
...༻❀༺...
Sesampainya di markas, kedatangan Ruby langsung disambut oleh Ryan. Sepertinya Ryan sudah lama menunggu kedatangan istrinya. Beberapa orang juga terlihat berkumpul bersama.
"Ruby! Kau baik-baik saja?" tanya Ryan cemas. Dia telah berada di hadapan Ruby. Namun Ruby justru membalas perkataannya dengan sebuah ciuman di bibir. Itu cukup untuk menjelaskan kepedulian dan kerinduannya.
Setelah puas memberikan kecupan, Ruby lantas berkata, "Maafkan aku, Babe. Seharusnya aku tidak--"
"Sudahlah, itu tidak penting sekarang. Yang terpenting adalah melindungimu dari kejaran polisi. Kau harus bersiap-siap pergi ke luar negeri. Kita akan berpisah sementara," ungkap Ryan. Dia berbicara dengan tergesa-gesa. Sehingga harus memotong ucapan sang istri.
"Apa? Berpisah? Kenapa kita harus melakukannya? Bukankah seharusnya kita harus bersama?" Ruby terdengar tidak terima. Padahal baru saja dia merasa senang dengan pertemuannya.
"Ini demi keselamatanmu dan anak kita. Aku ingin membawamu ke tempat aman. Biarkan aku mengurus semua sisanya, oke?" Ryan memegang pundak Ruby. Dia segera membawa istrinya itu ke dalam gendongan. Ryan mengantarkan Ruby ke kamar.
Ketika di kamar, Ryan membantu Ruby mengganti pakaian. Ruby duduk di ujung kasur. Menunggu Ryan memilih pakaian untuknya. Sebab kakinya masih belum pulih.
"Kenapa kau tidak ikut pergi denganku, Ryan?" tanya Ruby. Sedari tadi bola matanya mengikuti pergerakan Ryan.
"Aku tidak bisa. Sudah kubilang aku harus mengurus masalah yang ada. Kita tidak bisa hidup terus-menerus sebagai buronan. Aku harus melakukan sesuatu untuk mengatasinya," kata Ryan sembari menyerahkan pakaian untuk Ruby.
"Memangnya kau akan membawaku kemana?" tanya Ruby. Mendongak untuk menatap Ryan yang tengah berdiri. Dia mulai melepas pakaiannya.
"Swiss," jawab Ryan singkat.
"Apa? Jauh sekali!" Ruby semakin tidak bersemangat untuk pergi.
"Aku sudah menjamin keamananmu. Kau tidak akan terluka lagi," sahut Ryan seraya berjongkok. Kini posisinya sejajar dengan Ruby yang sedang duduk di kasur. Ryan meletakkan salah satu tangannya ke atas pangkuan Ruby.
"Tapi aku juga tidak mau kau terluka!" seru Ruby. Dia menangkup wajah Ryan sambil memasang tatapan penuh harap.
"Ruby, kau harus pergi. Oke? Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, aku akan secepatnya menyusulmu!" Ryan berupaya keras meyakinkan Ruby.
"Baiklah..." lirih Ruby, yang pada akhirnya melepas pakaian. Menyisakan bra dan celana pendeknya. Bukannya segera mengenakan pakaian, Ruby justru memagut bibir Ryan secara mendadak. Gadis itu menarik kerah baju suaminya dengan erat. Hingga Ryan tidak kuasa menolak lagi.
__ADS_1
Ruby perlahan duduk di pangkuan Ryan. Memeluk erat Ryan sambil sibuk bergulat dengan indera pengecapnya.
Ryan yang mengerti maksud Ruby, melepas tautan bibirnya sejenak. Kemudian menanggalkan baju. Selanjutnya, dia kembali memadukan mulutnya dengan bibir Ruby. Nafas keduanya mulai tak terkontrol.
Jari-jemari Ruby yang lentik, merekah dipunggung Ryan. Rambutnya berjatuhan menutupi sebagian wajah suaminya tersebut. Suasana panas perlahan menyelimuti.
Ryan segera merebahkan Ruby ke kasur. Dia ingin langsung ke intinya, karena bagian tubuh di bawah perutnya sudah menegang. Kemungkinan karena rasa rindu, dan akibat pengabaian yang sempat dilakukan Ruby beberapa waktu lalu.
Hal serupa juga dirasakan Ruby. Dia sudah basah sejak awal berciuman. Ryan segera melepas pakaian yang tersisa dari tubuhnya dan Ruby. Mereka segera menyatu dalam tubuh.
Suara lenguhan dikeluarkan Ryan dan Ruby secara beriringan. Lama-kelamaan Ryan semakin mempercepat gerakannya. Menyebabkan Ruby reflek berpegangan lebih erat ke punggung Ryan.
Ruby mengapit erat pinggul Ryan yang sedang tidak beralaskan sehelai benang pun. Kepalanya mendongak sembari memejamkan rapat matanya. Mulutnya terus menganga, karena erangannya terus saja menuntut ingin keluar.
Sementara Ryan, sibuk menempelkan mulutnya ke ceruk leher Ruby. Membuat erangannya terdengar seperti bergumam. Perlahan Ryan mengangkat kepalanya. Dia menatap wajah Ruby yang sedang asyik melenguh.
Seakan memiliki telepati yang kuat, Ruby membalas tatapan Ryan. Tubuhnya masih bergetar, karena aktivitas intim di bawah perut. Ryan dengan cepat kembali mengulum bibir Ruby.
"Mmph! Mmph! Mmph!" meski mulutnya tertutup, Ruby tetap tidak berhenti mengeluarkan suara penuh gairah. Deru nafas yang dikeluarkan Ryan memberikan hawa panas ke bagian wajahnya. Menyebabkan keringat perlahan membasahi area pelipisnya.
Ruby sudah merasa lemas, akibat menerima kenikmatan secara berangsur-angsur dari respon tubuhnya. Raganya ingin berhenti, tetapi hatinya tidak. Ruby merasa waktu berhenti untuk dirinya dan Ryan. Segala apapun yang ada di sekitar menjadi tidak penting.
Ryan melepas tautan bibirnya dari mulut Ruby. Dia memicingkan mata karena hampir mencapai puncak gairahnya. Bibirnya dan Ruby terlihat memerah dan bengkak. Namun Ryan tidak memperdulikan itu sekarang.
"Ryan!" Ruby mendorong Ryan dengan cepat. Keduanya lantas saling melepaskan. Ryan langsung menuntaskan puncaknya sendiri. Dia mengangakan lebar mulutnya. Hingga pita suaranya memperdengarkan lenguhan panjang. Setelahnya, barulah Ryan merasa lemas seperti Ruby.
Ryan dan Ruby berakhir telentang di kasur. Mengatur deru nafas yang seakan terus memburu. Kegiatan intim tadi terasa begitu panjang, tetapi sebenarnya hanya berlangsung beberapa menit.
"Kau harus bersiap..." ujar Ryan. Di sela-sela pengontrolan nafasnya.
"Aku tahu..." Ruby perlahan beringsut ke ujung kasur. Rasa sakit di kakinya menjadi terlupa karena aktifitas intimnya tadi.
Ruby membersihkan diri terlebih dahulu ke kamar mandi. Ketika dia keluar dari kamar mandi, Ryan tampak sudah menyiapkan barang-barang Ruby. Lelaki itu melakukannya sendiri dalam keadaan hanya mengenakan celana pendek. Tubuh atletisnya terpampang jelas di penglihatan.
__ADS_1
"Bisakah kau memakai bajumu?" tegur Ruby seraya menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
Ryan terkekeh. "Apa aku terlihat sangat menggoda?" balasnya percaya diri.
"Ya, kau menjadi sangat menggoda karena sebentar lagi kita harus berpisah." Ruby tidak ingin bercanda. Dia mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
Senyuman di wajah Ryan seketika memudar. Dia segera mengenakan kaos bajunya. "Swiss sangat cantik. Udara di sana juga sangat sejuk. Kau pasti merasa nyaman," tuturnya lembut. Akan tetapi Ruby sama sekali tidak hirau. Gadis itu memilih menyibukkan diri untuk berganti pakaian.
Ryan lantas terdiam dan segera bersiap-siap. Dia tentu akan mengantar kepergian Ruby. Kebetulan Ruby harus pergi ke bandara yang ada di kota sebelah, Indiana. Ryan melakukannya karena harus memastikan keamanan Ruby.
Ada beberapa orang yang ikut dengan Ruby ke Swiss. Yaitu Gaby, Mike dan sepuluh anggota The Shadow Holo lainnya. Mereka akan menlindungi Ruby dari segalanya. Termasuk dari serangan tidak terduga.
Kini semua orang yang akan berangkat ke Swiss telah berdiri di depan pesawat pribadi Ryan. Mereka saling berpamitan, lalu masuk satu per satu ke dalam pesawat. Ruby menjadi orang yang terakhir berpamitan. Sebab dia adalah orang yang paling merasa berat untuk berpisah.
"Aku harap kau bisa ikut denganku, Ethan." Ruby membawa Ethan masuk ke dalam pelukan. Dia melakukannya tepat di hadapan Ryan. Tetapi kali ini, Ryan tampak baik-baik saja dengan hal itu.
"Aku tidak akan membiarkannya ikut denganmu," bukannya Ethan, justru Ryan-lah yang menyahut perkataan Ruby.
Ethan menatap sinis Ryan. Dia semakin mendekap Ruby dengan erat. Ruby yang tadinya hendak melepaskan, terpaksa harus tetap berada dalam pelukan. Ethan sengaja memejamkan mata dan berlama-lama memeluk Ruby.
"Hei! Bukankah itu namanya kurang ajar!" kritik Ryan yang mulai merasa cemburu.
"Ethan, sebaiknya kau hentikan..." bisik Ruby sambil menepuk pundak Ethan. Tetapi Ethan sama sekali tidak menggubris teguran dari siapapun.
Ryan yang sudah agak kesal, langsung menendang betis Ethan. Saat itulah Ethan melepaskan Ruby dengan spontan.
"Aaaa!" Ethan mengaduh akibat tendangan Ryan. Ia segera memegangi betisnya. Untung saja rasa sakitnya hanya berlaku sesaat.
Ryan sekarang mengambil alih posisi Ethan. Dia memeluk Ruby sebentar. Kemudian tersenyum tipis.
"Aku berjanji akan secepatnya menyusulmu," ujar Ryan. Menatap raut wajah Ruby yang terlihat memancarkan kesedihan.
Ruby berbalik dan melenggang menuju pesawat. Tetapi dia mendadak menghentikan langkahnya, lalu kembali menghampiri Ryan. Ruby langsung mengecup bibir Ryan. Mereka melakukannya cukup lama. Di hadapan para anggota The Shadow Holo lainnya.
__ADS_1
Ethan sontak mengalihkan pandangannya ke arah lain. Satu tangannya sibuk melebarkan kerah baju. Dia tiba-tiba merasa kepanasan. Sebuah senggolan harus diterimanya dari Frans.
"Kau kalah!" ejek Frans seraya tergelak kecil. Dia menyindir pelukan Ethan tadi bukanlah apa-apa, dibanding ciuman yang didapatkan Ryan sekarang.