IVAMORA

IVAMORA
Teriakan Gilang


__ADS_3

Di ruang tamu sebuah apartemen mewah, terlihat seorang gadis yang tampak sibuk dengan kegiatannya, tangannya yang mungil dengan terampil menusuk jarum pada kain yang terlihat cantik berwarna biru.


Rambutnya di ikat satu menunjukkan leher jenjang nya yang di lingkari oleh kalung. Benar-benar definisi manis. Sedangkan tak jauh dari posisi nya, tanpa gadis itu sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikannya dengan raut wajah yang sulit di artikan. Lama bersembunyi karena ingin melihat gadis itu akhirnya ia keluar dan memilih untuk menghampiri gadis itu.


"Sedang apa ?" Andra duduk di samping Aisa, tersenyum tipis tak terelakkan saat mendapatkan senyum manis dari gadis di samping nya.


"Aku sedang membuat sarung tangan" jawab Aisa, lalu mata dan tangannya kembali bekerja, mengerjakan sarung tangan sederhana yang ia buat.


"Oh ya ?" Andra berdecak kagum dalam hati, benar-benar sempurna sekali gadis ini. Sudah lemah lembut, cantik, manis, penurut, cerdas, dan memiliki sikap keibuan. Lebih dari 5 bulan Andra mengenal Aisa membuat rasa suka tumbuh di dalam hati laki-laki itu. Aisa adalah perempuan yang memenuhi kriteria nya.


"Hem" sahutan itu mengalun dengan lembut, lalu tangan mungil itu mengambil tangan Andra, memakaikan sarung tangan yang baru saja dia buat di tangan besar laki-laki itu.


"Ini cocok untuk mu kak" seru Aisa, Andra menerbitkan senyum tipis.


"Apa ini ? apakah aku sedang di buatkan sarung tangan oleh gadis manis ini" seru Andra sambil mencubit hidung mancung gadis itu. Aisa tersenyum malu, lalu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Aku hanya memanfaatkan waktu kosong saja" aku Aisa, tapi tak membuat senyum Andra surut.


"Terimakasih ya adik manis"


"Aku yang harusnya berterimakasih ke kamu, selama ini sudah banyak membantuku dan memperlakukan ku dengan baik." ucap Aisa dengan tulus.


"Hem.."


Tingtung...


Pintu berbunyi, membuat Andra dan Aisa bertatapan mata penasaran. Aisa berdiri untuk membuka pintu.


"Ais"

__ADS_1


"Iya kak ?"


"Biar aku yang buka, kamu masuk kamar ya" seru Andra, ia menghampiri Aisa lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


"Tapi"


"Nurut sama kakak ya" dengan menghela nafas, Aisa akhirnya mengangguk, ia berjalan ke arah tangga untuk pergi ke kamar. Sedangkan Andra berjalan ke arah pintu yang terus saja berbunyi.


Andra membuka pintu sehingga pintu terbuka dan menampilkan ketiga temannya yang kini tampak seperti mayat hidup, Karel yang berdiri dengan wajah datar di hadapannya, Rafka yang bersender di dinding dengan sesekali berdecak dan Gilang yang berdiri di belakang Karel dan tersenyum tipis.


"Ck lama banget si kaya patung aja" Rafka yang tak sabar langsung menepis lengan Andra yang menghalangi pintu lalu masuk dan seperti biasa, duduk di sofa ruang tamu tanpa menunggu pemilik rumah mempersilahkan duduk.


"Heh, ngga ada yang ngizinin lo masuk" Andra menarik lengan Rafka dengan kasar, sedangkan Karel dan Gilang mengikuti Andra masuk ke dalam apartemen.


Karel dan Gilang kini malah ikut duduk membuat Andra kesal.


"Kalian tu ngapain sih kesini" ucap Andra dengan nada tidak bersahabat.


"Kalau mau dateng ngomong dulu kek, jangan kaya tamu ngga di undang gini." Andra masih emosi dan kesal.


"Ya gimana, Rafka yang minta" seru Gilang dengan acuh.


"Lo ngga suka ?" Karel bersuara sambil menatap Andra datar.


"Ya ngga lah, udah gue bilang berulang kali, jangan datang ke apartemen kalau ngga dapat izin dari gue." Karel menghela nafas, baru kali ini ia melihat emosi Andra meledak-ledak seperti sekarang.


"Marah lu ?" Rafka tersenyum sinis


"Menurut lu, kalian tu ngerusak privasi orang tau ngga"

__ADS_1


"Ya terus permasalahan nya di mana, temen berempat aja pakai acara batasan privasi segala." Sepertinya Rafka ikutan kepancing mendengar nada tak bersahabat Andra. Memang bocah satu ini mudah sekali emosi.


"Dasar bocah, kenapa malah ikutan koar-koar sih, kaya kucing minta kawin aja." Gilang mengusap dada nya sabar, tolong lah kenapa Andra yang biasanya santai ikut seperti Rafka yang minim kewarasan.


"Yaudah kita pulang" Karel berdiri, dia menarik lengan Rafka yang kesabaran nya sudah berada di ujung pintu.


"Ck ngga usah, duduk aja" Andra akhirnya mengalah, ia duduk dengan kasar di sofa.


"Ogah, ngapain kita bertemu di rumah temen ngga tau diri kaya lu" Rafka masih berucap dengan petasan di mulutnya, seolah jika diam maka mulutnya akan terbakar.


"Ck gue minta maaf raf, salah kalian juga datang ngga bilang"


"Ya mana tau kalau lu bakal ngamuk-ngamuk kaya emak ayam yang anak nya di ambil, kita temen lu tapi berasa kaya musuh." Gilang langsung saja menarik tangan Rafka agar laki-laki itu duduk. Bisa melebihi jalan tol jika emosi laki-laki itu tidak di hentikan.


"Sorry raf" Andra kembali meminta maaf, dia harus mengalah, karena dia tau bagaimana meledak nya sikap teman nya itu.


"Cih, buatin gue minum"


"Lo pikir gue babu" sahut Andra ketus


Karel memutar bola matanya, oke sepertinya peperangan ini tidak akan pernah berakhir.


"Ini apartemen siapa ?" tanya Rafka


"Biarin gue yang ambil, dasar bocah" Gilang berdiri dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil air dingin. Meninggalkan Karel bersama dua laki-laki yang sedang mengeluarkan asap dan api di kepala nya.


"AAAAA" tiba-tiba terdengar suara teriakan Gilang yang sangat keras dari dapur. Apa laki-laki itu baru saja di makan panci.


Di antara tiga laki-laki itu, Andra yang paling panik, ia langsung saja berlari ke arah dapur, bukan panik karena Gilang tapi panik dengan Aisa, ia takut jika gadis itu di temukan oleh Gilang.

__ADS_1


Gubrak...


Rafka yang ingin berdiri terjerembab di lantai karena tersandung, namun laki-laki itu kembali berlari untuk melihat kejadian apa yang membuat temannya berteriak.


__ADS_2