Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 25 - Play & Talk


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby dan Ethan duduk berhadapan. Keduanya tengah berada di sebuah bar mewah, yang terletak di lantai paling atas kapal pesiar. Mereka memilih bermain kartu, karena Ruby yang bersikeras. Gadis itu hanya bisa memainkan permainan tersebut.


"Ah benar, sejak kita pertama bertemu, kau belum menyebutkan namamu." Ethan menatap lurus kepada Ruby. Mengawali pembicaraan lebih dahulu. Dia dan Ruby menunggu pesanan bir mereka.


"Namaku Helen," jawab Ruby. Dia sengaja tidak menyebutkan nama asli untuk berjaga-jaga.


"Apa benar kau sudah punya suami?" tanya Ethan. Meneruskan obrolannya. Sedangkan Ruby terlihat membagi kartu poker untuk segera dimainkan. Pelayan pun terlihat telah mengantarkan beberapa botol bir.


"Ya, memangnya kenapa? Kau ingin menikahiku?!" balas Ruby. Dia sebenarnya malas menjawab pertanyaan Ethan.


"Hahaha! Menikahimu?" Ethan menggeleng sambil di iringi tawa. Namun itu tidak berlangsung lama. Dia segera merespon ucapan Ruby. "Helen, aku tidak percaya dengan yang namanya ikatan pernikahan. Apa yang terjadi kepada orang tuaku menginspirasiku," jelasnya.


"Apa yang terjadi kepada orang tuamu?" Ruby tentu merasa penasaran.


"Mereka bercerai dan menelantarkanku. Itu sangat menyebalkan bukan?" sahut Ethan sembari menuang bir ke dalam gelas. Kemudian meminumnya sampai habis. Nampaknya kenangan masa lalu membuatnya merasa sedikit emosional.


"Benar, itu agak menyebalkan." Ruby menatap serius Ethan. Dia senang melihat lelaki tersebut sudah meminum gelas pertama cairan beralkohol. Selanjutnya, Ruby dan Ethan bermain kartu poker. Keduanya terus saling bercakap.


"Bagaimana denganmu Helen. Apa orang tuamu bercerai juga? Kau tahu kan, perceraian seperti sebuah tren di zaman sekarang. Dan aku sangat benci, jika ada orang tua yang tetap bercerai meski sudah memiliki anak." Ethan bercerita seraya tersenyum miring. Entah apa yang ada dalam benaknya.


"Aku tidak tahu. Aku belum pernah melihat kedua orang tuaku sejak kecil." Perasaan Ruby seketika ciut. Dia sebenarnya malas membicarakan perihal orang tua dengan orang lain. Sebab dirinya sejak kecil tidak pernah merasakan kasih sayang mereka.


"Ah... benarkah?" Ethan menatap sendu ke arah Ruby. "Maaf, aku tidak bermaksud..." Kini Ethan menuang bir ke dalam gelas, lalu memberikannya untuk Ruby. "Minumlah, dan ayo kita lupakan perlakuan buruk yang pernah dilakukan orang tua kita!" lanjutnya. Dia mengajak Ruby untuk bersulang.


Ruby tersenyum kecut. Dia bersulang dengan Ethan. Namun dirinya sama sekali tidak meminum bir dalam gelas. Ruby sengaja membuangnya ke gelas yang ada di meja belakang. Gadis itu melakukannya saat Ethan meminum bir dalam keadaan mata tertutup. Ruby menggunakan peluangnya dengan baik.

__ADS_1


"Helen, bergabunglah denganku. Aku membuat semacam kelompok perkumpulan untuk orang-orang terlantar sepertimu." Ethan menjeda ucapan sejenak. Dia mencondongkan kepala ke arah Ruby. Hendak memberitahukan dengan nada berbisik. "Kami menamai kelompoknya dengan sebutan The Drugs," ungkapnya pelan.


Mata Ruby sedikit membulat. Sebab dirinya baru mengetahui kalau orang-orang yang selama ini mengurung Megan dan Sarah, adalah para komplotan The Drugs. Dan Ruby juga ingat, kalau Megan harus mendekati sosok ketua dari The Drugs. Tetapi dia heran, kenapa Megan sama sekali tidak terlihat mendekati Ethan. Padahal saat pesta digelar, Ethan sedang berada sendirian di kamar. Sasaran empuk untuk orang yang melakukan tipu muslihat.


'Kenapa Megan gagal dengan rencananya? Apa dia tidak tahu kalau Ethan adalah ketua The Drugs?' benak Ruby bertanya-tanya. Dia terpaku menatap kartu-kartu poker yang ada ditangannya.


"Kau kenapa malah melamun? Tertarik bergabung dengan The Drugs?" teguran Ethan langsung menyadarkan keterpakuan Ruby. Gadis tersebut kembali fokus pada permainan dan pembicaraan.


"The Drugs berbeda dari yang lain. Tidak ada ketua dalam kubu kami. Jika ada masalah yang menimpa satu anggota, maka akan menjadi masalah juga bagi semua. Rasa kebersamaan kami tinggi. Makanya kami tidak mau disebut sebagai organisasi mafia." Ethan melakukan penjelasan panjang lebar. "Jadi, apa kau tertarik? Jujur aku membutuhkan gadis sepertimu untuk berada dalam kelompok. Pasti menyenangkan," tambahnya.


"Entahlah, aku tidak bisa meninggalkan suamiku untuk bergabung dalam sebuah organisasi seperti itu." Ruby memberikan alasan.


"Ah benar. Kau punya suami. Apa itu menyenangkan?" Ethan menuntut jawaban. Dia dan Ruby masih asyik bermain kartu.


"Apa maksudmu?" Ruby malah berbalik tanya, karena tidak mengerti dengan pertanyaan Ethan.


"Maksudku, pernikahan. Apa itu menyenangkan?" Ethan memperbaiki pertanyaannya. Merubah menjadi lebih spesifik.


"Kenapa kau membisu? Seburuk itukah?" Ethan sengaja bersuara agar mendengar jawaban secepatnya dari Ruby.


"Tentu tidak. Aku hidup bahagia bersama suamiku. Sangat, sangat bahagia!" Ruby segera menegaskan. Dia sengaja bicara dengan ekspresi wajah yang meyakinkan. Tanpa sadar Ruby menenggak seteguk minuman beralkohol. Dia langsung berhenti, ketika sadar kalau dirinya tengah meminum bir.


Ethan hanya tersenyum tipis mendengar pernyataan Ruby. Ia lalu berkata, "Baguslah kalau kau sudah menemukan kebahagiaan dalam hidupmu, Helen. Suamimu sangat beruntung memiliki istri sepertimu."


"Ya, aku akan mengadukan kepadanya, kalau kau sudah dua kali melecehkanku!" pungkas Ruby. Kali ini dia mencurahkan semua kekesalannya.


"Benarkah? Oh my god. Apa suamimu itu semacam polisi atau mafia..." Ethan mencoba menebak.

__ADS_1


"Tentu tidak! Dia hanya seorang pengacara," Ruby lekas-lekas menyahut. Dia tentu tidak mau, Ethan mengetahui perihal Ryan.


Ethan tampak memanggut-manggutkan kepala. Sementara Ruby sibuk memperhatikan kartu poker. Saat itu dia merasa yakin akan memenangkan permainan, jadi dirinya menuntut keuntungan kepada Ethan.


"Bagaimana kalau yang kalah harus meminum satu botol bir?" usul Ruby, percaya diri. Dia yakin kartu poker yang ada ditangannya, mempunyai jumlah lebih tinggi dari pada milik Ethan.


"Kenapa kau baru mengusulkannya sekarang? Tidak adil. Aku yakin, kau pasti memiliki kartu-kartu yang bagus ditanganmu!" timpal Ethan. Dia menolak tawaran Ruby. Atensinya mendadak terpaku pada dua orang yang baru memasuki bar. Salah satu dari mereka ternyata adalah Mr. June. Bagian dari komplotan The Drugs yang tengah berdiskusi dengan seorang klien sasaran Ethan.


"Helen, bisakah kita melanjutkan semuanya di kamarku saja?" Ethan kembali menoleh ke arah Ruby.


"Apa? Dikamarmu?!" Ruby tercengang. Dia mengira ajakan Ethan mempunyai tujuan tertentu.


"Kau tidak mau? Ya sudah, kalau begitu. Permainan dan pembicaraan kita, sebaiknya berakhir di sini, oke?" imbuh Ethan sembari bangkit dari tempat duduk.


Ruby sontak kaget. Sebab dirinya tidak menyangka, Ethan memilih mengakhiri pembicaraan demi kembali ke kamarnya.


"Ba-baiklah! Ayo kita teruskan dikamarmu." Ruby tidak punya pilihan lain selain setuju. Lagi pula hari sudah sore. Jika terus mengulur waktu, maka Ruby tidak akan sempat menyelamatkan Megan dan Sarah.


Ethan tersenyum mendengar persetujuan Ruby. Keduanya benar-benar beranjak pergi ke ruang pribadi Ethan. Yaitu kamarnya.


Sesampainya di kamar, Ruby dan Ethan melanjutkan permainan. Kali ini mereka sudah saling setuju menerima hukuman jika kalah bermain.


Sepertinya dewi fortuna sedang berada dalam pihak Ruby. Karena gadis itu lagi-lagi mendapatkan kartu-kartu poker yang bagus. Sehingga dia berhasil membuat Ethan meminum satu botol bir.


Glek!


Glek!

__ADS_1


Glek!


Ethan benar-benar menghabiskan satu botol bir. Anehnya dia masih belum begitu mabuk. Mengharuskan Ruby untuk kembali bermain melawannya. Gadis tersebut berharap Ethan akan kalah lagi.


__ADS_2