
...༻❀༺...
Ruby telah selesai mengenakan gaunnya. Anne segera memberikan sentuhan make up diwajahnya. Hanya berupa make up tipis, dan penataan untuk rambut. Setelahnya, barulah Judith mengeluarkan sebuah kotak yang lagi-lagi tersimpan di bawah meja trolly. Kotak itu berisi sebuah sepatu hak tinggi. Berwarna senada dengan gaun Ruby. Namun lebih polos dan kasual.
Ruby segera mengenakan sepatu. Rambutnya yang berwarna kecokelatan dibiarkan tergerai indah. Dia sangat cantik dengan gaun merah muda yang menampakan sedikit belahan dadanya.
Anne dan Judith segera membawa Ruby ke suatu tempat. Sebelum pergi, Anne mengambil seutas kain hitam.
"I'm so sorry, Miss. Tetapi kami harus menutup matamu dengan kain hitam ini," ujar Anne sembari mencoba menutup kedua mata Ruby dengan seutas kain yang dibawanya.
"Apa? Kenapa?!" Ruby menghentikan pergerakan tangan Anne. Dahinya mengerut dalam.
"Kami tidak bisa menjelaskannya. Jika sudah di sana, barulah Nona bisa mengerti." Judith menjawab pertanyaan Ruby. Dia perlahan memegangi kedua tangan Ruby agar gadis tersebut tidak berusaha melawan lagi.
"Huhhh!" Ruby hanya bisa mendengus kesal. Dia terpaksa membiarkan matanya ditutup. Selanjutnya, barulah Anne dan Judith menuntunnya pergi ke suatu tempat.
"Sebenarnya apa yang sedang direncanakan Ryan? Kenapa dia sangat berlebihan sekali?" ungkap Ruby seraya terus melangkah mengikuti tuntunan Anne dan Judith.
"Bersabarlah, Nona. Sebentar lagi Nona akan tahu jawabannya," sahut Judith.
Ruby terus berjalan dalam keadaan mata yang ditutup. Lama-kelamaan telinganya mulai mendengar suara riuh orang yang berbicara. Namun ketika dia melangkah kian dekat, suara orang-orang itu malah perlahan menghilang.
"Kita sudah sampai," ucap Anne sambil membuka penutup mata Ruby.
__ADS_1
Ketika Ruby membuka mata, dia menyaksikan dirinya berdiri di karpet merah. Sedangkan di kiri dan kanannya terdapat beberapa bawahan Ryan yang dikenalnya. Semua orang bertepuk tangan sambil bersorak sorai. Mike, Gaby, Ethan dan Henry juga bahkan turut hadir di antara mereka.
Meskipun begitu, tidak ada satu orang pun yang menghampiri Ruby. Gadis itu sempat terpaku sejenak. Kala dia mengalihkan pandangannya ke depan, barulah sosok Ryan muncul. Ryan mengenakan setelan rapi. Dibalut dengan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu.
"Apa-apaan ini, Ryan? Kau tahu aku tidak--"
"Hari ini kita akan menikah, Babe. Jadi aku ingin kau menikmatinya. Aku ingin menepati janjiku kepadamu." Ryan sengaja menjeda perkataan Ruby. Dia segera memposisikan diri ke samping Ruby. Menyodorkan lengannya agar bisa digandeng oleh Ruby.
Tawa kecil muncul dari semburat wajah Ruby. Dia lantas mengaitkan tangannya ke lengan Ryan. Ruby tidak bisa membendung perasaan bahagianya. Apalagi orang-orang terdekatnya juga tampak hadir di sana.
"Kau tahu? Kenapa kau tidak mengatakan apapun kepadaku? Jika aku menolakmu bagaimana?" bisik Ruby ke telinga Ryan.
"Aku tahu, kau tidak akan ditolak." Ryan menjawab seraya mengangkat kedua alisnya. Dia mengembangkan senyuman tipis. Tatapannya terlihat penuh akan binaran cinta. Hal serupa juga berlaku pada Ruby. Gadis tersebut memang tidak akan bisa menolak Ryan. Mereka berjalan terus ke depan, lalu berhenti tepat di hadapan seorang lelaki tua.
Lelaki tua itu adalah seorang pendeta yang bertugas akan menikahkan Ryan dan Ruby. Dia bernama George. Tangannya tampak gemetaran. George sebenarnya sedang merasa takut, karena alasan dia berada di sana disebabkan oleh paksaan. Ethan dan Mike kebetulan menculiknya saat George sibuk memberi makan anjingnya.
Ryan dan Ruby sudah berdiri tepat di depan George. Namun dua sejoli itu masih saling berbincang mesra.
"Kau tidak memberikanku gaun pengantin?" Ruby bertanya sembari sedikit mengukir senyuman. Dia menatap Ryan dengan sudut matanya.
"Aku melakukannya karena ingin memberikan kejutan." Ryan mencondongkan wajahnya lebih dekat ke wajah Ruby. Saat itulah semua orang kembali berteriak histeris. Entah karena merasa jijik atau gemas.
"Apa kita akan melakukannya sekarang?" tegur George. Menyebabkan Ryan dan Ruby sontak mengangguk bersamaan. Mereka segera melakukan ritual penuh khidmat pernikahan.
__ADS_1
Ryan dan Ruby wajib menjawab semua pertanyaan yang diberikan dari George secara bergantian. Selanjutnya barulah keduanya melakukan prosesi janji nikah. Terakhir, Ryan dan Ruby dipersilahkan untuk saling menyematkan cincin di jari manis mereka masing-masing.
Ruby dan Ryan kini resmi menikah. Tidak dengan cara suku Elmika lagi. Seluruh orang yang hadir langsung bertepuk tangan dan berseru bahagia. Apalagi ketika pasangan pengantin berciuman dengan lembut dan dipenuhi ketulusan.
"Aku sebenarnya tidak tahu bagaimana masa depan rumah tangga dua pasangan penjahat kelas kakap dan kelas teri ini, yang jelas aku harap mereka bisa terus bahagia..." harap Ethan. Kedua tangannya terus saling menepuk jadi satu beberapa kali. Dia berbicara sambil terus memandang ke arah pengantin.
"Mereka akan bahagia," sahut Gaby, yakin. Matanya juga tidak teralihkan dari Ryan dan Ruby. Kebetulan dirinya berdiri di sebelah Ethan dan Mike.
"Ah, benar. Aku dengar Megan ikut bersembunyi bersama kalian. Tapi, aku tidak melihat kehadirannya sejak awal. Apa wanita pirang itu tidak ikut?" tanya Gaby. Dia akhirnya menoleh ke arah Ethan.
"Megan agak syok mendengar kabar pernikahan ini. Dia memilih tidak ikut." Ethan membalas tatapan Gaby. Kemudian berbisik, "Megan tiba-tiba menghilang. Dia bilang akan meninggalkan dunia mafia, dan fokus dengan karirnya."
"Benarkah? Bukankah sejak dahulu dia selalu menolak untuk pergi? Kenapa Megan melakukan itu?" Gaby agak terkejut saat mendengar informasi dari Ethan.
"I don't know, oke? Kenapa kau menanyakannya kepadaku. Aku hanya memberitahu apa yang kutahu. Tapi, Megan sepertinya serius. Dia mungkin merasa sangat patah hati." Ethan meraih gelas berisi sampanye, lalu meminumnya beberapa teguk. Dia melihat Ryan dan Ruby telah berbaur dengan semua orang. Dua pasangan pengantin tersebut memang terlihat bak raja dan ratu.
"Megan pasti merasa kesepian," komentar Gaby. Dia masih belum berhenti membahas perihal Megan.
"Ya, aku kasihan dengannya," balas Ethan.
"Kenapa kau tidak menemaninya, atau bisa juga sekalian memacarinya. Kau tahu, Megan memiliki paras yang sangat cantik!" ujar Gaby. Menyenggol Ethan dengan sikunya.
"Ugh! Dia bukan tipeku. Aku suka tipe wanita seperti Ruby," jawab Ethan blak-blakan. Perkataannya berhasil menarik perhatian beberapa bawahan Ryan yang ada di sekitarnya. Mereka bahkan tampak mempelototi Ethan dengan raut wajah serius.
__ADS_1
Merasa terancam, Ethan otomatis mengangkat kedua tangan ke udara. "Aku hanya bercanda," imbuhnya, di iringi dengan tawa canggungnya.
"Itu tidak lucu!" geram Gaby sembari mengarahkan kepalan tinjunya kepada Ethan. Namun Ethan hanya tergelak, lalu kembali sibuk menghabiskan sampanye-nya.