IVAMORA

IVAMORA
Hari Jadi (2)


__ADS_3

Setelah acara selesai semua mahasiswa dan mahasiswi melakukan sesi foto bersama orang tua, Mora juga melakukan hal yang sama. Gadis itu melihat seorang laki-laki yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya. Mora menghampiri laki-laki itu.


"Nathan" Mora berjalan ke arah Nathan yang kini sedang bercengkrama dengan seorang lelaki. Mora menatap lelaki di samping Nathan dengan intens.


"Eh Mora, selamat ya kamu menjadi salah satu mahasiswi dengan nilai tertinggi, hebat banget" Mora tersenyum di sana.


"Kamu juga, selamat ya nilai kamu tinggi banget tadi. Pasti calon dokter hebat"


"Bisa aja kamu" Nathan tersenyum, lagi Mora menatap lelaki di samping Nathan yang kini juga menatap nya tajam.


"Nathan, acara nya udah selesai kan" ucap lelaki di samping Nathan, Nathan mengangguk mengiyakan.


"Kakak mau pulang ?" tanya Nathan.


"Hem" jawab laki-laki itu dengan raut wajah datar.


"Ya udah kita pulang bareng aja kak, aku juga udah ngga ada acara" ujar Nathan yang mendapat anggukan dari lelaki yang ada di samping nya.


"Nathan, ayo kita masuk ke ruangan dulu, tadi kata dosen kita di suruh kumpul bentar" ujar teman Nathan yang satu jurusan dengannya. Nathan menghela nafas nya.


"Bentar ya kak, kayak nya emang ribet deh dosen aku yang ini" kakak Nathan hanya mengangguk. Lelaki itu duduk di kursi depan kelas Nathan, Mora juga ikut duduk.


"Siapa yang menyuruhmu duduk ?" Mora menoleh, gadis itu mengernyitkan dahi nya.


"Memang nya kenapa ? ini kursi umum kali"


"Masih banyak kursi lain, jangan dekat-dekat dengan ku"


"Memang nya kenapa, aku mau duduk di sini, dan om tidak boleh melarang nya" dapat Mora lihat lelaki itu menghela nafas lelah, mungkin karenanya, tapi Mora tidak peduli.


"Saya bukan om kamu" ketus lelaki itu, Mora melirik sinis.

__ADS_1


"Udah tua ngga nyadar muka lagi" celetuk Mora asal, ucapan itu sontak membuat lelaki di sampingnya menggertakan rahang.


"Apa maksud kamu" tanya lelaki itu kesal, jika saja ini bukan area kampus, ingin rasanya dia menampar gadis ingusan di samping nya ini.


"Nothing" balas Mora singkat, sungguh tingkah nya yang satu ini sangat tidak jelas, namun entah kenapa dia tak juga ingin beranjak pergi.


"Lebih baik kamu pergi" ujar lelaki itu kembali.


"Aku ngga mau om jangan maksa deh" Mora menjadi kesal karena sedari tadi selalu di paksa untuk pergi, memang nya dia hama apa sampai di usir terus.


lelaki itu menatap Mora tajam, lalu sedetik kemudian tangannya mencengkram tangan Mora, membawa gadis itu mendekat.


"Om apa sih lepass" Mora berontak, namun tangannya tak kunjung di lepaskan, lelaki itu menatap nya tajam, seolah dia baru saja membuat kesalahan fatal.


"Om apaan sih" Mora membalas tatapan lelaki itu, kini mereka di lihat oleh beberapa mahasiswi yang berlalu lalang di depan fakultas kedokteran.


"Tutup mulut kamu, suara mu hanya membuat saya pusing" lelaki itu berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Mora sendiri.


Karel kini berada di mobilnya, bersiap untuk menyalakan mobil itu. Namun handphone nya tiba-tiba berdering.


"Aku pergi lebih dulu, kamu bawa mobil kan ? kamu bisa pulang sendiri" di sebrang sana Nathan mendengus, ternyata Kakak nya itu pulang lebih dulu.


"Hati-hati kak" akhirnya hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir Nathan.


"Hem" sahut Karel singkat. Lelaki itu segera melajukan mobil nya meninggalkan area kampus.


Karel memilih untuk kembali ke kantor, ada pekerjaan penting yang harus segera dia selesaikan di perusahaan. Gara-gara acara kelulusan Nathan, dia harus ke kampus dan bertemu dengan gadis ingusan yang selalu saja membuatnya kesal. Gadis yang begitu berani menganggu nya.


Sampai di kantor, lelaki itu segera turun, dan berjalan menuju ruangannya.


"Tuan, tuan Andra menunggu anda di dalam ruangan" Karel hanya memberikan anggukan pada asisten nya itu, lelaki itu membuka pintu ruangannya dan melihat Andra yang kini sedang membolak-balikkan koran seolah sedang membaca koran itu. Namun sepertinya kehadirannya di sadari oleh lelaki itu.

__ADS_1


"Eh udah datang lu, gue tungguin dari tadi" Andra menegakkan tubuhnya, dan membenarkan posisi duduk nya yang setengah berbaring.


"Aku masih ke kampus ngurus hari jadi Nathan" Karel duduk di sofa depan Andra, menghela nafas sambil melonggarkan dasi yang membelit leher nya.


"Oh, iya itu sepupu kamu jadi dokter dong sekarang ?"


"Belum, baru juga lulus" Andra mengangguk di sana, bagi Karel Andra sudah seperti saudara, lelaki itu begitu setia menemaninya. Mereka saling mengenal saat usia mereka masih remaja, waktu itu Karel masih menduduki sekolah menengah pertama.


Sampai sekarang pun, Andra masih selalu ada untuk nya, kehadiran lelaki itu begitu penting untuk Karel, meski Karel mempunyai sikap tempramental yang jarang orang lain ketahui, tapi Andra selalu mau menerima sikap nya apa adanya.


Yah, temannya yang satu ini, Karel akui sangat tulus, dan dia merasa beruntung karena dapat mengenal Andra.


***


Mora berjalan menghampiri Arsen yang kini duduk di meja kantin, gadis itu menepuk bahu Arsen dan ikut duduk di samping laki-laki itu.


"Yang lain mana ?" tanya Mora saat melihat Arsen duduk sendiri.


"Pada pulang, ada acara sendiri sama keluarga nya" ucapan Arsen sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Kamu ngga ada acara ?"


"Nanti malam masih ada waktu, harusnya sih waktu ini kita habiskan bersama, eh yang lain malah pada pulang. Aku pikir tadi kamu juga pulang." lanjur Arsen, muka laki-laki itu sedikit kesal saat mengatakannya.


Mora menggaruk pelipisnya, gadis itu menatap wajah Arsen.


"Mungkin saja mereka memang ada acara, bukankah ini hari kebahagiaan mereka, sangat wajar bukan jika mereka menghabiskan waktu bersama orang tua." jawab Mora sambil memberikan penjelasan kepada temannya itu.


"Hem, kalau kamu mau pergi juga ngga papa, aku mau pulang" Mora mendengus, gadis itu menarik lengan Arsen yang seperti nya sedikit marah.


"Duduk, aku lagi ngga ada acara sama siapa-siapa, hari ini kita bisa menghabiskan waktu bersama"

__ADS_1


Akhirnya Arsen menurut, dan kembali duduk di samping Mora, banyak para mahasiswa dan mahasiswi yang kini sedang makan di kantin itu seperti mereka. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang orang tua nya tidak bisa ikut hadir karena jarak yang jauh.


__ADS_2