
...༻❀༺...
Selama Ryan pergi, Gaby rutin membawa seorang dokter kandungan setiap satu minggu sekali. Ruby bahkan sudah beberapa kali melakukan tes USG. Namun sampai sekarang, jenis kelamin bayi yang ada di perut Ruby belum diketahui. Hal itu karena bayi dalam kandungannya tidak mau bekerjasama saat dilakukan pemeriksaan. Alias terus meringkuk untuk menutupi alat kelaminnya.
Ryan dan Ruby masih rebahan di kasur. Keduanya sama-sama menatap langit pelafon. Mereka sedang membahas perihal masa depan sang calon buah hati.
"Bayi kita bahkan sudah nakal saat di dalam perut. Saat pemeriksaan USG, dia terus menutupi alat kelaminnya. Semuanya terjadi lagi di tes-tes berikutnya. Apa dia tahu, atau memang tidak sengaja?" Ruby bertanya-tanya.
Ryan yang mendengar, memecahkan tawa. "Kau tidak boleh berkata begitu. Mungkin dia mau memberikan kejutan kepada orang tuanya," balasnya sembari melirik ke arah perut Ruby.
"Entahlah... aku pikir dia nanti akan menjadi anak yang jenius." Ruby mengelus lembut bagian perutnya yang membuncah.
Ryan terdiam sejenak. Terlintas dalam benaknya kalau dia belum mempersiapkan nama untuk bayinya. "Bukankah sudah saatnya kita memikirkan nama? Coba kau sebutkan nama lelaki dan perempuan yang ada dalam kepalamu," serunya sambil menopang kepala dengan satu tangan. Ryan telentang dalam posisi memiring ke arah Ruby.
"Hmmm..." Ruby berpikir selang beberapa detik. "Untuk lelaki dahulu. Bagaimana kalau Spike Martin? Bukankah nama itu sangat menggambarkan kita berdua?" imbuhnya.
Satu alis Ryan terangkat. "Dari mananya? Aku pernah mendengar nama Spike. Dan kau tahu dia apa? Seekor anjing dalam kartun Tom and Jerry." Ryan mengungkapkan pendapatnya dengan blak-blakan. Namun Ruby tidak bisa membantah. Sebab apa yang dikatakan Ryan memang benar adanya. Meskipun begitu, wajah Ruby langsung cemberut kala mendengar asumsi suaminya.
"Terus apa kau punya yang lebih baik?" timpal Ruby.
"Bagaimana dengan Charlie Martin?" Ryan mengusulkan.
"Kenapa tidak Charlie Brown saja sekalian," sarkas Ruby. Dia mengingat salah satu judul lagu milik musisi ternama Coldplay. Ruby sebenarnya menyindir kalau nama yang disebutkan Ryan terlalu pasaran.
"Richard, Alfa, Cedric, Stevan, Rob--"
"Lupakan tentang nama bayi lelaki. Bagaimana kita memikirkan nama perempuan terlebih dahulu." Ruby beringsut lebih dekat kepada Ryan. "Julie Martin! Cantik bukan?" sarannya seraya mengangkat dua alisnya.
"Tapi bukankah bulan Juli sudah lewat. Bayi kita tidak mungkin lahir di bulan Juli," sahut Ryan.
__ADS_1
"Haruskah orang yang bernama Julie lahir di bulan Juli? Apakah orang yang lahir di bulan Agustus tidak boleh memakai nama June?" sikap keras kepala Ruby kembali lagi. Ryan hanya mengulum bibirnya sembari memasang senyuman kecut.
"Sudahlah! kalau begitu jika bayinya perempuan kita namakan Julie Martin. Andai bayi yang lahir adalah lelaki, namakan saja Samuel Martin. Itu pilihan akhirku." Ryan merubah posisi menjadi duduk. Dia melamun sejenak.
"Apa kau merajuk?" Ruby ikut duduk. Dia berada di belakang Ryan. Memeluk sambil menyenderkan kepala ke punggung suaminya itu.
Ryan tersenyum tipis. Dia memegangi tangan Ruby yang kebetulan melingkar di perutnya. "Aku hanya sedih, karena sepertinya aku harus berlibur cukup lama," jelasnya. Menyebabkan dahi Ruby otomatis berkerut.
"Maksudmu?" Ruby menuntut jawaban.
"Aku membicarakan ini." Ryan meletakkan salah satu tangan Ruby ke organ intim miliknya.
Ruby yang mengerti sontak tergelak. Ia reflek memukul pundak Ryan. "Bwahaha! Bersabarlah, Babe. Tapi sebenarnya aku bisa memuaskanmu dengan cara lain," tawarnya dengan lirikan yang menggoda. Ruby memasukkan jari-jemarinya ke dalam baju Ryan. Menyentuh otot perut suaminya yang terasa kenyal dan berbentuk.
Ryan bergegas berbalik dan memposisikan diri menghadap Ruby. Dia segera menghentikan pergerakan Ruby yang hampir memberikan sebuah ciuman.
"Tidak, Ruby. Jika kau melakukannya, maka aku akan meminta lebih. Kau tahu aku," ujar Ryan. Jari telunjuknya menempel di bibir Ruby.
Ryan mengeluarkan nafas dari mulut. Dia berusaha bertahan dari gangguan Ruby yang begitu menggoda.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Ryan keluar dari kamar. Kemudian mengumpulkan semua anggota Shadow Holo yang tersisa. Dia membagikan tugas khusus untuk mengurus segala hal yang terkait persiapan kelahiran Ruby.
"Gaby, kau harus membeli alat perlengkapan bayi. Beli saja perlengkapan untuk bayi lelaki dan perempuan!" perintah Ryan. Gaby langsung menjawab dengan cara mengacungkan dua jempolnya ke depan.
"Zac, ajak lima anggota untuk ikut bersamamu. Carilah mansion dan sebuah perusahaan besar di San Fransisco. Aku menyiapkan rencana besar demi persembunyian kita selanjutnya!" titah Ryan. Selanjutnya dia dan Frans hendak mendiskusikan sesuatu mengenai cara mengatasi daftar buronan. Ryan memastikan semua anggotanya tidak menjadi buronan yang dicari-cari oleh polisi.
Frans membuka laptopnya. Dia memperlihatkan kepada Ryan tentang rahasia besar yang berhasil didapatkannya.
"Lihat, aku mendapatkan video perselingkuhan kepala kepolisian. Aku kebetlan berhasil mendapatkannya saat mendatangi klub malam di sebuah hotel!" terang Frans. Raut wajahnya tampak serius.
__ADS_1
"Bukankah dia adalah kepala kepolisian Brandon. Salah satu polisi yang memiliki gudang prestasi serta reputasi super baik?" Ryan memastikan. Frans lantas mengangguk untuk memberikan jawaban.
Ryan menyandarkan diri ke sofa. Berpikir tentang rencana yang diberikan Frans. "Sebenarnya rencanamu sangat remeh. Coba cari informasi mengenai Brandon di internet!" serunya.
"Tidak perlu, Bos. Aku sudah melihatnya sebelum kau suruh. Aku hanya ingin memastikan bahwa Brandon sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Mengenai perselingkuhan yang kulihat, aku benar-benar tidak tahu alasannya. Tapi kita bisa memanfaatkannya sebaik mungkin!" balas Frans bersemangat.
"Kalau begitu, aku akan serahkan tugas ini kepadamu. Aku akan mempercayaimu, Frans!" Ryan memegangi pundak Frans. Memberikan tatapan penuh keyakinan. Alhasil Frans mengangguk, dan segera bersiap-siap untuk melaksanakan tugasnya.
Kini Ryan tinggal bersama Mike, serta beberapa anggota Shadow Holo lainnya. Mereka siaga terhadap keadaan Ruby.
Satu bulan terlewat. Hari itu tiba. Bunyi roda dari hospital bed terdengar menderu. Dihiasi oleh suara erangan kesakitan Ruby yang sedang telentang. Sedangkan Ryan terus menggenggam erat jari-jemari Ruby. Dia berupaya keras menyamakan langkahnya dengan laju kasur beroda yang direbahi oleh Ruby.
"Ryan!!! Lakukan sesuatu!" pekik Ruby. Genggamannya begitu kuat. Keringatnya bahkan mengalir deras di setiap jengkal badannya. Beberapa saat kemudian, Ruby akhirnya tiba di ruang persalinan.
Cairan bening perlahan mengalir dari sudut mata Ruby. Raut wajahnya yang terlihat sangat menderita, membuat Ryan harus memarahi habis-habisan pihak medis yang bertugas.
"Cepat selamatkan istriku?! Aku tidak akan segan-segan membunuh kalian, jika sesuatu yang buruk terjadi kepadanya!!!" geram Ryan. Urat-urat lehernya menegang. Rasa panik dan marah bercampur aduk dalam dirinya.
"Anda harus tenang, Tuan. Jika terus marah-marah begini, kau tidak bisa mendampingi istrimu untuk melahirkan." Dokter yang bertugas mencoba menenangkan emosi Ryan. Dia paham, dengan orang tua yang baru pertama kali menghadapi proses kelahiran.
"Aaaaaaarggghhh!!!" Ruby berteriak nyaring. Rasa sakit yang tiada tara dirasakan olehnya. Wajahnya memerah. Air matanya pun tidak kunjung berhenti mengalir.
Wajah Ryan tampak masam. Dia tidak tahu harus berbuat apa selain mempercayai pihak medis yang menangani Ruby.
Keadaan Ruby yang terus mengaduh kesakitan, menyebabkan Ryan tidak kuasa menahan tangisnya. Air mata yang hampir tidak pernah terlihat diwajahnya, kini mengalir begitu saja menghiasi pipinya.
"Cepat lakukan pekerjaan kalian dengan baik! Istriku sangat menderita sekarang!" desak Ryan. Wajahnya semerah wajah istrinya.
__ADS_1
Dokter yang bertugas tidak menghiraukan Ryan. Dia hanya berusaha membimbing Ruby untuk mengikuti prosedur melahirkan yang benar.