
...༻❀༺...
Gaby beringsut lebih dekat kepada Ruby. Dia menceritakan kalau Megan dulunya adalah anak tunggal dari pasangan pengusaha kaya raya.
Megan punya alasan, kenapa dia tergila-gila dengan fashion, karir dan uang. Karena dirinya memang sudah terbiasa mendapatkan itu sejak kecil. Suatu hari, tepat di hari pernikahannya. Megan mengalami insiden mengerikan. Salah satu tamu undangan membawa pistol, dan menembaki semua orang. Menurut berita, tersangka yang melakukan penembakan adalah teman SMA Megan sendiri. Dia memang dikenal terobsesi kepada Megan.
"Hanya Megan, satu-satunya orang yang dibiarkan hidup. Setelah berhasil membunuh semua orang, pelaku memberikan pistolnya kepada Megan." Gaby bercerita panjang lebar.
"Apa Megan membunuh orang itu?" tanya Ruby, menerka.
Gaby mengangguk dan menjawab, "Megan merasa sangat hancur dan marah. Dia tentu langsung menembakkan peluru kepada pelaku yang telah membunuh keluarganya. Megan tidak menyadari kalau dirinya dijadikan kambing hitam."
Ruby memasang ekspresi datar. Dia bingung harus bersimpati atau tidak kepada Megan. Apalagi ketika mengingat segala perlakuan Megan terhadapnya.
"Karena sadar telah melakukan pembunuhan, Megan segera melarikan diri sebelum polisi berdatangan. Megan kabur menggunakan gaun pengantin. Mengemudikan mobilnya tak tentu arah." Gaby menunjukkan raut wajah sedih. Seakan dirinya merasa prihatin dengan apa yang telah terjadi kepada Megan.
"Lalu pengantin pria? Apakah dia Ryan? atau..." Ruby bertanya.
"Pengantin pria bukanlah Ryan. Dia juga menjadi salah satu korban yang ditembak," sahut Gaby. "Megan bertemu Ryan saat dia singgah di sebuah bar," tambahnya memberitahu.
...___________...
...[Flashback Tiga Tahun Lalu]...
Saat memasuki bar, seluruh pasang mata tertuju ke arah Megan. Apalagi dengan keadaannya yang masih mengenakan gaun pengantin. Ditambah terdapat banyak bercak darah dalam gaun putihnya tersebut.
Megan gemetaran. Dia melangkah tidak karuan, sampai beberapa kali harus menabrak kursi dan beberapa orang. Dirinya hanya ingin memesan minuman dan bisa tenang sebelum ditemukan polisi.
Duduklah Megan di salah satu kursi. Kemudian memesan minuman kepada bartender. Kebetulan dia duduk di samping lelaki, yang tidak lain adalah Ryan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi kepadamu, Miss?" Ryan menilik Megan dari ujung kaki hingga kepala. Bercak darah yang ada membuat kening Ryan mengernyit.
Megan mengabaikan pertanyaan Ryan. Dia hanya sibuk meneguk minuman yang baru diberikan bartender.
Menyadari dirinya diabaikan, Ryan memilih diam. Dia mengalihkan perhatiannya ke arah televisi. Pupil matanya langsung membesar, ketika menyaksikan tayangan berita. Sama halnya dengan Megan. Bagaimana tidak? Televisi sedang menayangkan tentang insiden penembakan yang terjadi di acara pernikahan Megan.
Ryan sontak mengalihkan pandangan kepada Megan. Gadis berambut pirang itu menangis dan masih gemetar ketakutan. Megan bahkan tidak mampu berkata-kata. Dia hanya menggelengkan kepala sambil menatap Ryan.
Dari arah pintu masuk, dua orang detektif tiba-tiba muncul. Ryan yang menyadari kehadiran mereka, bergegas membawa Megan bersamanya. Untung saja, bar sedang ramai pengunjung. Suasananya juga sedikit redup. Jadi agak sulit menemukan seseorang dengan cepat di tempat tersebut.
Megan yang tidak memiliki rencana apapun, terpaksa mengikuti arahan Ryan. Keduanya masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi perkakas bekas. Sepertinya tempat itu adalah gudang.
"Jika kau ingin selamat dari kejaran polisi, lebih baik lepaskan gaunmu itu!" perintah Ryan.
Megan segera mengangguk. Dia lantas melepaskan gaun pengantinnya. Kini dia hanya mengenakan tanktop dan celana pendek. Kedua tangannya langsung memeluk badannya sendiri. Seakan sedang mencoba waspada kepada lelaki yang sekarang bersamanya.
Sebelum keluar dari gudang, Ryan memastikan keamanan terlebih dahulu. Selanjutnya, barulah dia mengajak Megan untuk mengikutinya. Keduanya sekarang berada di dalam mobil.
Semenjak itu, Megan menjadi salah satu anggota The Shadow Holo. Dengan identitas dan kehidupan baru tentunya. Megan sebenarnya bukanlah nama aslinya. Gadis tersebut mencoba melupakan masa lalu yang kelam.
Megan memang tidak langsung menikah dengan Ryan begitu saja. Demi membalas budi, Megan sering menemani Ryan melakukan misi. Hingga di suatu hari, Ryan mendadak menawarkan sesuatu yang tak terduga.
"Megan, apa kau mau menjadi istriku?" tanya Ryan dengan nada pelan. Dia dan Megan tengah duduk berdampingan di dalam mobil. Keduanya menunggu rekan tim yang sedang menjalankan misi perampokan.
Megan tercengang. Mulutnya sedikit menganga akibat mendengar ucapan Ryan. "Apa kau bercanda?" balasnya, tak percaya.
"Apa wajahku terlihat bercanda? Aku serius." Ryan menatap serius ke arah Megan. "Aku ingin kau selalu menemaniku. Aku pikir diriku membutuhkan pendamping yang hebat sepertimu. Kau juga bisa berkuasa di Shadow Holo. Tetapi, jika kau menolak--"
"Tidak! Aku tidak akan menolak. Lagi pula aku tidak tahu lagi harus kemana. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Ryan. Anggaplah juga ini sebagai rasa terima kasihku. Karenamu, aku berhasil melupakan masa lalu dan selamat dari kejaran polisi." Megan setuju tanpa harus berpikir lama. Meskipun saat itu dia sama sekali belum mempunyai rasa apapun kepada Ryan. Rasa yang dimilikinya hanya sebatas kagum akan sosok lelaki tersebut.
__ADS_1
Pertimbangan Megan yang lain adalah, karena dirinya merasa bisa mempercayai Ryan. Lelaki yang dianggap sebagai penyelamat hidupnya itu juga tidak pernah melukainya.
"Dan satu hal lagi, Ryan!" Megan kembali berucap. "Aku tidak mau memakai gaun pengantin saat pernikahan kita berlangsung," lanjutnya. Menatap Ryan dengan sudut matanya.
"Tenang saja. Acara pernikahan kita tidak akan rumit. Aku akan biarkan kau memakai baju apapun. Bahkan piama kalau perlu," balas Ryan. Berhasil membuat Megan sontak tertawa geli.
Megan sebenarnya bingung terhadap alasan dibalik ajakan Ryan. Banyak pertanyaan muncul dalam benaknya. Apa Ryan jatuh cinta kepadanya? Kenapa Ryan mendadak ingin menikahinya? Akan tetapi, Megan mengabaikan semua rasa penasarannya. Yang terpenting baginya adalah jaminan hidup tenang dan punya banyak uang.
Pesta pernikahan hanya dilaksanakan di markas. Kala itu semua bawahan Ryan sangat bersenang-senang. Sosok lelaki tua misterius menjadi orang yang menikahkan Ryan dan Megan. Nama lelaki tua tersebut adalah Pueblo Tarahumara. Aura Pueblo sangat karismatik dan bijaksana. Ryan tidak menyebutkan dari mana asal Pueblo. Namun ritual pernikahannya berbeda dari yang lain. Hanya ritual sederhana, seperti saling memakaikan kalung bunga kepada satu sama lain. Tetapi bunga yang dipakai bukanlah rangkaian bunga sembarangan. Pueblo membawakannya khusus untuk pernikahan Ryan dan Megan.
...[Fashback Off]...
...___________...
"Tunggu, tunggu. Kau bilang nama lelaki tua itu Pueblo kan?" tanya Ruby, yang merasa tidak asing dengan nama Pueblo.
"Ya, apa dia juga orang yang telah menikahkanmu dan Ryan?" sahut Gaby. Alisnya terangkat, karena penasaran akan respon Ruby.
"Benar! Aku sangat ingat dengan lelaki tua yang menikahkanku dan Ryan. Dia membawa kalung bunga yang tidak biasa." Ruby mengangguk yakin. Meskipun Ryan tidak pernah menyebutkan secara jelas asal-usul Pueblo, namun Ruby dapat menduga. Kalau Pueblo adalah salah satu orang yang berasal dari suku Elmika.
Ruby kini memasang tatapan kosong. Otaknya sedang memikirkan Ryan. Dia sekarang memahami sebesar apa obsesi Ryan terhadap suku Elmika.
"Terbukti sudah! Sepertinya Pueblo adalah orang dari suku Elmika. Setelah memastikan kepadamu, keyakinanku mencapai seratus persen!" ucapan Gaby berhasil membuat Ruby tersadar dari lamunan.
"Apa Sarah juga?" Ruby memastikan.
"Tentu saja!" Gaby mengiyakan.
"Oke, sekarang beritahu aku cerita tentang bagaimana Ryan dan Sarah menikah." Ruby memasang telinganya baik-baik. Dia mengaitkan rambutnya ke daun telinga.
__ADS_1