IVAMORA

IVAMORA
Hati yang kecewa


__ADS_3

Karel menghela nafas kasar, meski amarahnya sedang berada di level puncak, tapi ia merasa tak tega jika menyakiti gadis itu, dia pun memilih untuk keluar dari kamar.


BRAKK


Mora meringkuk di ranjang itu dengan air mata yang mengalir, kembali berfikir bahwa semua ini salah nya, ia sama sekali tak menyangka jika Karel bisa se marah ini hanya karena ia menghindari laki-laki itu, dia merasa takut sekarang, dan menyesali semua keputusan nya.


"Akhh"


CTARR


Karel memukul cermin di ruang olahraga hingga beberapa percihan nya mengenai tangannya, ia sama sekali tak merasakan rasa sakit, yang ia rasakan hanya perasaan kecewa dan sedih.


Se menyedihkan itukah hidupnya, kenapa dia tidak pernah mendapatkan ketulusan, kenapa orang-orang yang dia cintai malah membuatnya kembali jatuh dalam keterpurukan, kenapa mereka tega menghancurkan hati nya, apakah hidupnya sebuah lelucon sehingga bisa di permainkan sesuka nya. Baik ini semua salah nya, salah dia yang membuka hati nya untuk kembali jatuh cinta sehingga yang ia dapatkan kembali hanyalah sebuah kebohongan.


"Bohong jika ini tidak sakit akhhh" tubuh Karel luruh ke lantai, laki-laki itu menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya. Tubuhnya bergetar dengan darah yang terus mengalir mengenai lantai.


Luka yang lebar di telapak tangannya, dengan darah yang berceceran sama sekali tak laki-laki itu rasakan, ia hanya ingin tenang meski itu tak mungkin.


"Hiks pa, kenapa mereka jahat hiks" Karel kembali berujar lirih, suara nya tercekat di ujung tenggorokan, hanya almarhum papa nya yang menyayanginya dengan tulus, yang lain hanyalah topeng.


Para pengawal di luar sana hanya bisa memejamkan mata, sejak tadi mereka mendengar suara gaduh dari ruang olahraga, tapi mereka tak berani masuk karena Karel bisa kembali menggila nanti.


Sedangkan beberapa pengawal lain sedang menjaga pintu kamar utama, menjaga nona Mora agar tak kabur, gadis itu sempat minta di keluarkan namun mereka tak berani membuka pintu itu. Bisa tamat riwayat mereka nanti.


Karel menjatuhkan tubuhnya di sofa, tangan nya sudah ia cuci, namun darah terus merembes keluar. Apakah Karel mengobati tangan itu ? jawabannya adalah tidak, karena ia sama sekali tak lagi perduli akan dirinya sendiri.


Mora bangun dari tidurnya tempat pukul 8 malam, gadis itu ingin membuka pintu namun pintu itu di kunci, ia mengetuk pintu itu pelan. Hingga terbuka dan menampilkan tubuh kekar dua pria.

__ADS_1


"Anda membutuhkan sesuatu nona ?" tanya salah satu pengawal dengan wajah datar nya.


"Aku ingin membeli sesuatu"


"Katakan, biar saya yang membeli nya" seru pengawal itu, Mora memutar otak ia harus bisa keluar dari kamar itu.


"Saya mau bakso petirr" seru Mora mendapatkan ide.


"Bakso petir ?" tanya nya tak paham


"Itu, bakso nya pedas dan memang enak, aku menginginkannya, kalian berdua pergi dan carikan ya."


"Biar saya sendiri nona"


"Tidak aku mau kalian berdua yang cari, berpencar ya"


Setelah bodyguard itu pergi, Mora kembali memutar otak, sambil menatap pengawal yang tersisa.


"Aduh" Mora memegang perut nya.


"Anda kenapa nona ?"


"Tolong siapkan air hangat dalam botol, dan buatkan jahe hangat untuk saya. Sepertinya saya akan mendapatkan jadwal." pengawal itu tampak bingung dan ragu.


"Apa kamu takut aku kabur, bukannya rumah ini memiliki banyak cctv, lagian juga di bawah ada banyak pengawal, sia-sia jika aku kabur, bakal ketangkap juga kan ?" seru Mora, pengawal itu tampak percaya dengan ucapan Mora.


"Baik, tunggu sebentar ya nona, saya akan meminta bibi untuk membuatkan anda minuman hangat." Mora hanya mengangguk, lalu gadis itu pun turun ke ruang tamu, melihat pintu ruang kerja Karel yang tertutup rapat, Mora pun menghampiri nya.

__ADS_1


Meski tidak yakin apakah Karel berada di sana, namun bukankah sepatutnya dia mencoba. Perlahan, gadis itu mulai membuka ruangan itu. Dan benar saja, di sana ia melihat Karel yang terbaring di sofa dengan keadaan mengenaskan, Mora menatap itu dengan sendu.


Ia masuk dan mengunci pintu agar tak ada gangguan, lalu menghampiri Karel, ia berusaha membopong tubuh itu ke ranjang yang ada di kamar itu.


Mora semakin merasa bersalah saat melihat tangan Karel yang terluka parah, ia mencoba mencari kotak perban lalu membalut tangan itu, untung saja Karel sama sekali tak bangun.


"Maaf Karel hiks" Mora hanya bisa menangis, melihat keadaan kekasihnya membuat rasa bersalah nya membumbung tinggi, gadis itu mengusap wajah Karel yang tampak lelah.


Mora memilih untuk merawat Karel malam ini, gadis itu tak memperdulikan keributan di bawah karena ulah nya yang main pergi begitu saja, tentu membuat semua orang panik bukan main.


Dia mengusap wajah Karel dengan berulang, dengan kata maaf yang terus saja terulang dari bibirnya, gadis itu merasa begitu jahat karena membuat trauma Karel kembali kambuh.


Deg


Mora merasa seolah jantungnya lepas dari tubuh saat melihat mata Karel terbuka, tatapan mereka bertemu, dapat Mora lihat tatapan kecewa di mata laki-laki itu. Karel bangkit dari berbaring nya, namun Mora menahan dengan langsung memeluk tubuh laki-laki itu dengan erat.


"Maaf, jangan marah dulu, dengerin penjelasan aku." Mora dapat merasakan jika tangan nya berusaha di lepaskan oleh laki-laki itu, namun Mora tetap mempertahankan posisi nya.


"Lepas" Karel berujar dengan penuh penekanan.


"Dengerin dulu rel"


"Lepas atau aku akan menyakitimu"


"Tidak apa-apa sakiti saja aku, aku juga sudah menyakitimu kan, Karel aku tak benar-benar ingin pergi. Maafkan aku" Mora terisak dengan suara yang keras, ia benar-benar takut kehilangan Karel, baru dia rasakan, jika sesakit ini di benci oleh orang yang di sayangi.


"Kamu boleh pukul aku, tapi dengerin penjelasan aku dulu hiks" Mora menatap Karel sendu, tangannya merangkum wajah Karel dengan wajah yang sudah memerah karena terlalu banyak menangis.

__ADS_1


"I apologize Karel hiks" Karel membuang muka, hati nya masih merasa kecewa dengan sikap Mora yang berubah.


__ADS_2