IVAMORA

IVAMORA
Tembakan


__ADS_3

"Gimana pa ?" tanya Mora setelah melihat papa nya yang meletakkan hp.


"Ngga usah khawatir, temanmu berada di tempat yang aman."


"Maksudnya" Mora masih belum paham


"Dia bersama suaminya sayang, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya lagi." mendengar itu bukannya membuat Mora lega, malah membuat gadis itu semakin panik.


"Justru itu pa, Gracel pernah bilang suaminya itu sangat pemaksa, bagaimana jika Gracel sedang tidak aman saat ini."


"Sayang, jangan terlalu mencampuri urusan orang lain, meski kalian sangat dekat tapi ada yang lebih berhak atas dia yaitu suaminya, seburuk apapun laki-laki itu dia tetap lebih berhak atas temanmu." mama Abi mengusap lengan putrinya, dan mencoba menenangkan gadis itu.


"Kita berdoa saja ya semoga teman mu itu baik-baik saja" Mora mengangguk, dalam hati ikut berdoa agar Gracel tidak mendapat perlakuan buruk.


"Yaudah ma, biar Mora hubungi Shofia dulu, takutnya nanti dia masih cemas."


"Iya, hubungi saja, katakan saja bahwa Gracel berada di tempat yang aman." Mora mengangguk dengan ucapan sang papa.


"Gimana Mor ?"


"Gracella aman, kamu ngga usah khawatir lagi ya"


"Tapi di mana keberadaannya, kenapa hp nya ngga bisa di hubungi."


"Mungkin belum bisa buka hp, nanti pasti dia hubungi kita. Intinya kamu tenang aja ya, Gracel baik-baik aja kok." ujar Mora berusaha menenangkan temannya itu.


"Iya Mor, makasi yang udah bantu. Aku minta maaf udah ngerepotin."


"Ngga ada ngerepotin, aku juga lega sekarang, berharap Gracella baik-baik aja. Yaudah kamu istirahat ya, kan besok harus kerja dan berangkat pagi lagi."


"Iya sekali lagi makasih ya Mor"

__ADS_1


"Sama-sama" Mora tersenyum lalu, menaruh hp nya di meja dengan asal.


Prang...


"Astaga nak" Mora terdiam, tangannya tanpa sengaja menumpahkan kopi yang masih hangat di atas meja, bahkan sampai membuat gelas kaca tebal itu pecah.


Mora termenung dengan pikiran yang tak tenang.


Sementara itu di tempat lain, terjadi keributan besar, banyak pengawal yang terkapar dengan darah yang berceceran, dan suara besar tembakan.


Lebih tepatnya di perbatasan antara markas Shriekthrush dan jalan kota, Karel dan teman-temannya di cegah oleh beberapa kumpulan klan lain, entah dengan motif apa, mereka menyerang anggota Karel dengan membabi buta, bahkan kini Karel tengah menghadapi dua orang yang terlihat terobsesi menyerangnya, satu hal yang pasti, dua orang itu mengincar perutnya dengan pisau yang mereka bawa.


Serrr...


"Ah sialan" Karel berhasil merebut pisau yang salah satu dari mereka bawa, tak lupa dengan cepat menggoreskan pisau itu pada lengan salah satu dari mereka.


"Mati saja kepa**t" ucap yang satunya murka, mereka kembali saling menyerang, dua lawan satu.


Tubuh Karel terlempar ke depan, seketika darah keluar dari hidung laki-laki itu, Karel mendesis geram, sekarang ia tau bahwa tujuan mereka adalah memang ingin membunuhnya.


Karel melihat anggota nya sudah banyak yang tak sadarkan diri, bukan karena lemah, tapi kini musuh mereka memang unggul dan cerdas, mereka menyemprotkan cairan pada mata anggota nya, sehingga dengan mudah menumbangkan anggota Shriekthrush.


Sedangkan teman-temannya kini juga sedang sibuk menumbangkan tim lawan, hanya Karel yang tak imbang karena ada satu lagi lawan yang mengincar nyawanya, menatap nya penuh kebencian. Orang itu adalah pelaku yang menendang tubuh Karel dari belakang tadi.


"SEGITU NYALIMU HAH ? LEMAH" orang itu berteriak dengan lantang, wajah nya terlihat masih sangat muda, Karel menatap dingin mereka semua. Dia sendiri tak pernah mengingat wajah dua orang itu, sedangkan salah satu dari mereka tentu Karel sangat mengenalnya. Karena dia adalah pemimpin besar musuh klan Shriekthrush, Miko namanya.


Karel bangkit dengan mengusap hidungnya kasar, menatap dingin pada laki-laki yang tadi berteriak kepadanya.


"Apa motivasi mu menyerang ku ?" Tenang, Karel berujar dengan wajah setenang mungkin, sama sekali tak takut dengan tiga orang di depannya meski kini tenaga nya tidak imbang.


"Tentu saja membunuhmu dengan kedua tanganku" orang itu tergelak kencang, lalu kembali menatap benci pada Karel. Sedangkan di tangan Miko terdapat pistol.

__ADS_1


"Oh ya sebelumnya perkenalkan aku adalah Axeo, kamu wajib tau namaku, karena akulah yang akan mencabut nyawamu" laki-laki itu berucap dingin.


"Yakin ?" Karel tersenyum culas, menatap rendah pada tiga orang yang melawannya itu.


"Kalian bertiga saja masih kewalahan melawanku, ingin melenyapkan ku heh ? mimpi saja." ujar Karel sombong, tampak seseorang mengangkat tangannya yang menggenggam erat pistol, mata nya menatap tajam Karel, dia adalah Miko salah satu orang yang setia menjadi musuh Karel.


"Kamu harus mati saat ini juga"


Dorr...


Karel tersenyum sinis, berhasil menghindar dengan lincah, hidungnya yang mengeluarkan darah cukup banyak tadi tidak membuatnya lemah malah membuatnya ikut gila seperti mereka. Menganggap bahwa tiga orang di depannya adalah makhluk rendahan yang bermimpi menghancurkannya.


Sett...


Kecolongan, Karel mendengus saat kini Miko berhasil menahan tangannya dan mengunci tubuhnya, sedangkan pistol laki-laki itu kini telah berpindah di tangan Axeo.


"Mana kesombongan mu tadi Rubbish" Karel hanya tersenyum tipis, menatap tenang saat Axeo mulai mengangkat tangannya.


Andra yang melihat Karel dalam bahaya pun melotot, ia melihat Gilang dan beberapa pengawal yang tersisa yang sedang sibuk dengan lawannya masing-masing.


"Sial kenapa saat seperti ini Rafka harus keluar negeri" desis Andra, biasanya hanya Rafka yang paling bar-bar dalam perkelahian, pertarungan ini sama sekali tidak imbang, banyak pengawal Shriekthrush yang tumbang, apalagi tenaga mereka semakin terkuras karena terus meladeni musuh.


Saat Andra ingin membantu Karel seseorang menahan nya lalu mengunci tubuhnya.


"Lihat temanmu, dia akan menemui ajal nya malam ini" ujar seseorang yang menahannya dengan suara yang terdengar datar.


"Lepas njg" Andra mendesis


Dorrr...


"TIDAKKK....." Tubuh Andra terasa lemas, seolah semua nya lepas dari raga nya, laki-laki itu menatap nanar orang yang telah terlempar di tanah dengan tubuh yang di penuhi darah, Andra pun langsung bersimpuh karena tak mampu menopang lagi tubuhnya.

__ADS_1


Tembakan itu terdengar sangat keras sehingga membuat tubuhnya terlempar.


__ADS_2