IVAMORA

IVAMORA
Hukuman


__ADS_3

Di sebuah cafe, terlihat seorang wanita cantik yang duduk gelisah, di kedua mata nya terdapat kacamata juga masker yang menutup sebagian wajahnya. Gadis itu juga menggunakan pakaian tertutup, itu dia lakukan agar terhindar dari bahaya.


Saat ini dia sedang menunggu dua temannya yang katanya masih dalam perjalanan, dengan hati yang di selimuti rasa takut, menyalurkan dengan meremas tangannya sendiri.


"Gracel" terdengar suara keras dua temannya yang sudah berada di dekatnya, seketika Gracel pun meletakkan jari telunjuknya di depan mulut.


"Cepat duduk" ucap Gracel menarik kedua lengan temannya.


"Gimana keadaan kamu, ngga ada yang luka kan ?" Mora membolak-balikkan tangan wanita itu.


"Aman, udah jangan parno an deh" sahut Gracel, kini ia melepas kaca mata nya. Dia cukup berani melakukannya karena suasana cafe yang sedang sepi.


"Sumpah gue panik banget, apalagi Shofia" Gracel tersenyum di balik masker nya, lalu menatap Shofia yang mata nya sudah berkaca-kaca.


"Kok nangis ?"


"Hp kamu ngga bisa di hubungi, aku panik banget" gadis itu mengusap mata nya.


Lagi-lagi Gracel tersenyum, tampak sangat terharu karena ketulusan teman-temannya.


"Dia bahkan telfon aku malam-malam"


"Astaga makasih ya pren" Gracel merangkul kedua bahu temannya dengan senyum yang mengembang.


"Eh btw gimana keadaan kamu, suami kamu ngga berbuat kasar kan ?" tanya Mora penasaran.


"Ngga kok aman" ucap Gracel sedikit berbohong, ia tak mau membuat kedua temannya khawatir.


"Apa kamu izin ke dia saat mau kesini" kini giliran Shofia yang bertanya.


Gracella menatap kedua temannya, tentu saja dia kabur, karena jika izin pun, Tama tak akan pernah memberikan izin.

__ADS_1


"Izin kok" Akhirnya wanita itu kembali memilih berbohong.


"Tapi kenapa pake masker segala sih, pake kaca mata juga." ucap Shofia dengan mengernyit heran, Gracel pun menelan kasar ludah nya.


"Em...suami aku tu posesif sof, aku harus keluar dengan pakaian yang tertutup dan ngga boleh memperlihatkan wajahku pada siapapun." tiba-tiba ide cemerlang itu muncul dalam benak Gracel, dia patut bersyukur dengan otak nya yang cepat tanggap saat kondisi seperti ini.


"Astaga sweet banget sih" Mora tersenyum menggoda.


"Ya gitu deh"


"Kenapa ngga kamu coba buka hati aja buat dia cel ?" seru Mora saat mendengar cerita Gracel, menurutnya suami Gracel itu pasti sudah sangat menyayangi teman nya itu, namun tidak tau harus menunjukkan sikap seperti apa.


"Semuanya butuh proses Mor, ngga instan, tapi aku bakal coba kok." Mora dan Shofia pun mengangguk senang saat mendengarnya.


Shofia sendiri juga tampak lega, karena suami Gracel mengizinkan wanita itu untuk menemui mereka, itu artinya mereka masih bisa bertemu dengan Gracel kapanpun itu.


***


"Masih ingat pulang ?" tiba-tiba terdengar suara dingin dari arah tangga, Gracell mendongak, tatapannya beradu pada tatapan mata Tama yang menyorot tajam.


"Aku membiarkanmu keluar kamar, bukan berarti bisa keluar tanpa izin dariku sayang !!"


Gadis itu menelan ludah nya kasar, keringat sudah mengucur dari atas dahi nya.


"Aku..." Gracel tergagap tidak tau harus menjawab apa, menyembunyikan tangan nya yang kembali bergetar.


"Naik !!" Gracella menurut, menaiki tangga dengan perasaan takut luar biasa.


Sedangkan Tama, laki-laki itu berbalik dan berjalan ke arah kamar. Gracella hanya mengikuti tanpa berani membantah.


Saat memasuki kamar, Gracella sudah melihat suaminya itu duduk di sofa dengan kaki yang di silangkan.

__ADS_1


"Hukuman apa yang kamu mau ?" tanya Tama menyorot tajam, Gracella menunduk, percayalah dalam pernikahan ini hanya rasa takut yang selalu menyelimuti nya. Dia tidak pernah merasakan ketenangan.


"Buka semua baju mu !!" Gracell menelan ludah kembali, menatap tama dengan sorot mata yang takut.


"Tama...aku"


"CEPAT !!" Bentak laki-laki itu, dengan air mata yang menetes akhirnya gracel pun melucuti pakaian nya hingga polos, menghampiri Tama dengan wajah yang pias.


"Aku akan memberikanmu hukuman sampai kamu tak akan berani lari lagi." Tama langsung mengendong tubuh istrinya dan melemparkannya ke ranjang.


Setelah satu jam penuh, hukuman Tama pun berakhir, laki-laki itu menatap dalam wajah cantik istrinya, Gracella sedang sibuk mengatur nafas nya yang terengah karena lelah, dan itu tampak sangat seksi untuk Tama. Tanpa Gracella sadari bibir suami nya itu membentuk lengkungan kecil.


Tangan Tama terulur membelai pipi Gracel dengan lembut, bibirnya sibuk mengecupi leher jenjang istrinya dengan tangan yang terus memainkan wajah istrinya.


Gracel sebenarnya ingin memberikan penjelasan soal hal tadi tapi mulutnya terasa kelu, dia tidak pernah bisa berbicara panjang pada Tama, Tama saat ini sudah berubah tidak seperti Tama yang dulu saat menjadi sahabat nya.


"Aku minta maaf..." hanya kata itu yang dapat keluar, air mata langsung turun, akhir-akhir ini tama lebih sering marah, dan ia sadar bahwa itu sepenuhnya karena salah nya.


"Shutt honey, aku benci melihatmu menangis karena ku" Tama mengusap air mata istrinya, mengecupi mata sang istri. Tatapannya yang tajam kini berubah lembut dengan bibir yang tersenyum sendu.


Tangannya merengkuh tubuh istrinya, memeluk nya dengan erat, memberikan usapan di punggung istrinya yang polos tanpa tertutupi apapun.


"Aku mencintaimu sangat" kalimat itu terdengar lirih membuat Gracel sedikit tenang, wanita itu memberanikan diri untuk melingkarkan tangannya, membalas pelukan suaminya.


Bibir Tama tersenyum cerah di balik punggung Gracel, perlakuan sederhana seperti ini sudah berhasil membuat hati nya berbunga-bunga.


"Peluk aku yang erat sayang" pinta Tama, Gracel mengigit bibir nya, jujur ia tak berani, namun karena Tama menekan punggung nya kuat membuat wanita itu menurut.


"Tidur ya, pasti capek kan" terasa sebuah tepukan lembut di puncak kepala wanita itu.


" Aku lelah karena mu !! " ingin sekali Gracel berteriak seperti itu, namun dia takut.

__ADS_1


Jadi wanita itu memilih untuk memaksa memejamkan mata nya saja, karena jujur tubuhnya terasa sangat lelah.


__ADS_2