
...༻❀༺...
Ruby membukakan pintu untuk Gaby. Dahinya mengukir kerutan. Sebab mimik wajah Gaby tampak tidak bersemangat.
"Ada apa, Gabe? Apa kau baik-baik saja?" tanya Ruby.
"Aku akan pergi ke markas yang ada di Chicago. I'm so sorry, Ruby. Aku tidak bisa menemanimu lagi," tutur Gaby dengan perasaan berat. Dia sangat mencemaskan Ruby.
"Katakatan kepadaku, apa Ryan yang memaksamu untuk pergi?" timpal Ruby. Kerutan di keningnya terlihat semakin dalam.
"Emm..." Gaby menundukkan kepala, karena merasa enggan untuk menjawab.
Melihat diamnya Gaby, Ruby segera bertindak. Dia beranjak menemui suaminya. Namun sebelum itu, tangan Gaby dengan cepat mencegat. Hingga langkah kaki Ruby otomatis terhenti.
"Ryan tidak terlibat. Aku pergi, karena harus menemani Mike." Gaby memberikan alasan yang mendadak terlintas dalam benaknya. Terdengar asal dan tidak masuk akal.
Ruby memutar bola mata malas. Ia tidak mempercayai ucapan Gaby. Alhasil Ruby melepas paksa genggaman Gaby, kemudian lanjut melakukan niat yang ingin dilakukannya sejak awal. Yaitu menemui Ryan.
"Ryan! Kenapa kau menyuruh Gaby pergi? Aku membutuhkannya untuk menemaniku!" tukas Ruby. Saat berada di hadapan Ryan.
Ryan berusaha tenang. Dia menyempatkan diri menatap tajam Gaby, yang kebetulan berdiri tidak jauh di belakang Ruby. Tatapannya buru-buru dialihkan ke arah Ruby.
"Aku hanya menugaskan dia untuk menjaga markas yang ada di sana, karena aku memutuskan tinggal denganmu, Babe. Lagi pula kepergian ini juga atas dasar keinginan Gaby." Ryan berjalan mendekat sembari berkata dengan nada lembut.
Ruby tertegun sejenak. "Benarkah?" tanya-nya, memastikan.
Ryan mengangguk yakin. Disertai senyuman yang merekah. Satu tangannya membelai lembut helaian rambut cokelat Ruby yang lurus.
Ruby terdiam seribu bahasa. Dari lubuk hatinya dia merasa senang dengan keputusan Ryan. Ruby mencoba mempercayai Ryan. Toh anak yang ada dalam kandungannya juga milik Ryan. Wajar jika ayah dari cabang bayi itu ingin berada disisinya.
"Jadi, apa kau akan membiarkan Gaby pergi?" imbuh Ryan seraya menunjuk Gaby dengan dagu.
__ADS_1
Ruby perlahan menoleh ke arah Gaby. Memasang ekspresi menyesal. "Maafkan aku, Gabe. Aku hampir saja membuatmu batal pergi," ucapnya. Kakinya bergerak mendekati Gaby. Ruby segera membawa Gaby masuk ke dalam pelukan.
"Tidak apa-apa." Gaby menjawab dengan raut wajah sendu. Tangannya menepuk pelan pundak Ruby.
"Ah, benar! Apa Mike dan Ethan belum pulang? Aku tidak melihat mereka sejak tadi?" tanya Ruby sambil melepas dekapannya dari Gaby.
"Mereka menungguku di suatu tempat!" jawab Gaby. Tidak berani menatap Ruby. Sebab dia sedang mengucapkan kalimat kebohongan.
"Ethan juga ikut?" Ruby merasa heran.
"Dia..." Gaby bingung harus menjawab apa. Hingga membuat Ryan berinisiatif untuk menjawab.
"Ethan mungkin memilih pergi juga. Haruskah dia memberi alasan kepadamu?" jelas Ryan. Diakhiri dengan timpalannya kepada Ruby.
"Ya, Bos benar." Gaby berupaya keras untuk melindungi dirinya dari kemarahan Ryan. "Kalau begitu, aku akan pergi sekarang," ujarnya, berpamitan. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
Ponsel Ryan tiba-tiba berdering. Lelaki itu langsung memisah dari Ruby demi mengangkat panggilan telepon. Gaby yang merasa punya kesempatan untuk berbicara dengan Ruby, segera berkoar.
"Kenapa kau berkata begitu?" balas Ruby. Tak mengerti.
"Aku hanya berfirasat. Pokoknya bila kau sangat ingin menjaga kandunganmu, jagalah semaksimal mungkin. Bahkan dari suamimu. Aku takut Ryan merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanmu." Gaby berbicara dengan nada sangat pelan. Bertujuan agar tidak ada siapapun yang mendengar. Terutama dari Ryan. Selanjutnya, Gaby benar-benar beranjak pergi menggunakan mobil. Sekarang Ruby hanya tinggal berduaan dengan Ryan.
Pikiran Ruby terus memikirkan ucapan Gaby tadi. Menurutnya itu masuk akal. Dia ingat betul bagaimana cara Ryan menolak mentah-mentah kehamilannya tempo hari. Ruby yang sibuk melamun, harus diganggu dengan rasa mual. Gadis itu bergegas menghampiri wastafel.
"Huek!" Ruby berdiri di depan wastafel cukup lama. Dia merasakan mual yang tak tertahan, tetapi mulutnya tidak kunjung mengeluarkan apapun.
Ryan yang baru selesai bicara di telepon, segera mendatangi Ruby. Dia merasa cemas dengan keadaan istrinya.
"Aku sekarang ada di sampingmu. Aku sudah menyuruh Frans untuk mencarikanmu dokter kandungan. Dokter itu akan merawatmu dengan baik." Ryan berucap sembari mengelus punggung Ruby. Perkataannya sukses membuat Ruby segera membasuh mulut, kemudian menoleh.
"Apa? Kau mencarikanku dokter?" Ruby memastikan. Ryan langsung menjawab dengan anggukan dan senyuman tipis.
__ADS_1
Entah kenapa Ruby merasa lega. Rasa percayanya untuk Ryan semakin bertambah. Kini dia menampik peringatan yang sempat Gaby berikan tadi. Baginya niat Ryan terasa tulus.
"Aku sudah bilang, kalau aku akan berada disisimu," kata Ryan sembari membawa sang istri ke dalam dekapan. Memberikan sedikit kehangatan, agar Ruby dapat lebih tenang.
Seperti seekor hewan yang terlanjur menjinak, Ruby membalas pelukan Ryan. Kedua tangannya melingkar ke pinggul lelaki itu. Sedangkan wajahnya tenggelam dalam dada bidang milik Ryan.
Di sisi lain, tepatnya dipinggiran kota Virginia. Mike baru saja selesai bicara dengan Gaby lewat telepon. Dia mendapat kabar yang seketika membuat wajahnya cemberut. Satu tangannya terus menekan luka yang ada di jidat.
"Jadi Ryan sekarang ada bersama Ruby?" perkataan Ethan sukses mengagetkan Mike. "Ah... ternyata itu alasan kalian mengusirku," lanjut Ethan. Menarik kesimpulan. Dia dan Mike masih berada tidak jauh dari lokasi kecelakaan.
"Aku sudah bilang kepadamu. Kalau aku dan adikku berusaha menyelamatkanmu!" sahut Mike.
"Cih! Siapa yang minta diselamatkan? Lagi pula aku sama sekali tidak takut dengan Ryan. Bagiku dia hanya seorang pecundang!" Ethan memajukan bibir bawahnya. Seolah dirinya memang meremehkan Ryan.
"Hehh! Tidak usah berlagak! Kau selalu kalah jika berkelahi dengannya. Berani sekali kau menyebutnya pecundang!" Mike tak mau kalah.
"Ryan memang pecundang! Karena dia takut dengan anak dari darah dagingnya sendiri." Ethan mengulurkan kedua tangan ke depan. "Wah, aku yakin anak yang ada dalam perut Ruby sangat kuat. Dia mampu membuat ayahnya ketakutan, bahkan sebelum lahir ke dunia!" sambungnya, yang kali ini menggeleng kagum.
"Berhentilah Ethan! Kau sebaiknya pergi dari kota ini!" saran Mike seraya memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Atensinya dan Ethan harus tertuju ke arah mobil polisi yang kian mendekat.
Mobil polisi berhenti tepat dimana mobil Mike dan Ethan berada. Para polisi segera mencari pemilik mobil yang tidak lain adalah Mike.
"Dia di sini! Namanya Mike! Dia orang yang tadi mengemudikan mobil!" Ethan memekik lantang. Hingga perkataannya dapat didengar dengan jelas oleh tiga polisi yang datang.
"Sial! Apa-apaan kau!" geram Mike. Dia memastikan posisi polisi, sambil merutuk Ethan dengan kesal. Setelahnya, Mike mengarahkan bogem ke wajah Ethan. Namun belum sempat melakukan serangan, Ethan sudah terlanjur pergi.
Ethan telah berada di seberang jalan. Dia menghentikan taksi yang mengarah kembali ke kota Virginia. Sebelum pergi, dirinya sengaja melambaikan tangan ke arah Mike. Memasang senyuman yang tentu membuat Mike semakin marah.
Kini Mike kalah telak. Dia tidak dapat menghentikan Ethan lagi. Justru dirinya yang terjebak dalam keadaan. Mike harus menyiapkan uang untuk membayar denda kepada polisi. Untung saja, dia hanya berurusan dengan polisi lokal.
__ADS_1