
...༻❀༺...
Ruby baru terbangun dari tidurnya. Dia terlelap cukup lama. Masih dalam keadaan mengenakan gaun pesta. Gadis itu segera memeriksa jam, dan waktu sudah menunjukkan jam enam pagi.
Langkah kaki Ruby digerakkan keluar dari kamar. Dia melihat kapal masih berjalan. Padahal dirinya sempat mengira kapal sudah berlabuh di suatu tempat.
Ruby berjalan ke pinggiran kapal. Dia berdiri di sana sambil menguap dan meregangkan badan. Rambutnya yang tadinya tergelung, kini kembali tergerai. Beterbangan tidak karuan saat diterpa oleh angin.
Kebetulan Ruby berada di pinggiran kapal lantai tiga. Jaraknya lumayan jauh dari lantai bawah. Namun posisinya yang cukup tinggi, membuatnya mampu menyaksikan secara jelas keadaan di bawah.
"Kau belum mengganti gaunmu? Atau memang hanya itu satu-satunya pakaian yang kau miliki." Seseorang tiba-tiba menegur. Menyebabkan Ruby langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata sosok yang mengurnya adalah Ethan. Lelaki tersebut memposisikan dirinya ke sebelah Ruby. Melipat tangan di atas pagar pelindung. Matanya menatap lurus ke lantai bawah.
"Kau!" dahi Ruby mengerut dalam. Dia sangat kesal menyaksikan kemunculan Ethan di hadapannya. Gadis itu bergegas menjauh. Tetapi tangan Ethan dengan sigap memaksanya masuk ke dalam rangkulan.
"Kau tahu, setelah kedatanganmu tadi malam, seorang wanita juga muncul di kamarku. Dia adalah pesananku yang sebenarnya. Kamu benar, dirimu hanya kebetulan mampir ke kamarku. Tetapi kenapa? Apa alasannya?" tanya Ethan seraya memperhatikan paras Ruby yang menarik perhatiannya.
"Bukan urusanmu!" ketus Ruby. Dia melepaskan tangan Ethan dari rangkulannya. Kemudian beranjak pergi.
Ruby berhenti di depan kamarnya. Namun dia ragu untuk masuk. Sebab instingnya merasa, Ethan masih mengamati gerak-geriknya dari kejauhan. Ruby perlahan melirik ke belakang. Jantungnya langsung berdegub kencang, ketika melihat Ethan sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Kau seharusnya tidak masuk ke kamarku tadi malam. Apalagi dengan sikap jutekmu itu." Tangan nakal Ethan mencolek dagu Ruby secara mendadak.
"Apa-apaan! Pergilah! Aku sudah menikah!" hardik Ruby. Dia bergegas memegang gagang pintu kamar. Namun sekali lagi pergerakannya dicegat oleh Ethan. Lelaki berambut cepak tersebut menarik kedua tangan Ruby sekaligus.
__ADS_1
"Jika kau sudah menikah? Lalu mana cincinmu? Suamimu bahkan tidak terlihat?" Ethan mengerutkan dahi, sambil memperhatikan jari-jemari Ruby.
"Aku berlibur bersama temanku!" Ruby melepas paksa tangannya dari Ethan. Wajahnya meringis sebal. Lalu masuk ke dalam kamar. Dia tidak lupa untuk langsung mengunci pintu. Takut kalau-kalau Ethan akan menerobos masuk.
"Dasar orang gila!" Ruby tidak sengaja mengumpat, akibat merasa sangat kesal.
"Aku bisa mendengarnya!" Ethan terdengar merespon. Membuat Ruby semakin terperangah. Gadis itu mencoba tidak peduli, dan hanya menutup kedua telinganya. Dia bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Melupakan suasana buruk hatinya dengan shower yang dialiri air hangat.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Ruby berniat mencari Megan. Dia mengetuk pintu kamar wanita berambut pirang tersebut terlebih dahulu. Nihil, beberapa kali Ruby mengetuk dan memanggil, tidak ada jawaban sedikit pun dari Megan.
'Apa dia pergi? Jangan bilang Megan dan Sarah meninggalkanku sendirian di kapal!' batin Ruby berprasangka. "Sial!" rutuknya yang kini berbicara melalui mulut.
Ruby berlari ke ruang dimana pesta tadi malam dilaksanakan, dan tidak ada apapun di sana. Hanya ada para pelayan yang sibuk membersihkan meja beserta lantai. Untuk memastikan, Ruby menghampiri salah satu pelayan.
"Hei, apa kau ada melihat wanita berambut pirang panjang dengan gaun merah?" tanya Ruby.
"Ah, benar." Ruby mengusap tengkuk tanpa alasan. Dia berusaha memikirkan pertanyaan yang lebih spesifik.
"Emm... dia memiliki badan lebih tinggi dariku. Tubuhnya molek, karena setahuku dia memang seorang model. Apa kau ada melihatnya baru-baru ini?" Ruby kembali dengan pertanyaan yang menurutnya lebih jelas.
"Maafkan aku, Miss... aku tidak tahu..." lirih sang pelayan. Merasa tidak enak dengan Ruby.
"Oke, thanks." Ruby kembali melakukan pencarian. Tempat sasaran selanjutnya adalah lantai bawah. Dimana kamar Sarah dan rekan timnya berada.
__ADS_1
Ruby mendatangi semua kamar di lantai bawah. Akan tetapi dirinya sama sekali tidak menyaksikan kehadiran Sarah. Wajah Ruby mulai masam. Dia mengacak-acak rambutnya kesal. Ponsel segera dirogohnya dari saku celana. Ruby menghubungi Ryan melalui ponsel.
Tidak ada jawaban dari Ryan. Pesan teks Ruby saja belum dibalasnya sedari kemarin.
"Dia kemana? Kenapa saat waktu genting seperti ini malah menghilang seperti ditelan bumi!" gerutu Ruby. Salah satu kakinya menghentak ke lantai. Perasaan marah dan khawatir bercampur aduk dihatinya. Ruby merasa bingung bukan kepalang. Dia berlari ke bagian depan kapal. Duduk di salah satu kayu berbentuk balok.
"Mereka pasti meninggalkanku. Aku bahkan tidak punya nomor telepon Megan dan Sarah. Benar-benar keterlaluan!" Ruby mencurahkan keluh kesahnya sendirian. "Argh! Ruby... harusnya kau tidak ikut dalam misi bodoh ini. Kenapa kau sangat sok sekali ingin memberi pembuktian kepada Sarah dan Megan," tambahnya lagi. Kali ini dengan kepala menunduk. Matanya memejam dalam keadaan kedua tangan yang memegangi jidatnya sendiri.
Ruby berusaha mengingat kembali rencana Sarah untuk misi kapal pesiar. Baru terpikir olehnya, kalau gudang penyimpanan adalah tempat yang akan didatangi Sarah beserta rekan tim. Tanpa pikir panjang, Ruby berlari menuju gudang penyimpanan.
Ruby berjalan melewati area dapur. Dimana para koki sedang sibuk dengan segala bahan makanan. Dia melangkah tenang, sampai menuju jalan pintas ke arah gudang penyimpanan.
Sebuah lorong dengan lampu redup menyambut Ruby. Keadaan tersebut sedikit membuat bulu kuduknya merinding. Bau bensin serta pesing menyeruak di lokasi itu. Tetapi Ruby sama sekali tidak terganggu. Dia bukan gadis yang mudah jijik seperti banyak perempuan pada umumnya.
Tibalah Ruby di gudang penyimpanan. Terdengar suara samar-samar orang yang berbicara. Gadis tersebut berjalan pelan. Untuk berjaga-jaga, Ruby sesekali bersembunyi. Waspada terhadap hal yang tak terduga.
Mata Ruby membulat sempurna, ketika melihat Sarah, Megan dan rekan tim yang lain sedang diikat tangannya. Mereka terlihat dipaksa memasuki sebuah bunker oleh tiga orang yang memegang machine gun. Sarah tampak babak belur dan lemah. Ruby yakin istri kedua Ryan itu sempat melakukan perlawanan.
Ruby menyaksikan semuanya dari kejauhan. Dia membekap mulutnya sendiri. Dirinya semakin terkejut, tatkala melihat Ethan bergabung dengan tiga orang yang memegang senjata.
Tanpa diduga, Ethan tiba-tiba menoleh ke tempat Ruby bersembunyi. Membuat Ruby sontak berbalik dan menyembunyikan dirinya dengan baik. Dia berlindung dibalik banyaknya drum yang berjejer. Untung saja, kedoknya tidak berhasil diketahui Ethan.
Bruk!
__ADS_1
Terdengar suara pintu bunker ditutup. Ruby menduga, Megan, Sarah dan yang lain dikurung di sana. Jantungnya masih berdebaran tidak karuan.
Bunyi derap langkah semakin menjauh. Ruby yakin, Ethan dan bawahannya telah pergi. Ruby lantas memastikan dengan cara mengintip. Benar saja, tidak ada lagi orang bersenjata yang berjaga.