
"Ada apa ?" Andra melihat Gilang yang duduk di kursi dapur, laki-laki itu tampak syok entah karena apa. Andra melihat sekeliling, tidak ada Aisa di sini, lalu kenapa teman nya itu berteriak tadi ?
"Lu kenapa teriak-teriak woilah" Rafka menatap Gilang yang masih mengatur nafas dengan dahi mengernyit.
Andra juga ikut memusatkan perhatiannya ke Gilang, laki-laki itu menghela nafas lega karena ternyata Gilang tidak bertemu dengan Aisa dan kemungkinan gadis itu masih berada di kamar.
Sedangkan Karel melirik sudut ruangan, ada anak tikus yang masih kecil nampak menggaruk dinding mencari jalan keluar.
"Iuh menjijikkan, apart lu banyak tikusnya Ndra" tuh kan benar, sudah pasti laki-laki itu berteriak karena melihat tikus, lucu sekali temannya itu.
"Oh, emang udah seminggu sih ngga di bersihin, makannya kalian pulang aja lah, apart gue kotor soalnya." sahut Andra dengan enteng.
"Lu kehabisan duit apa gimana, padahal tinggal sewa jasa bersih-bersih kan gampang." sindir Rafka.
"Tau, udah gue mau pergi. Jijik ketemu makhluk sialan itu." Gilang berdiri lalu melangkah pergi.
"Woy tungguin gue setan" Rafka pun ikut berlalu begitu saja, kedua laki-laki itu keluar dari apart Andra tanpa pamit, meninggalkan Karel berdua dengan Andra.
"Huh" Andra bernafas dengan lega, dan tentu saja semua itu tak lepas dari penglihatan Karel.
"Mana cewe lu ?" Andra menoleh, ia tampak mengernyit.
"Cewe mana ?" Karel menghela nafas, nampaknya temannya itu masih lola.
"Ngga usah pura-pura deh, cewe yang lu beli lah" sahut Karel datar.
"Maksud lu apa ngomong gitu rel, bukan nya lu tahu kalau gue bebasin itu cewe." Andra yang mulai paham dengan maksud Karel berusaha untuk menutupi keadaan.
"Dia ngga bareng gue sekarang" lanjutnya, ia melirik ke arah tangga, sangat berharap dalam hati agar Aisa tak keluar dulu dari kamar nya.
"Lu ngga bakal bisa bohong Ndra" tekan Karel tersenyum remeh.
__ADS_1
"Ck, terserah lu, mending sekarang lu balik" usir Andra terus terang.
"Ngusir ?" Karel tersenyum sinis.
"Udah deh Rel, gue lagi males" Andra berjalan ke arah ruang tamu lalu membuka pintu apart nya lebar-lebar, Karel hanya menatap datar dari sofa.
"Ayo, keluar!! " Karel pun akhirnya menurut, Andra tampak keras kepala kali ini dan dia tau apa penyebab laki-laki itu memaksanya untuk segera pergi.
"Gue udah tau, ngga guna lu sembunyikan" lalu Karel melenggang begitu saja.
Andra duduk di sofa dengan kasar, tangganya tampak memijat pelipisnya, dia tak akan bisa menyembunyikan Aisa lebih lama dari temannya. Apalagi tadi Karel sudah curiga dan nada bicara laki-laki itu menjadi pendukung jika Karel pasti akan segera mengetahui keberadaan Aisa.
"Ck, gue cuma ngga ikhlas buat ngenalin Aisa ke kalian" Andra memejamkan mata nya dengan erat, kepala nya mendongak dan bersandar di sofa. Tiba-tiba ia merasakan sebuah benda dingin menempel di jidatnya. Andra pun membuka mata.
"Ais" Andra menatap Aisa yang menunduk di belakangnya, gadis itu mengitari sofa dan ikut duduk di samping Andra, tangannya menyodorkan botol minuman dingin untuk Andra.
"Minum dulu gih" Andra mengangguk, tangannya mengambil minuman itu dan menegaknya hingga tersisa setengah.
"Aku merasa bosan di sana sendirian" sahut gadis itu dengan muka di tekuk.
Andra menatap Aisa dengan dalam, di balas dengan tatapan yang sama oleh gadis itu, Andra mendekat lalu memeluk tubuh gadis itu, membenamkan kepalanya yang terasa pusing di pundak sang gadis.
"Pusing Ais" Andra merengek, membuat gadis itu menerbitkan senyum tipis, tangannya mengusap rambut Andra dengan lembut, membiarkan lelaki itu untuk memeluknya.
Aisa merasa sangat nyaman dengan laki-laki di sampingnya, ia sudah menganggap Andra seperti seorang kakak, karena laki-laki itu selalu memperlakukan ia dengan baik layaknya adik.
"Kakak sakit ?" tanya Ais.
"Em" Andra bergumam malas, ia semakin mengeratkan pelukan.
Terlalu nyaman dengan usapan dan pelukan hangat Ais membuat Andra mengantuk, laki-laki itu merenggangkan kedua tangannya yang membelit tubuh Ais. menatap gadis itu dengan intens.
__ADS_1
Cup
Andra mencium pipi chubby gadis itu dengan gemas, tangan Ais mengusap wajah Andra dengan lembut. Baginya Andra itu mencintainya seperti seorang kakak kepada adiknya, Ais sama sekali tidak berfikir jika perasaan Andra berbeda, laki-laki itu menginginkannya.
"Sayang" Ais berujar dengan tangan yang terus mengusap wajah tampan itu.
deg
Jantung Andra nyaris melompat saat mendengar suara lembut itu, tubuhnya membeku di tempat dengan tatapan mata yang kosong, apakah ia salah dengar ?
"Sayang banget sama kakak, andai aja kakak jadi kakak aku, pasti hidup aku akan lebih berwarna." aku gadis itu.
"Tapi aku ngga akan mungkin jadi kakak kamu" ucap Andra dengan kesal, ternyata ia salah paham dengan ucapan gadis itu. Tentu saja hatinya panas saat tau jika gadis yang ia suka hanya menganggap ia tak lebih seorang kakak.
"Kenapa ?"
"Karena aku maunya kamu Ais"
"Maksudnya ?" Ais mengernyit heran.
"Hah sudahlah" Andra berdecak, ia berdiri dan berjalan menuju kamar. Ais mengernyit bingung, sebenarnya Andra kenapa ?
"Huh aku merindukan Asta, bagaimana ya kabarnya" tiba-tiba wajah Aisa berubah sendu, ia merindukan adik satu-satunya itu.
"Apa aku akan bisa bertemu dengannya lagi"
"Aku tidak boleh berharap lagi karena itu semua sangat mustahil" ucap Aisa sambil mengusap matanya yang basah.
Di kamar, Andra tampak kesal sendiri karena Aisa yang sangat tidak peka, padahal ia sudah sering mengkode gadis itu.
"Ish kenapa sih dia sangat tidak peka" Andra menatap langit-langit kamar dengan hampa.
__ADS_1
"Aku menginginkannya" Andra berteriak kesal, ia membuang bantal dengan kesal.