
...༻❀༺...
Mendengar permohonan Ruby, Gaby dan Mike lagi-lagi harus saling bertukar pandang. Keduanya tersenyum, kemudian langsung setuju.
"Terima kasih. Kalau begitu, aku tidak akan merasa terlalu bosan. Lagi pula celotehan Ethan kadang membuatku pusing." Ruby memegangi bagian jidatnya. Mengingat kelakukan Ethan yang tidak pernah diam.
"Ethan? Dia di sini?" tanya Gaby. Dia dan Mike masih belum tahu perihal keberadaan Ethan bersama Ruby.
"Ya, bukankah kau yang memberitahunya untuk datang?" balas Ruby sembari mengerutkan dahi.
"Aku tidak memberitahukan apapun kepadanya. Karena aku sangat tahu Ryan membenci Ethan. Tapi, ternyata Ethan mendatangimu?" Gaby bertanya kembali.
"Benar, aku juga agak terkejut melihat dia yang datang untuk menemaniku. Katanya dia kebetulan berada di lokasi yang dekat denganku," jelas Ruby. Ia mengatakan apa yang dirinya tahu.
"Sebenarnya lokasi Ethan lumayan jauh darimu. Dia ada di New York. Aku pikir Ethan melakukan sesuatu agar bawahan Ryan tidak bisa menemuimu. Sehingga kau bisa berduaan dengannya." Mike mengungkapkan pendapatnya.
"Tapi untuk apa dia mau repot-repot melakukan itu?" Ruby merasa heran. Perlahan dirinya menyandar ke sofa.
Mendengar perkataan Ruby, Mike dan Gaby memilih bungkam. Keduanya tahu betul tujuan dari kedatangan Ethan. Mereka semakin yakin, saat mengetahui Ryan telah pergi meninggalkan Ruby. Jelas Ethan sedang menggunakan kesempatannya untuk merebut Ruby dari Ryan. Pembicaraan mereka dengan Ruby berakhir disitu.
Kini Mike dan Gaby berada di teras belakang. Dua kakak beradik tersebut berbicara sambil menikmati seduhan teh hangat.
"Jika begini, bukankah hubungan Bos dan Ruby akan renggang? Padahal baru beberapa minggu yang lalu mereka meresmikan pernikahan," ungkap Mike yang merasa khawatir. "Tanpa Ruby, Ryan akan menjadi kejam seperti dulu. Aku yakin itu," tambahnya. Salah satu kakinya tampak menggedik beberapa kali.
"Aku tahu. Bukankah sikap Ethan mencurigakan?" Gaby yang tadinya berdiri mondar-mandir, akhirnya duduk di sebelah Mike.
"Sejak awal Ethan memang selalu mencurigakan. Tidak heran Ryan sempat memukuli dan menawannya tanpa ampun. Tapi sekarang aku yakin, niat Ethan murni terkait perasaannya. Dia memang sedang bergerak untuk merebut Ruby." Setelah berucap, Mike menyesap tehnya. Rasa hangat seketika menjalar ke beberapa bagian dalam tubuhnya.
"Masalah Ethan, kita bisa mengurusnya. Tapi kita harus lakukan sesuatu agar membuat Ryan mau menjemput Ruby." Gaby menatap lurus ke depan. Lalu membisu karena berusaha berpikir sejenak.
"Aku tahu satu hal. Bagaimana jika kita menggunakan Ethan saja untuk membuat Ryan menjemput Ruby!" usul Mike, yang ternyata mendapatkan ide lebih dahulu dibanding adiknya.
"Maksudmu?" Gaby menggeleng seraya menampakkan garis-garis heran dikeningnya.
__ADS_1
"Kita buat Ryan panas. Semua orang tahu dia sangat mencintai Ruby. Ryan pasti tidak akan tahan melihat Ruby bersama Ethan terus-menerus." Mike menjelaskan rencananya. Hingga pada akhirnya Gaby mengangguk dan tersenyum. Pertanda gadis itu telah memahami maksud dari Mike.
"Kau sangat brilian, my brother!" Gaby mengepalkan salah satu tinju ditangannya. Bukan karena marah, melainkan akibat ingin melakukan tos tinju bersama sang kakak. Mike yang mengerti segera melakukan hal sama. Saat itulah mereka setuju untuk menjalankan rencana.
Ryan baru saja menerima kabar dari Gaby dan Mike. Dua bawahannya itu mengatakan akan tinggal bersama Ruby di kota Virginia.
...'Kami memutuskan menemani Ruby saja. Lagi pula setelah mendengar penolakanmu terhadap kehamilannya, aku pikir Bos sudah sangat keterlaluan.'...
Begitulah pesan teks yang dikirim oleh Gaby. Ryan hanya bisa berdecak kesal. Dia bergegas menenggak bir dari botolnya. Padahal di meja terlihat sudah ada botol bir kosong, menandakan kalau bir yang tengah dinikmati Ryan sekarang adalah botol kedua.
Dalam pikiran Ryan hanyalah Ruby. Puluhan kekhawatiran dirasakannya. Namun Ryan merasa tetap enggan menemui Ruby yang masih dalam keadaan mengandung anaknya. Padahal kerinduannya sedang tidak terbendung. Dua botol bir pun tidak mampu menghilangkan ingatannya dari gadis tersebut.
Ceklek!
Frans baru saja masuk ke ruangan Ryan. Ia tampak bersemangat, karena sudah tidak sabar untuk melakukan misi baru. Akan tetapi senyumannya seketika pudar, kala melihat Ryan mabuk dan bicara melantur.
"Bisakah kau membawakan Ruby untukku? Lalu lakukan sesuatu pada perutnya. Aku sangat ingin mencumbunya sekarang..." racau Ryan dalam keadaan mata sayu akibat mabuk.
Ryan melemparkan botol tepat ke arah pintu. Usahanya sukses membuat langkah kaki Frans terhenti. Botol bir langsung pecah dan berubah menjadi serpihan-serpihan kaca tajam. Selanjutnya, Ryan kembali menenggak minuman beralkohol. Rasa pahit dari minuman itu tidak membuat Ryan jengah.
"Apa Bos butuh hiburan? Maukah aku pesankan seorang wanita malam?" tawar Frans. Ia berinisiatif menenangkan Ryan.
Prang!
Ryan memecahkan botol bir kedua. Dia berdiri, lalu mencengkeram erat kerah baju Frans. Matanya menyalang penuh ancaman. Menyebabkan Frans sontak gemetar ketakutan.
"Aku hanya ingin Ruby!!! Kau dengar itu kan?!!" pekik Ryan.
Frans mengangguk takut. Tetapi dia memberanikan diri untuk bicara, "Ka-kalau begitu, temuilah dia, Boss..."
"Aku tidak bisa. Dia sedang hamil..." Ryan melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Frans. Dia berbalik dan menatap kosong ke arah jendela. Terpaku pada pemandangan kota Chicago. Emosinya mendadak turun.
__ADS_1
Frans memanfaatkan kelengahan Ryan untuk berjalan menyamping ke arah pintu. Hingga pada akhirnya dia berhasil keluar dari ruangan Ryan. Frans melajukan langkahnya sembari mengelus dada beberapa kali.
Di sisi lain, di tempat yang bernama E. Green Street. Ruby, Ethan, Gaby dan Mike tengah bersiap untuk menonton film bersama. Ethan terlihat sibuk memilih film action. Sedangkan Mike duduk di sofa sambil memperhatikan kegiatan Ethan.
"Ayo, Gaby! Kita bergabung bersama mereka!" ajak Ruby. Dia baru selesai mengganti pakaian. Gadis itu baru selesai mandi.
"Oke, aku mau mengurus camilan kita dahulu," sahut Gaby. Ia memang sedang sibuk mengambil beberapa camilan. Matanya terus tertuju ke arah Ruby yang melangkah ke ruang tengah. Tempat dimana Ethan dan Mike berada.
Ruby terlihat hendak duduk ke sofa khusus untuk satu orang. Gaby yang melihat, segera melajukan pergerakannya agar bisa cepat ikut bergabung. Untung saja Mike bergerak cepat, lalu merebut sofa yang di inginkan Ruby lebih dahulu.
"Maaf, Ruby. Aku sangat ingin duduk di sini!" ucap Mike memberi alasan.
Ruby hanya menghela nafas berat. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Mencoba memaklumi tingkah laku aneh Mike. Ruby lantas memilih sofa panjang. Tetapi kali ini, Gaby lebih dahulu tiba di sana.
"Aku berniat menonton sambil telentang!" Gaby langsung merebahkan dirinya disofa panjang. Beberapa camilan kemasan terlihat berada dalam pelukannya.
"Ada apa dengan kalian berdua?" protes Ethan, yang juga dapat menyaksikan kelakuan dua kakak beradik keturunan negro itu.
"Sudahlah, ayo cepat putar filmnya!" titah Ruby. Ia akhirnya harus duduk di sebelah Ethan. Membuat Gaby dan Mike perlahan bertukar tatapan puas.
Film sudah dimulai. Semua pasang mata tertuju ke arah televisi. Termasuk Ruby. Namun gadis terebut nampak tidak bersemangat, bahkan saat adegan tegang sekali pun.
"Ruby, apa kau tidak menyukai filmnya?" tanya Gaby, yang sadar dengan kebosanan Ruby.
"Aku sudah menontonnya," jawab Ruby.
"Apa?! Kenapa kau tidak bilang dari awal. Maka aku akan menggantikannya dengan film lain!" Ethan menyahut dengan dahi yang berkerut.
"Biarkan saja. Aku tahu kalian semua menikmatinya, lagi pula sudah lama juga aku tidak menonton film ini. Jadi kemungkinan aku lupa alur ceritanya." Ruby mencegah pergerakan Ethan. Dia tidak mau Ethan tiba-tiba memotong film yang sudah terputar lebih dari setengah jam.
Film tetap berlanjut. Ruby yang sebenarnya sudah dua kali menonton film yang diputar, merasa mulai mengantuk. Meskipun begitu, dia berusaha keras menutupinya dari semua orang. Lama-kelamaan, rasa kantuk Ruby tidak tertahankan. Kepalanya akhirnya terjatuh ke pundak Ethan.
Gaby yang berada di sisi kiri Ruby, perlahan mengambil ponsel. Dia berpura-pura sibuk memainkannya. Padahal Gaby sedang mengambil gambar kedekatan Ethan dan Ruby secara diam-diam. Kemudian langsung mengirimkannya kepada Ryan.
__ADS_1
"Apa kau mengambil gambar kami?" pungkas Ethan. Tegurannya sukses membuat Gaby sedikit kaget.
"U-untuk apa aku melakukannya? Aku sedang membalas pesan dari temanku!" Gaby memberi alasan dengan asal. Dia mendengus lega, saat Ethan tidak menimpalkan pertanyaan berlanjut.