
Peringatan : Mengandung unsur kasar
Andra berjalan dengan langkah lebar, ia tampak mengacuhkan beberapa anggota Shriekthrush yang tampak membungkuk, wajah laki-laki itu yang biasanya ramah dan tersenyum saat mereka sapa berubah menjadi dingin bahkan terkesan tidak ada ekspresi.
Bruk
Brak
Dor
Brakkk
Suara tembakan dan pukulan menggema di ruang tahanan, Andra semakin mempercepat langkahnya, di sana ia melihat Karel yang tampak membabi buta membunuh tawanan nya, bahkan ada dua tawanan mereka yang sudah mati mengenaskan dengan anggota tubuh yang sudah lepas dari tubuh nya.
"Matilah keparat" Karel masih sibuk menusuk perut laki-laki itu dengan pisau tajam yang mampu mengoyak tubuh laki-laki itu, padahal laki-laki itu sudah mati dengan keadaan yang buruk.
"Bodoh" Andra menarik kerah baju belakang Karel, dan langsung memberikan pukulan keras pada wajah Karel.
"Akh brengsek" Karel meludah menggeluarkan darah di mulutnya, sialan temannya itu sekali pukul tidak pernah main-main.
"Sadar anjg gila ya lu" Andra menampar wajah Karel yang sudah menyeringai seperti orang kesetanan, wajah temannya itu sudah di penuhi dengan darah tawanan nya.
Andra hanya menggelengkan kepala, ia pikir Karel tak akan sekalut ini jika berjauhan dengan Mora, tapi emang dasar nya sumbu pendek, selalu saja emosi yang di utamakan.
"Dengerin gue anjg" Andra berbicara dengan keras, menampar wajah Karel berkali-kali agar laki-laki itu sadar.
"Hiks" tubuh Karel luruh begitu saja ke lantai, nyatanya ia kembali sehancur ini. Dia sudah berulang kali menghubungi Mora namun handphone gadis itu sama sekali tak bisa di hubungi. Bahkan saat Karel mendatangi mansion nya, Mora tidak berada di mansion itu.
"Apa salah gue, kenapa dia sejahat ini hiks" Karel memukul lantai berulang kali hingga menimbulkan luka di buku-buku jarinya. Laki-laki itu benar-benar merasa gila saat ini.
__ADS_1
"Nyerah lu ? bukannya belum ketemu sama Mora"
"Tau darimana kali ini karena dia ?" Karel menatap Andra tajam, dia mencengkram kerah baju laki-laki itu.
"TAU DARI MANA" teriak Karel menggelegar
"Ck, dia sepupu gue rel kalo lo lupa"
"Di mana dia sekarang ?" tanya Karel masih dengan tatapan nya yang tajam.
"Jawab sialan" Karel kembali menggila dengan mencengkram baju laki-laki itu kuat.
"Ya Lo tenang dulu anjg, kepala lo ini jangan panas mulu bisa ngga"
"Lo ngga ngerti co" Karel sudah geram sendiri, ingin rasanya memukul temannya itu.
"Huh" dua laki-laki itu sama-sama terdiam dengan pikiran yang kalut, mereka juga lelah bertengkar, karena tidak ada yang mau sama-sama mengalah. Andra tentu tidak mau di paksa mengalah terus.
"APA ?" Karel masih tampak marah, terbukti dari nada ucapannya yang tak santai.
"Lo marah-marah sampek bunuh mereka ngga berbentuk gini manfaatnya apa ? bukannya ketemu Mora lo malah buang-buang waktu." seru Andra dengan nada sinis, menyindir teman nya itu.
"Sekarang lo pikir ya, selalu aja kalau ada masalah lo marah-marah kaya gini. Bisa aja Mora pergi dari hidup lu karena takut sama sikap lu yang kaya gini."
"Bahkan bukan hanya Mora, orang mana pun juga bakal takut sama lu kalau ngelihat lu kaya tadi. Tempramental lu tu buruk rel."
"Pergi aja kalau ngga suka sama kekurangan gue, gue udah biasa sendiri." seru Karel pergi begitu saja, tampaknya omongan Andra di ambil hati oleh lelaki itu, dan bisa saja omongan itu semakin merusak hati Karel yang sudah retak sejak dulu.
Sementara itu Mora pulang dengan malas dari kontrakan Shofia, hari sudah beranjak sore, dia tadi hanya bermalas-malasan saja di rumah Shofia, andai saja Shofia tak memaksa nya pulang, mungkin saat ini dia masih berbaring nyenyak di ranjang itu.
__ADS_1
"Ck" Mora memilih mendengarkan musik untuk mengembalikan mood nya yang sudah lenyap karena ulah Shofia.
Gadis itu menghentikan mobil saat lampu merah menyala, lalu kembali menjalankannya saat lampu itu berubah hijau. Dia menjalankan mobilnya dengan perlahan lalu membuka jendela agar angin dapat masuk ke dalam.
Saat ini hidupnya tampak santai, suasana sore yang nampak sejuk membuat ia merasakan angin surga di tengah teriknya matahari.
Ckittt
"aduh" Mora mengaduh karena kepala nya baru saja membentur setir, itu karena ada mobil yang mencegah jalannya, gadis itu mengusap kening nya yang mengeluarkan darah, karena benturan keras itu, tiba-tiba pintu mobil di buka paksa. Mora pun membuka pintu karena tak mau jika mobil nya rusak, ia ingin memaki orang di luar asli.
"Udah puas nyakitin aku"
Deg
Gadis itu menelan ludah kasar saat melihat Karel berdiri di depannya dengan wajah yang terlihat berantakan, penampilan nya terlihat kusut.
"Ka...kamu" Mora tergagap, dia merasa takut saat melihat tatapan mata laki-laki itu.
"Ikut aku" Karel langsung mengendong Mora begitu saja, membawa gadis itu ke dalam mobilnya. Bahkan laki-laki itu mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata tanpa menoleh sama sekali ke arah Mora.
Mora hanya mampu menunduk tanpa berani berucap apapun, gadis itu memilin jari tangannya dengan hati yang berdegup takut. Apa Karel akan menghukumnya nanti ?
Mereka tak terlibat obrolan apapun sampai mobil itu memasuki area mansion, Karel berjalan dengan menarik lengan Mora dengan kasar, Mora tampak menangis.
"Hiks" tapi Karel sama sekali tak iba dengan tangisan itu, ia malah semakin menarik kasar tangan gadis itu lalu mendorongnya sampai gadis itu terjerembab di ranjang besar miliknya.
"Hiks uhuk" Mora terbatuk-batuk, gadis itu sudah menangis sesenggukan, Karel langsung menindihnya dan mencengkram wajah nya.
"Apa tujuan kamu sebenarnya mendekati ku hah" Karel mencengkram dagu gadis itu cukup kuat, menatap mata hazel itu yang sudah berurai kan air mata.
__ADS_1
"JAWAB" bentak Karel dengan nafas naik turun.
"Hiks maaf hiks" Mora menangis semakin keras, ia menggenggam lengan Karel yang masih mencengkram dagu nya.