IVAMORA

IVAMORA
Mood Booster


__ADS_3

Mora menatap gadis di depannya dengan pandangan menuntut, ya dengan sedikit perdebatan dan tekanan tentunya, ia berhasil membuat Gracell menyerah dan mengaku.


"Ayo cepat bicara, dari tadi kamu terus saja diam, benar-benar membuang waktu." Mora berujar dengan kesal, bagaimana tidak, sudah 10 menit lebih mereka diam-diaman.


"Huh" Gracella menghela nafas, baru dia tahu bahwa kekasih mantan nya itu memiliki sikap tak sabaran, padahal waktu pertama bertemu ia mengira sikap gadis itu lemah lembut.


"Menghela nafas terus, kaya orang mau pingsan" lagi ucapan mematikan itu Mora lontarkan, seperti nya Gracell harus banyak mengelus dada, mengingat Mora yang terus saja mengucapkan kalimat pedas sedari tadi.


"Aku dan Shofia bertemu saat malam hari di penjual seblak, waktu itu aku lagi cari tempat persembunyian untuk menghindari seseorang dan sepertinya saat itu Shofia habis pulang dari kerja." Mora terdiam, tak memotong sama sekali ucapan gadis di depannya.


"Awalnya aku ragu saat Shofia mengajakku untuk pulang ke tempat kos nya, namun karena aku sedang mencari tempat aman maka aku menyetujui meski ragu dan takut." ucap Gracella, wajah nya tampak sendu. Hal itu membuat Mora sedikit bersimpati.


"Kamu kabur dari siapa ?" tanya Mora penasaran, tak mungkin juga kan Karel mengejar gadis itu lagi.


"Dari seseorang, tapi kamu tenang saja dia bukan kekasih mu kok, kamu pun tidak mengenalnya." seolah tau apa yang Mora pikirkan, Gracell menjelaskan dengan rinci.


"Siapa ?" Mora masih menuntut jawaban


"Namanya Tama"


"Kekasihmu ?" Gracell menggeleng


"Dia suami ku"

__ADS_1


"What" Mora tampak sangat kaget, dia merasa tidak percaya dengan ucapan gadis itu, kini kepala nya di penuhi oleh berbagai macam pertanyaan.


"Aku sama sekali tak menyukai nya, pernikahan itu terjadi karena paksaan, dan hal itu juga yang membuat aku dan Karel putus."


"Bukannya kamu selingkuh" Mora menatap dengan sinis.


"Yah bagi semua yang tidak mengetahui akan menganggap bahwa aku yang telah mengkhianati Karel, pada faktanya tidak seburuk itu, tapi aku tidak bisa memaksa orang lain buat percaya bukan." Mora terdiam, otak nya kembali berfikir.


"Bahkan Karel saja, yang menjadi kekasih ku, dan mengenalku lama tidak percaya padaku, dalam sekali lihat saja dia sudah menganggap bahwa aku mengkhianatinya." Mora masih belum bisa sepenuhnya percaya dengan ucapan gadis itu, mengingat sikap Gracella dulu.


"Aku dan Tama adalah teman semasa kecil, ia sudah ku anggap seperti kakak ku sendiri, maka dari itu aku selalu menceritakan masalah ku padanya, setiap aku merasa jenuh dengan hubungan kami aku pasti akan bercerita pada Tama." Mora kembali terdiam, entah harus percaya atau tidak, tapi ucapan Gracella cukup masuk akal.


"Sampai tiba di mana aku dan dia terjebak bersama, sejak saat itu dia terang-terangan mengatakan perasaannya, ia selalu berusaha untuk memiliki ku sendiri, melarang ku untuk ini dan itu, mengurungku dalam rumah nya, memutuskan koneksi ku dengan dunia luar. Bahkan ia memaksa ku untuk menikah dengan nya." Gracell mulai menangis, tubuhnya tampak bergetar karena rasa takut. Mora menatap iba pada gadis itu, ia mendekat lalu mengusap bahu gadis itu dengan lembut.


"Apa kalian sudah bercerai" tanya Mora, Gracell menggelengkan kepala nya.


"Dia akan sangat marah jika aku membahas perceraian." balas gadis itu masih dengan isakan nya.


Kini Mora paham, ia jadi merasa bersalah karena memaksa gadis itu bercerita, padahal dari tampilan nya saja Gracell terlihat seperti wanita hebat, tidak memiliki rasa takut dan mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Namun siapa sangka di balik semua itu ia ternyata juga seorang wanita yang rapuh.


"Maaf" Mora berucap lirih, tangannya terus mengusap bahu gadis di depannya.


"Ngga papa, wajar kalau kamu merasa ketakutan, tapi aku benar-benar sudah mengikhlaskan Karel, mempunyai pemikiran buat mendekatinya saja sudah tidak." Mora mengangguk paham.

__ADS_1


"Aku pikir kamu masih mencintai nya, soalnya kan waktu itu kamu di ajak mama nya buat ke mansion tuan Lewis."


"Awalnya aku memang berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan Karel, tapi semenjak melihat sikapnya saat itu aku semakin yakin bahwa tidak ada lagi kesempatan untuk ku meraih nya."


"Tapi semisal Karel tau bahwa kamu tak pernah mengkhianati nya, mungkin saja ada kesempatan untuk nya kembali padamu" ucap mora sambil tersenyum sendu, setelah tau cerita yang sebenarnya Mora menjadi takut kehilangan kekasih nya itu.


Gracella tersenyum, ia menggenggam telapak tangan gadis yang nampak tengah berfikir itu.


"Kamu ngga perlu takut, aku melihat cinta nya untuk mu begitu besar, lebih besar dari perasaannya kepada ku dulu. Meski dia tau semuanya, dia tak akan pernah perduli, karena sekarang dia punya kamu yang sangat dia cintai." Mora menatap gadis itu haru, apakah benar Karel mencintai nya sebesar itu ?


Mora keluar dari kamar mandi, gadis itu baru saja membersihkan diri, ia duduk di ranjang nya dengan rambut yang sudah di kuncir rapi. Dia mengambil hp nya yang ia abaikan sejak tadi, dan melihat beberapa pesan yang masuk.


"Tidur yang nyenyak by, jangan bergadang, love you" Mora tersenyum tipis, ia membenamkan wajahnya di tumpukan bantal, meski hanya sebuah pesan singkat, entah kenapa bisa membuat ia sebahagia itu.


"Kangen sama tuan pemaksa" Mora kembali tersenyum, mood booster sekali di perhatikan oleh Karel.


"Makanya cepet sembuh, ngga kangen apa aku peluk🫶🏻"


"Dikit🤏*"


Tentu saja pesan itu membuat Karel kesal, terbukti setelahnya ada panggilan Video call masuk dari laki-laki itu.


"Ish pemarah sekali" dengan iseng Mora mematikan panggilan, lalu mematikan handphone nya, ia kembali terkikik saat membayangkan ekspresi marah dan kesal Karel saat ini.

__ADS_1


__ADS_2