
"Mau minta tolong apa ?" tanya Mora sambil menaruh kedua tangan nya di atas meja.
"Em sebelumnya kita pesan minuman dulu ya" Mora hanya mengangguk singkat, akhirnya Tama pun memanggil pelayan dan memesan minuman untuk mereka berdua.
"Kamu mau pesen makan ?"
"Boleh, kebetulan aku lapar" ujar Mora terkekeh, rezeki tidak boleh di tolak ya kan ?
"Baiklah sekalian kita makan siang" mereka sama-sama memesan lalu menunggu pesanan mereka sambil melanjutkan obrolan.
"Mana Gracella ?" tanya Mora, karena melihat laki-laki itu menemui nya sendiri.
"Kamu tidak berniat mengajak ku selingkuh kan ?" mata Mora memicing curiga, bahaya juga laki-laki ini pikirnya. Sedangkan Tama menghela nafas jengah.
"Istri aku cantik, dan aku mencintainya, tidak berniat mencari yang lain."
"Good" Mora tersenyum, ternyata memang benar firasat nya, jika laki-laki ini memang sangat mencintai sahabatnya, namun sayang perlakuan nya penuh pemaksaan.
"Oke kita makan dulu, aku bakal jelasin semuanya setelah ini" melihat makanan yang datang, Tama pun langsung menyudahi obrolan mereka.
Cukup lama Mora berada di cafe dan berbicara dengan Tama, wanita itu baru pulang saat jam menunjukkan pukul 2 sore, Mora memasuki mansion dengan menenteng makanan.
"Mora"
wanita itu menoleh, dalam sekejap matanya melebar, lalu gadis itu berjalan ke arah seseorang yang memangilnya.
"Kakek, kok bisa di sini ?" tanya Mora duduk di samping laki-laki paruh baya itu.
"Kakek ingin main saja, katanya Karel ngga pulang ya ?" ujar laki-laki itu terkekeh kecil.
"Dia ada pekerjaan kek, astaga apakah kakek sudah lama kesini nya." Mora merasa bersalah karena baru pulang sore hari.
"Satu jam yang lalu, ya cukup lah untuk membuat laki-laki tua ini kesepian." mendengar itu membuat rasa bersalah Mora semakin besar.
__ADS_1
"Maaf ya kek, tadi Mora ada urusan di luar, baru bisa pulang sore ini."
"Sudah tidak apa-apa, lagian juga tadi ada pak Bai yang menemani kakek" pak Bai yang dulu menjadi kepala pelayan di rumah Karel, kini sudah di pindah tugaskan menjadi asisten pribadi kakek lewis.
"Syukurlah" Mora menghela nafas lega.
"Kapan Karel akan pulang ?" tanya kakek Lewis, pada cucu menantunya yang kini ikut duduk di samping nya.
"Tidak tau juga kek, katanya sih seminggu pergi nya."
"Lama juga ya" kakek Lewis tampak terdiam
"Mora, bagaimana jika kamu ikut kakek ke kantor besok"
"Ke kantor kek" mata Mora berbinar cerah, sudah lama sekali ia tidak memegang berkas dan pekerjaan kantor, semenjak Karel memintanya untuk berhenti bekerja.
"Iya, kamu bisa melihat-lihat kantor kakek, kalau Karel ada bakal susah dapat izin." Mora membenarkan ucapan itu dalam hati, mengingat hubungan kakek Lewis dan suami nya yang belum sepenuhnya membaik.
"Boleh kek"
***
Benar saja, keesokan harinya, Mora di jemput oleh supir kakek lewis, tentu saja wanita itu antusias, tidak izin sehari pergi pada suaminya tidak apa-apa kan ya. Dengan menggunakan gaun putih di bawah lutut wanita itu masuk ke dalam mobil. Ini masih pagi.
Hingga mobil itu berjalan meninggalkan pelataran mansion Ivander. Mora terus tersenyum sampai mobil itu memasuki rentetan gedung besar yang membentang di depannya, Mora turun dengan decak kagum di dalam hati, mewah banget perusahaan ini pikirnya.
"Mari non, saya antar ke ruangan tuan besar" terlihat seorang laki-laki yang masih cukup ,muda, umur nya berkisar sekitar 40-45 tahun. Mora menerbitkan senyum lalu mengangguk.
Wanita itu mengikuti laki-laki di depannya dengan pandangan mata yang takjub, ternyata keluarga suaminya itu memang orang besar, sampai langkah mereka memasuki lift yang akan menuju ke ruangan kakek Lewis.
"Sebentar ya non, saya akan memberitahu tuan besar jika nona sudah sampai." Mora mengangguk, menunggu dengan duduk di kursi di depan ruangan yang ada di lantai itu.
Sampai terdengar suara deritan pintu yang bergeser, Mora menoleh, terlihat kakek Lewis datang menghampiri nya. Dengan di ikuti seorang pemuda di belakang nya yang ikut keluar dari dalam ruangan.
__ADS_1
"Mora"
"Pagi kek" Mora mengambil tangan kakek Lewis, lalu mencium nya.
"Akhirnya kamu datang juga, oh ya kenalkan ini cucu teman kakek, namanya Alex" Mora tersenyum.
"Hai Lex"
"Hai Mora"
"Kalian sudah saling kenal" kakek Lewis memperhatikan dengan raut wajah yang terkejut.
"Mora ini teman kuliah saya dulu kek" jawab Alex tersenyum. Menatap Mora dengan mengedipkan sebelah mata nya, memang teman nya yang satu ini cukup genit.
"Oh bagus lah, ya sudah kalian mengobrol dulu saja ya, kakek ada meeting bentar lagi." ucap kakek Lewis sambil mengusap sayang kepala cucu menantunya.
Akhirnya Mora dan Alex pun mencari tempat yang tepat untuk mengobrol bersama.
"Jadi kamu cucu menantu nya kakek Lewis ?" tanya Alex membuka obrolan mereka. Mora mengangguk membenarkan.
"Jadi suami kamu cucu nya kakek Lewis ?"
"Ya kalau aku cucu menantu nya, jelas suami aku cucunya gimana sih" Mora mengeplak lengan Alex yang mendadak nge blank itu. Alex terkekeh, dengan masih menatap Mora.
"Pantas sih, suami kamu sifatnya sebelas dua belas sama kakek nya."
"Tapi bukankah dia baik ?" tanya Mora meminta persetujuan, di lihat dari interaksi Alex dan kakek Lewis sudah sangat kelihatan jika mereka itu dekat.
"Ya, bahkan beliau menganggap aku seperti cucu nya sendiri, dia juga terlihat sangat tulus." Mora mengangguk menyetujui, wanita itu mengangkat minuman di tangannya lalu menegaknya.
"Kamu ngapain kesini Lex ?" tanya Mora heran
"Ada urusan, aku sendiri udah sering kesini hanya sekedar menemui kakek lewis." mendadak Mora merasa takjub, andai saja suami nya bisa sedekat ini dengan kakek nya tentu Mora akan merasa bahagia.
__ADS_1
"Suami kamu kemana Mor ? ngga ikut kesini ?" tanya Alex tiba-tiba. Mora hanya menggeleng tanpa berniat menjawab.
"Kakek sering bercerita tentang cucu nya, dia sering bilang bahwa sangat menyayangi cucu nya itu." Mora menegang, dengan menatap kosong ke arah bunga yang ada di atas meja.