? Perkelahian mereka tampak seperti profesional. Gesit, lihai dan terlihat kuat. Seorang wanita seperti Sarah bahkan tidak kalah hebatnya dari Ryan. Dia bisa menghindar dan menangkis serangan Ryan dengan baik.
"Aku rasa kau akan kalah lagi hari ini, Babe!" kata Sarah seraya memasang kuda-kuda. Rambut pendek sebahunya terlihat sudah basah oleh peluh. Dia hanya mengenakan tanktop dan celana pendek berwarna hitam.
"Hehh... baru sekali mengalahkanku, sudah sombong." Ryan merespon dengan ukiran seringai diparasnya. Dia bertelanjang dada. Hanya menggunakan celana boxer berwarna biru navy. Badannya sangat atletis. Otot bisep dan perutnya terlihat kuat dan kekar. Apalagi dengan keringat alami yang berhasil membuat keadaan kulitnya menjadi mengkilap.
__ADS_1
Buk!
Sarah melayangkan tinju ke perut Ryan. Namun Ryan dengan sigap menangkisnya. Kemudian langsung melakukan serangan tinju ke wajah Sarah.
Sarah dapat mengelak dari serangan balasan Ryan. Dia menghindar dengan lihai. Lalu merekahkan senyuman puas. Sarah tidak ingin jeda terlalu lama. Tanpa pikir panjang gadis berambut pendek sebahu itu melakukan tinju bertubi-tubi kepada Ryan.
Ryan yang tidak menduga terhadap serangan Sarah, hanya bisa melakukan pose perlindungan. Yaitu memposisikan kedua tangannya ke depan wajah. Akan tetapi ketumbangan Ryan tidak berlangsung lama. Dia kembali bangkit dan melayangkan tinjunya. Tanpa sengaja hantamannya itu tepat mengenai perut Sarah.
Sarah otomatis terhuyung dan tidak kuasa menyeimbangkan diri. Sehingga dia terjatuh ke lantai. Gadis tersebut juga terdengar mengaduh. Menutupi area perutnya yang terasa sakit.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Ryan sambil membungkuk menghadap Sarah.
"Huhh... Selamat Tuan Mafia, kau mengalahkanku untuk yang sekian kalinya," jawab Sarah sembari meraih tangan Ryan yang baru saja di ulurkan untuknya. Dia sudah terbiasa kalah bertarung dari Ryan.
"Kamu masih punya banyak kesempatan untuk mengalahkanku," imbuh Ryan. Tangannya perlahan mengelap keringat yang ada disekitaran wajah Sarah. Dia melakukannya dengan lembut.
"Katakan kepadaku, rahasia bertarung yang kau ketahui dari suku Elmika itu." Sarah melangkah lebih dekat dengan Ryan.
"Bukankah aku sudah memberitahumu puluhan kali?" balas Ryan yang sedikit terkekeh.
"Maksudmu, teknik konyol yang pernah kau ajarkan itu?" Sarah menggeleng tak percaya. Tatapan matanya tidak teralihkan dari lelaki tampan yang sedang berdiri di hadapannya.
"Ya." Ryan menjawab singkat. Perlahan Sarah semakin mendekatkan wajahnya. Dia memberikan sebuah ciuman ke bibir suaminya. Ryan tentu membalas sentuhan tersebut. Dia malah menyambutnya dengan lebih bersemangat.
Ryan mengangkat Sarah ke dalam gendongannya. Hingga kedua kaki Sarah mengunci dipinggulnya. Ciuman mereka semakin bergairah.
Ruby yang masih menyaksikan dari balik pintu, reflek membulatkan mata. Dia kaget, dan membuat tangannya tanpa sengaja menyenggol pintu. Menyebabkan munculnya bunyi ketukan yang nyaring. Ruby bahkan kesakitan akibat kecerobohannya sendiri.
__ADS_1
Ryan dan Sarah sontak menghentikan kegiatan mereka. Kemudian langsung menoleh ke arah pintu.