
Di kamar di sebuah mansion mewah yang tampak begitu gelap, terlihat seorang lelaki yang duduk di depan kaca panjang sambil menatap lurus ke bawah sana yang tampak menyeramkan karena bangunan mansion ini yang tinggi nan megah.
Laki-laki itu nampak termenung, raut wajah nya datar, dengan pencahayaan yang minim lelaki itu menggenggam sebuah kartu yang tampak berkilauan terkena sinar petir yang terkadang menyambar di luar sana.
Telapak tangan tirinya terkepal, dengan sesekali rahangnya yang bergemelutuk menahan amarah dan rasa sakit.
Sejak kepulangannya dari markas, mood nya menjadi buruk dengan emosi yang tidak beraturan, KAREL, lelaki itu terpaksa untuk menggagalkan rencana nya karena kedatangan lelaki yang paling berjasa dalam hidupnya. Juga demi kembali merancang rencana untuk membalaskan dendam nya yang tak kunjung tersalurkan.
Masih dia ingat dengan benar ucapan Candra Zain kemarin malam saat dia memberontak dari ucapan lelaki tua itu. Lelaki itu memintanya untuk menggagalkan rencana nya dan anak-anak yang sudah di persiapkan sejak awal.
"Dia mengikuti sebuah organisasi hitam yang sangat berpengaruh di Eropa, tentu saja dia di jaga dengan Ketat oleh sekumpulan orang hebat yang pengalaman bertarung dan berstrategi nya tidak perlu di ragukan. Modal nekad mu dengan klan Shriekthrush hanya akan menjadi timbal balik yang akan menghancurkan klan mu"
Ucapan lelaki itu terngiang-ngiang di telinga Karel dan membuat Karel mati kutu, selama ini dia tidak pernah memperdulikan apapun, kebencian dan rasa dendam membutakan mata dan otak nya. Sehingga yang dia inginkan hanya menghancurkan lelaki itu tanpa sisa. Tapi dia sama sekali tidak berfikir untuk mencari detail informasi dari lelaki yang sudah dia anggap musuh sejak usia nya masih 7 tahun.
"Jika kamu memang ingin membalas dendam, ambilah ini, itu adalah kartu tanda pengenal dari salah satu anggota klan itu, klan itu di pimpin oleh lelaki La vegas yang begitu misterius kepribadiannya. Bahkan ku dengar belum ada yang pernah bersinggungan dengannya. Kamu harus masuk ke dalam klan itu dahulu agar bisa bertemu dengan orang incaran mu."
"Tapi jika aku boleh memberikan saran, lupakan dendam mu, Karel pada faktanya meski kamu berhasil membalas kan rasa sakit mu, kamu akan tetap menjadi santapan buruan klan itu, karena klan itu menjunjung tinggi solidaritas, siapapun akan mereka kejar jika berani menyentuh personil anggota mereka."
Karel melemparkan gelas kaca yang dia genggam ke atas lantai hingga menimbulkan dentuman keras, lelaki itu menghela nafas kasar, sekelebatan ingatan menyakitkan kembali menghampiri dasar pikirannya membuat emosi nya naik.
__ADS_1
"Aku bersumpah tak akan melepaskan mereka!" Karel mengepalkan tangannya, jika dia gagal dalam misi kali ini, setidaknya biarkan dia gagal setelah berhasil membunuh orang yang telah menghancurkan kehidupan nya di masa lalu.
Lelaki itu beranjak dari tempatnya, membiarkan pecahan kaca berserakan di atas lantai, tangannya masih menggenggam erat kartu yang Candra Zain beri.
Suara keras dari mesin motor sport terdengar keras, asap memenuhi lintasan garis start di sebuah basecamp balap liar, Karel sengaja mendatangi tempat ini untuk menghibur dirinya yang sedang gelisah. Sejak usia nya menginjak 13 tahun, Karel memang menyukai dunia malam balap liar bersama teman-temannya. Setiap mempunyai masalah dengan orang tua nya Karel akan kabur ke tempat ini hanya sekedar menghibur diri.
"Serius ngga nyangka lu bakal datang ke tempat ini lagi" ucap salah satu teman Karel sambil merangkul bahu Karel.
"Kenapa ?" tanya Karel
"Ya secara kan lu sekarang udah jadi orang kaya, gue pikir ngga akan mau kumpul sama orang-orang ngga guna kaya kita"
"Yaudah jadi nya mau ambil start kapan, 15 menit lagi mulai kaya nya"
"Gue ikut awal aja" lelaki di hadapannya itu hanya mengangguk, Karel mulai berjalan ke arah tempatnya, dengan hanya menggunakan jaket dan helm Karel mengikuti balapan itu. Karel mulai menyalakan motornya, sambil matanya menatap lurus pada jalanan di depan, menunggu aba-aba pertandingan.
***
Hari ini Karel kembali bekerja di perusahaan, di ruangan nya sang asisten sudah menunggu nya dengan duduk di kursi sofa panjang yang berada di dalam ruangan milik nya.
__ADS_1
Karel duduk di tempat nya, sang asisten mengikuti nya, lalu duduk di hadapan bos nya.
"Tuan, anda pasti sudah tau kan, jika salah satu rekan kita membuat ulah" Karel mengangguk, dia sudah mendapat kabar soal itu.
"Dua kali pertemuan kami, dia selalu saja berbuat kekacauan, dia bahkan mengancam akan membatalkan kerja sama kita dan menuntut ganti rugi pada kita." ucap sang asisten, meski dia tau Karel tidak akan perduli dengan semua itu, uang Karel banyak, dan biaya ganti rugi tak akan membuat tuan nya itu miskin.
"Panggil Diana, dan suruh dia untuk mengatur kembali jadwal pertemuan kami" sang asisten mengangguk, lalu keluar dari ruangan besar Karel, membiarkan tuan nya itu berkutat dengan pekerjaan nya.
Karel dan Diana melangkah bersama di sebuah tempat makan mewah, mereka akan menghadiri pertemuan penting dengan calon rekan mereka. Mereka menuju ke ruangan khusus VVIP dengan Diana yang menenteng beberapa berkas. Sampai di dalam ruangan mereka melihat dua orang yang sudah menunggu kehadiran mereka.
"Maaf membuat kalian menunggu" ujar Karel dengan raut wajah datar, tidak ada perasaan bersalah sama sekali pada wajahnya karena sudah mempermainkan rekan nya sejak dua hari belakangan ini.
"Hem tidak apa-apa tuan Karel, saya tau tuan adalah orang yang sibuk" Karel hanya memberikan anggukan.
"Hari sudah siang, bagaimana jika kita memesan makan siang terlebih dahulu sebelum memulai meeting ?" ucap rekan kerja Karel, Karel hanya diam, Diana yang melihat itu akhirnya mengangkat suara.
"Iya tuan kita bisa makan siang terlebih dahulu" ujar Diana menjawab ucapan rekan kerja mereka.
Sebenarnya dalam meeting ini tidak ada pembahasan yang terlalu penting, seharusnya bisa di kerjakan sejak kemarin saat dia tidak ada, namun mungkin karena rekan nya kali ini sedikit ribet maka pertemuan mereka di persulit.
__ADS_1