IVAMORA

IVAMORA
Mau Jadi Penghianat


__ADS_3

Mora menatap dua orang di depannya yang terlihat tidak saling sapa itu, perlahan dia mulai mengerti jika mereka berdua pasti ada apa-apa saat ia mengambil minuman tadi.


"Muka nya kok pada tegang gitu sih, udah santai aja lagi." Mora berusaha mencairkan suasana.


"Oh ya Cell, aku antusias banget loh sama kehamilan kamu. Aku tadinya juga mau lihat kamu, eh ternyata kamu datang sendiri. Di anterin suami tercinta." Mora terkekeh kecil saat mengatakannya.


"Dia maksa Mor, kerjaan nya di rumah nangis terus, heran." bukan Gracell yang menjawab tapi Tama, masih dengan nada yang tidak enak di dengar.


"Biasa kali tam, lagi hamil jadi sensitif"


"Mora bisa kita bicara berdua ?" Gracell bertanya dengan nada lirih, sama sekali tak berani menatap Tama yang sudah terlihat semakin marah itu.


"Boleh, em Tama kamu keluar atau kita yang pergi ?" tanya Mora memberi kode agar laki-laki itu pergi dulu.


"Kita cari tempat lain aja Mor" Gracell kembali bersuara, lirih sekali seolah takut jika suami nya itu akan mendengar pembicaraan mereka.


"Oke"


"Aku aja yang pergi" Tama berdiri, lalu berlalu keluar dari pintu mansion. Meninggalkan istrinya berdua dengan teman nya itu.


Setelah Tama pergi, Mora pun memusatkan perhatian nya pada wajah temannya yang tampak kalut itu.


"Ada apa lagi sih Cell"


"Aku binggung Mor"


"Aku lihat kamu belum bisa menerima Tama, emang apa kurang nya laki-laki itu sih." ujar Mora dengan nada lembut, berharap bisa mengetuk pintu hati Gracell yang keras.


"Aku tau ini semua sulit, tapi coba kamu berdamai dengan semuanya. Apalagi sekarang kalian tidak hanya berdua, ada satu nyawa yang harus kalian pikirkan." Gracell tetap diam, mencerna setiap untaian kalimat yang Mora ucapkan.


"Coba lawan ego kamu, kasihan tama, dia udah berusaha untuk kamu, dia juga terlihat sangat mencintai kamu." tangan Mora terangkat untuk mengusap telapak tangan temannya itu.

__ADS_1


"Apa aku udah keterlaluan banget Mor" kini Gracell terisak kecil, hati nya sakit sebenarnya, dia sangat sulit untuk menerima semua ini, melapangkan hati untuk sesuatu hal yang berat untuk dia jalani.


"Wajar kamu melakukan hal ini, tapi coba membuka hati. Tidak semua hal yang menurut kamu tidak mungkin itu tidak akan terjadi. Berdamai lah dengan hati mu sendiri."


Isakan Gracell semakin kuat, rasanya benar-benar sakit, seolah dia tak di beri kesempatan sama sekali untuk mengutarakan kemauan nya.


"Aku ngga akan maksa, aku juga tau itu sulit, dan aku yakin Tama tak akan menuntut kamu, tapi tolong jangan berlebihan bersikap seperti itu, kamu tak harus membalas perasaan nya sekarang, tapi tolong hargai dia sebagai suami."


Gracell mengangguk lesu, mengusap air mata yang jatuh tanpa permisi dari sudut mata nya, dia akan kembali mencoba sekarang, meski rasanya terlampau sulit, tapi dia harus ingat, ada nyawa kecil yang harus dia pikirkan.


Sementara itu tanpa mereka berdua sadari, ada laki-laki yang berdiri di balik dinding, laki-laki itu mengusap mata nya yang tampak berembun, dengan tangan yang terkepal erat ia pergi meninggalkan tempat itu.


Gracell dan Mora cukup banyak bercerita, seolah mereka baru ketemu setelah berabad-abad lama nya, hingga hati wanita hamil itu terasa tenang dan plong berulah ia pamitan pulang.


"Hati-hati ya kalian, Tama jaga teman dan keponakan ku ya." seru Mora tersenyum tipis.


"Aku akan selalu menjaga mereka, itu pasti" ujar Tama tegas, Gracell mendongak menatap suaminya, lalu menunduk melihat tangannya yang berada di genggaman tangan laki-laki itu.


"HATI-HATI" teriak Mora, lalu menatap kepergian dua orang itu dengan senyum kecil.


"Ngapain mereka kesini ?"


GUBRAK..


Mora hampir saja terjungkal saat mendengar suara familiar di belakang nya, wanita itu menelan kasar ludah nya, antara ingin menoleh namun takut.


"Eh hubby" Mora tersenyum paksa, merangkul lengan suaminya, berjinjit lalu mengecup lembut pipi sang suami.


"Ngapain mereka kesini ?" kembali pertanyaan itu keluar, Mora meringis, binggung mau menjawab apa.


"Apa kamu mau jadi penghianat juga seperti mereka" Karel berucap dengan wajah datar, Mora hanya bisa menangis dalam hati.

__ADS_1


"Mampus"


"Hubby masuk dulu aja yuk, pasti capek kan baru pulang. Biar aku siapin air hangat sama makan malam." Karel masih diam dengan wajah datar, namun pada akhirnya tetap mengikuti istrinya yang menyeret lengan nya.


Tubuh nya sedang sangat lelah, butuh istirahat sejenak.


"Duduk dulu ya, aku siapkan air hangat" Karel hanya diam dan duduk di sofa kamar, memperhatikan istrinya yang mulai masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Mora, wanita itu mengelus dada nya berulang kali, tadi dia sudah takut setengah mati, takut kalau Karel marah dan tempramental laki-laki itu kambuh, berkali-kali Mora menghembuskan nafas berusaha menenangkan jantung nya yang terpompa kuat.


"Apa dia marah ? kok wajah nya datar gitu sih" Mora menyalakan air dan mengisi nya dalam bathtub.


"Sudah by, mandi dulu ya, aku mau turun buat siapin makan."


"Ngga perlu" suara dingin itu keluar dari sang empu.


"Eh"


"Tunggu di sini, tunggu aku selesai, jangan berencana buat kabur!!"


Glek...


Mora hanya bisa meringis dengan senyum yang di paksakan, sudah lah pasrah saja, toh semuanya juga sudah terjadi. Lagi pula tidak mungkin dia akan menyembunyikan hal ini terus menerus.


Dia harus bisa memberikan penjelasan agar suaminya tak semakin marah, itulah yang Mora pikirkan sekarang.


Pintu tertutup dan terdengar suara gemericik air di dalam sana, seolah waktu berjalan sangat lambat membuat Mora kian merasa takut.


Yang pertama takut jika Karel marah, dan yang kedua takut jika pertemanan nya dengan Gracell berantakan.


"Astaga bagaimana ini" Mora berdiri dan berjalan mondar-mandir sambil menggigit jari nya, menatap terus secara berulang pada pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka itu.

__ADS_1


__ADS_2