
CEKLEK
Wanita yang sedang duduk di sofa kamar itu menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka, mendapatkan Karel yang keluar hanya bertelanjang dada dengan rambut yang basah. Mora pun berinisiatif untuk menghampiri.
"Sini, aku akan membantu mengeringkannya. Kamu duduk saja yah." Karel memicingkan mata nya, sudah tau akan di hukum makanya istinya itu bersikap baik padanya, tapi lihat saja, dia tidak akan mengampuni wanita itu.
Karel duduk di samping ranjang, dan Mora pun dengan cepat mengeringkan rambut laki-laki itu menggunakan handuk. Wanita itu memperlama gerakan tangannya, berharap Karel langsung tidur saja. Biasanya laki-laki itu akan merasa mengantuk jika mendapat usapan darinya. Apalagi laki-laki itu baru pulang dari kerjaan nya. Namun ternyata asumsi Mora tidak terjadi. Karena setelah nya Karel membuka suara.
"Apa kamu tidak merasa bersalah sama sekali ?" Mora menelan ludah, mampus benar dia hari ini. Tau begini lebih baik dia mengajak Gracell ngobrol di luar saja. Dia pikir juga Karel akan pulang lebih lama, apalagi laki-laki itu telat pulang dari waktu yang di janjikan.
"Oke, sebelumnya aku minta maaf jika aku tidak cerita, aku dan Gracell berteman dekat sekarang."
"Bagaimana bisa" tanya Karel tak habis pikir, jika kebanyakan wanita tidak akan mau bertemu dengan mantan pria nya, kini istrinya itu malah kebalikannya.
"Karena setelah aku lihat-lihat Gracell tidak seburuk itu by, dia sangat baik." jawab Mora tanpa takut, mendadak dia jadi berani mengungkapkan kebenaran.
"Dari mana kamu tau dia baik ?" ucap Karel mengernyitkan dahi, mendadak dia jadi kepo, penasaran juga dengan sedalam apa kedekatan istrinya itu dengan mantan kekasihnya.
"Aku dan dia sudah berteman cukup lama, yah ada 5 bulan lebih lah." ucap wanita itu sambil tersenyum tipis, dia merasa sangat bangga karena bisa dekat dengan mantan kekasih suaminya, yang dimana tidak banyak orang bisa melakukannya.
"Dan kamu sama sekali tak cerita padaku ?" Karel benar-benar tak habis pikir, dan bisa-bisa nya juga dia tak tau soal ini. Padahal selama ini dia selalu mengawasi istrinya diam-diam.
"I'm sorry by" Mora memeluk punggung laki-laki itu dari belakang, mengecup pipi laki-laki itu singkat. Dia tak boleh membiarkan suaminya marah lama-lama. Karena mereka baru saja bertemu.
__ADS_1
"Sudahlah lebih baik kamu pijat aku saja" Karel langsung berbaring terlentang, menunjukkan otot dada nya yang kekar dan bersih tanpa noda. Mora menelan ludah kasar, mendadak dia jadi wanita mesum yang tergoda dengan tubuh suaminya sendiri.
"Ayo malah bengong"
"Eh iya" Mora meringis, lalu tangannya mulai beraksi menggerayai tubuh suaminya.
"Shttt" Karel mendesis lirih
"Pijat yang atas saja Mora, jangan disitu" Karel melipat bibir nya, sejak kapan istri nya jadi nakal seperti ini, Karel memejamkan mata nya saat Mora tak menggubris ucapannya, tangan gadis itu semakin nakal mengusap tempat yang tak seharusnya.
"****"
"Nikmat kan by" Karel hanya bisa mengumpat dalam hati, rasa lelah nya hilang lebur menjadi rasa ingin, Mora tersenyum puas, tangannya semakin cepat menyentuh apapun sesuka nya.
BRUK..
"Jika ingin bilang saja, jangan menggoda ku seperti itu. Aku tak akan kuat." Mora terkekeh kecil, manis sekali batin karel. Laki-laki itu gantian membalas perbuatan istrinya dengan lebih, membuat Mora mendesah kuat, wanita itu memeluk tubuh karel, inilah yang dia rindukan dari suaminya, aroma tubuh laki-laki itu sudah seperti candu untuk nya.
"Lebih enak di kode dulu, nunggu kamu peka" jawab Mora kembali terkekeh, kini kedua tangannya sudah nangkring di leher Karel dengan cantik.
"Cantik banget jadi pengen hukum" Karel mengusap lembut pipi istrinya, lalu mengigit nya membuat Mora berteriak.
"Akh jangan di gigit" Mora mengusap pipi nya dan menatap sang suami dengan sengit, cape cape perawatan biar mulus malah di gigit dengan seenak jidat, di pikir tidak sakit apa.
__ADS_1
"Sudah kamu mandi sana, bau" Karel berdiri, lalu berjalan ke arah walk in closet untuk mengambil baju, sementara Mora hanya terbengong lalu duduk dengan wajah yang bersungut-sungut kesal.
"KAMU MEMANCINGKU ATAU APA, HEY" Mora mengeluarkan tanduk nya, bayangkan saja, sudah di buat panas-panas malah di tinggalkan begitu saja, memang kurang ajar suaminya itu.
Lihat saja nanti, dia pasti akan balas dendam, dia tak terima di tinggalkan begini saja.
"AKH" Mora berteriak sambil mengacak rambut nya, masuk ke dalam kamar mandi dan sedikit membanting pintu nya. Sementara Karel tertawa kencang saat mendengar teriakan istrinya, biarkan saja, salah sendiri main rahasia an dan berani menggoda nya.
Karel turun dari kamar, laki-laki itu berjalan ke arah ruang makan, di mana bibi sedang menyiapkan makanan, Karel belum makan sejak dalam perjalanan pulang, jadi dia merasa lapar.
Laki-laki itu duduk sambil memainkan hp, sekalian menunggu Mora untuk turun agar mereka bisa makan bersama, saat sedang asik scroll tiba-tiba ada notif pesan dari Nathan, adik sepupu nya.
"Jangan lupa untuk terus konsultasi, kamu harus cepat sembuh kak."
Karel menghela nafas, sudah sangat malas sebenarnya untuk kembali ke rumah sakit itu, namun benar apa kata Nathan, dia harus segera sembuh, dia tak boleh terus begini.
Selain pesan dari Nathan, ternyata ada juga pesan dari kakek Lewis, Karel membuka nya dengan tak ikhlas meski begitu dia tetap membuka nya karena penasaran, kakek nya itu jarang memberi nya pesan, dan dia penasaran pesan apa yang di tulis laki-laki renta itu.
"Kata cucu menantu ku kamu tak pulang dengan alasan bisnis, kenapa tak jujur saja pada nya bahwa kamu sedang mengobati diri."
Deg...
Karel membeku di tempat nya, terkejut karena kakek nya itu bisa tau apa yang terjadi padanya, apakah laki-laki itu mengawasinya diam-diam. Jika ia Karel akan benar-benar marah.
__ADS_1
"Hubby kok ngga makan"
DUG