IVAMORA

IVAMORA
Rencana Mora


__ADS_3

"Kak" Alettha duduk di samping kakak nya, gadis itu melihat kakak nya yang berbaring di ranjang sambil bermain handphone.


"Kenapa ?" tanya Mora sambil mengangkat alisnya, gadis itu heran ketika melihat adik nya mendatangi kamar nya, adik nya itu sangat jarang berkunjung ke kamarnya, jadi wajar bukan jika Mora merasa heran ?


"Tidak apa, hanya ingin melihat kakak saja" ujar Alettha.


"Bukannya setiap hari juga melihat kakak ?" tanya Mora, Alettha hanya mengangkat bahu.


"Kamu lagi butuh tempat cerita ?" tanya Mora saat melihat adik perempuannya itu terdiam.


"Lagi bete tau kak" ujar Alettha dengan raut wajah kesal, gadis itu menghembuskan nafas kasar.


"Bete kenapa ?" tanya Mora sambil mengernyitkan dahi.


"Ya kakak bayangin aja coba, kemarin kan aku persiapkan buat magang kan kak, udah aku siapin semua sampai datangin tempat nya langsung. Eh pas sampai sana aku malah menjadi asisten cowo yang ngeselin banget." ucap Alettha dengan kesal.


"Aku pengen banget ganti tempat, tapi ngga di kasih izin sama pihak kampus, karena surat lamaran aku udah di terima" Mora mengangguk, gadis itu melihat adik nya yang berguling di ranjang seolah memang sedang frustasi.


"Ya udah lah dek, jalani aja, lagian magang bukannya cuma 5 bulanan kan ?"


"Cuma kakak bilang ? bayangin aja kak sehari aja aku udah ngga suka sama sikapnya, apalagi 5 bulan bisa mati berdiri aku."


"Iya, tapi memangnya kamu mau gimana ? namanya juga magang, ya udah di jalanin aja, emang sengeselin apa sih cowo itu" tanya Mora penasaran.


"Ngeselin parah lah, masak aku baru pertama uji coba malah di suruh buat kopi, sama beli makanan. Aku kan fakultas kedokteran harus nya tu pegang alat medis atau obat-obat an. Biar aku bisa terapin apa yang aku dapat dari universitas, eh ini malah di suruh buat kopi, ngga guna banget emang." Mora tertawa cekikikan saat mendengar itu, adiknya itu sama sekali tidak pernah membuat kopi di rumah, Mora sedikit curiga jika gadis itu tidak bisa membuat kopi.


"Lalu bisa buat kopinya ?" tanya Mora


"Ngga lah, di buang sama dia nya" jawab Alettha sambil memanyunkan bibirnya.


"Malah aku di suruh belajar buat bikin kopi"


"Terima nasib aja lah" ujar Mora, gadis itu melompat dari ranjang dan berlalu dari kamar, di ikuti Alettha di belakangnya.

__ADS_1


Usia mereka yang hanya berbeda satu tahun membuat mereka seperti kembar, Alettha dan Arka berbeda satu tahun lebih muda dari Mora.


"Kamu lagi telfon siapa ?" tanya Mora saat melihat adik nya baru saja bertelefon.


"Telfon kak Andra, katanya mau kesini nanti malam"


"Andra ?"


"Hem, aku ke kamar dulu kak" Mora hanya mengangguk, membiarkan adik nya itu untuk pergi.


Mora merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal, hari ini Diana mengatakan jika Karel tidak datang ke kantor, dan menjelaskan jika wanita itu membantu asisten CEO mengerjakan tugasnya. Hal itu membuat pekerjaan Diana masuk ke dalam jejeran pekerjaan Mora membuat gadis itu merasakan lelah dua kali lipat.


Mora sendiri sama sekali tidak mempermasalahkan nya, toh dulu sewaktu kuliah dia juga sering mendapatkan pekerjaan tambahan apalagi jika sudah memasuki masa skripsian.


Hanya saja gadis itu sedikit bingung, di mana Karel berada ? dan kenapa lelaki itu tidak masuk ke kantor.


***


"Woy" Mora yang sedang makan tersedak saat mendengar suara keras itu, gadis itu langsung menegak air di depannya dengan cepat.


"Hehe maaf, kaget ya" Andra cengengesan saat melihat sepupunya itu marah.


"Menurut Lo" Mora menarik beberapa lembar tisu, lalu mengusap bibirnya. Tenggorokan nya saja sampai terasa sakit gara-gara tersedak.


"Ye maaf, lagian ini udah malam kenapa baru makan sih, ngga takut apa kalau berat badan naik" ucap Andra sok bijak, lelaki itu duduk di kursi meja makan sambil menyesap jus jeruk milik Mora.


"Jus gw"


"Berbagi, sama sepupu sendiri juga" ucap Andra enteng, setelah menegak jus jeruk sampai tersisa setengah.


"Sialan Lo ndra, ngapain sih kesini" ujar Mora kesal.


"Kak Andraa" Mora melirik adik nya yang menuruni tangga sambil berteriak, gadis itu langsung berhambur ke pelukan Andra, Mora yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas. Drama sekali bukan ?

__ADS_1


"Uhh adik kakak yang cantik" Andra mengusap rambut Alettha dengan sayang, Alettha saat ini duduk di pangkuan Andra membuat Mora melotot.


"Heh apa-apaan kamu dek, turun buruan" ucap Mora kesal, gadis itu menarik lengan adik nya, namun susah karena Alettha melingkarkan kedua tangannya di leher Andra.


"Dek hiss, siapa yang ngajarin sih, turun ngga. Kakak bilangin mama ya kamu" ujar Mora kesal, Andra hanya tekekeh saat melihat wajah Mora yang memerah.


"Ngga mau Kak kenapa sih"


"Ndra"


"Hem" ujar Andra santai, jari nya memainkan rambut milik Alettha.


"Ahgg sialan lu Ndra, Lo apain adek gue"


"Kenapa sih mor, aku kan cuma main sama adik kecil" Ya memang sih, tapi Mora selalu saja di buat takut. Lelaki sekelas Andra tidak boleh dekat dengan adik nya, meski mereka sepupu.


"Lettha, cepat ke kamar, kamu punya tugas magang kan ?"


"Bentar kak"


"Terserah" Mora memilih untuk pergi dan berlalu ke ruang tamu, gadis itu fokus dengan handphone nya.


Sedangkan Andra yang melihat Mora pergi hanya bisa tertawa dalam hati, lelaki itu mengusap wajah Alettha lembut.


"Alettha sayang, turun bentar ya. Kak Andra mau bicara bentar sama kak Mora"


"Oke" Alettha langsung turun, mereka berdua kembali berjalan ke arah ruang tamu. Mereka tadi hanya menggoda Mora, sengaja membuat gadis itu kesal.


"Mora" Andra duduk di samping sepupu nya, lelaki itu kini tak lagi cengengesan seperti tadi.


"Hem" jawab Mora acuh, gadis itu masih fokus dengan gadget nya.


"Gimana rencana kita ?" Mora menoleh Andra sinis.

__ADS_1


"Ck bentar elah, masih sulit ini" ucap Mora dengan ketus, gadis itu mematikan handphone nya dan menatap Andra serius.


__ADS_2