IVAMORA

IVAMORA
Pacar Kontrak


__ADS_3

Pagi itu di mansion tampak sepi, Mora yang sudah lama mengunci diri pun akhirnya keluar dari kamar, gadis itu turun namun tak menemukan siapapun. Para pembantu pun tak terlihat berlalu lalang entah berada di mana. Gadis itu berjalan pelan ke arah ruang tamu, sama. Sepi seolah benar-benar tak ada kehidupan di mansion sebesar ini.


Karena bosan Mora pun memilih untuk ke taman depan, ia membuka pintu dan dalam sekejap merasa terkejut saat melihat Alettha turun dari mobil asing, bahkan Mora sempat melihat seorang laki-laki muda mengusap rambut adiknya itu. Ia tidak tau sih siapa laki-laki itu karena wajahnya tidak jelas.


Saat Alettha berjalan ke arahnya dan mobil tadi sudah pergi, Mora pun menghadang adik nya itu.


"Eh kakak, udahan marahnya ?" seru Alettha dengan senyum mengejek, oh jangan lupakan kakaknya itu memang sangat cengeng.


"Siapa laki-laki tadi ?" tanya Mora tanpa basa-basi. Terlihat sekali raut penasaran di wajahnya.


"Bukan siapa-siapa. Hanya pacar kontrak" seru Alettha dengan wajah tanpa ekspresi, gadis itu lalu berlalu dan duduk di sofa ruang tamu.


"Pacar kontrak ?" Mora benar-benar heran, hubungan apa itu, kenapa bisa pacaran ada kontrak nya ?


"Sudah tidak usah di bahas, lagian tidak penting juga"


"Tunggu maksudnya bagaimana sih, kenapa pacaran ada kontrak nya ?" Mora masih tak paham, gadis itu menatap adik nya dengan dahi yang berkerut.


"Ya gimana, aku ngga suka sama dia" seru Alettha dengan enteng.


"What ? terus ?"


"Yah sebenarnya aku tu ngga suka sama dia kak, tapi aku terima aja, itung-itung juga buat punya punya aja. Aku sebenarnya ngga tertarik untuk berhubungan, tapi ya gimana." Mora melotot saat mendengar jawaban adiknya itu.


"Astaga Ale, kok bisa sih kamu sejahat itu. Apa kamu ngga pikirin perasaan dia." ucap Mora dengan nada tinggi, dia benar-benar tidak habis pikir dengan adiknya itu.


"Kak aku udah ngomong baik-baik sama dia, tapi dia nya tetep aja ngga mau denger, dia bahkan tetap mau mencintai aku meski ngga dapat balasan. Bukannya dia bodoh ?" seru Ale yang tak mau ambil pusing.


"Kamu yang bodoh, seharusnya kamu tak usah menerima nya jika memang tak suka dasar bodoh." Mora benar-benar ingin menjitak kepala adiknya saja rasanya.

__ADS_1


"Sudah lah biarkan saja, toh dia tau jika aku memang tak menyukai nya." seru Alettha tak mau ambil pusing.


untuk sejenak Mora termenung, kemana adiknya yang dulu, kenapa Alettha yang sekarang bisa sejahat itu mempermainkan perasaan seseorang. Dimana sosok lembut yang menjadi adiknya selama ini.


Gadis itu menghela nafas, lalu pergi menuju dapur, ia akan memantau adiknya mulai sekarang, ia tak mau Alettha kenapa-napa suatu saat nanti.


"Non Mora" di dapur Mora berpapasan dengan bibi, pembantu itu menyapa nya dengan senyum ramah.


"Halo bibi, rumah terlihat sepi sekali memang mama di mana ?" seru Mora.


"Ah..em..itu" bibi nampak gelagapan saat mendapat pertanyaan dari nona nya.


"Kenapa bi ? mama di mana ?" tanya Mora kembali.


"Nyonya besar ikut tuan ke kantor non" ucap bibi pada akhirnya, Mora merasa sedikit curiga, namun pada akhirnya percaya juga dengan ucapan bibi.


"Ya sudah jika begitu, Mora mau ke kebun dulu ya bi."


"Baik non"


Setelah mendapatkan buah yang cukup banyak, Mora pun membawa nya ke sebuah gazebo.


"Non" tiba-tiba bibi memanggil.


"Bibi tolong cuci buah nya ya"


"Baik non" bibi pun kembali masuk sambil membawa buah itu, ia mencuci buah nya hingga bersih lalu kembali sambil membawa buah itu untuk nona nya.


"Ini buah nya non" ucap bibi sambil menyodorkan buah yang sudah bersih.

__ADS_1


"Terimakasih ya bi"


"Sama-sama" Bibi pun kembali pergi untuk melanjutkan pekerjaan nya, sementara Mora memotong buah itu menggunakan pisau lalu menyuapkan ke dalam mulut nya.


"Kak" seru Alettha yang berdiri di dekat Mora, gadis itu lalu ikut duduk di samping Mora sambil mengambil buah Mora dan memakannya.


"Heh, itu buah aku ya" seru Mora dengan kesal.


"Bagi kak, dikit aja kok" seru Alettha sambil kembali mengambil buah.


"Udah jangan banyak-banyak" ucap Mora dengan galak.


"Dasar pelit"


"Bodo"


"Kak, kakak lagi marahan sama kak Karel ?" Mora terdiam, ia tak berniat untuk menjawab pertanyaan adiknya.


"Em, diam berarti iya, kakak tau ngga kak Karel khawatir banget karena nomor handphone kakak ngga aktif." seru Alettha yang membuat Mora membeku, ia menghela nafas, Mora memang sengaja mematikan handphone nya karena ingin tenang untuk sementara waktu.


"Kak Karel bahkan maksa aku buat bisa bicara sama kakak, tapi waktu itu aku sibuk banget sampai ngga ada waktu di rumah." ucap Alettha kembali.


"Waktu aku minta buat telfon rumah, katanya Kakak ngga keluar kamar." Mora masih terdiam di sana.


"Kakak kalau marah sama kak Karel jangan lama-lama dong kak. Masak membiarkan masalah sampai berlarut kaya gini." Alettha berusaha untuk membujuk kakak nya.


"Diem deh cil lu ngga tau apa-apa" seru Mora lalu beranjak dari tempat nya, meninggalkan buah strawberry di gazebo itu dan berjalan cepat menuju rumah. Alettha yang melihat hanya bisa mendesau lelah, kakak nya saat ini benar-benar keras kepala.


"Sepertinya masalah nya cukup besar, sampai ngga mau dengerin saran adiknya." seru Alettha, kalau sudah seperti ini, dia tak akan bisa berbuat lebih.

__ADS_1


Sementara Mora berlari ke kamar nya, gadis itu mengunci pintu dan kembali berbaring di ranjang nya. Mata nya tampak berembun, Mora mengambil handphone di nakas lalu mulai menimbang apakah perlu mengaktifkan handphone itu kembali.


Mora pun memilih untuk mengaktifkan nya lagi, saat berhasil banyak sekali notif panggilan yang masuk, yang pasti dari Karel. Mora pun melihat beberapa pesan masuk dari laki-laki itu.


__ADS_2