Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 84 - Gara-Gara Lelucon [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Prang!


Ethan mengangkat badan Ryan, kemudian menghempaskannya. Hingga mengenai meja kaca. Meja yang ada di sana langsung pecah berkeping-keping.


Perkelahian masih belum selesai. Sebab Ryan bergegas bangkit, lalu berusaha melakukan pembalasan terhadap Ethan. Wajah kedua pria itu memerah akibat merasa sama-sama kesal.


"Hentikan!!! Bisakah kalian berhenti?!!" pekik Ruby. Ia mencoba menghentikan. Akan tetapi dirinya enggan mendekat. Karena Ryan dan Ethan terlihat melakukan perkelahian serius.


"Hey, kalian berdua! Hentikan!!" John ikut memekik. Dia lekas-lekas melerai perkelahian yang terjadi. Memegangi Ryan sekuat tenaga. Dirinya juga tidak lupa untuk mencegah Ethan melakukan serangan kepada Ryan.


Ruby tidak sanggup lagi berkata-kata. Dia merasa sakit hati sekaligus marah. Gadis tersebut melingus pergi masuk ke kamarnya. Menghempaskan pintu sampai menimbulkan suara yang menggema.


"Kau keterlaluan!" pungkas Ethan dengan tatapan tajamnya.


"Bisakah kau pergi, dan tidak usah ikut campur urusanku?!" Ryan melepaskan pegangan John dengan kasar. Melangkah lebih dekat ke hadapan Ethan. "Pergilah dari sini, keparat!" tegasnya, dalam keadaan rahang yang mengerat kesal.


"Aku tidak akan pergi!" sahut Ethan sembari melakukan adu pelototan dengan Ryan.


"Sudahlah, Ryan. Istirahatlah dahulu. Tenangkan pikiranmu, oke?" John sekali lagi melerai ketegangan yang terjadi di antara Ryan dan Ethan.


Ryan otomatis berbalik dan melangkah masuk ke kamar mandi. Dia terdengar banyak melakukan keributan. Sepertinya Ryan mengamuk sendirian di dalam sana.


Setelah membersihkan diri, Ryan beranjak masuk ke dalam kamar. Tempat dimana Ruby berada. Mimik wajahnya tampak cemberut. Kemungkinan Ryan masih merasa marah. Dia segera mengenakan bajunya terlebih dahulu. Kemudian menatap Ruby yang sedang duduk di ujung kasur.


"Ethan... kenapa kau membiarkannya datang ke sini?! Kau memberitahukan alamat kita kepadanya?!" timpal Ryan.


"Aku tidak tahu. Dia datang begitu saja! Lagi pula, Ethan-lah yang menemaniku saat aku sendirian! Sementara kau..." Ruby lekas membuang muka dari Ryan.


"Jadi sekarang kau lebih membelanya dibandingkan aku?!" Ryan menarik tangan Ruby. Menyebabkan Ruby otomatis harus kembali menatapnya.


"Untuk sekarang, iya. Kau lebih baik beristirahat, lalu buatlah keputusan yang tepat untuk cabang bayi kita!" ujar Ruby seraya berdiri. Lalu pergi keluar dari kamar.


Ryan mendengus kasar. Dia mencengkeram kepalanya dengan frustasi. Perlahan dirinya telentang di kasur. Mencoba memikirkan keputusan yang tepat, serta tidak lupa untuk membayangkan, apa jadinya dia saat sudah mempunyai seorang anak.


Seberapa keras Ryan berpikir. Penolakannya selalu dominan. Sungguh, Ryan tidak ingin ada pengacau kecil yang mengganggu hidupnya. Meskipun itu adalah darah dagingnya sendiri. Bayangan Ryan tentang anak kecil selalu saja mengarah pada sesuatu hal buruk. Ia tidak tahu kenapa dirinya begitu. Ryan menghabiskan waktu hampir dua jam untuk berpikir jernih. Namun keputusannya di awal tetap tidak berubah.

__ADS_1


Di sisi lain, Ruby tengah duduk di teras belakang sendirian. John terlihat tertidur di kamar tamu. Hanya Ethan yang masih setia mengawasi Ruby. Takut kalau-kalau gadis itu melakukan sesuatu hal tidak terduga.


Merasa kasihan dengan Ruby, Ethan akhirnya memilih ikut duduk di teras belakang. Duduk tepat di sebelah Ruby.


"Aku hanya ingin bertanya satu hal. Apa kau berniat mempertahankan cabang bayimu? Kumohon jujurlah, Ruby. Katakan kepadaku keinginan dari lubuk hatimu. Aku tidak ingin keputusan gila Ryan mempengaruhimu," ucap Ethan. Mencondongkan wajahnya dari samping. Mengamati raut wajah yang sedang ditampakkan oleh Ruby.


"Aku tidak tahu, Ethan... Jujur, aku sama terkejutnya seperti Ryan. Tapi entah kenapa, apa yang dikatakan Ryan tadi sangat membuat hatiku sakit," jawab Ruby. Menatap kosong ke arah tanah yang ditutupi rerumputan hijau.


"Ya, perkataan Ryan tadi memang sangat menyebalkan. Makanya aku tidak bisa menahan diri. Maafkan aku, jika sikapku berlebihan..." Ethan menghela nafas berat.


"Untuk kali ini, kau tidak salah. Ryan memang pantas dipukul. Aku harap dia bisa sadar," kata Ruby seraya tersenyum tipis.


"Berarti, dari lubuk hatimu, kau ingin Ryan menerima kehamilanmu. Bukankah begitu?" Ethan memastikan. Tetapi Ruby hanya terdiam.


Ruby tidak dapat membantah pernyataan Ethan. Karena itu memang benar adanya. Meskipun dirinya tidak punya pengalaman mengurus anak. Namun ada sepercik perasaan sayang, yang tentu membuat Ruby harus berpikir baik-baik sebelum menggugurkan kandungannya.


"Aku akan menganggap itu sebagai ya!" ujar Ethan. Merespon kebisuan Ruby terhadap pertanyaannya. "Jika begitu, katakanlah kepada Ryan kalau kau akan mempertahankan janinmu," tambahnya. Memberikan saran.


"Aku masih butuh waktu untuk berpikir..." lirih Ruby.


"Kau harus tahu satu hal, proses menggugurkan kandungan itu juga berbahaya untukmu." Ethan meletakkan sikunya ke atas lutut. Dia duduk sembari menyatukan kedua tangan.


"Aku tidak menakut-nakutimu! Itu memang kenyataan. Faktanya bisa kau cari di internet!" sahut Ethan seraya mengulurkan kedua tangan. Menegaskan bahwa ucapannya dapat dipercaya.


"Tidak, Ethan." Ruby menggeleng lemah beberapa kali. Menatap Ethan dalam keadaan mata yang sedikit menyipit.


"Oke, aku akan merubah topiknya. Bagaimana jika aku membuatkan lelucon untukmu. Mungkin bisa merubah suasana hatimu menjadi lebih baik," usul Ethan. Mengembangkan senyuman percaya diri.


"Oh my god. Tentu tidak! Jangan--"


"Dengarkan dahulu. Apa kau tahu apa yang lebih lucu dari 24?" Ethan sengaja memotong ucapan Ruby.


Ruby tampak bergegas menutup telinganya rapat-rapat. Sehingga Ethan terpaksa harus melakukan tindakan, agar Ruby dapat mendengar leluconnya. Ethan berdiri ke hadapan, lalu memaksa Ruby membuka kedua telinga.


"Kau tahu apa yang lebih lucu dari 24?" Ethan mengulangi leluconnya. Jaraknya wajahnya dan wajah Ruby lumayan dekat. "Yaitu 25!" lanjut Ethan, meneruskan leluconnya.


Ruby tergelak kecil. "Apa-apaan! Itu sama sekali tidak lucu. Bukankah lelucon yang kau sebut ada di sebuah serial kartun?" responnya sembari mendorong jidat Ethan untuk menjauh.

__ADS_1


"Ya, tapi aku berhasil membuatmu tertawa!" Ethan merasa menang. Mengukir senyuman sampai menampakkan gigi-gigi putihnya yang rapi.


Dari balik jendela, tepatnya di dalam rumah, Ryan dapat melihat segalanya. Dia menyaksikan istrinya tertawa bersama lelaki lain. Pitamnya sontak melonjak naik. Ryan merasa tidak tahan lagi.


Bruk!


"Silahkan bersenang-senanglah kalian!" Ryan sengaja membanting pintu, sekalian juga meninggikan nada suaranya. Upayanya sukses membuat Ruby dan Ethan menoleh ke arahnya.


"Ryan!" dahi Ruby berkerut. Ia bertukar tatapan marah dengan Ryan dari kejauhan.


"Aku pikir, aku harus pergi!" ucap Ryan, bertekad. Dia lantas mengambil kunci mobilnya. Berniat cepat-cepat ingin pergi dari rumah.


John yang melihat, sontak menpersiapkan diri untuk mengikuti Ryan. Sebelum itu, dia menghampiri Ruby terlebih dahulu.


"Ruby, aku akan bicara kepada Ryan. Dia sangat mencintaimu, aku yaikn dia akan kembali secepatnya!" imbuh John sambil memegang salah satu bahu Ruby. Setelahnya, dia langsung pergi menyusul Ryan.


Dalam sekejap, Ryan dan mobilnya menghilang begitu saja. Ruby hanya mematung di tempat. Ia bahkan tidak berniat sama sekali menjawab perkataan John tadi.


"Aku tidak menyangka, Ryan bisa berubah menjadi pengecut hanya karena cabang bayinya sendiri," komentar Ethan. Saat itulah ponselnya mendadak berdering.


Ruby tidak acuh. Dia berjalan ke depan teras rumah. Meninggalkan Ethan yang terlihat baru saja mendapat telepon dari seseorang.


Tes!


Tes!


Tes!


Air jatuh dari langit. Tidak deras. Namun cukup menggambarkan betapa kalutnya perasaan Ruby. Gadis tersebut berdiri sambil melipat tangan didada. Menatap bulir-bulir hujan yang menetes. Dirinya terpaku, sampai tidak mendengar suara mesin mobil yang mendekat.


"Ada sesuatu yang mengganggumu?" tegur seorang lelaki. Dia tidak lain adalah Andrew. Menatap Ruby dari dalam mobilnya.


Ruby sontak menoleh. Memusatkan perhatiannya ke arah Andrew. Dia langsung beranjak untuk mendatangi Andrew.


"Kau mau kemana?" tanya Ruby.


"Aku mau mendatangi sebuah acara amal yang ada di pusat kota. Kau mau--" ucapan Andrew terhenti, ketika Ruby tiba-tiba masuk ke dalam mobil. Duduk tepat di sampingnya.

__ADS_1


"Aku ingin pergi dari rumah kutukan itu sebentar. Kemana pun!" ujar Ruby seraya menatap lurus ke depan. Andrew mengangguk lemah, dan menurut saja.


__ADS_2