
Sudah terhitung 3 bulan lebih hubungan Karel dan Mora berjalan, hubungan mereka baik-baik saja, bahkan kini terbilang sudah ada banyak kemajuan dalam hubungan mereka. Kini Karel tak sungkan lagi untuk menunjukkan perhatian nya, laki-laki itu menunjukkan perasaannya bahwa ia sangat mencintai Mora.
Saat ini Karel sedang duduk di meja kerja nya, di hadapannya ada Vano yang membantu nya memeriksa beberapa lembar kerja penting. Sebenarnya itu sudah menjadi tugas Mora, namun karena lembar itu berisi hal yang penting dan privat maka hanya Karel dan Vino yang boleh mengetahui nya.
"Tuan" itu adalah kata pertama yang keluar, sedari tadi mereka memang tak membuka mulut sama sekali, mereka sama-sama fokus dengan puluhan lembar kerja yang berserakan di meja itu.
"Hem" Karel hanya menjawab singkat, atensi nya masih tertuju sepenuhnya pada lembar kerja.
"Apakah anda akan mendatangi undangan dari tuan besar ?" Karel mengehentikan gerakan tangannya yang memilih berkas, laki-laki itu menatap asisten nya sejenak.
"Entahlah" Karel menghela nafas, laki-laki itu merasa sangat malas untuk bertemu dengan kakek nya itu.
"Anda tidak bisa terus menghindari mereka tuan" nasehat Vano dengan bijak.
"Kamu tau apa yang membuatku malas datang ?" sahut Karel dingin.
"Saya mengerti, tapi anda bisa mengajak nona Mora"
"Apa maksudmu" bentak Karel, ia menatap asisten nya dengan tajam.
"Anda pernah mengatakan, jika emosi anda lebih terkontrol jika berada di dekat nona Mora, maka anda bisa mengajaknya agar tempramental anda lebih terjaga."
"Aku tidak akan melibatkan nya dalam hal ini" ucap karel penuh penekanan. Tentu saja dia tak akan mau mengajak Mora, ia tak akan membawa gadisnya dalam posisi sulit.
"Tapi tuan tau sendiri kan bagaimana tuan besar ? ia akan terus menekan anda nanti."
"Lalu apa kamu pikir aku akan lemah hanya karena itu ?"
__ADS_1
"Bukan begitu tuan.." sungguh sebenarnya dia hanya merasa khawatir dan cemas, beberapa tahun lalu tuan nya itu tak dapat mengendalikan emosi nya, sehingga membuat tuan nya bersikap kasar di mansion besar keluarga.
"Sudahlah, aku ingin mengistirahatkan diri, kamu bereskan semua ini. Saya ingin istirahat sebentar." Karel segera berlalu dari sana, laki-laki itu memasuki kamar pribadi nya dan mulai memejamkan mata nya. Kepala nya terasa berat dan pusing tanpa sebab.
Sang asisten yang di tinggalkan begitu saja hanya bisa menghela nafasnya, tangan nya dengan terampil mulai merapikan berkas-berkas yang tersisa.
Handphone Karel yang ia letakkan asal nampak berbunyi dengan keras, laki-laki itu nampak melempar jam di nakas karena kesal, kepala nya benar-benar terasa sakit tapi handphone itu berbunyi sangat nyaring. Ingin rasanya ia menghancurkan handphone itu.
Karel mengambil hp nya lalu melihat nama Nathan di layar utama. Laki-laki itu pun akhirnya mengangkat panggilan dari adik nya itu.
"Halo kak" sapaan pertama keluar dari bibir Nathan, Karel berdehem sambil memijat pelipisnya yang terus saja merasakan pusing.
"Kak, kakak ada rencana untuk datang ke pertemuan keluarga nanti ?" ucapan Nathan itu membuat kepala Karel semakin pusing, laki-laki itu menghela nafas kasar.
"Aku sangat malas datang" seru Karel.
"Kalau kakak tidak datang bagaimana aku nanti, pasti aku akan menjadi sasaran keluarga dan di serang terus-terusan." ujar Nathan sambil mengadukan nasib nya.
"Tidak perlu datang jika begitu" seru Karel tak perduli.
"Mana bisa begitu, kakek pasti akan marah besar jika kedua cucunya tak ada yang datang."
"Kakak datang ya, kita hadapi semua sama-sama" bujuk Nathan.
"Akan aku pikirkan lagi nanti" seru Karel lalu mematikan telfon nya begitu saja, laki-laki itu kembali melempar handphone nya dengan asal, lalu memejamkan mata nya yang tampak terasa berat.
Sedangkan Mora yang berada di ruangan nya nampak terus melirik ke arah jam yang berada di pergelangan tangan nya, sedari tadi ia menunggu Karel tapi laki-laki itu tak kunjung keluar dari ruangan nya.
__ADS_1
Mora pun merasa sungkan untuk mengetuk pintu ruangan itu, takut-takut jika Karel akan marah karena ia menganggu pekerjaan laki-laki itu. Tapi sudah dua jam lebih Mora menunggu, tetapi tak ada tanda-tanda Karel akan keluar dari ruangan nya.
Gadis itu nampak gusar, Karel belum makan siang, tapi laki-laki itu tak kunjung keluar membuat rasa cemas dalam diri Mora muncul.
"Tuan vano"
"Masuklah, Tuan tak akan marah" seru Vano sambil mendengus, sedari tadi Mora terus saja merengek agar ia mau memanggilkan Karel, padahal ia sudah mempersilahkan gadis itu untuk langsung masuk ke dalam ruangan Karel tapi gadis itu selalu menolak.
"Apa dia benar-benar sedang sibuk ?" seru Mora merasa takut untuk masuk.
"Tidak, tadi tuan sedang istirahat, tapi coba kamu bangunkan pasti ia tak akan marah." ujar Vano berharap gadis itu segera masuk dan mengambil langkah.
"Tapi.." Mora masih nampak ragu
"Tuan belum makan sedari siang, ia bisa saja sakit, apalagi tuan selalu mengabaikan makan malam." seru Vano berusaha mempengaruhi gadis itu, tentu saja dengan sedikit kebohongan. Karena pada faktanya makan ataupun tidak itu tidak memberikan pengaruh apapun pada Karel.
Mora terdiam, gadis itu terus berfikir antara masuk atau tidak, namun setelah menimbang ucapan vano barusan, akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk memasuki ruangan Karel.
Vano tersenyum di sana, laki-laki itu langsung melenggang pergi, dia harus mengerjakan pekerjaan nya yang cukup padat akhir-akhir ini.
Mora berjalan dengan pelan ke arah ruangan Karel, ruangan itu kosong, seperti nya Karel masih berada di kamar dan istirahat.
"Dia belum makan, tapi aku takut jika dia marah kalau aku membangunkan nya." seru Mora bimbang.
Gadis itu terus berjalan mondar mandir di depan pintu sekat yang akan menunjukkan kamar pribadi Karel.
"Huh aku harus bagaimana" seru Mora sambil menggigit kuku jari nya.
__ADS_1
Ceklek