Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 24 - Strategi Dadakan


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby berlari mendatangi bunker dimana Sarah dan Megan dikurung. Dia mencoba menarik gembok besar yang menjadi kunci pintu bunker.


"Sarah? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Ruby sambil menempelkan telinga ke pintu.


Mendengar suara Ruby, Sarah dan Megan merasa kaget. Keduanya reflek saling bertatapan. Tanpa basa-basi, mereka langsung berdiri dan mendekati pintu.


"Tentu saja tidak! Kami tidak baik-baik saja! Lebih baik kau buka pintunya sekarang!" balas Megan dengan penuh harap.


Ruby kembali mencoba membuka gembok. Dia bahkan menggunakan benda-benda yang dapat membantu. Namun usahanya tidak membuahkan hasil, karena gembok yang mengunci bunker begitu besar. Besinya sangat tebal dan sulit untuk di atasi.


"Aku sudah memukulkan segalanya ke gembok, dan tetap tidak bisa!" ucap Ruby memberitahukan Megan dan Sarah.


"Apa kau sudah gunakan kapak?" tanya Sarah. Mengusulkan yang ada dalam benaknya.


Ruby kini mencari benda yang dimaksud Sarah. Pandangannya mengedar ke segala penjuru. Hingga atensinya langsung tertuju ke arah balok kayu yang bertuliskan peralatan tukang. Dia segera membuka balok kayu tersebut, dan berhasil menemukan kapak.


Ruby kembali menghampiri bunker merah. Tempat dimana Megan dan Sarah dikurung. Ruby segera melayangkan kapak ke gembok. Dia melakukannya lebih dari puluhan kali. Keringat yang bercucuran dipelipis menunjukkan kelelahannya. Tetapi gembok besar itu belum juga tumbang. Bahkan tidak sedikit pun.


"Aku tetap tidak--" ucapan Ruby harus dijeda. Sebab suara pintu terdengar terbuka.


"Aku harus pergi, orang-orang itu datang lagi. Aku berjanji akan kembali!" ujar Ruby dengan nada pelan. Kemudian bergegas bersembunyi.


Sebelum pergi, Ruby menguping pembicaraan kedua penjaga terlebih dahulu. Dia mendengar kalau bunker Megan dan Sarah akan diceburkan ke laut malam ini. Dirinya juga baru tahu, kalau ternyata Ethan-lah yang memberikan perintah gila itu.


Ruby ingin menyelamatkan Megan dan Sarah. Tetapi bagaimana? Membuka gembok pintu bunker saja sangat sulit. Sekarang Ruby mencoba berpikir untuk mencari jalan keluar. Yang terlintas dalam pikirannya, hanyalah mendekati Ethan. Dia tahu, kelebihan yang dimilikinya saat ini adalah rasa ketertarikan Ethan terhadapnya. Ruby merasa harus memanfaatkannya dengan baik.


"Aku tidak punya pilihan lain," gumam Ruby. Membulatkan tekad. Dia pergi dari gudang penyimpanan. Kembali ke kamar untuk menyusun strategi dengan baik.

__ADS_1


Ruby duduk di ujung kasur. Dia memikirkan bagaimana cara dirinya mendekati Ethan. Gadis tersebut berpikir cukup lama. Hingga terlintas dalam benaknya, kalau dia sering bertemu dengan Ethan saat berdiri di pinggiran kapal.


Pupil mata Ruby membesar. Sebab dirinya sudah menemukan ide cemerlang untuk mendekati Ethan. Dia lantas melangkah keluar dari kamar dan sengaja berdiri di pinggiran kapal.


Sekian menit berubah menjadi satu jam. Ruby sudah lama menunggu. Kakinya bahkan sudah pegal.


"Benar kata orang. Kalau dicari orangnya pasti sulit ditemukan. Tetapi kalau tidak dicari, orangnya malah muncul sendiri," gumam Ruby. Mendengus kasar. Dia meletakkan dagunya di atas kedua tangan yang terlipat di atas pagar pelindung. Pantatnya tanpa sengaja menungging ke belakang. Ruby terdiam dalam pose seperti itu dengan raut wajah bosan.


Sentuhan tak terduga dirasakan Ruby dibokongnya. Sebuah tangan mencengkeram di bagian tubuhnya tersebut. Ruby yang merasa dilecehkan langsung berbalik, dan melayangkan tamparan kepada pelakunya.


Mata Ruby terbelalak ketika melihat sosok yang sudah menyentuhnya tanpa permisi. Siapa lagi kalau bukan Ethan. Lelaki mesum dan tidak tahu sopan santun. Ethan menangkap tangan Ruby dengan mulus, hingga dirinya tidak mendapatkan pukulan dipipi.


Ruby ingin sekali marah. Namun saat dia mengingat keadaan Megan dan Sarah, Ruby merasa harus bisa menyembunyikan amarah. Gadis itu memejamkan mata. Berupaya menenangkan diri.


"Kau kenapa? Tumben sekali diam. Biasanya selalu memarahiku habis-habisan?" pungkas Ethan. Mengamati ekspresi yang tampak diparas Ruby.


"Aku bertengkar dengan temanku. Jadi, aku sudah lelah bertengkar lagi dengan siapapun." Ruby menarik tangannya dari cengkeraman Ethan. Kemudian melipatnya ke depan dada.


"Ah, sayang sekali... pantas kau sangat kesepian dari tadi pagi," komentar Ethan. Semakin bersimpati.


"Aku ingin minum-minum, tetapi tidak mau melakukannya sendiran." Ruby mengalihkan pandangan dari Ethan. Dia malas melihat wajah lelaki itu. Karena jujur saja, dirinya masih berusaha meredakan amarah. Gadis mana yang tidak naik pitamnya, saat merasa dilecehkan.


"Ya sudah, kalau begitu minumlah bersamaku. Aku akan menemanimu," saran Ethan dengan rekahan senyuman yang tak berdosa.


"Baiklah, tetapi aku ingin minum sambil memainkan permainan. Membosankan jika bicara dan minum saja," usul Ruby sebelum benar-benar menyetujui.


"Apapun itu, aku akan lakukan untukmu!" goda Ethan dengan lirikan nakalnya. Dia dan Ruby segera pergi ke suatu tempat.


Ruby kini hanya bisa berharap dirinya tidak terbuai dengan alkohol. Dia berjanji tidak akan minum sampai mabuk.

__ADS_1



Sementara itu Megan dan Sarah. Keduanya sama-sama mencoba menggunakan ponsel. Akan tetapi keadaan sinyal yang kosong melompong, menyebabkan mereka tidak akan mampu menghubungi siapapun.


"Aku tidak menyangka, satu-satunya harapan kita adalah Ruby," imbuh Megan sembari menggeleng tak percaya. Dia dan Sarah sudah saling melepaskan ikatan tali yang menjerat mereka.


"Kau saja yang terlalu membencinya. Keberadaannya padahal sama sekali bukan ancaman!" balas Sarah.


"Kenapa kau berpikir begitu? Aku membencinya, karena aku mencintai Ryan!" ujar Megan menegaskan. Menyebabkan kelopak mata Sarah otomatis melebar. Karena baru pertama kali ini, Megan berbicara perihal perasaannya. Empat bawahan Ryan yang kebetulan juga ada di sana, ikut menoleh ke arah Megan. Mereka nampaknya ikut penasaran.


"A-apa? Benarkah? Sejak kapan? Aku pikir selama ini kau hanya memanfaatkannya untuk karir dan keuanganmu," timpal Sarah, masih dalam keadaan tercengang.


"Entahlah. Aku hanya ingin memberitahumu, tetapi tidak akan menjelaskannya." Megan membuang muka dari semua orang yang menatapnya.


Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi suara mesin menyala. Sarah menduga kalau itu adalah suara kendaraan. Dia, Megan dan yang lain semakin terkejut, saat bunker tiba-tiba terasa diangkat.


"Sial! Dia benar-benar akan membuang kita ke laut!" Megan yang merasa panik, melampiaskannya dengan cara mengumpat.


Semua orang yang ada dalam bunker kini menghimpit ke dinding bunker. Mereka berusaha berpegangan sebisa mungkin. Berbeda dengan Megan yang cerewet, Sarah tampak membisu. Dia sebenarnya sedang memikirkan cara untuk menyelamatkan diri.


"Sarah, lakukan sesuatu! Kau tidak akan membiarkan kita mati bukan?!" timpal Megan, mendesak. Dirinya sendiri bahkan tidak melakukan apapun.


"Bisakah kau diam?! Aku sedang berpikir!!" geram Sarah. Dia tidak tahan lagi terhadap sikap Megan. Kupingnya serasa mau pecah, jika terus-terusan mendengar gerutuan wanita berambut pirang itu.


BRAK!


Bunker dihempas begitu saja ke lantai. Menyebabkan orang-orang yang ada di dalamnya sontak ikut terhempas. Megan, Sarah beserta empat tim lain, hanya bisa mengaduh kesakitan.


"Kalian tenang saja, ini masih pemanasan. Kalian akan bertemu dengan kumpulan ikan hiu nanti malam, hahaha!" ujar salah satu orang The Drugs dari luar. Dia baru saja memindahkan bunker ke suatu tempat.

__ADS_1


__ADS_2