IVAMORA

IVAMORA
Mengabaikan


__ADS_3

Gracel terbaring di kursi santai di ruang santai, mata nya tampak tak berpaling dari layar besar yang menampilkan drama kesukaannya sambil menyuapkan buah ke dalam mulut, akhir-akhir ini dia sangat suka menonton drama, bukan hanya itu ia juga jadi sangat suka buah alpukat.


"Padahal cuma buah, tapi kok rasanya jadi enak banget ya." Gracel tersenyum cerah, bahkan semangkuk buah yang ada di atas meja itu sudah habis, dan yang berada di tangannya ini adalah suapan terakhir, namun ia merasa seolah belum puas dan kenyang.


"Aduh mana persediaan di kulkas habis lagi" gadis itu memanyunkan bibir nya.


Tiba - tiba terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat di susul oleh dobrakan pintu yang terdengar sangat kencang.


Brak...


"Honey" Gracel tersentak, merasakan pelukan yang erat di pinggang nya.


"Lepas Tama"


"No" bukannya lepas, Tama malah memeluk semakin erat, tangannya mencengkram kuat pinggang Gracel.


"Shtt...sakit"


"Aku khawatir, kenapa tidak memberitahu jika berada di sini, biarkan aku memelukmu, aku benar-benar merasa takut." Gracel meringis, berlebihan juga ya suaminya itu.


"Aku hanya ingin menonton drama, apakah harus izin juga."


"Setidaknya tolong beri tau aku, libatkan aku." Gracel termenung, mendengar nada ucapan tama yang memelas, apa yang menurut nya tidak penting ternyata begitu penting untuk laki-laki itu.


"Baiklah, aku minta maaf, sekarang temani aku nonton ya" Gracel mengusap kepala laki-laki itu, lalu menyandarkan tubuh nya pada bahu laki-laki itu, tangan Tama melingkar di bahu istrinya dan Gracel tak melarangnya.


Cup


Tubuh Gracel menegang, meski Tama sering memberikan perlakuan seperti itu, entah kenapa tubuhnya selalu merasa tak siap.


"Jangan menolak ku" Gracel hanya tersenyum tipis, tak menjawab ucapan tama.


Gracel berdiri, spontan Tama langsung mencekal tangannya.


"Aku mau ke kamar mandi, harus izin juga ?" Tama menatap istrinya tajam, lalu melepaskan lengan itu dengan tidak rela. Gracel berjalan menuju kamar mandi.


Tama termenung dengan dada yang terasa sesak, sampai kapan istri nya akan terus mengabaikan nya, padahal pernikahan mereka sudah berjalan cukup lama.


Hingga 10 menit berlalu, Gracel tak juga kembali, Tama pun berjalan ke arah kamar mandi, namun naas kamar mandi itu kosong, lagi-lagi Tama menghela nafas, dengan tangan terkepal ia keluar dari ruangan itu tanpa mematikan layar yang masih menyala itu.

__ADS_1


Saat keluar dari ruangan itu dia berpapasan dengan bibi, Tama pun memilih untuk bertanya.


"Lihat nyonya bi ?"


"Nyonya tadi masuk kamar tuan" Tama mengangguk, lalu berlalu pergi menuju kamar. Sepertinya memang dia yang terlalu baik sehingga Gracel berbuat semaunya.


BRAKK...


Tama membuka pintu dengan kasar, langsung melangkahkan kakinya lebar memasuki kamar, Dia melihat pintu kamar mandi yang tertutup, menandakan jika ada orang di dalam sana.


Tama duduk di atas ranjang, menunggu seseorang di kamar mandi untuk keluar dari dalam sana.


5 menit...10 menit... hingga 15 menit lebih tak ada tanda-tanda juga pintu itu akan terbuka, Tama pun berjalan menghampiri pintu itu, lalu memaksa membuka nya.


"Buka atau aku dobrak" Tama berujar dengan nada meninggi.


"HONEY AKU TIDAK BECANDA UNTUK INI."


BRAK...


Pintu itu terbuka dengan kencang, bahkan engsel nya sampai lepas karena Tama menendangnya dengan kasar.


"Honey, open your eyes, please" Gracel tak memberikan respon, tubuh Tama bergetar hebat, ia langsung merengkuh tubuh istrinya dan mengendong tubuh wanita itu, berjalan cepat keluar kamar.


Kemarahan nya yang tadi memuncak hilang bak di telan bumi, kini di gantikan oleh rasa takut dan khawatir.


"PELAYAN" Tama berujar kencang, membuat pelayan datang dengan kalang kabut.


"Cepat suruh supir menyiapkan mobil, tidak pakai lama" Tama keluar dengan cepat, supir sudah berbaris rapi, mobil juga sudah terparkir rapi, Tama masuk ke dalam mobil yang sudah ada supir di dalamnya.


"CEPAT JALAN" mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Tama merengkuh tubuh istrinya dengan erat, tanpa di sadari air mata menetes dari kedua mata laki-laki itu.


"Honey, please" Tama terisak kecil, ia tak melepaskan tubuh istrinya, mengecupi wajah wanita itu dengan kecupan.


"LEBIH CEPAT BODOH"


***


Saat mobil sampai di depan rumah sakit, Tama langsung kembali mengangkat tubuh istrinya.

__ADS_1


"DOKTER, TOLONG ISTRI SAYA" Tama berujar dengan kencang, laki-laki itu heboh sendiri, perawat langsung datang dengan membawa brangkar dorong.


"Tuan tunggu di depan dulu ya" ujar dokter itu.


"Saya ingin menemani istri saya"


"Saya mohon tuan, patuhi prosedur yang ada" tama mengusap kasar wajahnya, ia membiarkan pintu itu tertutup.


"Akh sial" Tama duduk di kursi dengan wajah pias.


Laki-laki itu kembali termenung dengan mata berkaca-kaca, dia menyesal karena sudah menekan istrinya seperti tadi.


"Honey...maaf, please bangun" ujar Tama lirih.


Terdengar pintu terbuka, Tama langsung berdiri dan berjalan cepat menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan istri saya ?" tanya Tama masih dengan wajah cemas nya.


"Keadaan nyonya Gracel sudah baik tuan, tidak ada luka apapun, janin nya juga aman."


Tama menghela nafas lega, namun seketika tubuh nya menegang.


"Janin ?"


"Iya tuan, nyonya Gracel mengandung, usia kandungannya sekarang sudah 4 Minggu."


"Apa istri saya sudah sadar dok ?" tanya Tama dengan nada bergetar.


"Belum tuan"


"Apa saya boleh masuk ?"


"Silahkan tuan"


Tama membuka pintu ruangan itu, mata nya langsung melihat tubuh istrinya yang terbaring di atas ranjang. Dengan tangan bergetar, Tama menghampiri tubuh istrinya.


Setelah sampai, Tama mengambil telapak tangan istrinya, mengecupi berulang kali, mata nya berkaca-kaca.


Tangannya terangkat untuk mengusap perut istrinya. Mulut nya terasa kelu, ada perasaan membuncah dalam hati nya saat mengusap lembut perut yang masih datar itu.

__ADS_1


"Terimakasih tuhan, aku akan menjaga nya dengan seluruh kemampuan ku, semoga ini menjadi jalan terbaik untuk kedepannya" air mata laki-laki itu kembali menetes.


__ADS_2