
...༻❀༺...
Ruby masih berada di dalam kereta. Dia menenangkan diri dengan cara duduk di kursi yang kosong. Dompet curiannya sudah disembunyikan dibalik mantel panjang cokelatnya.
Ruby dibuat kaget, saat kereta mendadak berhenti tanpa alasan. Dia tambah heran saat menyadari kereta tidak berhenti di lokasi tujuan. Bukan hanya Ruby yang dirundung perasaan bingung, tetapi juga para penumpang lainnya.
"What's wrong?"
"Apakah ada kesalahan teknis?"
Beberapa penumpang saling bertanya-tanya. Kepala mereka celingak-celingukan ke segala arah. Hal serupa juga dilakukan oleh Ruby. Pupil matanya membesar saat menyaksikan beberapa pria yang baru saja masuk ke dalam kereta. Ruby sangat yakin, kalau mereka adalah para bawahan Ryan.
Ruby reflek membalikkan badan. Dia menutupi sebagian wajahnya dengan syal yang ada dileher. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Akibat takut keberadaannya akan diketahui.
Para bawahan Ryan membohongi publik, bahwa mereka adalah polisi yang sedang mencari seseorang. Semua penumpang yang ada lantas menerima saja kehadiran mereka.
Demi pelariannya berjalan mulus, Ruby berupaya untuk tidak membuat keributan terlebih dahulu. Dia melangkah pelan melewati kerumunan penumpang. Sesekali Ruby akan melirik ke belakang. Memastikan jarak di antara dirinya dan para bawahan Ryan tidak dekat.
Mata Ruby membulat ketika menyaksikan Frans berjalan ke arahnya. Karena saking kagetnya, Ruby tidak sengaja menabrak seorang lelaki di depannya. Sehingga menyebabkan tas yang dipegang lelaki bergaya glamor dan feminin itu terjatuh.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" timpal sang lelaki.
Ruby agak kaget mendengar timpalan dari lelaki tersebut. Dia hanya meminta maaf, dan segera mengambilkan tas yang terjatuh. Saat itulah atensinya tertuju ke rambut palsu yang ada di dalam tas milik lelaki di depannya.
Tangan Ruby dengan cekatan mengambil rambut palsu dari dalam tas. Lalu menyembunyikannya ke kantong yang ada dibalik mantel. Selanjutnya, Ruby segera menyerahkan tas kepada pemiliknya. Dia bergegas masuk ke dalam toilet.
Ruby langsung mengenakan rambut palsu yang tadi dicurinya. Kebetulan rambut palsu itu berwarna pirang. Sangat berlawanan dengan rambut Ruby yang berwarna cokelat.
__ADS_1
"Wow, lihatlah dirimu..." Ruby berbicara kepada pantulan dirinya yang ada di cermin. Penampilannya sangat berbeda dibandingkan sebelumnya. Ruby berpikir kalau dirinya tengah melakukan penyamaran yang sempurna.
Ruby keluar dari toilet dengan percaya diri. Dia hanya perlu menjauh dari pemilik asli rambut palsu yang sedang dipakainya.
Frans tampak berdiri lumayan dekat. Mengharuskan Ruby duduk dan berbaur di antara orang banyak. Gadis tersebut lagi-lagi menutupi sebagian wajahnya dengan syal. Berharap salah satu bawahan Ryan tidak menemukannya.
Deg!
Jantung Ruby berdegub kencang saat menyaksikan Ryan terlihat baru memasuki kereta. Ruby sebenarnya merasa marah kala melihat Ryan. Dia sangat ingin mengomelinya habis-habisan. Bahkan kalau perlu memukuli lelaki tersebut sepuasnya. Akan tetapi, Ruby harus menahan semuanya, agar dirinya tidak terjebak lagi.
Ryan memeriksa toilet. Dia juga tidak lupa untuk menilik wajah-wajah penumpang satu per satu. Menyebabkan perasaan Ruby semakin tidak karuan. Gadis itu perlahan menggerakkan kaki untuk menghindar. Sampai langkahnya harus terhenti. Sebab di luar kereta, para bawahan Ryan lebih banyak jumlahnya. Parahnya ada beberapa polisi juga yang tampak mengobrol dengan mereka.
Ruby mencoba mengamati Ryan. Lelaki tersebut kian mendekat. Ryan tidak ramah seperti biasa. Dia menunjukkan sisi sangarnya.
Kini Ruby memalingkan muka. Berupaya menutupi wajahnya sebisa mungkin. Dia sudah menenggak salivanya sendiri beberapa kali.
Tidak ada pilihan lain. Ruby memilih untuk tetap bertahan. Untung saja, Dewi Fortuna kali ini berada dipihaknya. Karena ketika Ryan berada beberapa langkah darinya, Max mendadak memanggil. Atensi Ryan sontak teralih untuk sejenak.
"Ada apa?!" tanya Ryan sembari mengangkat kedua tangannya ke depan.
"Aku menemukan sesuatu!" ujar Max. Membuat Ryan terpaksa berbalik dan bergegas menghampiri.
Ruby mendengus lega, saat Ryan dan bawahannya keluar dari kereta. Dia bisa duduk lebih tenang sekarang. Beberapa saat kemudian, kereta kembali melaju.
Max memberitahukan Ryan mengenai informasi keberadaan Ethan. Katanya, Mike berhasil menemukan Ethan. Mereka sedang dalam melakukan pengejaran sekarang. Akan tetapi sayang, Ethan mampu melarikan diri dengan baik. Dia menghilang kembali seperti halnya Ruby.
__ADS_1
Beberapa jam berubah menjadi satu hari. Ryan belum juga menemukan Ruby atau pun Ethan. Dia tengah menyetir sendirian. Mulai kelelahan dan mengantuk. Namun lelaki itu tetap memaksakan diri. Menyusuri jalanan kota Los Angeles. Kebetulan tadi malam dia baru saja tiba di kota yang terkenal dengan dunia hollywood tersebut. Tanpa sepengetahuannya, di belakang ada mobil yang mengikuti. Di dalamnya ada Megan dan pengawal pribadinya.
Di pagi yang buta, Ryan tetap melakukan pencarian. Dia tentu memaksa semua bawahannya untuk bertugas. Pemencaran yang dilakukan Ryan sangatlah spesifik. Dia menyuruh satu orang saja untuk berada di titik lokasi tertentu. Itulah alasan kenapa Ryan sendirian sekarang.
Mata yang terasa begitu berat membuat mobil Ryan sesekali oleng ke pinggir jalan. Tetapi tangannya dengan sigap memutar setir untuk bertahan.
Ryan mengusap wajahnya kasar. Ponsel yang baru dibelinya terdengar berdering. Dia melirik sejenak ke layar ponselnya. Ryan langsung mengabaikan panggilan, setelah melihat nama Megan tertera di sana.
Sekali lagi, Ryan tidak kuasa menahan matanya yang terasa begitu berat. Jujur saja, dia sudah hampir tiga hari belum tidur. Semenjak menyusun rencana mengenai misi musim dingin, Ryan memang banyak sekali menghabiskan waktu. Tetapi misi yang susah payah disusunnya tersebut harus gagal, akibat Ruby melarikan diri darinya.
BRUK!
Syuttttt...
Untuk yang sekian kalinya, mobil kembali oleng. Ryan tidak bisa mengendalikannya lagi. Hingga akhirnya mobilnya harus menabrak sebuah tiang listrik. Tubuh Ryan sontak tersentak ke depan, dan berhasil menimbulkan luka berdarah di jidatnya.
"Ryan!" Megan yang sedari tadi mengiringi, bergegas keluar dari mobil. Dia memastikan keaadan Ryan. Dirinya merasa sangat cemas.
Megan mencoba membuka pintu mobil Ryan, akan tetapi dia tak mampu. Karena pintunya masih terkunci.
"James! Lakukan sesuatu!" desak Megan sambil menghentakkan salah satu kakinya.
James terpaksa memecahkan jendela kaca mobil Ryan. Dia melakukannya dengan menggunakan sebuah batu. Dalam sekejap, kaca mobil pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Tampaklah Ryan yang tak sadarkan diri. Kepalanya tersandar ke bagian alat kemudi.
"Oh my god, Ryan!" ujar Megan histeris. Dia membungkam mulut dengan kedua tangannya. Perlahan dirinya mulai merengek.
Tanpa pikir panjang, James bergegas membawa Ryan ke mobil Megan. Di sana Ryan berada dalam pelukan Megan. Mereka akan segera pergi ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Ryan sebenarnya tidak mengalami luka yang begitu parah. Dia tertidur tanpa sengaja. Lelaki itu beristirahat untuk sejenak. Ryan hanya terlelap seperti orang mati.