Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 83 - Memberitahu Ryan [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


"E-ethan? Apa yang kau lakukan di sini?!" Andrew melebarkan kedua kelopak matanya. Dia merasa kaget dengan kemunculan Ethan.


"Halo, kawan. Kau ternyata di sini sekarang? Masih menjadi polisi, hah?" Ethan menarik seragam polisi yang sedang dikenakan oleh Andrew. Keduanya memang saling mengenal. Tidak hanya karena pernah satu sekolah, tetapi juga karena Ethan memang sering terlibat dengan kejahatan di kota Virginia.


"Shi*t! Apa kau suaminya Ruby?" tanya Andrew seraya menjauhkan tangan Ethan secara paksa darinya.


"Menurutmu? Bukankah sudah jelas? Ah, jangan bilang kau tertarik dengannya?!" Ethan mencondongkan kepalanya ke arah Andrew. Memberikan tatapan yang sedikit mengintimidasi.


"Bisakah kau panggilkan Ruby? Aku ingin bicara dengannya. Aku malas berbicara dengan seorang pembual sepertimu!" Andrew mendorong Ethan dengan satu tangannya.


"Kau mau bicara apa? Bicarakan saja kepadaku. Aku berhak tahu sebagai suaminya. Bagaimana bisa aku membiarkan istriku bicara berduaan dengan lelaki lain. Apalagi dengan lelaki lajang sepertimu!" balas Ethan. Tetap berdiri di ambang pintu. Bersikeras menghalangi Andrew.


"Aku hanya berusaha membantu, oke? Harusnya kau berkaca kepada dirimu sendiri! Kenapa kau tega meninggalkan istrimu sendirian saat sedang hamil?! Suami macam apa kau!" timpal Andrew tak mau kalah.


"Itu bukan urusanmu, Bung! Sekarang lebih baik kau pulang saja ke kantormu!" sahut Ethan. Kemudian langsung menutup pintu.


Ethan kembali masuk ke rumah. Lidahnya berdecak kesal. Lelaki tersebut mengambil segelas air putih. Lalu meminumnya sampai habis. Setidaknya hal itu mampu membuatnya merasa lebih rileks.


Pandangan Ethan memindai sekeliling. Ruby sama sekali tidak terlihat keberadaannya. Hingga Ethan dapat menyimpulkan kalau Ruby pasti sedang berada di kamar mandi.


Selang beberapa menit, Ruby keluar dari kamar mandi. Rambut cokelat panjangnya tampak agak basah. Ruby beberapa kali membilasnya dengan handuk yang dia pegang. Langkahnya bergerak menghampiri sofa. Dimana Ethan sedang asyik rebahan di sana.


"Siapa yang datang tadi?" tanya Ruby seraya mendudukkan dirinya. Ia hanya mengenakan handuk kimono putih sekarang.


"Andrew," jawab Ethan. Sedari tadi dirinya sibuk memainkan ponsel. Akan tetapi setelah mendengar suara Ruby, Ethan bergegas merubah posisi menjadi duduk. Lalu menatap ke arah gadis itu.


Ethan langsung terpaku saat memandangi Ruby. Matanya mengedip pelan dua kali. Gadis yang ada di hadapannya, kini kembali menarik perhatiannya. Basahnya rambut seorang perempuan memang selalu berhasil menggoda kaum lelaki.


"Seharusnya kau tidak berpenampilan begitu saat bersamaku," komentar Ethan. Matanya tidak teralihkan dari Ruby.

__ADS_1


Dahi Ruby berkerut. Ia langsung meraih bantal kecil yang berwarna senada dengan sofa, kemudian melemparkannya ke wajah Ethan. "Jika kau macam-macam, aku akan membunuhmu!" pungkas Ruby.


Ethan merekahkan senyuman simpul. Dia menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Lalu membuang muka dari Ruby. Ethan mencoba menahan hasrat yang seharusnya tidak dirasakannya. Keinginannya untuk merebut Ruby dari Ryan tiba-tiba muncul. Namun Ethan segera menggeleng tegas. Agar melupakan benak gila dari otaknya.


"Nomor Ryan masih belum aktif!" Ruby menghela nafas berat. Dia terlihat berusaha menghubungi Ryan dengan ponselnya.


"Mungkin dia sedang dalam perjalanan. Percayalah, Ryan pasti akan pulang demi dirimu." Ethan melayangkan tatapan sendu.


"Aku tahu. Mungkin aku terlalu mencemaskannya..." lirih Ruby.


"Kau mau bermain kartu poker? Mungkin itu bisa menghilangkan rasa bosanmu," usul Ethan sambil duduk bersila di atas sofa.


"Ide bagus. Aku akan ganti baju terlebih dahulu," ujar Ruby. Dia bergegas masuk ke kamar. Lalu kembali dengan pakaian lengkap.



Hari sudah sore menjelang malam. Ruby dan Ethan masih bermain kartu. Keduanya sama-sama menikmati pizza yang mereka pesan. Untung saja kali ini Ruby bisa memakan pizza seperti biasa. Dia tidak mual untuk sementara. Semuanya mungkin karena dirinya sudah berhasil menikmati hidangan spageti kemarin.


Sebuah mobil terlihat terparkir di depan halaman rumah. Tanpa pikir panjang, Ruby segera mengakhiri aktifitasnya. Kemudian mengintip dari jendela.


Ryan baru saja keluar dari mobil. Lelaki itu tampak basah kuyup. Ia tidak datang sendiri, melainkan ditemani oleh John. Mata Ruby seketika membulat. Alhasil Ruby pun langsung membuka pintu.


"Ryan!!!" pekik Ruby.


"Ruby!" Ryan melajukan langkahnya menghampiri Ruby. Berniat ingin memeluk. Namun Ruby menolaknya.


"Kau kenapa? Apa kau tidak khawatir denganku?!" kening Ryan mengernyit.


"Kaulah yang harusnya mengkhawatirkanku!" jawab Ruby. Balas mengerutkan dahi.


"Bolehkah aku masuk ke dalam, dan beristirahat dahulu? Aku tidak mau ikut campur urusan pribadi kalian," ungkap John seraya berjalan pelan melewati Ruby. Dia berlalu begitu saja masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Pergilah, John!" hardik Ryan dengan tatapan tajam. Selanjutnya, dia segera mendorong Ruby masuk ke dalam rumah. Lalu tidak lupa untuk menutup pintu.


"Aku mohon jangan memulai perdebatan, Babe. Aku ingin istirahat lebih dahulu. Lebih baik kita bicarakan semuanya nanti," tutur Ryan. Nada bicaranya lebih pelan dari tadi. Nampaknya Ryan tidak mau memunculkan perdebatan di antara dirinya dan Ruby.


"Tidak! Aku mau bicara sekarang. Ini tentang kehidupan rumah tangga kita seterusnya, Ryan!" tegas Ruby.


"Sepenting itukah?!" sahut Ryan, tak mengerti. Dia mencoba beranjak meninggalkan Ruby. Tetapi langkahnya seketika terhenti, saat mendengar seruan istrinya yang sukses membuat Ryan jantungan.


"Aku hamil!" imbuh Ruby.


John bahkan yang berada tidak begitu jauh dari Ruby dan Ryan, ikut terkejut. Dia sontak menoleh ke arah dua pasangan suami istri tersebut.


"Apa?!" Ryan berbalik badan menghadap Ruby. Melayangkan tatapan tak percaya. Kepalanya menggeleng lemah beberapa kali. Terus menampik pernyataan dari Ruby.


"Babe, aku sedang tidak ingin bercanda, oke? Jadi, hentikanlah permainanmu ini," ujar Ryan.


"Aku tidak bercanda! Kemarin aku ke rumah sakit, dan dokter mengatakan kehamilanku sudah berjalan dua minggu. Katakan kepadaku, apa yang harus aku lakukan, Ryan?!" ucap Ruby. Masih berdiri tegak di tempatnya.


Ryan mengusap kasar wajahnya. Lalu mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia sebenarnya merasa lelah dengan segala insiden yang di hadapinya sejak kemarin. Kini Ruby menambahkan beban tak terduga.


"Beri aku waktu untuk beristirahat!!!" tegas Ryan dengan nada penuh penekanan.


"Apa?! Begitukah reaksimu?! Beri aku kepastian, Ryan! Apa yang harus kita lakukan dengan kehamilanku ini!!" geram Ruby. Mendorong kasar Ryan. Dia tidak tahan lagi dengan sikap suaminya tersebut.


"Kau ingin kepastian dariku?" Ryan memegangi pundak Ruby. Semakin mendekatkan wajahnya, kemudian meneruskan, "Gugurkan saja kandunganmu. Itu satu-satunya hal yang terlintas dalam pikiranku sekarang."


Buk!


Sebuah bogem menghantam wajah Ryan. Ethan yang merupakan pelakunya terlihat membusungkan dada penuh dengan amarah. Nafasnya tersengal-sengal, karena merasa sangat kesal terhadap segala kalimat yang diucapkan Ryan.


Ryan yang sempat terhuyung, langsung melotot tajam ke arah Ethan. Pitamnya semakin naik akibat kemunculan dan tinjuan Ethan.

__ADS_1


"Sial! Beraninya kau datang ke sini!" Ryan mencengkeram erat kerah baju Ethan. Lalu menghantamkan lututnya sekuat tenaga ke perut Ethan. Namun kali ini Ethan tidak mengalah seperti sebelum-sebelumnya. Perkelahian terjadi, hingga menyebabkan beberapa perabotan rumah berantakan.


__ADS_2