
...༻❀༺...
Ruby membiarkan Ryan memeluknya sebentar. Sampai akhirnya Ryan berani untuk menciumi pundaknya yang wanginya seharum bunga mawar.
"Ryan!" Ruby melepaskan pelukan Ryan. Dia masih bersikap tak acuh kepada suaminya.
Ryan lantas berhenti dan menurut saja. Ia sadar Ruby menolaknya lagi. Kini Ryan memilih duduk di kursi yang ada di dekat Ruby. Matanya mulai tertuju kepada penari striptis yang ada di panggung.
"Penari itu mengingatkanku dengan Megan," celetuk Ryan. Lalu meminum beberapa teguk bir.
Ruby memutar bola mata malas. Dia tentu kesal mendengar Ryan membicarakan perempuan lain. Apalagi jika perempuan itu adalah Megan. Meskipun begitu, entah kenapa Ruby merasa penasaran. Kenapa penari striptis tersebut bisa mengingatkan Ryan dengan Megan? Apa Megan pernah bekerja menjadi penari striptis?
"Kenapa?" tanya Ruby dengan nada bingung. Dia membuang muka dari Ryan.
"Haruskah aku memberitahumu? Nanti kau malah memarahiku," jawab Ryan. Mengembangkan senyuman tipis, karena merasa gemas terhadap sikap yang ditunjukkan Ruby.
"Kenapa aku harus marah? Lagi pula Megan sudah pergi. Cepat katakan kepadaku!" Ruby justru tambah penasaran.
"Baiklah, jika itu maumu." Ryan melipat tangan di depan dada. Akan tetapi dia hanya terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya.
"Kenapa kau malah diam?" desak Ruby. Menyebabkan Ryan harus tergelak kecil sebentar.
"Kau tahu? Jika Megan menginginkanku, dia selalu melakukan tarian striptis terlebih dahulu. Begitulah cara dia merayuku, tapi caranya tidak mempan lagi saat aku sudah jatuh cinta kepadamu," tutur Ryan. Dia tidak merindukan Megan. Ryan memang sengaja membicarakan gadis lain, agar Ruby bisa kembali kepadanya.
"Cih! Jangan harap aku mau melakukannya untukmu." Ruby merespon sinis.
Tiba-tiba terdengar sorak sorai dari para bawahan Ryan. Mereka bersorak senang, karena sang penari striptis yang bernama Jessy itu turun dari panggung.
Jessy mendorong lelaki yang mencoba mendekatinya. Walau dia adalah seorang gadis penghibur, Jessy agak pemilih tentang lelaki mana yang akan dirayunya.
Jessy memperhatikan pria yang ada di ruangan sebaik mungkin. Dia ingin memilih salah satu lelaki agar dapat melakukan aksinya yang lain.
Tertujulah perhatian Jessy kepada Ryan. Siapa yang tidak tertarik dengan Ryan? Memiliki perawakan tinggi semampai, putih bersih, dan bertubuh atletis. Apalagi dengan pakaian yang harganya mencapai jutaan dollar. Tentu Jessy tidak akan melewatkan pria tampan dan kaya seperti Ryan.
Jessy menarik kerah baju Zac yang kebetulan berdiri di sampingnya. "Siapa dia?" tanya-nya. Sorot matanya tidak teralihkan dari Ryan.
"Dia Bos kami di sini." Zac menjawab dengan mata yang terus jelalatan ke arah badan Jessy yang seksi.
"Bagus sekali!" Jessy tersenyum senang sambil mendorong Zac menjauh.
Zac yang tadinya sempat terpaku akibat bentuk tubuh Jessy, sekarang sadar kalau sang penari striptis sedang membidik Bosnya. "Sial!" rutuknya. Kemudian mengajak sebagian temannya untuk menghentikan Jessy. Perang dunia yang sedang terjadi di antara Ryan dan Ruby bisa bertambah parah.
__ADS_1
Beberapa bawahan Ryan segera mencegah pergerakan Jessy. Mereka mencoba memberikan kalimat rayuan yang menggoda. Namun Jessy sama sekali tidak tertarik. Hingga akhirnya Jessy sudah terlanjur berlari mendatangi Ryan.
"Hai, handsome..." sapa Jessy sembari meletakkan lututnya ke pangkuan Ryan. Ia mengibaskan rambut pirang panjangnya ke belakang. Memperlihatkan belahan dadanya yang besar.
Ryan memutuskan diam saja. Dia sama sekali tidak tertarik kepada Jessy. Bola matanya justru melirik ke arah Ruby. Ryan penasaran dengan reaksi yang akan diberikan Ruby.
Jessy mengukir senyuman yang menggoda. Satu tangannya mencoba mencolek dagu Ryan. Tetapi belum sempat menyentuhnya, Jessy dikejutkan dengan cengkeraman tangan di bagian rambutnya.
"Enyahlah, bit*ch!" geram Ruby sambil menarik rambut Jessy sekuat tenaga. Tindakannya menyebabkan Jessy mengerang kesakitan.
"Aaaaa-aa-aaa!" Jessy berusaha melepas cengkeraman Ruby.
Ketika Jessy sudah agak menjauh dari Ryan, barulah Ruby melepaskan genggamannya. Ruby langsung mengibaskan tangannya, seolah telah menyentuh sesuatu yang kotor.
"Siapa kau?! Menyebalkan sekali!" tukas Jessy. Melotot tajam ke arah Ruby.
"Dia istriku!" Ryan menjawab lebih dulu. Ia bangkit dari tempat duduknya.
"Kau dengar itu?!" timpal Ruby. Kemudian lekas-lekas membawa Ryan pergi keluar dari ruangan. Keduanya beranjak pergi dari lokasi pesta.
Jessy menghela nafas. Dia mencoba menenangkan dirinya dahulu, sebelum beraksi kembali. Perlahan Jessy mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Berupaya menemukan lelaki lain selain Ryan. Atensi Jessy sontak terfokus kepada Ethan yang baru saja datang dari toilet.
"Siapa dia?" tanya Jessy, yang kali ini bertanya kepada Mike.
"Tidak apa-apa. Dia tidak kalah tampan dari Bos kalian tadi." Jessy tak acuh. Lalu segera menghampiri Ethan.
Di sisi lain, Ruby terus berjalan sambil memegangi pergelangan tangan Ryan. Sementara Ryan sendiri, merasa senang bisa melihat Ruby cemburu.
"Apa ini berarti kau sudah memaafkanku?" tanya Ryan. Memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti.
Ruby hanya bungkam. Dia malah memaksa Ryan masuk ke dalam kamarnya. Selanjutnya Ruby langsung mengunci pintu.
"Kau mengurungku?" Ryan bertanya lagi. Bukannya cemas, dirinya justru semakin senang. Ryan tidak sabar dengan apa yang akan dilakukan Ruby seterusnya.
"Diamlah!" titah Ruby. Ryan lantas memilih duduk tenang di sofa.
Bola mata Ryan bergerak mengikuti kemana pun Ruby melangkah. Ruby tampak sibuk mengobrak-abrik baju di lemari.
"Kau merencanakan apa, Babe? Berniat mengurungku di lemari?" Ryan mengernyitkan kening. Ia dirundung rasa penasaran yang menggebu.
__ADS_1
Ruby masih saja mendiamkan Ryan. Dia berjalan masuk ke kamar mandi, sambil membawa gumpalan baju yang berusaha disembunyikan dari penglihatan Ryan.
Ryan menunggu cukup lama. Ia menyandar ke sofa dalam keadaan mendongakkan kepala. Salah satu kakinya menggedik beberapa kali. Benak Ryan terus bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan istrinya?
Akibat rasa penasaran yang tidak tertahankan, Ryan akhirnya berdiri. Dia berniat menyusul Ruby ke kamar mandi. Akan tetapi langkah kakinya harus terhenti, saat Ruby mendadak muncul dari balik pintu.
Ryan terkesiap sejenak. Matanya mengedip pelan dua kali. Dia terpana dengan penampilan Ruby sekarang. Istrinya tersebut terlihat mengenakan setelan bikini berwarna merah menyala. Ryan otomatis menenggak ludahnya satu kali. Langkahnya ingin cepat-cepat mendekat.
"Duduklah, dan perhatikan!" perintah Ruby. Menyebabkan langkah Ryan harus terhenti.
Dahi Ryan berkerut heran. Ia akhirnya sadar dengan apa yang hendak dilakukan Ruby. Dari pakaiannya yang seksi, Ryan yakin Ruby berniat merayunya dengan tarian striptis. Sepertinya Ruby merasa tidak ingin kalah, setelah menyaksikan tingkah Jessy tadi.
Ruby mulai menari dengan asal. Gerakannya memang terlihat agak kaku. Sebab Ruby bukanlah penari berpengalaman. Dia bahkan hanya menari sekitar tujuh kali selama seumur hidupnya. Itu pun kalau Ryan yang mengajak.
"Hentikan, Ruby. Tubuhmu tidak lentur seperti penari striptis tadi. Kau tidak perlu repot-repot menggodaku dengan tarian." Ryan sebenarnya berupaya keras menahan tawa. Bukannya menggoda, Ruby malah tampak lucu.
"Aku bisa melakukannya!" ujar Ruby, merasa percaya diri. Ia meneruskan gerakannya dengan menggeliatkan tubuhnya di atas sandaran sofa.
"Bwahahaha! Itu tidak cocok denganmu, Babe. Hahaha!" Tawa Ryan seketika pecah. Dia tidak bisa menahannya lagi.
Ruby menggertakkan giginya. Lalu melemparkan bantal sofa ke arah Ryan. Tetapi Ruby juga tidak membantah kalau dirinya memang tidak hebat. Alhasil dia memilih tenang dan membiarkan Ryan selesai tertawa.
"Kau yakin tidak mau," imbuh Ruby. Kini dia duduk santai sembari menopang dagu dengan satu tangan.
Ryan sontak terdiam. Dia lebih suka melihat Ruby duduk diam. Ryan sangat tergoda ketika Ruby menatapnya dengan tatapan lekat.
"Maksudmu? Kau ingin..." pikiran Ryan dapat menduga apa yang sedang dipikirkan istrinya. Ryan segera menanggalkan pakaian atasannya sebelum mendatangi Ruby.
Ruby ikut berdiri di waktu bersamaan dengan Ryan. Tetapi saat Ryan mendekat, dia malah menghindar.
"Apa yang kau lakukan, Ruby?" Ryan yang sudah tidak sabar merasa gusar.
"Tentu saja menggodamu!" sahut Ruby. Dia berdiri di belakang sofa. Berhadapan persis dengan suaminya. Ruby menjadikan sofa sebagai penghalangnya dari posisi Ryan sekarang.
Lidah Ryan berdecak kesal. Dia berlagak mematung sebentar, agar dapat membuat Ruby lengah. Saat waktu dirasa tepat, Ryan segera berlari menghampiri Ruby. Strateginya sukses besar. Karena Ruby telah berada dalam pelukannya.
Gairah yang sejak awal sudah menggebu, langsung dilampiaskan Ryan dengan kecupan ganasnya. Mulut Ryan menjelajahi setiap jengkal bagian dada Ruby. Menyebabkan tali bra Ruby tersisih sampai ke bagian bahunya.
Ruby sempat terbuai sejenak. Darah disekujur badannya berdesir hebat. Namun dia lekas tersadar, karena tekadnya untuk menggoda Ryan masihlah kuat. Ruby lantas mendorong Ryan secara tiba-tiba. Kemudian berlari masuk ke kamar mandi. Ryan yang tidak menyangka dengan tindakan istrinya tadi, tentu merasa terkejut.
"Ruby!" Ryan memanggil sembari memainkan gagang pintu kamar mandi. Tetapi pintu tidak dapat terbuka. Sebab Ruby terlanjur menguncinya.
__ADS_1
"Ayolah, Babe!" apa yang dilakukan Ruby sukses membuat Ryan kian terangsang. Naf*sunya semakin meronta-ronta. Kali ini strategi Ruby yang berhasil.